Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Cerita hoon


__ADS_3

Tidak ada lagi suara mama yang memanggil sekedar mengingatkan untuk mengerjakan tugas sekolah. Tidak ada lagi tawa mama ketika aku dan nuna bertengkar. Tidak ada lagi keluhan mama ketika aku dan papa berebut stik ps. Rumah ku sungguh sudah berubah, mama sudah tak ada di rumah.


Asisten Iin yang sudah ikut saat mama kecil pun meredup, mungkin dia sudah tua. Tapi bukan, dia merasa energinya hilang saat mama terbaring.


Aku meraih telapak mama, begitu rapuh. Tangan halus mama sudah berubah menjadi tulang berbalut kulit. Meski papa berteriak dan memohon kepada dokter, semua peralatan canggih ini tak kunjung memperbaiki kesehatan mama. Percuma papa berteriak histeris bahkan bersujud sambil menangis.


Aku melihat rambut mama kian habis, meski nuna membawakan rambut palsu tetap saja itu tak mengganti rambut indah mama. 


"Apa omma cantik?" tanya mama saat Eun memasangkan wig, aku dan nuna coba mengangguk tapi tidak bisa. Nuna kabur keluar ruangan, meninggalkan aku dan mama.


"Apa Hoon juga akan meninggalkan omma?" Aku menggeleng cepat. Mana mungkin, aku tak akan pernah meninggalkan mama, aku akan selalu bersama mama.


"Omma, cepatlah sehat omma, Hoon ingin disuapi omma, Hoon tidak bisa tanpa omma.." ujar ku saat itu, saat sulit mengatakannya, seperti ada busa yang menyaring suaraku, membuat sakit serak dan lelah. Omma mengalirkan air mata, terus menerus dari sudut matanya.


"Kenapa kau buat omma menangis Hoon!" Eun masuk tiba tiba dia mendorong tubuhku. Membuat genggaman tangan ku lepas, mama masih ingin meraih genggaman tanganku, tapi nuna menyambar telapak tangan mama.


Aku hanya memperhatikan nuna yang terus mengelus dahi mama. Kenapa mama bisa seperti ini, kulit mulusnya jadi berubah. Ada banyak bercak hitam hampir memenuhi permukaan kulitnya.


"Ommaa.." bisikku di belakang punggung nuna.


Tak berapa lama suara ponsel nuna berdering, dia melihat layar ponselnya lalu keluar ruangan, dia melepaskan tangan mama. Eun begitu terburu buru hingga menabrak papa yang baru saja membuka pintu.


"Kau mau kemana Eun?" tanya papa cemas.


"Aku ada urusan sebentar appa!" balas Eun, dia berlari di lorong rumah sakit. Aku menoleh sekilas melihat punggung nuna yang semakin mengecil.


"Siapa yang memakaikan ini?" tanya papa melihat wig mama.

__ADS_1


"Nuna yang memakaikan" ujar ku, papa segera mengangkat kepala mama dengan hati hati, dia melepaskan wig mama.


"apa kau ingin sesuatu?" tanya papa pada mama, mama hanya menarik bibir. Aku tak pernah melihat bibir yang begitu pucat dan kering. Biasanya bibir itu selalu mengoceh dan tersenyum.


"Hoon, kau pulanglah sebentar" papa menoleh ke arah ku, aku menggeleng.


"Aku ingin bersama omma, ingin bersama omma.." ucapku tak mau melepas tangan mama.


"Dasar anak manja, kau sudah berapa lama disini.." ujar papa menahan senyuman kecil, dia mengelus kepalaku.


Kami, aku dan papa memperhatikan mama, menghapus air mata mama yang masih mengalir, kami berbagi senyuman. Appa bangkit dari kursi dia tak bisa melihat kondisi mama yang kian melemah, papa keluar ruangan dan menutup pintu perlahan.


Aku hanya bisa melihat mama seperti ini, aku tak bisa sedikit pun membantu kesakitan mama.


