Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Rencana bulan madu


__ADS_3

Risa bersiap dengan beberapa kopernya. Hoon tak percaya mendapati berapa banyak koper yang memenuhi kamar mereka.


"Satu, dua, tiga, empat.." Hoon menghitung koper yang masih terus dirapikan Risa 


"Kenapa kau membawa sebanyak ini?" Tanya Hoon heran. Risa menoleh sejenak lalu melanjutkan pekerjaannya. Merapikan beberapa pakaian dan mainan bayi RI 


"Bukankah kita akan menempuh jalur laut? Pasti banyak yang perlu kita persiapkan kan" jawaban Risa semakin membuat Hoon melongo tak percaya.


"Sayang, kita ini mau honeymoon bukan mau pergi mendaki gunung.." ujar Hoon meminta perhatian istrinya, pria itu menghentikan tangan Risa yang masih saja sibuk mengatur isi koper.


"Ayolah sayang.." Hoon menarik tangan istrinya dengan wajah manja. Risa mengerti sekali dengan nada suara lain itu. Baikla Hoon sedang meminta perhatiannya kini. Risa menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Sayang, kita tak perlu membawa semua ini" lirik Hoon pada koper yang berserakan di lantai. Risa mengangkat bahu tak mengerti. Suaminya merangkul pinggang risa, membawa diri ke sisi ranjang. Hoon duduk di tepi ranjang, dengan Risa diatasnya. Wanita itu merangkul leher suaminya, dia berdiri di antara kaki Hoon.


"Kita bahkan masih belum membawa stok makanan" ujar Risa dengan wajah polos. Ucapan istrinya membuat bibir Hoon tertawa kecil.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Risa heran.


"Tentu saja, karena kau lucu.." 


"Lucu bagaimana?"


"Tentu saja kau lucu. Ini honeymoon kita dan kau membawa berapa banyak barang, belum lagi kita juga membawa semua anggota keluarga. Kita akan honeymoon atau apa sih!" Kalimat panjang Hoon diakhiri wajah sedikit cemberut, pria itu sedikit kecewa dengan rencana honeymoon indah mereka. Tapi semua ingin ikut. Kai dan Eun, direktur Mei. Emi dan bayi RI, tentu saja!


"Kita kan tidak bisa meninggalkan anak kita sayang.." balas Risa meminta pengertian. Hoon mengangguk paham


"Tapi kenapa semuanya jadi ikut" keluh Hoon menghela nafas berat. Membuat Risa tertawa kasihan.


"Mama akan menjaga RI, dan Eun nuna, Kai juga akan menikmati malam indah mereka. Direktur Mei juga ikut karena dia harus pulang ke Korea." Risa menjelaskan sekali lagi, dia sudah menjelaskan sebelumnya tapi nampaknya Hoon masih mempermasalahkan ini semua.


"Padahal nuna dan Hyung bisa sajakan pergi ke tempat lain. Direktur Mei juga bisa menggunakan pesawat. Kenapa mereka ikut berlayar bersama kita. Kalau mama sih, aku tak apa. Karena mama tak mungkin mau berpisah dengan bayi kita" gumam Hoon masih dengan wajah merengut.


"Pokoknya aku tak mau diganggu nanti!" Ujar Hoon tegas. Risa mengangguk seakan mengerti. Wanita itu memainkan rambut suaminya yang halus. Lihatlah wajah manja di bawah sini. Bibirnya manyun dan cemberut. Padahal dia sudah punya istri dan seorang anak, tapi tetap saja tingkah Hoon sama seperti dahulu. Dimana mereka pertama kali bertemu.


Risa mengangkat kedua telapak tangannya, menyentuh lembut pipi suaminya. Membuat wajah Hoon mendongak dan menatap wajah cantik istrinya.


"Sebaiknya kau minum banyak vitamin dan banyak olahraga.." gumam Hoon mengedipkan mata menggoda


"Kenapa?" Tanya Risa heran dengan kalimat suaminya itu.


"Karena.." Hoon menyembunyikan senyumannya. Risa memasang telinga


"Karena aku akan menghabisimu selama perjalanan panjang kita!" Seru Hoon menggelitik perut istrinya. Membuat Risa tertawa dan meminta ampun.


"Aakkhh.. hentikan! Hentikan.. itu gelii.." Risa berusaha menghindar, tapi Hoon tak mau melepaskan Risa. Dia menjepit kedua paha dan mengunci tubuh istrinya, pria itu menikmati Risa yang terus memohon ampun dan tertawa geli.

__ADS_1


"Katakan aku cinta kamu sampai seratus kali!" Ancam Hoon masih terus menggelitik perut Risa.


