Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Harapan


__ADS_3

***


Sebuah restoran dengan menu populer Korea. Direktur Mei mempersilahkan Hoon, keduanya mengambil tempat duduk. Dihadapan mereka ada sebuah meja panjang dan permukaan melamin untuk memasak, seorang pelayan dengan pakaian koki sudah bersiap menyambut tamu istimewa. Suara desiran butter dihadapan Hoon dan direktur mencuri perhatian mereka, dengan cekatan koki menaruh daging kualitas terbaik, dia sedikit bermain atraksi hingga daging cukup matang, memotong dengan skill ala master chef, menempatkan pada piring masing masing. Hoon bertepuk tangan pelan, melihat attaksi koki yang menakjubkan baginya.


"Silahkan dinikmati" ujar koki beralih pada meja lainnya, pelayan yang lain mengambil hidangan dan menaruh di meja Hoon dan direktur.


"Kelihatan lezat" gumam Hoon, direktur Mei tersenyum.


"Cobalah" pintanya pada Hoon. Dia segera mengambil sumpit dan mencicipi irisan daging pertama. Dilihat dari air wajah jelas masakan di restoran ini memang juara.


Hoon mengambil suapan selanjutnya. Melihat Hoon lahap membuat direktur Mei senang.


"Bagaimana dengan barang kemarin?" Hoon mengangguk mendengar pertanyaan direktur Mei.


"Terimakasih direktur sudah membantu ku" balas Hoon tak mau beralih dari piringnya.


"Kau tak usah sungkan, aku bisa melakukan banyak hal untuk mu" Hoon mengangkat kepala mendengar kalimat direktur Mei, kalimat itu terdengar ambigu, ditatap oleh Hoon, direktur Mei menaikkan alisnya.


"Kau bisa minta tolong apapun pada ku" lanjut direktur Mei, oh.. Hoon lanjut makan.


"Aku rasa, Risa menyukai pilihan mu" direktur Mei tertawa mendengar kalimat Hoon. "Kenapa?" tanya Hoon mendengar tawa kecil dari bibir direktur Mei.


"Kau begitu perhatian pada Risa, kau tidak sedang jatuh cinta padanya kan!"


"Uhuk-uhuk!!" Hoon tersedak. Dia segera menyambar isi gelasnya. Direktur Mei mengangkat bahu.


"Aku rasa, aku sudah dapat jawabannya" Hoon menahan panas di wajahnya, dia tersipu malu.


"Ini rahasia" pinta Hoon seperti merengek.


"Baiklah, rahasia mu aman denganku" balas direktur Mei seolah ikut dalam permainan Hoon, dia masih saja seperti bocah. Dia sungguh tumbuh dengan baik secara fisik, tapi tingkahnya tetap tak jauh berbeda. Direktur Mei menggelengkan kepala, seakan membuang pikirannya.


"Kau harus banyak makan. Ku dengar kau mengunjungi gudang dan ruang produksi, bukan kah itu melelahkan" Hoon mengangguk setuju, ruangan dengan ribuan karyawan, dan sangat luas.

__ADS_1


"Apa Risa memberi mu tugas berat?" Hoon menggeleng, dia berbohong. Hoon tak mau direktur berpikir Risa memberikan tugas berat, Hoon tak mau direktur Mei kecewa dengan pekerjaan Risa.


"Semuanya masih mudah kulakukan" jawab Hoon berbohong lagi. Padahal dia sering mengeluh akan tugas yang Risa berikan, belum lagi kakinya pegal, kepalanya pusing, Hoon bahkan tak sempat bermain game lagi.


"Kau harus banyak belajar dari Risa, dia gadis yang tangguh dan pekerja keras. Jika suatu nanti kau memilih istri, carilah yang seperti Risa"


Daging yang baru saja bertengger di bibir Hoon terjatuh. Dia melongo tak percaya dengan kalimat dari mulut direktur Mei. Apa itu artinya pekerjaan Risa bagus? ah lupakan. Istri seperti Risa? Hoon mengangguk cepat.


"Tentu saja!" balasnya setuju. Tapi mengingat Risa sudah memiliki kekasih wajah percaya diri Hoon seketika luntur.


"Ah, tapi Risa sudah punya seseorang" gusar Joon mengehentakkan sumpitnya ke meja. Dia kesal sendiri. Direktur Mei sedikit kaget, tapi dia maklum. Dasar anak ini! 


"Pacar?" 


"iya" Hoon mengangguk "Risa sudah punya pacar" Walau tak langsung percaya direktur Mei mengangguk saja.


"Aku tidak begitu tahu masalah pribadinya. Tapi jika dalam pekerjaan dia gadis yang hebat!" puji direktur Mei pada Risa, dia mengangkat jempolnya  Hoon membuang nafas. Dia melanjutkan makan, tetap saja dia sudah milik orang lain! kesal Hoon kecewa.


