
Tujuh tahun kemudian.
RI yang tampan semakin mempesona. Lihatlah dia sangat terkenal diantara teman teman sekolahnya. RI tumbuh dengan baik. Suara berat, jakun yang tegas. Sorot mata yang hangat, senyuman ramah. Tapi dia sedikit berubah kini. Jika dulu orang orang akan menyapa ramah dan berbicara banyak hal padanya tidak untuk saat ini. RI membatasi obrolan antar teman nya, dia seakan memaksakan diri untuk tampil lebih dewasa. Pemuda itu lebih banyak menyimak daripada berbicara. Dia juga sudah sedikit sulit diajak keluar sekedar nongkrong di cafe atau pergi ke karaoke. Pemuda seumuran RI banyak menghabiskan waktu bersenang senang dengan teman teman. Tapi RI nampaknya sangat membatasi diri.
"Kau pasti ikut acara study tour kan!" Teman sebangku RI berusaha meyakinkan sohibnya itu. RI mengangguk. Ya, dia tak bisa untuk tidak ikut. Sepertinya itu acara wajib akhir tahun sebelum pelepasan masa SMA.
"Syukur kalau kau ikut. Akan sangat membosankan jika tak ada dirimu!" RI menautkan alis.
"Kenapa?" Temannya itu lebih heran lagi dengan kalimat mengapa RI.
"Tentu saja membosankan. Kau tahu, anak anak gadis itu akan cemberut sepanjang perjalanan. Mereka akan menyesal ikut jika kau tak ada!" RI hanya tertawa kecil mendengar kalimat temannya itu. Hey, dia sedang tidak bercanda. Si pangeran sekolah. Kau sangat populer. Ya tentu saja selain wajah tampan, dan keluarga terpandang sikap RI juga patut dipuji. Dia cerdas dan dewasa. Memaksakan dewasa tepatnya.
RI meraih tasnya. Dia melangkah meninggalkan kelas.
"RI! Aku belum selesai bicara!" RI hanya melambaikan tangan cuek. Dia harus pulang sekarang. Suasana dirumah sedang tidak baik. Dia harus ambil bagian mendinginkan suasana rumahnya.
Ya, kediaman Jung yang hangat sudah berubah. Apa karena semakin dewasa jadi semakin merasa percaya diri lebih baik? Entahlah, RI terkadang tak habis pikir. Dia ingin meninggalkan rumah disini dan ikut bersama orang tuanya di Korea, tapi RI tidak mau meninggalkan Emi. Tapi, ah! RI mempercepat langkahnya. Dia segera masuk ke mobil jemputan, dan meminta untuk mempercepat laju mobil.
"Cepat sedikit ya pak!"
"Baik tuan!"
***
Kai sedang duduk di kursi dengan wajah mengeras. Nafasnya tersengal seakan menahan amarah yang menumpuk di dada. Suara ketukan sepatu RI tak dipedulikannya. Dia masih kesulitan menahan nafas.
RI melemparkan tasnya ke meja tepat dihadapan wajah kai. Pria itu menoleh dan mendapati wajah tanpa ekspresi keponakannya. Kai beranjak, dia hendak meninggalkan ruangan menuju teras rumah.
"Ahjusi!" Ketus RI, kai menoleh sesaat.
"Jika kau tak menyukai bibiku katakan terus terang dan tinggalkan dia!" Gertak RI, wajahnya sangat kesal kini. Kai membalikkan badan dengan santai. Dia membalas tatapan tajam RI.
"Kau seperti pecundang bodoh. Kau pulang pergi sesuka hatimu dan menyakiti bibiku. Apa kau tak bisa mengambil keputusan!" Sinis RI. Kai mendekati RI, dia menepuk pelan pundak ponakannya itu. RI menepis tangan Kai kasar. Membuat Kai tertawa sinis.
"Kau tak mengerti RI, ini urusan orang dewasa, kau tak perlu ikut campur--"
"Apa katamu!" Potong RI pasang badan.
"Kau membuat bibiku menangis, dan berteriak seperti orang gila! Lalu kau bilang aku tak mengerti, apa kau pikir aku ini bocah kemarin sore yang bisa kau sogok dengan permen!" Sinis RI menatap tajam wajah kai, pamannya itu masih menanggapi santai.
__ADS_1
"Aku melihat dengan mataku. Apa kau tak punya perasaan! KATAKAN KALAU KAU TAK MENCIBTAI BIBIKU LAGI!! KATAKAN!!" Teriak RI kehabisan kesabaran.
"Kau pengecut!" Sinis RI mengepalkan tinju.
BUKK!!
Pemuda itu melayangkan tinju ke arah wajah Kai. Kini mereka memiliki tinggi badan yang sama. Meski postur RI lebih kecil setidaknya dia merasa sudah lebih seimbang kini.
Tap tap tap!!
Eun berlari menuruni anak tangga dengan piyamanya yang berantakan. Wanita itu masih mengucurkan air mata. Dia segera turun dan memeluk ponakannya.
"RI, apa yang kau lakukan!" Eun memeluk RI dan berusaha menenangkan keponakannya.
"BIBI, DIA SUDAH SANGAT KETERLALUAN PADAMU!!" RI sekali lagi melayangkan tinju. Eun berusaha memisahkan keduanya. RI sangat berapi api dan penuh amarah, sementara Kai hanya berdiam diri sambil memegang rahangnya. Pukulan pemuda itu lumayan juga.
