
Eun menggenggam erat erat tangan Kai. Dia seakan menghimpun tenaga, Kai melemparkan senyuman sambil mengangguk kecil.
"Kau bisa melakukannya" ujar Kai meyakinkan calon istrinya.
Eun menarik nafas panjang, sampai akhirnya Kai melanjutkan perjalanan, pria itu berhenti sejenak di depan pagar tinggi sebuah rumah mewah. Di papan tertulis kediaman keluarga Kim.
Rumah yang cukup tertutup, Eun mengerti akan privasi seorang aktris, sekali lagi kan menarik nafas panjang sebelum menuruni mobil Kai.
"Kau tahu rasanya aku sangat gugup" bisik Eun ragu. Kai menggeleng pelan, dia seakan membuang ragu Eun. Wajah cantik itu jelas cemas.
"Kau bisa melakukannya, yakinlah!" Ujar Kai sekali lagi meyakinkan Eun. Dia membuang nafas berat. Eun menoleh ke depan sana, dia mencoba mengatur nafas sebelum akhirnya membuka pintu mobil Kai.
"Sayang.." gumam Eun sambil menyeka keringat di dahi. Korea sedang musim semi dan udara cukup bersahabat, kenapa Eun berkeringat? Tentu saja karena dia sangat cemas.
Seharusnya dia tak perlu segugup dan secemas ini. Bukankah semua yang terjadi di belakang sana bukanlah kesalahan Eun, kenapa dia begitu takut. Bukankah Eun dan Sora sudah lama berteman. Masalah antara mereka seharusnya tak mengganggu hubungan keduanya, tapi entahlah.
Setelah membuka portal berita baik online atau pun offline, meski sudah di Korea hampir sebulan. Baru hari ini Eun memberanikan diri mengunjungi kediaman Sora. Bahkan hari ini dia pun masih ragu. Ditemani Kai, akhirnya Eun berdiri di depan sana, di pagar rumah Kim yang tertutup rapat.
Kim Sora mengundurkan diri dari dunia entertainment
Kim Sora kehilangan suami dalam insiden berdarah
Kim mempermalukan Korea di luar sana
Kim bersengketa dengan chaebol kelas satu
Harta keluarga Kim dibekukan
Kim terlibat banyak skandal dan illegal market
Kim paslntas mati!
Kim Sora harus mundur dari industri hiburan
Keluarga Kim mempermalukan warga Korea
Dan ada banyak headline lainnya yang bahkan sulit dibaca dengan mengeluarkan suara. Semua itu membuat Eun seakan tercekat. Dia mengkhawatirkan sahabatnya itu. Bagaimanapun mereka pernah sangat dekat dan saling mendukung satu sama lain.
Baru saja Eun akan menekan bel, suara pagar di dorong mengejutkannya, dia urung menekan bel, dan menoleh. Seorang ahjuma dengan rantang di tangan. Dia menatap Eun dengan sudut matanya.
"Ah, ahjuma.." suara pelan Eun hampir tak terdengar, wanita itu menudukkan badan dengan sopan.
"Minha-ah, apa kau sudah membawa rantang mu!" Suara pria di belakang mengejutkan Eun, pria dan wanita paruh baya ini pernah dia kenal sebelumnya. Mereka pasangan suami istri.
__ADS_1
Eun sekali lagi membungkuk memberi hormat, wanita itu sedikit menarik sudut bibirnya ragu. Mendapati wajah tegang dari wanita yang dia panggil ahjuma atau bibi, dan wajah melongo paman atau ahjusi. Tatapan keduanya membuat perasaan Eun seketika tak enak.
"Sedang apa kau disini!" Ujar ahjuma itu dengan wajah sinis.
"Apa kau mengenalnya?" Tanya ahjusi membalas tatapan sinis istrinya pada Eun, mereka saling berbisik.
"Apa kau lupa dengan wajah cantik tapi gila ini?" Suaranya sangat pelan hingga Eun tak bisa mendengar.
"Bagaimana kau mengatakan dia cantik tapi gila, dia sangat cantik dan rapi!" Ketus suaminya tak percaya, matanya menyapu penampilan hampir sempurna Eun
Gadis berambut panjang tergerai, Eun menggunakan sepatu boots dengan bahan bludru sebagai penghangat alas kaki. Wanita itu juga menutup dres selutut nya dengan Coat berwarna cream sedikit terang dengan motif garis andalan Burberry, apa yang salah dengan wanita ini? Kenapa ahjuma ini mengatakan dia gila!
Ahjuma menggelengkan kepala cepat, dia tak mau terlalu lama membahas Eun dengan suaminya, lagipula penyakit pikun suaminya sulit untuk diatasi. Ahjuma itu kembali mendekati Eun, dia menunjuk dengan wajah sinis.
"Sebaiknya kau tinggalkan rumah ini!" Pintanya ketus. Eun hanya membalas dengan senyum getir.
"Lagipula Sora tak akan mau melihat wajahmu lagi!" Kalimat barusan membuat senyuman Eun seketika lenyap. Ya, bukankah ini lah kenyataan. Mana mungkin Sora masih mau berteman dengannya. Eun terlalu berharap.
"Ah, satu lagi. Sebaiknya kau tak mencari keberadaan dia, kudengar kau tinggal di Indonesia dalam waktu yang lama--" ahjuma itu berpikir sejenak. Dia memukul kepalanya menyadari ucapannya yang melewati batas. Bukankah Kim Sora meminta supaya merahasiakan keberadaannya. Ah kenapa malah jadi bocor!
