
Seperti biasa, ritual mengunjungi keponakan. Eun bersiap dengan banyak hadiah. Dia dan Kai akan berkunjung ke rumah Risa. Wanita itu masih tetap sama, dia tak berubah. Kai senang melihat wajah Eun yang semakin cerah. Sudah saatnya dia untuk bangkit dan memulai hari baru.
"Kau hari ini terlihat sangat cantik.." puji Kai mendaratkan kecupan kecil di dahi Eun.
"Apa aku tidak cantik setiap harinya?" Eun berpura pura merajuk. Kai hanya tersenyum kecil.
"Mm.. biar kupikirkan. Soalnya kemarin aku melihat sisi lain dari wajahmu" guyonan Kai mendapat tepukan kecil di pundak.
"Semua sudah siap, haruskah kita berangkat sekarang?" Kai bersiap membukakan pintu mobil. Eun sekali lagi meneliti barang bawaan mereka. Sepertinya sudah semua. Dia mengangguk. Saatnya jalan.
"Apa sebaiknya kita menemui Risa dan Hoon di kantor?" Pertanyaan Eun membuat Kai sedikit terkejut.
"Aku merasa tak enak hati, karena aku mereka harus menunda pernikahan.. harusnya Hoon tak perlu melakukan itukan!" Wajah Eun terlihat sendu. Kai mengangkat tangannya, dia mengelus lembut kepala Eun.
"Hoon juga mencemaskan mu. Kau itu nunanya. Kau bahkan juga mencemaskan adikmu. Hubungan kalian membuat aku iri" Eun segera tersadar dengan kalimat Kai. Pria ini benar. Setelah sekian lama akhirnya persaudaraan Eun dan Hoon kembali seperti sebelumnya. Berbeda dengan Kai, mereka saling menyakiti dan dendam. Mengingat semua itu tetap saja membuat hati Eun ataupun Kai jelas sesak.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Usul Kai kemudian, Eun mengangguk cepat. Tentu saja, ayo makan bersama.
****
Di kantor.
Risa menyuguhkan kopi kepada Hoon dan kedua tamunya. Wanita itu kembali keluar. Membuat wajah Hoon sedikit kecewa. Dia bahkan belum sempat bertegur sapa. Tapi bagaimanapun ayo membuat senyuman untuk dua orang wanita yang bertamu sepagi ini.
"Baiklah CEO Jung, aku titip putriku padamu.." akhirnya, Hoon segera menerima jabat tangan Susan, dengan begitu dia akan segera pergikan!. Hoon sudah tak sabar menemui Risa. Sekretaris barunya itu harus melalui banyak tahap belajar.
Susan meninggalkan Bianca di ruangan CEO Jung. Gadis muda itu jelas terlihat bingung. Dia tidak tahu hal pertama apa yang harus dia lakukan di sini. Hoon menatap Bianca heran. Wajah bingung Bianca membuat Hoon ingin menikmati kopi pertama buatan Risa hari ini.
Baru saja pria itu ingin meraih cangkirnya, Bianca yang bangkit dari kursi menyenggol ujung meja, sehingga cangkir Hoon tertumpah dan mengenai sedikit bagian dengkulnya.
"Ah maaf pak.." Bianca segera meraih tisu, dengan cepat dia berjongkok dan membersihkan bagian dengkul Hoon.
__ADS_1
"Tidak.. tidak---" Hoon terkejut dan jelas sungkan dengan tingkah Bianca.
Cklek!
Risa membulatkan bola mata, melihat posisi Bianca yang berjongkok di bawah kaki Hoon. Gadis itu membuat gerakan yang membuat siapapun melihatnya jelas berpikiran negatif.
Hoon mendorong kursi, menjauhi Bianca, pria itu mengangkat kedua tangannya. Dia segera berdiri dan menghampiri Risa dengan wajah bingung. Kau masuk disaat yang salah. Kumohon jangan salah paham. Bianca bangkit dengan tisu di tangannya.
Risa memperhatikan Hoon dari ujung rambut hingga ujung kaki, dia kembali menyorot bagian pinggang kekasihnya. Fiuuh.. ternyata aman. Ikat pinggang bahkan masih terikat rapi. Tapi apa apaan noda di ujung dengkul itu?
"Ehm.." Hoon mengatur suara. "Bianca asisten Mong akan membimbingmu" ujar Hoon kemudian. Tangannya mengibas pada meja asisten di depan sana, dia meminta Mong mengajak Bianca keluar dari kantornya. Gadis itu sekali lagi meminta maaf dan menundukkan kepala.
"Maaf pak.." Hoon mengangguk dan memaksakan senyum. Mau bagaimana lagi, dia memang masih terlalu muda.
