Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Menahan amarah


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, Glen mendorong perlahan pintu kamar, sebuah ruangan berukuran sedang di lantai atas sebuah cafe ternama, ruangan dengan ranjang medium, pendingin suhu, meja kecil dan dua kursi berwarna lime, sederhana dan minimalis. Glen tersenyum simpul, dia melirik tubuh Risa yang berbaring nyenyak di ranjang.


Glen duduk di samping ranjang, dia mengelus lembut dahi Risa.


"Apa kabarmu? apa kau tak rindu padaku?" tanya nya pada Risa yang tak sadarkan diri, Glen tertawa kecil, senyumnya semakin melebar, dia memainkan rambut panjang Risa.


"Kau ingin main main denganku ya?" Glen terkekeh "Kau salah pilih lawan" lanjut Glen mendaratkan kecupan di dahi Risa, dia mendaratkan bibirnya lama, seolah menikmati hangatnya kulit Risa yang sudah dia rindukan.


Jari jemari Glen menyusup di balik kemeja Risa, dia membuka dua kancing teratas, mempermudah gerakannya. Risa tak bereaksi, dan itu membuat Glen tertawa sendiri. Rangsangan tanpa balasan sepertinya tidak terlalu menarik Glen.


Dia mengambil tali tambang kecil, mengikat pergelangan tangan Risa, dia juga mengikat kaki Risa. Glen mulai melucuti pakaian Risa, menyisakan celana dalam renda dan bra saja. Glen mulai merasakan permukaan kulit Risa dengan indra perasa, dia membuat banyak noda merah bahkan ungu, berdehem dan gemas sendiri. Glen seperti binatang yang memangsa tawanan yang sudah tak memiliki benteng pertahanan. Glen menanti pergerakan Risa, tapi sepertinya gadis itu larut dalam tidurnya, apa terlalu banyak obat? Glen sedikit kecewa menyadari korbannya tak mungkin melawan. Sedikit perlawanan akan sangat menarik, begitulah batin Glen. Dia membuka pakaiannya, naik ke ranjang, memeluk tubuh Risa, mengecap beberapa kali. Glen menarik selimut, dan terlelap di atas dada Risa, menikmati aroma mantan kekasihnya. "Aku sangat merindukanmu, ayo kita menikah!" gumam Glen terpejam lalu terlelap.


Hoon menarik jaket dan kontak mobil, dia tak bisa hanya berdiam diri kan. Risa tak kunjung datang, tak kunjung pulang. Pesta sederhana yang dia siapkan seolah melempem. Semua sudah tak menarik lagi. Hoon memacu kemudi mobil, meluncur ke sebuah cafe. Orang suruhan nya melacak lokasi dan menemukan titik cafe itu, dimana Risa kini berada.


"Kenapa dia lama sekali ke cafe?" gusar Hoon mengepalkan tinju, perasaannya sudah tak menentu, cemas dan panik.


Tak menunggu lama, Hoon memarkirkan mobil. Dia turun lalu sedikit berlari, mendorong pintu cafe bar. Pelayan mempersilahkan Hoon.


"Aku mencari gadis dengan rambut segini, wajahnya kecil, memiliki senyum seperti ini, namanya Risa.." Hoon menjelaskan ciri ciri Risa sebisanya, dia memberi isyarat jika Risa berambut panjang, dan memiliki senyuman lebar yang ramah. Pelayan sedikit tercengang lalu menggeleng pelan.


"Dia sudah keluar sejak pukul sepuluh tadi" ujar pelayan berbohong, wajahnya terlihat ragu. Hoon tak percaya.


Hoon mencari meja kosong, dia duduk disana dan memesan minuman. Hoon terus menatap ponselnya, mencoba menghubungi Risa, tapi selalu saja mailbox. Pemuda itu kian kesal dan marah.

__ADS_1


"Kemana dia!" gerutu Hoon tak habis pikir. Hoon yakin Risa belum kembali, perasaannya mengatakan demikian. Dia bertekad menunggu Risa. Hoon pun mencurigai gerak gerik pelayan yang terus melirik ke arahnya.


Pukul lima dini hari


Hoon kembali ke meja bar.


"Dimana dia!!" Jelas Hoon melihat pelayan berbisik dan menoleh ke arahnya, itu jelas mencurigakan! gertakan Hoon membuat pelayan kian gugup.


BRAK!!


