
Musim semi pertama kita di kantor
Masih di Seoul
"Sepertinya kita sedikit terlambat" gumam Hoon mengeluh. Risa melirik sinis.
"Menurutmu kenapa kita terlambat!" Decaknya melirik kesal. Risa menatap bayangan diri di kaca kecil di genggaman tangannya. "Aish, bahkan kau membuat noda merah di leherku" gumam Risa tambah kesal.
"Kenapa!" Sungut Hoon melihat wajah sinis istrinya "kau tak menyukai kecupan suamimu, sini biar aku tambahkan!" Hoon sekali lagi memeluk Risa dengan paksa
"Ah, hentikan. Ada banyak wartawan di depan sana!" Risa memberontak. Hoon tersenyum genit. "Kalau kau terus merengut seperti itu, aku akan membuat banyak kissmark hingga kau tak bisa menutupinya lagi!" Ancam Hoon segera keluar dari mobil. Risa menyusul. Wanita itu menghampiri suaminya dan sekali lagi merapikan pakaian formal Hoon, sedikit menepiskan kerutan di bagian bawah hingga terlihat sudah sempurna.
"Ayo kita masuk!" Hoon menyiagakan tangannya. Meminta istrinya segera mengkaitkan tangan. Risa tersenyum, dia segera mengaitkan lengan mereka. Keduanya masuk melewati kerumunan wartawan. Ya, hari ini kantor pusat cabang Seoul resmi di buka. Hoon dan Risa mengedarkan senyu. Di depan sana asisten Mong sudah menunggu. Beberapa investor dan kolega penting perusahaan sudah menunggu dengan tepuk tangan. Hoon meraih gunting yang sudah dipersiapkan, dia menggunting pita dan mempersilahkan tamu maupun pewarta masuk ke dalam gedung mewah perusahaan Jung. Kali ini di bidang digital. Rasanya semakin hari kekayaan keluarga Jung semakin melesat saja.
"Ah, tuan dan nyonya boleh mewawancarai sebentar?" Tanya seorang wartawan.
"Satu pertanyaan saja ya!" Pinta asisten Mong. Wartawan muda itu mengangguk mengerti.
"Apa benar kisah anda seperti dongeng Cinderella?" Micropon mengarah ke arah Risa, wanita itu mengedarkan senyum simpul. Beberapa pewarta yang tadinya sangat tertarik pada acara sekarang lebih tertarik ke anggota baru keluarga Jung, gosipnya tuan muda Jung menikahi wanita biasa.
Asisten Mong membisikkan sesuatu pada Hoon, "kau bisa tak menjawabnya" bisik asisten Mong, tapi Hoon menggeleng.
Dia menarik pinggang istrinya dan merangkul mesra.
"Menurut kalian bagaimana? Bukankah dia lebih cantik daripada Cinderella?" Hoon memiliki jawaban taktis. Wartawan hanya bisa melongo mendengar jawaban cerdas Hoon.
Hoon melirik istrinya dan melemparkan senyum, Risa dibuatnya seketika merona. Tapi wanita itu punya cara lain menjawab rasa penasaran penulis berita. Dia membungkuk memberi hormat pada semua yang ada disitu. Dengan bahasa Korea yang masih kaku, Risa berusaha memberanikan diri.
"Hallo, perkenalkan nama saya Risa, saya anggota baru dalam keluarga Jung, saya hanyalah gadis biasa dan tak istimewa oleh karena itu saya dan kalian, anggaplah kita sama saja.." ujarnya sambil tersenyum lebar. Kalimat yang manis sekali. Mana mungkin menganggap keluarga Jung sama saja. Mereka adalah anak anak yang lahir dengan sendok emas, keluarga chaebol nomer satu di south Korea.
Kalimat sopan dan wajah ceria Risa cukup mencuri perhatian. Sesaat saja namanya diperbincangkan dalam saluran berita. Risa sampai mendapat julukan bunga dari negeri yang jauh. Dia benar benar mencuri perhatian.
Hoon menarik lengan istrinya, meminta Risa mengikuti langkahnya keluar dari jumpa pers. Dia mengajak istrinya masuk ke dalam gedung baru. Sebuah gedung bertingkat dengan desain futuristik, Hoon sungguh berbakat dalam bidang digital. Fasilitas dan modernisasi di dalam gedung ini sungguh memukau dan mengagumkan.
Mong mengambil alih tamu dan kolega, dia juga menjawab banyak pertanyaan wartawan perihal pekerjaan.
__ADS_1
"Kenapa kau mengatakan hal manis itu di depan semua orang?" Tanya Hoon ketika mereka sudah di dalam lift. Risa tak mengerti maksud pertanyaan Hoon.
"Kenapa?" Tanya Risa polos.
