Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Biar mama yang menemui


__ADS_3

Hoon sedang menikmati santapan paginya. Dia membuat pasta instan dan segelas kopi. Ketika suara langkah terdengar menuruni anak tangga, bibir Hoon tersenyum sinis.


Kai turun terlebih dahulu, dia ikut bergabung di meja makan, tak berselang lama Eun menyusul dengan rambut belum kering sempurna.


"Apa hair dryer mu rusak?" tanya Hoon sarkas.


"Kenapa?" tanya Eun bingung mendengar pertanyaan Hoon.


"Sepertinya kau mandi lebih dari sekali malam ini, sampai pengering rambutmu tak bekerja maksimal!"


Kai hampir saja tersedak dengan tegukan susunya. Kalimat sindiran Hoon terasa begitu menusuk di dada Kai. dia melirik Eun salah tingkah. Ais, Hoon tau saja! Berbeda dengan Eun. Wanita itu mencibir santai.


"Kenapa, kau iri ya!" Eun balas menyindir. Hoon menaikkan satu alisnya. "Segera selesaikan masalahmu pada orang tua Risa, kalau tidak hidupmu tak akan bisa bahagia!" Eun mencoba menasehati. Tiba tiba mata cantiknya menangkap penampilan berbeda Hoon hari ini.


"Kau sendiri tumben sudah rapi sepagi ini?" Eun benar, Hoon terlihat berbeda hari ini. Dia mengenakan kemeja lengkap dengan jas, meski tetap terlihat casual dan sporty, Meski kemeja putih di lapis jas dengan celana warna senada, gaya resmi Hoon tetap terlihat santai, dia tak mengenakan dasi. Itu bukan style Hoon.


"Aku ada rapat hari ini" balas Hoon melanjutkan santapannya.


"Aku dan Kai berencana mengajakmu bertemu direktur Mei hari ini" Eun memberitahu rencananya. Hoon tak begitu merespons.


"Ah, sepertinya kau akan sangat sibuk hari ini!" nada bicara Eun dibuat berbeda untuk menarik perhatian adiknya tapi Hoon malah mengangguk setuju dengan kalimat Eun nuna. Dia masih fokus pada sarapannya. Dasar bocah ini! Bukankah dia yang slbersemangat merencanakan Kai bertemu ibunya? Eun melirik Hoon dengan senyuman penuh makna sebelum melempar kalimat yang menjadi senjata barunya.


"Padahal aku mengundang Risa supaya wanita itu kembali bekerja di perusahaan--"


KLANG..


Garpu Hoon terjatuh dan berdentang menyentuh meja kaca.


"Apa Risa ikut juga?" Eun mengangguk dengan wajahnya yang dibuat sebiasa mungkin. Aku tau arti ekspresi itu! gemas Eun melihat raut wajah Hoon yang terperangah


"Tentu saja, pekerjaannya cukup baik. Dia karyawan teladan yang harus diperhitungkan.." Melihat anggukan Eun saja sudah cukup. Hoon menekan layar ponselnya dengan cepat. Dia tak perlu penjelasan lain lagi.


"Hallo" Hoon menghubungi seseorang, Kai dan Eun tersenyum lucu dengan tingkah Hoon. "asisten Moon?" Eun memberi Hoon tatapan sinis. Adiknya itu sudah sangat rapi dan siap di pagi hari pasti acara rapat yang dia hadiri sangat penting. Kalau tidak, pasti si bocah pecinta rebahan itu mana mungkin mau keluar langsung.


"Batalkan semua acara rapat hari ini, aku ada urusan penting!" Mendengar kalimat dari mulut Hoon, sekarang giliran Kai dan Eun nuna yang melongo. Kai sampai menghentikan suapan rotinya. Pria itu! Ah, semudah ini meluluhkan hati Hoon. Ternyata, sekarang Eun tahu kelemahan adiknya. Dasar Hoon bucin.

__ADS_1


***


Hoon mengganti pakaiannya. Dia lebih nyaman menggunakan kaos dan celana bahan hitam, sepatu kets lengkap dengan topi warna senada. Bibirnya tak henti tersenyum, berharap segera bertemu Risa.


Eun melirik ke arah Hoon. Dia mencibir sambil mengeratkan gandengan tangan pada Kai. Tingkah Eun dan Kai membuat Hoon balik mencibir.


"Apa kalian akan segera menikah?" tanya Hoon penasaran dengan arah hubungan nunanya. Kai dan Eun saling bertatapan.


"Kami belum mau menikah!" kompak Kai dan Eun. Hoon menautkan alis. Siapa kemarin yang menggebu gebu memberi nasehat untuk hidup bahagia dan sehat!


"Aku belum lama bercerai, aku tidak akan mengambil sertifikat pernikahan dalam waktu dekat!" jelas Eun tegas. Kai mengangguk setuju.


"Lagipulakan banyak cara untuk bahagia" Eun menatap wajah Kai yang tersenyum tipis, dia menyandarkan kepalanya di pundak Kai. Hoon malas melihat tingkah mereka.


"Terserah kau saja!" ujar Hoon tak peduli, dia segera masuk ke dalam mobil. 


Entahlah sekarang banyak pasangan yang menganut paham modern menghindari pernikahan, mereka berpendapat dengan menikah itu akan membuat terikat dengan aturan seperti wanita harus dirumah mengurus keluarga sementara lelaki keluar rumah mencari nafkah. Mereka lebih menyukai semua didiskusikan tanpa ada pembatasan gender dan lain lain. Tentu saja itu untuk negara maju yang menganut atheis atau tanpa kepercayaan berbeda dengan kita.