"Sudah Ri!!" Pinta Eun dengan menangis. Suara lirih nya membuat RI semakin emosional.
Emi baru saja pulang dari belanja, dia melepas cepat sendalnya dan berlari masuk.
"Ada apa ini!" Tanya Emi melihat suasana panas di dalam rumah. Kai memegang rahangnya yang meninggalkan tanda merah. Eun yang menghapus cepat air matanya dan berusaha menarik senyum. RI yang melepaskan kepalan tangan tapi wajahnya jelas tegang.
"Apa yang terjadi!" Tatapan mata Emi nanar. Dia menatap wajah cucunya dan memeriksa apa terjadi sesuatu pada RI. Pemuda itu mengerti arti sorot mata cemas neneknya.
Kai melangkah perlahan mendekati Eun. Wanita itu membalikkan badannya cepat. RI melihat semuanya.
"Pergii.." gumam Eun pada Kai. Tapi pria itu masih saja menoleh dan berusaha menyentuh pundak Eun. Sorot matanya yang sendu seakan ingin menjelaskan sesuatu pada istrinya.
"Eun.." baru saja telapak kaki akan menyentuh pundak Eun, RI bangkit dari posisinya, dia menahan tangan Kai.
"Apa kau tidak dengar! Pergilah dari sini!" Ketus RI kehilangan kesabaran. Emi tak percaya dengan apa yang dia lihat. Apa yang terjadi disini? Ada apa?
Kai menatap Eun lama, lalu beralih pada RI yang segera membuang pandangan. Kai menoleh kepada Emi, wanita tua itu menautkan alis seakan bertanya. Kai melebarkan senyuman. Dia melempar senyum tipis kepada Emi. Ada yang kalian sembunyikan?
Kai meninggalkan kediaman Jung. Eun menangis sejadi jadinya. RI hanya bisa tertunduk dan menahan gemelutut giginya yang beradu keras. Emi hanya bisa melongo. Dia berusaha mengejar Kai, menuruni anak tangga teras rumah yang luas.
"Kaii!" Panggil Emi. Kai menoleh sejenak. Dia memeluk Emi sesaat.
"Kau mau kemana?" Tanya Emi bingung.
__ADS_1
"Aku akan tinggal di rumah Omma untuk sesaat."
"Apa kau akan baik baik saja?" Kai mengangguk
"Cepat selesaikan urusanmu dan kembalilah kesini!" Pinta Emi dengan sorot mata penuh harap. Kai memaksakan senyum, dia menggeleng pelan.
"Aku tak bisa berjanji Omma" balas Kai.
"Tolong jangan beritahu siapapun. Jangan beritahu Hoon ataupun Risa juga."
"Jaga rahasia ini untukku!" Emi mengangguk terpaksa.
****
POV Eun, di dalam kamarnya.
Kepercayaan yang dibangun bukan hanya satu atau dua tahun. Aku dan kai sudah mengenal sejak remaja, bukan. Bahkan sejak kami kecil. Dia selalu ada untukku. Bahkan meski waktu mempermainkan takdir kami, dia masih selalu mengatakan mencintaiku.
Tapi apa iya, apa dia masih mencintaiku sampai hari ini? Saat aku menemukan perhiasan di dalam saku celana dengan kartu ucapan kecil
'selamat ulang tahun, dan berbahagialah selalu!'
Aku sedang tidak berulang tahun. Dan aku sudah memiliki koleksi itu sejak lama! Itu bukan untukku.
Ternyata sudah sejak lama. Aku jadi mengerti kenapa kau selalu pulang terlambat. Kau jarang membalas pesanku dan menghabiskan waktu panjang di luar sana. Kau sudah tidak mencintaiku lagi! Lalu apa yang bisa aku perjuangkan? Kau sangat mengecewakan Kai, aku sangat kecewa padamu. Dan aku hanya bisa menangis seperti ini. Lagi, kau menghancurkan harapanku.
***
terima kasih yang sudah membaca, semoga terhibur. nantikan coretan aku yang lainnya
Love and Money, kisah cinta dewasa yang dikemas dengan bahasa to the point
Lia gadis miskin, dia membutuhkan banyak uang. bibinya sakit sakitan, ibunya dipenjara. dia harus berjuang untuk hidup. Sampai suatu hari Max, putra tunggal keluarga Edwardo jatuh cinta padanya. Tapi tuan Edward menawarkan banyak uang padanya. Siapa yang akan dipilih Lia. Max atau si papa Edward?
Bukan Salah Jodoh. komedi romantis yang dikemas dengan bahasa sehari hari
Vira pergi ke ibukota untuk kuliah. Lisa menawarkan fasilitas dan banyak impian di sana. Tapi ternyata sepupunya itu hanya menipu Vira. Lisa ternyata menyusun siasat agar Vira menggantikannya untuk menikahi pria yang tak dia kenal.
Vino adalah pria yang hanya peduli dengan uang dan harta. Dia menikah karena warisan yang akan dia dapatkan.
__ADS_1
Bagaimana kehidupan pasangan suami istri aneh ini? Baca ya!
Untuk remaja baca juga First Love Again. Kisah cinta pertama antara Bumi dan Langit yang langsung end tanpa kunci!