"Apa Sora di Indonesia!" Eun mencoba mencari tahu, dia meminta ahjuma itu melanjutkan ucapannya.
"Ah, tidak tidak. Aku salah--" tingkah ahjuma yang kikuk membuat Eun tak percaya, pasti dia menyembunyikan sesuatu.
"Ah, aku tidak tahu dia kemana, jangan kau cari dia dan anaknya" ketus ahjuma sambil menarik tangan suaminya, dia segera ingin meninggalkan Eun.
"Ada apa?" Pertanyaan kai membuat Eun sedikit terkejut.
"Siapa mereka?" Tanya Kai ingin tahu, dia heran melihat Eun dan pasangan paruh baya itu lumayan menghabiskan waktu, mereka cukup lama mengobrol.
"Dia bibi yang mengurus Sora sejak kecil" ujar Eun dengan nada rendah. Di kepalanya masih memikirkan kalimat ahjuma itu tadi.
"Sora ada di Indonesia, dan seorang anak?" Eun bergumam, Kai berusaha menyimak tapi dia tak bisa mendengar jelas apa yang diucapkan calon istrinya.
"Ada apa?" Tanya Kai ingin tahu. Eun menggeleng.
"Setelah menikah ayo kita kembali ke Indonesia!" Pinta Eun sambil melangkah ke mobil, kai menyusul calon istrinya cepat. Pria itu kemudian kembali duduk di belakang stir.
"Bukankah kau bilang akan tinggal di Seoul?" Tanya Kai bingung.
"Aku menarik ucapanku! Kita akan kembali setelah menikah."
"Lalu bagaimana dangan Hoon dan Risa?" Kai tak mengerti dengan keputusan tiba tiba Eun, wanita itu menoleh dan memberi tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku akan mengurus bayi RI di sana, biarlah Hoon dan Risa mengurus pekerjaan disini." Kai tak bisa berkata kata.
"Baiklah kalau begitu, setidaknya nyonya Emi tidak akan merasa kesepian. Kita akan tinggal berempat disana" Eun mengangguk setuju. Mereka meninggalkan kediaman Kim.
***
Risa menghampiri Hoon, dia menyodorkan menu sarapan mereka. setelah menggeser pintu kaca dengan.ukuran lebar kurang lebih hampir dua meter.
Hoon bangkit dari kasur dan mencuci muka, dia juga menggosok gigi. setidaknya dia harus melakukan itu setiap bangun tidur kalau ingin menerima kecupan selamat pagi dari istrinya yang sudah rapi.
cups..
Hoon mengecup singkat bibir istrinya, sebelum duduk di kursi meja makan kamarnya.
"apa ini? sirup mapple dan pie?" Risa mengangguk. dan segelas susu hangat.
"ini pertama kali bagiku menikmati musim semi. aku suka sekali anginnya.." ujar Risa menatap keluar jendela.
"kau bisa melihat sepanjang jalan bunga bermekaran" Risa mengangguk seakan mengerti.
"apa kau sudah melihatnya?" Hoon bingung dengan anggukan itu. Apa Risa sudah keluar tanpa mengajaknya.
"Mama dan direktur Mei mengirimkan banyak gambar dan video padaku. bahkan mereka mengajak anak kita jalan jalan pagi ini dengan stroller"
"oh, ya!" Hoon sedikit terkejut
"apa mereka mengenakan pakaian dengan benar? apa bayi RI membawa hot pack di mantelnya?" Hoon sedikit khawatir.
"aku rasa mereka mempersiapkan dengan baik, kenapa kau sangat cemas?" Risa bingung dengan sikap Hoon
"tentu saja aku cemas, aku tak mau keluargaku ada yang sakit karena peralihan musim.." pria itu mengulurkan tangan, menarik istrinya ke dalam dekapan. mereka menikmati ciuman pertama di pagi hari di pengawal musim semi, udara yang sedikit berangin dengan aroma yang sangat lain, segar dan menenangkan.
"sepertinya aku akan betah berada disini.." bisik Risa menjeda ciuman mereka. Hoon tersenyum senang mendengar ucapan istrinya.
"tentu saja aku akan betah disini, karena kau selalu ada bersama denganku.." ah, dengarlah kalimat manis dari bibir mungil Risa, membuat Hoon gemas. Risa berusaha bangkit dari dekapan Hoon, sayang sekali pria itu malah mempererat pelukannya.
"Ayolah sayang, kau harus sarapan.." bisik Risa mengingatkan.
"kau tahu, sarapan ku yang paling yummy adalah.." Hoon menunjuk dahi risa, turun kesudut mancung hidung istrinya, melewati cuping bibir, menyentuh dengan tiga jari permukaan bibir istrinya, mengelus lembut, hingga ke sudut dagu Risa yang tegas. tidak hanya disitu. Hoon menarik turun telapak tangannya, menyusuri kulit mulus leher jenjang Risa.
"kau adalah menu terbaikku" bisik Hoon mengangkat tubuh istrinya. dia menjatuhkan diri sekali lagi di atas ranjang dengan posisi Risa diatasi tubuhnya. keduanya tertawa kecil dan saling mengerti.
"apa kau sudah menggosok gigimu?" tanya Risa dengan wajah menggemaskan. Hoon mengangguk pelan seperti anak kecil yang patuh.
__ADS_1
"itu bagus, karena aku menyukai perasa mint.." Risa menahan rahang suaminya yang sudah sangat siap. Hoon memejamkan mata seakan menikmati menu sarapan favorit nya. Risa ******* habis bibir Hoon hingga tak tersisa, membuat keduanya berlomba mengatur nafas.
Selamat datang musim semi pertama..