"Aku tak mau banyak orang yang akan kagum dan ingin lebih mengenalmu. Aku tak menyukainya!" Oh, ternyata seperti biasa, lelaki tampan ini memang selalu cemburu dengan hal hal kecil.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, aku tak mau banyak orang penasaran dengan diriku. Bukankah memberi tahu lebih awal itu lebih baik?" Hoon terpaksa mengangguk.
"Tapi kau cantik sekali hari ini!" Loh? Risa tak mengerti kenapa suaminya ini tiba tiba memuji dengan raut sendu.
"Kenapa?"
"Kau akan masuk berita dan banyak orang yang akan melihat betapa cantiknya dirimu!" Kesal Hoon dengan wajah merajuk.
"Ayolah sayang, itu tak masuk akal. Semua orang tahu aku ini istrimu!" Betul juga sih.
"Lagipula siapa laki laki yang sanggup bersaing dengan Jung Hoon si milyuner muda!" Hoon tersipu malu.
"Kau sedang menggoda suamimu ya!" Bisik Hoon dengan suara menggoda.
Tingg!
Pintu lift terbuka. Risa terperangah melihat kiri kanan dinding yang menampilkan desain grafis abstrak yang acak. Wah seperti berada dalam layar besar!
"Apa bagus?" Tanya Hoon, tentu saja, lihat saja Risa tak henti terkagum kagum.
"Ini keren sekali, kau membuat gedung mu seperti sebuah pertunjukan seni!" Puji Risa mengacungkan dua jempolnya!
"Jangan katakan gedungmu, ini gedung kita. Kita memilikinya bersama." Ujar Hoon menarik leher istrinya. Dia bersandar pelan pada dinding yang menyala terang, menampilkan rangkaian animasi yang menjadi produk unggulan perusahaanya.
Hoon menyambar bibir Risa bersamaan background meteor yang jatuh ke dalam tumpukan kelopak bunga. Menerbangkan kelopak pink yang memenuhi sepanjang dinding. Begitu cantik dan memukau. Risa semakin membesarkan matanya. Terkagum kagum dengan pertunjukan layar di belakang punggung suaminya, atau.. sangat terkejut dengan ciuman panas yang memenuhi rongga mulutnya.
Hoon, memang yang terbaik!
****
__ADS_1
Kau dan Eun sedang mengatur pose terbaik. Mereka sedang membuat sertifikat pernikahan. Keduanya terlihat melempar senyum.
"Baiklah, sedikit merapat, tersenyuuumm.." fotografer seakan memberi arahan. Kai dan Eun tersenyum kompak.
Cklik! Blitz kamera menyambar keduanya.
Keduanya menatap hasil jepretan di layar kamera. Kai dan Eun saling berpelukan.
"Kemeja putih ini membuat kita terlihat lebih muda" tunjuk Eun pada layar kamera, Kai setuju.
"Pakaian ini mengingatkan saat kita berangkat sekolah setiap pagi dulu" keduanya tertawa lucu. Kau benar sekali.
"Baiklah, kami memilih foto yang ini!" Kai dan Eun kompak menunjuk. Mereka meninggalkan ruang studio pemotretan foto pernikahan.
"Haruskah kita pergi ke Seoul tower dan memasang gembok disana?" Tanya Kai, Eun menggeleng.
"Aku ingin menikmati Soju dan kue beras bersama denganmu!" Kai mengangguk setuju.
"Kalau begitu mari kita bergabung dengan Omma, mereka masih di Han river." Eun mengangguk setuju.
"Kita tidak akan lama disini, jadi mari bersenang senang!" Eun sedikit berteriak bersamaan deru mesin mobil.
"Kita akan sangat merindukan Seoul nantinya!" Kau dan Eun mengangguk kompak.
"Setelah itu mari ke Nami island, Jeju island!" Teriak kai bersemangat
"Mari menginap dan menghabiskan malam panjang diantara bunga bunga mekar!" Eun tak kalah bersemangat dia merangkul kau yang fokus menyetir.
"Mari melewatkan banyak waktu yang indah bersama sama!" Eun mendaratkan kecupan di pipi Kai, dia sedang mengganggu konsentrasi calon suaminya. Sekali, dua kali, tiga kali! Eun terus mengecup pipi Kai berkali kali, hingga pria itu harus menepikan mobil dan membalas kecupan wanita cantiknya.
"Jung Eun, ayo kita berbahagia" bisikan kau tenggelam bersama kecupan panasnya. Eun berusaha mengangguk, tangannya menjambak kasar anak rambut Kai.
"Bagaimana kalau kita ke myongdong, memesan hotel dan menghabiskan malam di sana, melihat lampu warna warni dari atas balkon?" Ide kai disambut tawa kecil Eun. Katakan saja kalian sudah tak sabar lagi!
****
__ADS_1
Ini kisah cinta yang manis tujuh belas tahun yang lalu..