"Omma, biar Hoon yang sakit. Omma harus sehat, jika Hoon sakit, omma akan merawat dan menyuapi, dan aku akan sehat lagi" aku terisak "Omma merawat aku, nuna juga papa saat sakit.. hiks" aku mencoba menarik nafas, meski airmata dan ingus berlomba turun, aku terus berusaha mengucapkan kalimat ku "Omma merawat kami semua hingga sehat, tapi tak satupun dari kami bisa merawat omma, hingga omma tak kunjung sembuh.. huhu hikkss.."


"OMMMAAAAAA!!!"


"OOOMMAAAAAA…..aa!!!!"


Hening!!


_


_


_

__ADS_1


Gemericik air mengalir diantara diam untuk sesaat


Risa bangkit dari posisinya dan meraih box tisu. Dia mengambil beberapa lembar. Hoon masih tertunduk menahan isak tangisnya yang dalam.


Hoon malu mengangkat kepalanya. Dia seharusnya tak menceritakan kisah yang menyayat hati, Risa bahkan berkaca kaca.


Risa mengulurkan lembaran tisu tapi Hoon tak kunjung menyambar pemberiannya. Risa tak bisa menahan gejolak saat melihat seseorang sedih di hadapannya. Dia mengangkat wajah Hoon dengan menopang kedua pipi pria itu. Benar saja dia berlinang air mata, Risa memberi senyuman tipis, Risa paham akan kesedihan Hoon.


Hoon tak bisa membalas tatapan Risa. Dia membiarkan Risa menghapus air mata nya. Risa mengelap pipi Hoon perlahan, dia bisa melihat kesedihan yang dalam di wajah Hoon. Terkadang pria ini konyol dan ceroboh, tapi hatinya begitu dalam dan penuh perhatian. Apa karena dia manja hingga perhatian itu turun padanya.


"Kau punya hati yang lembut" gumam Risa, dia masih mengusap lembut kulit wajah Hoon. Hoon membuka matanya perlahan di menatap wajah Risa yang begitu dekat.


"Kau begitu lembut, aku yakin suatu saat nanti wanita yang mendampingi mu begitu beruntung. Kau memperhatikan dan menyayangi begitu tulus, aku bisa merasakan itu dari cerita mu" ujar Risa meraih tisu lagi, dia tak hanya mengeringkan pipi basah Hoon, kini Risa juga menyeka dahi Hoon yang lembab.


Hoon menyentuh tangan Risa yang sibuk mengeringkan wajahnya.


"Ah.." Risa cuma bisa heran melihat tatapan Hoon yang begitu dalam, tangannya menggenggam erat telapak tangan Risa. Hangat. Risa tersenyum.


Tatapan keduanya bertemu, sesuatu bermain di dalam hati. Risa berusaha tak paham arti tatapan mata Hoon, tapi dia tak bisa lagi menghindar, kenapa aku tak bisa menolak pancaran mata ini? batin Risa protes. Mengapa pria dihadapanku ini menghadirkan beragam rasa dalam hidupku? Kau membuatku marah, kesal, tersenyum, tertawa dan bahagia. Aku tak jatuh hati pada mu kan? aku sudah punya kekasih yang sempurna. Risa bergelut dengan perasaanya sendiri.


Hoon mendekatkan wajahnya, kian dekat. Memangkas jarak antara mereka. Mata Hoon perlahan terpejam, dia meyakinkan deru jantungnya untuk tetap maju walau rasa yang berkecambuk begitu beragam.


Harusnya aku menghindari, harusnya aku menolak. Ini bukan kali pertama, tapi hatiku..


Risa hanya bisa termangu, dia menerima kecupan bibir Hoon, lagi!


Keduanya larut menikmati kulit kenyal dengan desiran perasaan yang sulit dipahami. Baru saja Risa bercerita betapa dia mencintai bos Glen, tapi sebentar dia juga tak bisa menolak kehadiran Hoon. Risa mengikuti gerakan Hoon, yang semula hanya menempel, menghisap dan mengecap. Bukankah dia pernah belajar sebelumnya, ternyata ciuman bisa seindah dan senyaman ini. Hoon menggenggam tangan Risa kian erat.

__ADS_1


"Aku jatuh cinta padamu.." bisik Hoon di telinga Risa tak menunggu sedetik ketika bibir mereka terlepas.


__ADS_2