Risa melipat tangan di dada. Menggeser posisinya supaya pintu bisa kembali tertutup. Tatapan tajam Risa penuh intimidasi.
"Ada apa?" Tanya Hoon tak suka dengan sudut mata Risa
"Siapa wanita tadi!" Sungut wanitanya penuh nada kesal.
"Kenapa kau gugup, kau merahasiakan sesuatu ya!" Tuding Risa masih dengan tatapan curiga. Hoon menggeleng cepat. Dia melonggarkan dasi, rasanya gerah.
"Aku tidak menyembunyikan apapun. Dia karyawan magang, putri seorang kolega bisnis. Tapi karena masih muda dia masih sangat butuh bimbingan" jelas Hoon supaya Risa bisa lebih memahami.
"Oh, jadi kau akan membimbingnya! Jadi kau dengan sukarela akan membimbing gadis tadi!" Loh, kenapa nada suara Risa malah kian tinggi.
"Ti, tidak. Bukan aku yang akan mengajarinya, asisten Mong yang akan melakukan itu.." Risa mendekatkan tubuhnya, membuat Hoon sedikit takut.
"Kau yakin!" Selidik Risa, Hoon mengangguk beberapa kali. Hey! Harusnya sekali saja, anggukan mu itu membuat Risa semakin curiga.
"Baiklah, terserah saja, sekarang lepaskan celana mu!" Pinta Risa akhirnya. Hoon terkejut mendengar perintah Risa.
__ADS_1
"Kenapa! Kita sedang dikantor saat ini" gumam Hoon malu malu. "Tapi tidak apa apa, aku bisa mengaturnya"
Tiit!
Hoon menekan sebuah tombol di depan meja kerjanya, membuat ruangan itu seketika tertutup rapat. Mereka sudah tak bisa mengintip pekerjaan pegawai di depan sana. Kali ini ruangan Hoon benar benar tertutup sempurna.
"Apa kau juga sudah tak sabar?" Tanya Hoon menggoda Risa, membuat gadis itu berdecak. Risa menggelengkan kepala.
"Kau harus mengganti celana mu yang basah" Apa! Hoon membuka mulut tak percaya. Jadi mereka memiliki pikiran yang berbeda. Ayolah, Hoon putus asa sendiri.
Risa memilih celana yang pas untuk calon suaminya dari balik tak kerja, disana ada sebuah ruangan tak terlalu besar. Sebuah lemari berisi beberapa pakaian kerja, sofa dan ranjang kecil. Hoon menyusul langkah Risa.
"Darimana kau tahu ruangan ini?" Tanya Hoon melipat tangan dan bersender pada rak pembatas.
"Asisten Mong yang memberi tahu" balas Risa tanpa menoleh. Dia masih memilih pakaian untuk Hoon.
SLAM!
Hoon menutup pintu ruang istirahatnya. Risa sedikit terkejut. Dia menatap aneh sorot tajam mata kekasihnya.
"Ada apa?" Tanya Risa curiga melihat Hoon kian mendekat.
"Hei, kau kenapa?" Risa mundur dengan memberi pembatas gantungan pakaian di antara mereka. Meja kerja di belakang punggung Risa membuat posisinya terdesak. Hoon mengurung Risa dengan kedua lengan bertumpu pada sisi meja. Tatapan tajam Hoon membuat debaran jantung Risa seakan kian berpacu cepat.
"Hoon, ini masih di kantor.." bisiknya dengan wajah merona. Tatapan aneh itu mengandung banyak hasrat. Risa paham betul jika Hoon sudah melihatnya seperti ini.
Hoon meraih hanger pakaian yang membatasi pandangannya pada wajah Risa. Dia membuang asal.
"Memangnya kenapa kalau di kantor? Kita bahkan belum pernah mencobanya" ujar Hoon di telinga Risa, panas. Suhu ruangan kecil ini seketika melonjak tinggi, seketika panas. Wajah Risa kian memerah. Apa maksudnya belum pernah mencoba? Ah kalimat itu membuat Risa berpikir kotor. Hoon yang memakai jas, dia yang mengenakan kacamata, lalu berciuman hangat di atas meja kerja dan siap menanggalkan pakaian. Oh my God! Imajinasi apa tadi! Risa segera menggelengkan kepala.
"Kenapa?" Tanya Hoon bingung. Pria itu melepas dasi yang melingkar di lehernya. Membuka kancing kemeja yang mencekik.
__ADS_1
Ya, ampun. Kenapa Risa baru sadar. Hoon terlihat begitu tampan dan Badas. Calon suaminya ini sungguh menggoda. Tanpa berpikir lagi Risa mendaratkan kedua telapaknya di pipi Hoon.
"Aku merindukanmu.." bisik Hoon sebelum menyambar bibir Risa