"Kali ini aku yang menyetir, mobilku jadi rusak kalau kau yang bawa!" gerutu Hoon melirik sinis Eun. Bukannya kesal, wanita cantik itu malah tersenyum senang.


"Tolong ya pak!" ujarnya sambil masuk ke dalam mobil dimana pintunya sudah dibuka oleh Kai. Eun dan Kai duduk di belakang, membuat Hoon terkejut. Dia menoleh ke belakang dengan wajah menggerutu.


****


Risa mencoba beberapa pakaian dari dalam lemari bajunya. Dia sudah berapa kali mencoba berbagai model baju kerja, tapi belum satupun yang pas dimatanya. Biasanya dia sangat cuek dengan penampilan tapi berbeda dengan pagi ini.


"Risa, sarapanmu sudah dingin!!" teriak Emi dari arah meja makan, dia saja sudah selesai memandikan bayi Ri dan bersiap memakaikan pakaian. Tapi piring anaknya masih saja utuh.


"Iya ma, sebentar!" balas Risa. Dia masih bingung menatap bayangan di cermin. Emi penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan Risa di kamar. Dia berinisiatif menghampiri putrinya.


Kamar yang semula sempat ditinggali Kai, kini sudah kembali pada pemiliknya. Risa mungkin sudah mengganti seprai dan sarung bantal, cuma..


Emi melongo tak percaya melihat ruangan anaknya. Beberapa lembar baju yang menutupi kasur, bahkan hingga berserak di lantai. Dan.. Apa apaan makeup itu? Risa bahkan tak pernah menggunakannya. Emi melirik putrinya curiga.


"Kapan terakhir kau menggunakan semua ini?" tanya Emi mengangkat palet eyeshadow di kasur. Risa menoleh sebentar, mencari tahu benda apa yang dimaksud mamanya.

__ADS_1


"Oh itu, aku membelinya lima tahun yang lalu!" ujar Risa enteng. Hah, bukannya sudah terlalu lama untuk digunakan lagi! tapi melihat isinya masih utuh sangat sayang kalau harus di buang.


"Kenapa kau mengeluarkan semua ini, apa tidak bahaya menggunakannya?" Emi memeriksa tanggal kadaluarsa pada kemasan makeup. Bayi Ri diturunkan di kasur, dan ikut mengacak acak pakaian Risa yang memang sudah acak acakan.


"Kan hanya sedikit mah!" kilah Risa. Dia akhirnya memilih dres dengan model overslag, menyilang di dada. Kesan kerut di bawah dada membuat volume dada Risa terlihat semakin berisi. Emi menatap tajam dres pilihan anaknya.


"Kau akan interview atau ke pesta?" tanya Emi menyindir pilihan dres Risa. Risa tak ambil peduli, dia tersenyum lebar.


"Ma, anakmu kan bekerja di dunia fashion, jadi sesekali harus menunjukkan passionnya. Lagi pula tak ada aturan berpakaian di dunia kreatif, mereka bebas berekspresi dan menunjukkan signature style masing masing.." jelas Risa sembari meraih bayinya. Dia membawa Ri ikut ke meja makan. Menemani dirinya sarapan.


"Dia kenapa sih hari ini!" gerutu Emi heran.


"Sayang mama, hari ini mama dulu yang menemuinya" ujar Risa dengan suara rendah pada bayinya.


"Kita akan cari waktu supaya bisa bertemu dan berkumpul bersama" lanjutnya masih mengajak bayinya bicara, Risa melirik sekitar dengan waspada.


Emi sedang membereskan pakaian di kamar Risa, sementara Bambang sibuk melayani pembeli di luar. Dasar ya, mentang mentang anak semata wayang, sudah punya bayi tapi tetap saja manja. Memang kasih orangtua tak pernah ada habisnya.


"Apa kau ingin bertemu?" tanya Risa pada bayi tampan di pangkuannya. Tentu saja bayi Ri belum bisa menjawab pertanyaan mamanya .


"Kita nanti akan bertemu bersama, ayo belajar panggil.." Risa mendekatkan kepala ke telinga mungil Ri, mendindingi dengan tangannya


"..appa.." bisik Risa di telinga bayi Ri. Bayi lucu itu segera melebarkan bibir dan tertawa gemas. Membuat Risa ikut tertawa bahagia.


Bersambung..


****


Terima kasih sudah membaca buat kalian semua, semoga sehat dan murah rezeki, semoga bisa menghibur.


Tinggalkan komentar dan tebarkan semangat untukku, komentar kalian membuat aku bersemangat!


kirimkan vote star kalian untuk tulisan ini, agar penulis gercep dan semangat up pas liat sp nongkrong di list rank nome.


btw, terima kasih banyak2 atas dukungan kalian sp bisa ada di urutan ke 6 di populer. Semoga bisa bertahan dan lebih baik lagi!! amiin. Semoga bisa terus konsisten dan semangat lagi menulis. Semoga tidak mengecewakan kalian semua!

__ADS_1


Kirimkan hadiah kalian juga untuk penulis. Melalui hadiah kalian penulis mendapatkan pendapatan. Karena sp masih gratiss.. ayo kirim dukungan kalian!! dalam 60hr sp harus dikuci, itu sudah ketentuan nome. Semoga bisa kejar update sebelum 60hari.. terimakasih supporr kalian, dan jangan lelah berikan terus dukungan kalian..


Sehat, sehat, semangat2 dan murah rezeki untuk kita semua..


__ADS_2