Direktur Mei menunggu Hoon yang masih terus makan. Dia senang bisa menghabiskan waktu makan siang bersama pemuda ini. Direktur Mei mengingat kapan terakhir dia menikmati meja makan bersama anaknya. Ah, sudah lama sekali. Dia sedikit bernostalgia.


"Apa kau baik baik saja?" tanya Hoon melihat direktur Mei melamun, wanita paruh baya itu segera tersadar dan menghapus air matanya.


"Aku tidak apa apa. Kau mengingatkan ku pada putraku" ucap direktur Mei pelan.


"Kenapa kau sedih mengingat anak mu?" tanya Hoon ingin tahu. Awalnya direktur Mei tak mau cerita tapi melihat mata berbinar Hoon dia luluh juga.


"Dia membenci ku" Hoon menyesal sudah bertanya, dia membuat direktur Mei semakin bersedih. Seorang ibu yang menangisi putranya. Hoon merasa iba, dia sudah lama ditinggal pergi mamanya, bagaimana mungkin ada anak yang justru tak ingin bertemu ibunya, dunia ini aneh. Hoon justru sangat merindukan mama nya.


"Dia mengatakan jika aku berselingkuh, dia sangat membenci ku. Seorang temannya melihat aku bersama atasanku, disitulah semua kesalahpahaman terjadi" Hoon mengulurkan tisu, direktur Mei segera menghapus air matanya. Ada juga cerita seperti ini di dunia ini, Hoon tak habis pikir.


"Kau harus menjelaskannya bukan?" Direktur Mei menggeleng, dia tak bisa menjawab pertanyaan Hoon. Air matanya makin berderai. Hoon semakin bingung.


"Ah maaf, aku terbawa perasaan, kau pasti bingung" ujar direktur Mei tak enak. Hoon menggeleng.

__ADS_1


"Dia lima tahun lebih tua dari mu. Dia tinggal di korea"


"Dia mengenal mu, kau pasti juga mengenalnya"


"Siapa?" tanya Hoon makin penasaran.


"Namanya Kai" Hoon pernah mendengar nama itu. Nama yang tak asing. Dia mencoba mengingat. Hoon berpikir keras.


"Aaah!!" Hoon sedikit berteriak "Kai hyung- niim!" Hoon akhirnya mengingat Kai yang dimaksud direktur Mei.


"jadi hyunhnim adalah putra direktur?" Direktur Mei mengangguk. Hoon membuka mulutnya tak percaya. Hyungnim panggilan kakak laki laki dari adik laki laki yang belum begitu dekat.


"Aku sudah lama tak bertemu hyungnim, terakhir dia terlibat pertengkaran dengan nuna ku" jelas Hoon membuat wajah direktur Mei menegang.


"iya, aku tahu" jawab direktur Mei mengalihkan pandangan.


"Aku harap suatu saat direktur dan Kai hyung bisa bertemu, aku juga berharap Kai hyung mau berkunjung dan bermain bersama ku lagi" Direktur Mei menahan sebuah senyuman, dia menatap wajah tulus Hoon.


"Aku berharap banyak padamu Hoon" kalimat direktur Mei tak bisa Hoon pahami tapi dia tak menyanggah, Hoon bangkit dari kursi, dia memberi hormat pada direktur Mei.


"Apa yang kau lakukan?" direktur Mei ikut bangkit dan bingung dengan tingkah Hoon.


"Terima kasih kau percaya padaku dan berbagi cerita, terima kasih makan siangnya" ujar Hoon sambil membungkuk. Di korea orang hormat dengan cara seperti itu. Direktur Mei tersenyum "Kau anak yang baik" pujinya. "Ini untuk mu!" sebuah kontak kendaraan di atas meja. Direktur Mei meninggalkan Hoon.


"Kau bisa menyetirkan, kau harus tahu banyak jalan di sini. Mulai besok kau bisa mengendarai mobil sendiri!" Hoon segera meraih kontak mobil, dia menyusul direktur Mei yang lebih dulu keluar restoran.


"Ini untuk aku pakai?" tanya Hoon tak percaya.


"Tentu saja, kau bisa mengajak gadis mu jalan jalan" sedikit mengejek tapi kalimat direktur Mei ada benarnya juga.


"Kau harus banyak belajar di sini, aku yakin kau akan menjadi orang yang hebat" Direktur Mei menunjuk mobil sedan berwarna merah tak jauh dari posisi mobilnya.


"Aku ada sedikit pekerjaan di tempat lain, kau harus pulang sendiri ke pabrik!" Hoon membungkuk lagi, dia sekali lagi mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Direktur Mei mengemudikan mobilnya, dia melirik spion dan tersenyum melihat tingkah Hoon.


"Kau membesarkannya dengan baik Jung." gumam direktur Mei bicara sendiri. "Aku yakin semua akan baik baik saja. Percayalah pada Hoon, dia anak yang baik"


__ADS_2