
"Hey apa yang kalian lakukan di dalam!" Eun mengedor pintu, membuat Risa segera mengganti pakaian dan Hoon menggendong bayi Ri dan membuka pintu. Wajah Eun nuna muncul dengan mimik jengkel.
"Kalian tidak mengotori ranjang baru itu kan!" Celetuk Eun membuat Risa terbatuk. Aish, benar saja dugaan Eun.
"Kau tidak bisa sabar sedikit apa!" Eun menyikut pinggang adiknya. Hoon mencibir.
"Kami tidak melakukan apa apa kok! Bayiku yang mengotori ranjangmu, dia menumpahkan susu!" Hoon berupaya ngeles.
"Nuna mana percaya dengan wajah merahmu itu!" Balas Eun sewot. Dia segera masuk dan mencari sesuatu di bawah ranjang. Ada apa di bawah sana? Sebuah kotak besar ditarik keluar, ternyata dia menyimpan banyak barang di bawah sana, seperti penyimpanan harta Karun saja.
"Kalian bisa lanjutkan lagi!" Seloroh Eun berlalu sambil meninggalkan kotak yang berantakan setelah dia menemukan barang yang dia cari. Dia tak mungkin membereskan nya sendiri!
Triiing!!
Panggilan telepon masuk. Eun segera mengangkat panggilan dari direktur Mei.
"Hallo.." pada awalnya Eun terlihat masih biasa mendengar percakapan dua arah itu, tapi..
Eun membuka mata dan mulut, ternganga besar.
"Apaa.." lirihnya tak percaya. Hampir saja ponsel itu terjatuh, lepas dari genggaman tangan Eun beruntung, Hoon sigap menangkapnya.
"Hallo, ini Hoon, ada apa!" Direktur Mei mengulang kalimatnya. Dan kali ini Hoon pun terkejut. Dia menatap Eun dan Risa bergantian.
"Ada apa!" Ujar Risa heran, dia segera mendekati keduanya, yang masih membuat tatapan tak percaya. Ada apa sebenarnya?
"Risa, aku akan segera mengantarmu dan bayi RI!" Ujar Hoon kemudian memanggil asisten nunanya.
"Asisten, kau harus mengantar Eun nuna ke rumah sakit!" Ujar Hoon cepat. Dia merangkul pundak Eun dan menepuk pelan. "Nuna kau harus ke rumah sakit, aku akan menyusul" Eun tak menjawab l, dia menurut saja
__ADS_1
"Ayoo Risa.." Risa masih tak mengerti. Tapi dia pun menurut saja.
"Kita harus mengantar bayi kita ke rumah, sebelum ke rumah sakit."
"Kenapa!" Sambar Risa penasaran sekaligus takut. Tampaknya bukan hal baik yang terjadi. Dari sorot mata Eun dan Hoon semua kompak cemas.
"Glen, meninggal.." lirih Hoon. Risa tak bisa berkata kata. Dia hanya bisa mematung. Apa! Pria itu meninggal, haruskah senang? Tapi rasanya kenapa tetap lain? Risa, Hoon ataupun Eun tak satupun dari mereka yang merasa senang atau sekedar tenang. Semuanya seakan kehabisan kata kata.
****
POV. Eun.
Suara deru mobil yang melaju kencang seakan tak mengganggu kupingku. Hanya dengungan kencang yang membuat rasa ngilu yang berlebihan. Betul aku sangat membenci Glen, bahkan aku tak bisa melihat pria itu lagi. Tapi jika sampai dia meregang nyawa seperti ini. Tentu aku pun tak tahu harus bagaimana, aku tidak senang. Jujur aku merasa sedih.
Bukan sebentar waktu yang kami habisi bersama. Bukan juga sedikit momen yang kami jalani bersama. Apa aku bisa lupa? Seandainya aku bisa melupakannya semudah itu. Aku tak akan membutuhkan banyak obat obatan dan terapi.aku tak bisa melupakannya semudah itu! Aku Melewati banyak hal untuk pertama kali dengannya. Glen mengisahkan banyak pengalaman dan pelajaran dalam hidupku. Ya, aku tetap merasa kehilangan dirinya!
Untuk pertama kalinya Kai turun dari pembaringan, dia duduk di kursi roda. Aku segera menghambur dan memeluknya.
"Apa kau yakin akan melihat?" Tanya Kai seakan tak percaya dengan diriku. Hey, aku sudah berusaha sekuat mungki. Tapi entahlah.
"Kudengar kau minum di malam hari!" Bisik Kai dengan nada mengomel.
