
Di ruang kerja tuan Jung
Glen duduk di kursi kerja tuan Jung, pigura photo tuan Jung sudah berganti dengan foto pernikahan Glen dan Eun. Wajah Glen terlihat tegang.
Pelayan mengantar Kim ke ruangan Glen. Dia tertawa melihat sahabatnya duduk di kursi mewah dilapisi kulit bertekstur kasar.
"Siapa duduk disana" ledek Kim mengambil duduk di kursi tamu. Glen bangk it dari kursinya, menuruni tiga anak tangga, ikut bergabung semeja dengan Kim. Wajah Glen masih terlihat serius.
"Ada apa kau memanggil di hari libur?" tanya Kim, dia mengerti raut serius Glen, pasti ada sesuatu hal penting, pikir Kim.
"Tadinya aku masih mengasihani Kai, tapi dia melewati batas." gumam Glen dengan tatapan tajam. Kim memasang telinga, dia menyimak serius.
"Ku dengar dia sudah tak bersama orangtuanya" lanjut Glen, Kim mengangguk.
"Aku mencoba menyelidiki seperti permintaanmu. Orang tuanya sudah lama bercerai. Pria tua itu sudah ku urus sesuai permintaanmu. Sementara istrinya--" Kim membuka kedua tangan "Aku tak tahu pasti, kita kehilangan jejaknya" lanjut Kim. Glen menghela nafas berat. "Tapi ku pikir kau tak ada urusan dengan wanita itu kan!" Glen mengangguk pelan.
"Kau benar, ku dengar ibunya meninggalkan Kai sejak remaja" sinis Glen. Dia menahan tawa di bibirnya. Kim mengangguk setuju.
Glen merebahkan punggungnya lebih santai.
"Karma itu nyata, siapa kira anak yang dibuang akan menjadi seperti ini" seru Glen dengan bangga, dia membuka kedua lengan dan memandang sekeliling ruangan. Glen begitu senang bisa duduk di ruang kerja tuan Jung, dia bahkan mengubah beberapa tatanan. Glen menggosok gosok bibirnya, menahan senyuman.
"Apa yang akan kau lakukan pada anak itu?" tanya Kim melihat wajah temannya yang tersenyum banyak arti. Kim tahu betul ada banyak hal tak terduga di kepala Glen, dia bahkan tak bisa menebak.
"Apa kau akan menghabisinya?" tanya Kim dengan tatapan nanar tak percaya, Kim tak setuju dengan ucapannya sendiri, Glen melirik Kim sebentar, dia menggeleng pelan.
"Tidak" jawab Glen singkat.
"Daripada mati dengan mudah, aku ingin melihatnya menderita, buat dia kehilangan tubuh sempurnanya, buat dia sangat menderita!" ucap Glen penuh dendam.
"Kehilangan wanita, kehilangan keluarga, kehilangan kebahagiaan, seperti yang pernah aku rasakan, dia harus merasakan nya juga!" lanjut Glen dengan senyuman licik. Kim terperangah. Di hatinya masih ada perasaan cemas sebagai manusia, tapi Glen dan semua kekuasaannya kini adalah tumpuan hidup Kim.
Flashback
POV. Glen
__ADS_1
Ibuku bukanlah seorang ********, dia bukan wanita murahan seperti yang orang katakan. Ibu hanya bertemu orang yang salah di saat yang salah.
KLANG!!
Ibu menutup pintu dengan wajah cemas. Dia merapikan rambut dan sedikit pakaiannya. Aku hanya bisa bersembunyi di balik pintu kamar.
ibu mengacungkan telunjuk di bibir dengan wajah cemas tapi tatapannya penuh harap. Ibu memintaku untuk diam tak mengeluarkan suara. Aku mengangguk mengerti.
DUUUAAR!!
Suara tendangan dari luar begitu kencang, hingga pintu kayu terbuka begitu saja, aku semakin masuk di balik pintu, mencuri lirik di sela sela engsel.
"Kau mau kemana" Suara berat pria paruh baya itu mengancam ibu, wajah panik ibu terlihat takut. Dia gemetar tapi berusaha menggaris senyuman. Aku mengepalkan tangan, berharap memukul wajah menyeringai di depan sana. Hanya saja aku tak berani. Kepalan tanganku masih terlalu kecil dan lemah.
"Kau mau kemana Hana, kau mau mencari pria lainnya, kau mau kabur dariku Hana, kau istriku!" ujarnya sambil menatap wajah ibu, air wajah yang menjijikkan itu membuatku ingin muntah. Telapak lebarnya menyentuh wajah ibu. Ibu melirik ke arahku, aku masih bersembunyi di tempat ini, tak bergerak. Bahkan aku tak berani bernafas lepas.
"Kemana putra kita?" tanya nya kasar. "Apa dia menghindari ayahnya?" Dengan suara serak dan berat daripada bertanya kalimat barusan terdengar seperti ancaman.
"Di, dia, se-sedang belajar.." jawab ibu terbata, aku bisa merasakan betapa takutnya dia. Harusnya kau melepaskan diri, tapi kenapa kau meraih wajahnya dan mengelus lembut, aku sungguh tak mengerti.
"Katakan pada putera mu, jangan menghabiskan uang untuk sekolah. Carilah uang untuk menebus harga diri ibunya!" serunya sinis, dia menarik paksa cardigan rajut ibu, membuka dan melempar ke lantai. Sebuah kancing terpelanting hingga di ujung mataku, kancing itu menggelinding mendekatiku.
