
Risa masuk kembali dan menatap ke arah Hoon dengan sorot tajam. Berani-berani nya dia melakukan hal itu padaku! gusar batin Risa marah. Dia sudah mencium dan akh! mengingat bagaimana tangan Hoon mengepak ngepakkan underwear milik nya membuat Risa seakan ingin meledak, wajahnya merah padam. Risa juga ingin bertanya perihal ciuman kecil mereka, apa Hoon sengaja melakukannya? apa Hoon sedang mencuri kesempatan dalam hubungan mereka? hubungan yang tak pernah harmonis. Tapi Risa berpikir sekali lagi, dia mengurungkan niatnya. Menanyakan perihal ciuman bukannya terlalu vulgar? Risa takut Hoon malah menganggap Risa gampangan. Ah, lupakan! gerutu Risa menahan kesal, dia duduk di meja makan. Hoon ikut bergabung.
"Kau sedang apa?" tanya Risa ketus, matanya melirik kesal.
"Makan" jawab Hoon singkat.
Risa menahan tudung nasi dengan telapak tangannya, Hoon hanya melongo karena tak bisa melihat menu apa di bawah tudung nasi yang baru saja ingin dia singkap.
"Kau tak boleh makan masakan ku!" ketus Risa marah. Dia bangkit dan menghentakkan kaki.
"Nih!" Risa melempar mie instan cup, Hoon segera menangkap "Kau makan itu saja!" sungut Risa berlalu meninggalkan Hoon. Pria itu hanya bisa melongo dan membaca saran penyajian yang tertulis lengkap di cup mie.
"Tambahkan air panas dan tunggu beberapa saat.." Hoon membaca petunjuk, dia menggaruk kepala bingung. Melihat Risa sudah tidak ada, Hoon mengintip masakan di bawah tudung saji. Wah, ayam fillet, potongan sayur warna warni, meatball dengan misoo "Ah, sepertinya enak" Hoon menelan ludah. Dia menahan ilernya supaya tidak menetes.
"Syukurin!" gerutu Risa melipat tangan di dada. "makan tuh mie!" Risa meraih handle pintu kamarnya, dia cukup puas dengan hukuman yang dia berikan pada Hoon.
Baru saja Risa hendak merebahkan bokong di karpet, dia terkejut melihat isi kamarnya sudah berubah.
Ada ranjang lengkap dengan sprai nya, lemari dengan kaca, Risa juga mendapatkan ekstra meja rias dalam kamarnya.
"Apa ini?" tanya Risa tak bisa menahan kekagumannya. Tentu saja, bukankah kemarin hanya ada matras dan lemari plastik. Bagaimana tiba-tiba jadi lengkap begini?.
"HOOONNNN!!" Risa berteriak girang menuju dapur, Hoon segera menarik tangannya dari dalam tudung saji, Dia menutup rapat mulutnya yang baru saja menyuap sebiji baso bulat seperti bola pimpong, kalau lewat membuat perut kosong.. eh!
"Hoon!" seru Risa dengan wajah ceria. Hoon menoleh dan bertanya dengan senyuman, dia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun kini, kalau ngomong nanti Risa tahu kalau baso nya sudah berkurang satu.
"Kau melakukan itu kan?" tanya Risa, Hoon menggeleng. Apa dia melihat ku saat mengambil baso?! tanya batin Hoon cemas. Hoon menggeleng berkali kali.
"Jangan bohong, kau melakukannya kan!" tuding Risa memaksa. Hoon melotot dan memasang wajah pasrah. Pasti Risa sadar kalau makanan nya sudah di comot Hoon. Bagaimana lagi, Hoon harus mengakui, kalau masakan Risa memang lezat.
__ADS_1
"Kau memesan lemari dan ranjang di kamarku kan!" Mendengar kalimat Risa air wajah Hoon seketika berubah, dia mengangguk ragu.
Hoon mengunyah bakso di mulutnya dengan perlahan. Dia menelan nya, Risa sadar betul itu. Hoon menunggu reaksi Risa, gadis itu malah membuat senyuman bukannya marah.
"Kau membeli kasur dan lemari untukku?" tanya Risa lebih rinci sekali lagi. Hoon mengangguk.
"Direktur Mei yang menyarankan" jawab Hoon jujur "apa kau suka?" tanya Hoon menunggu reaksi Risa. Dia mengangguk dan tersenyum senang.
"Tentu saja, ucapkan terima kasih pada bu direktur" ujar Risa masih dengan nada riang.