"Dimana dia!!" teriak Hoon, tangannya menggebrak meja, wajahnya kesal, marah dan panik. Pelayan mencoba menenangkan tapi yang ada, pemuda itu menarik pangkal kerah pelayang, membanting tubuh pelayan ke tembok hingga meringis kesakitan. Hoon mengambil beberapa lembar dolar di dompetnya, dia menyodorkan lembaran uang ke wajah pelayan dengan gusar.


"Dimana kekasihku!"


***


Matanya membesar mendapati Risa tertidur di bawah selimut. Pria itu segera mendekat dan tambah terkejut. Apa yang terjadi, batinnya bergejolak.


Perasaan campur aduk, antara cemas dan kesal. Hoon menyingkap selimut Risa, jelas kekasihnya hampir telanjang, dan noda di kulit itu, bukti jelas betapa dasyat nya pergulatan di ranjang inu malam tadi. Hoon membuka ikatan tangan dan kaki Risa dengan gemetar. Memar merah membekas jelas di kulit kekasihnya. Gadis itu masih belum tersadar. Hoon meneliti sekeliling, mencari sedikit bukti, dia menggeram kesal dan marah. Jika dia tahu siapa yang melakukan semua ini. Tangannya mengepal kencang hingga urat uratnya terlihat jelas.


"Hoon.." panggil Risa dengan suara lirih. Dia mendapatkan tatapan nanar dari bola mata Hoon. Risa mencoba bangkit dengan sisa pening di kepala. Gadis itu meneliti keadaan. Dimana ini? Risa tak mengenali ruangan. Dan rasa nyeri di pergelangan tangan juga kaki, menjeplak jelas bekas ikatan tambang. Risa menggerakkan kedua tangan dan kakinya, dia merasa pegal.


Wajah Risa kembali menatap wajah pria nya, tegang dan keras. Hoon tidak sedang senang.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Risa bingung. Kebingungan kian menjadi dengan keadaannya yang hampir telanjang. Risa meraih pakaiannya di lantai, dia terkejut dengan banyak noda merah bahkan ungu di kulitnya, apa ini Hoon yang lakukan? Risa ragu.


"Hoon.." Risa mencoba menyentuh pundak kekasihnya. Wajah Hoon masih sama, menahan banyak perasaan di dada. Dia menepis sentuhan Risa, membuat Risa kian heran dan tercengang. Ada apa? berkali kali batin Risa bertanya, tapi semakin bingung dia melihat wajah Hoon.


Setelah mengenakan pakaian lengkap, Risa turun dari ranjang dan mengenakan sepatu pantofelnya, dia mengambil tasnya di meja. Apa?


Beberapa alat kontrasepsi, membuat kedua nya merasa tegang. Risa meraih bungkus kosong di lantai, dan beberapa di tas.


"Apa ini?" tanya Risa pada Hoon. Pemuda itu menggertakkan gigi. Marah!


Hoon tak menyukai memakai benda karet ini, lalu? Risa tak bisa percaya, apa yang telah dia lakukan tadi malam? di ruangan asing ini, dengan siapa?.


Hoon bangkit dan melangkah cepat, dia meninggalkan Risa. Menyadari itu Risa berlari menyusul langkah Hoon. Dada nya bergetar hebat.


Risa ikut bergabung ke dalam mobil. Kali ini dia membuka pintunya sendiri. Hoon jelas kecewa dan marah, tanpa menoleh Hoon memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Risa tak berani berkata kata. Hoon masuk ke pikirannya sendiri. Marah kesal dan cemburu, semua menjadi satu. Risa beberapa kali menarik nafas panjang dan membuang. Berharap bisa melegakan perasaannya, tapi nyatanya, nihil


Hoon menahan amarah yang bergejolak di dada. Dia kesal dan marah kenapa Risa pergi tanpa ijin, dia menemui siapa diam diam di belakang punggungnya. Hoon mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat, hampir saja mobil tergelincir, membuat Risa panik, tapi dia tak berani berkomentar. Wajah Hoon sedang tidak ingin di komentari.


"Cari tahu rekaman cctv, siapa yang masuk ke cafe itu!"


***


Kirim dukungan kalian lewat komentar dan bintang lima, star vote, dan hadiah.

__ADS_1


dukungan kalian adalah semangatku..


terimakasih buat kalian yg udah kasih semua itu pada novel ini. semoga kita sehat dan bnyak rezekinya..


__ADS_2