Dia melemparkan lembaran uang, aku bisa melihat hujan uang yang menerpa tubuh ibu. Sebelumnya dia meninggalkan banyak kecupan di luka memar yang dia tinggalkan. Tak lama setelah dia menarik dan membanting pintu. Aku memberanikan diri keluar dari persembunyian. melangkah dengan takut ke arah ibu, yang terbaring lemas Dia bermandi keringat di lantai.
Aku tak bisa melihat ibu. Dengan cepat aku menutupi tubuh ibu, darahnya masih menetes dari bibir dan hidung. Di lengan nya ada bekas gigitan yang tampak jelas. Ibu memalingkan wajah dan menangis.
Rambut basah ibu, tubuh polosnya yang penuh memar. Aku tak bisa melihat bagaimana hidup ini begitu tak adil.
"Omma.." ujarku pelan dengan bibir gemetar. Ibu menangis semakin jadi.
"Omma.." aku hanya bisa memanggil terus berkali kali dengan suara tercekat di tenggorokan. Ibu menutupi tubuhnya dengan selimut, dia berjongkok memunguti lembaran uang. Walau tangannya gemetar, walau harga dirinya terluka, walau bebannya berat, kami membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
"Omma.."
"Diamlah Glen, punguti saja uangnya! kau harus bisa kursus di kota!" ujar ibu menahan isak tangisnya, dia berpura pura kuat.
__ADS_1
"Omma, tinggalkan saja dia, ayo kita pergi dari kota ini.." ujarku meminta perhatian ibu. Tapi kau tak mendengar.
"Omma, tinggalkan kota ini! ayo kita pergi!!" Aku sudah tak bisa melihat kau seperti ini, kita seperti pengemis saja. Dia selalu datang dengan kasar dan serakah. Lalu dia pergi dan datang lagi. Kau takut padanya tapi kau tak mau meninggalkannya, kau kenapa bu!! aku sungguh tak mengerti.
"Glen, dia ayah mu" ujar ibu kemudian. Aku menggeleng, dia bukan ayahku.
"Aku tidak mau seorang ayah! aku tidak mau!!" teriakku. Ibu menatap ku kesal. Dia melemparkan uang yang sudah di tangannya ke arahku. semua kembali melayang ke udara menghujani tubuhku.
"Kau kira siapa yang akan memberi kita banyak uang!! ibumu sudah tua dan tak menarik lagi! siapa yang mau tidur dan membayar ibumu ini!!" Teriakan ibu membuatku kehilangan kata kata.
"Kau tidak tahu hidup tanpa orang tua, kau tidak tahu bagaimana terus makan di kota ini! kau harusnya berterima kasih ada aku dan si brengsek itu! setidaknya aku menyekolah kan mu dengan baik!" Ibu terus berteriak. Dia sungguh marah karena permintaanku.
"Tugasmu hanya belajar, supaya kau nanti sukses! supaya kau bahagia tidak seperti aku!!" Glen kecil mengepalkan tangan kesal. Dia tak bisa lagi membantah. Walau ibunya sangat menderita tapi dia tak pernah mau melepaskan diri. Ibu terlalu mencintai ayah.
"Gleen.."
"Gleen.." Suara Kim menyadarkan Glen, dia melirik kepalan tangannya, bayangan masa lalu membuat Glen tak mendengarkan obrolan Kim.
"Kau sudah membaca laporan dari pabrik? sepertinya kita akan repeat order dengan setelan musim panas bergaya vintage" Glen mengangguk mendengarkan penjelasan Kim.
"Trend Eropa sudah memasuki babak baru, mereka mengeluarkan warna neon yang berani, tapi seperti kata nyonya Jung, warna pastel masih menjadi yang terpopuler--"
"Aku akan mengatur sendiri nanti" potong Glen.
"Kau tak perlu melakukannya lagi, kau seorang CEO sekarang, tugasmu hanya duduk manis di kantor dan menerima laporan" ujar Kim dengan ekspresi wajah antara bangga dan iri.
"Aku akan pergi ke Indonesia seperti sebelumnya, aku juga akan membawa model baru yang dibuat Eun" jelas Glen, Kim kini mengerti kenapa Glen masih mau mengurusi pabrik produksi, dia memang paling mengerti tentang perkembangan dan pembuatan produk. Tidak salah jika tuan Jung percaya pada Glen mengenai kualitas produk.
"Lagipula aku tak ingin melihat bocah itu dengan mataku walau melalui liputan televisi.." tawa sinis Glen membuat wajah Kim berubah datar.
"Saat aku kembali, ku harap kau mengurus semuanya dengan baik!" Glen bangkit dari duduk, menghampiri Kim, menepuk beberapa kali pundak temannya, lalu pergi meninggalkan ruangan kerja tuan Jung, bukan, ruang kerja Glen.
"Oiya--" Glen sepertinya masih menyisakan tugas lainnya. "untuk Park, beri dia sedikit posisi agar diam dan tak banyak bicara. Mungkin suatu saat dia bisa berguna" ujar Glen menutup pintu ruangan.
Bersambung..
__ADS_1
Terimakasih semuanya atas dukungan. Komentar positif, review bintang 5 (jangan dikurangi please) aku menerima semua kritik dan saran kalian..
kirim hadiahnya juga ya, semoga rezeki kita lancar semuanya..