"Aku juga berterima kasih padamu Hoon. Walau kau menyebalkan tapi aku menghargai usaha dan niat baik lmu" ujar Risa tersipu malu, Risa benar, walau Hoon tidak melakukan pekerjaan dengan baik, tapi pemuda tampan itu selalu berusaha berbuat baik. Hoon pun demikian, dia senang mendengar ucapan tulus dari bibir Risa. Hoon menggigit bibir tak kuasa menahan perasaannya. Dia terlalu senang mendengar terimakasih dan wajah merona gadis di hadapannya. Dada nya seakan meledak dan dipenuhi bunga bunga. Wajah ceria Risa membuat Hoon terus mencuri lirik. Risa membenarkan rambutnya, dia pun salah tingkah. Keduanya terlihat canggung dan sedikit kikuk.
Risa membuka tudung saji, dia mengambil dua piring. "Kau boleh makan sesukamu!" ujar Risa kemudian, dia mengisi nasi di piring, menyodorkan nya pada hoon.
Hoon segera menarik kursi, menerima piringnya dan memulai suapan pertama.
"Enaak!" puji Hoon, senyuman Risa semakin lebar. Dia ikut bergabung, menyendok nasi, dan mengisi piringnya.
"Terima kasih, sudah memuji masakan ku dan.." Risa ragu melanjutkan kalimatnya.
"dan.. mencuci pakaian ku"
"Uhuk-uhuk!!" Hoon tersedak mendengar lanjutan kalimat Risa, dia segera menegak air yang Risa sodorkan. Kenapa dia mengingatkan kejadian itu lagi sih! Tenggorokan ku jadi nyeri, batin Hoon menggerutu antara kesal dan malu.
Keduanya menghabiskan santapan sambil sesekali bercanda, tertawa riang dan berbagi cerita.
Hoon menyandarkan diri di sofa dengan membusungkan perut penuhnya.
"Kenyang sekali" gumam Hoon kekenyangan. Risa menyusul duduk setelah membereskan cucian piring.
__ADS_1
"Kau akan tidur di sofa lagi malam ini?" Hoon mengerutkan dahi, dia berpikir sejenak.
"Karena kau memasak enak, aku akan bisa tidur nyenyak sepertinya" balas Hoon dengan senyuman, Risa berdecak
"Memangnya selama ini masakan ku tidak enak?" Hoon terkekeh melihat Risa tak percaya pada jawaban darinya.
"Kau sengaja melakukannya kan?" Hoon terdiam sesaat, dia tak langsung menjawab pertanyaan Risa.
Risa mencari saluran televisi.
"Kau tahu, caramu itu konyol, kau terlalu memaksakan diri" gumam Risa masih terus mencari saluran yang cocok dengan seleranya. Hoon tersipu sendiri. Ternyata Risa menyadari semuanya. Setidaknya Risa tahu jika Hoon tak seburuk seperti perkiraannya selama ini.
"Bukan kah aku pria yang baik?" sorot mata Hoon mengharap pujian dari Risa, gadis itu melirik sekilas dan memasang wajah pura pura kesal. "Sedikit.." bisik Risa, walau begitu dia menyimpan senyuman kecil sambil tersipu. Hoon tersenyum senang. Rasanya sangat senang menyadari Risa menghargai usaha kecilnya. Perasaan macam apa ini! gerutu batin Hoon. Meski sudah berusaha menahan semua gejolak di dada nyatanya Hoon tetap sadar akan perasaannya pada Risa, dan ciuman kecil mereka? Hoon melirik bibir tipis Risa yang berwarna merah muda. Risa sedang menikmati acara televisi, dia tertawa lucu. Hoon hanya terus menatap pergerakan bibir Risa, tawa renyah Risa. Dia tak bisa mengalihkan pandangan. "Kau sangat mempesona" batin Hoon memuja. Lihatlah wajah polos dengan senyuman yang indah di sebelahnya. Dia mudah sekali mengganti wajah sedih dengan senyum lebar dan mata berbinar. Risa seperti kupu kupu yang terbang tanpa beban, mempesona bagi yang melihatnya. Hoon sadar betul arti debaran pada dadanya.
Saat kau sedih aku ingin memeluk dan menenangkan mu. Saat kau kesal itu terlihat lucu dan menggemaskan, kau membuat ku merasa lebih hidup selama di sini.
Sayang sekali, aku bukan pria beruntung yang mencuri hatimu. Aku berharap kau bahagia dengan kekasih mu. Aku harap pria itu seperti kata mu tadi, membahagiakan.
Hoon menghela nafas lagi, dia masih terus menatap wajah Risa, berharap suatu saat wanita ini terus berada di sisinya.
Hoon menopamg dagu, tak mau memalingkan wajah.
"Kau suka---" Risa memutus kalimatnya saat menoleh, dia mendapati sorot mata Hoon yang dalam.
Bersambung..
Tinggalkan review bintang 5, komentar positif dan hadiahnya ya reader..
Dukungan kalian adalah semangat untukku!
__ADS_1
terus baca kelanjutannya ya!