"Siapa yang memberi tahumu!" Pasti bocah itu sudah membocorkan pada Kai! Dia bahkan mencemaskan ku dengan keadaannya yang masih belum seutuhnya pulih. Hoon seharusnya menjaga rahasia.
"Kau tak harus melihatnya, kau bisa menungguku disini!" Ujar Kai sekali lagi. Aku menggeleng. Aku beralih pada direktur Mei, wajah lelah ini. Aku memberinya sedikit pelukan penenang.
"Terima kasih kau datang" ujarnya lirih. Aku hanya bisa mengangguk. Ini semua bukan salah mu direktur! Kenapa kau begitu terbebani dengan masalah anak anak ini! Mereka bahkan tak pernah memanggilmu ibu. Termasuk Kai, dia bahkan sempat memusuhimu.
"Aku akan mengurus semua dokumennya. Kalian bisa pergi duluan" ujar direktur Mei meninggalkan aku yang berganti memegang kendali kursi roda Kai.
__ADS_1
Risa dan Hoon muncul dengan wajah cemas.
"Kalian sudah disini.." lirihku. Keduanya mengangguk pelan.
"Bagaimana kabarmu?" Risa menyapa Kai, mereka saling melempar senyum
"Semakin membaik, Eun merawatku dengan baik, tidak seperti dirimu.." gurau Kai. Bukan waktunya melepaskan banyak lelucon. Aku bahkan tak bisa menggaris senyum. Kita harus ke kamar jenazah. Bagaimana ini. Aku kian gugup.
Hoon berdiri di sampingku, dia berusah menenangkanmu rupanya. Tepukan dipundak ini begitu bermakna untuk degub jantungku. Ya lihatlah mereka yang kini ada di sekelilingku, mereka semua menjadi alasan kenapa aku harus lebih kuat lagi. Mereka menjadi alasan kenapa aku harus lebih baik lagi.
"Nuna, apa kau ingin minum?" Risa menyodorkan sebotol air mineral. Ya, tenggorokan ku sakit sekali. Apa karena banyak berteriak selama di studio. Aku menyambar botol mineral dari tangan Risa, membasahi tenggorokanku, berharap bisa sedikit memberi kesejukan pada hawa panas yang menyergap diri ini. Langkah perlahan kami terlihat masih jelas ragu. Haruskah kita datang seperti ini? Beramai ramai? Entahlah, aku merasa sangat berdosa jika tak datang kali terakhir ini.
"Oooomm!! Oooomm!! Huhuhu..." Suara jeritan dari kamar jenazah mengejutkan kami semua. Membuat langkah kompak terhenti. Seseorang keluar dengan menyeka air mata. Seorang wanita paruh baya, siapa? Aku belum pernah melihat dia sebelumnya, ada hubungan apa Glen dengan dia?
"Nyonya Susan?" Hoon menghampiri wanita itu. Kami hanya bisa menyimak.
"CEO Jung, terima kasih sudah disini.." ujarnya lirih. Hoon memaksakan tarikan bibir, dia meraut wajah sendu.
"Kami turut berduka cita atas kepergian calon suamimu.." Apa!! Apa aku tak salah dengar? Calon suami apa! Aku tak percaya Hoon bahkan masih saja tak jujur. Dia mengetahui semuanya, bahkan sampai calon istri mantan iparnya. Bocah ini! Membiarkanku tiap malam ketakutan sementara si brengsek itu sudah merencanakan pernikahan. Sialan!!
"Oooomm!!! Ooommm.." suara lirih di dalam sana bersamaan dengan tangisan yang mengiris hati. Itu suara seorang perempuan, dan panggilan itu seketika membuat bulu kudukku berdiri.
"Maaf, putriku begitu dekat dengan calon suamiku, dia sangat terpukul.." lirih nyonya itu sambil menunjuk dengan kepalanya ke arah dalam, dia jelas kehilangan. Putrinya bahkan seratus kali lebih kehilangan. Harusnya aku tak disini hari ini! Eun kau gila! Aku hanya tersenyum sinis setelah mengintip siapa wanita yang meratapi jenazah Glen. Si gadis remaja itu. Aku tersenyum sinis.
"Apa arti senyuman itu?" Kai meraih telapak tanganku, dia mengelus lembut dan membisikkan kalimat ingin tahu. Mungkin kali ini giliran cukup aku saja yang tahu, aku juga akan sedikit berbohong kali ini.
***
terimakasih masih membaca
__ADS_1
tinggalkan dukungan kalian