"Aaakkhh.. ampunn, iya, iya, aku cinta, cinta,.. arah hentikan!!" Hoon tak memberi ampun, hingga mereka jatuh ke atas kasur. Hoon berada di bawah dan Risa di atasnya. Ah, katakan saja kalau kau sudah sangat siap untuk perjalanan panjang kita.


"Kenapa harus menunggu di atas laut dan perjalanan panjang?" Tanya Risa, Hoon menaikkan satu alisnya. Apa maksud tatapan menggoda ini?


"Kita bahkan memulainya dari kamar ini!" Seru Risa menurunkan tubuh. Dia menyambar bibir suaminya. Hoon mendekap erat leher istrinya. Ciuman yang baru saja akan memanas.


"Oooee...oooee!!" Ah memang seharusnya tidak melakukan ini saat seperti ini. Risa segera bangkit, dia menghampiri RI yang sudah bangun karena goyangan kasur akibat serangan ciuman panasnya. Hoon hanya bisa bengong. Kedua tangannya bahkan masih dalam posisi mendekap, tapi istrinya sudah beranjak meninggalkan dia yang hanya bisa menatap plafon dan melongo.


****


"WAH!!" Risa melongo tak percaya saat Hoon menuntun tangannya memasuki dek kapal. lihatlah apa ini! kapal Titanic? oh bukan, bahkan jauh lebih megah lagi.


Tak berbeda dari Risa, Emi dan direktur Mei juga sibuk bergosip dan berdecak kagum, sesekali mereka mengambil foto bergantian. Sepertinya mereka menjadi sahabat baru yang sangat cocok. Sementara Kai merangkul pundak Eun, sesekali dia menyeka rambut panjang kekasihnya yang tertiup angin. Mereka memisahkan diri, Kau mengambil segelas minuman dari meja cafe, dia menarik kursi mempersilahkan Eun. Mereka duduk di sebuah cafe dengan pemandangan laut lepas. Eun ingin menatap pelabuhan sebelum berlayar. Dia menyukai melambai pada kota yang meninggalkan kelap kelip lampu warna warni.


Jadi ini alasan kenapa Risa tak perlu membawa banyak koper. Wah, lihatlah di kapal besar dan megah ini. Bukan hanya orang orang dengan pakaian mahal dan stylish. Risa juga bisa melihat ada banyak pilihan restoran dengan menu andalan yang beragam. Bahkan di dalamnya juga berjejer toko toko seperti di mal mal, bahkan jauh lebih apik lagi. Mereka memaksimalkan keadaan dengan lebih fungsional tapi tetap menarik mata.


"Wahh, Daebak!"


"apa katamu?" Hoon tak percaya Risa sudah bisa mengucapkan beberapa kata bahasa Korea


"aku belajar dari nuna, dia selalu mengucapkan itu saat merasa kagum" balas Risa menjawab cepat. matanya masih sibuk menyapu kanan kiri.


"kita sebaiknya ke kamar dulu, bayiku ini sepertinya ingin beristirahat.." ujar Hoon mencibir gemas pipi bayi RI dalam gendongannya. bayi tampan itu malah masih siaga, matanya seakan berbinar menatap sekeliling, tingkahnya seperti itu mirip sekali dengan risa.


"apa kita juga punya kamar disini?" tanya Risa tak percaya, Hoon mengangguk, dia merangkul tubuh istrinya yang memelankan langkah. wajah tak percaya Risa sungguh menghibur Hoon


"ah, aku pernah melihat blog seorang artis, kudengar dia berlibur dengan yatch, mereka menginap di kapal. ah kau benar sekali! pasti kamar seperti itukan!" Risa seakan sok tahu. Dia memang pernah melihat di media sosial seorang artis yang berlibur keliling pulau, mereka menggunakan yatch dan tidur di sebuah kamar bersama. tapi pesiar dan yatch tentu berbeda, secara ukuran pun mereka berbeda. Lihatlah dan Risa tak akan percaya.


"HAH!!" Risa melongo saat Hoon membuka kamar hotel mereka.


"Apa kita tidak salah, apa kau yakin kita sedang di atas kapal?" Hoon tertawa lucu. te tu saja, kau lihat sendiri bagaimana mobil kita masuk ke dalam kapal tadi!


"Kenapa kamar hotel ini begitu mewah?" Risa menggelengkan kepala, dia tak percaya. matanya membulat, mulutnya terus melongo.


"yang benar saja, apa aku sedang bermimpi?" Risa mengetuk kepalanya sendiri dan terasa sakit.


"ah, ternyata bukan mimpi" gumam Risa membuat Hoon menoleh heran. dia baru saja meletakkan di di Playground tak jauh dari posisi sofa ruang kamar mereka.


"Apa aku tak salah memilih suami, dia terlihat seperti khayalan saja!" gumam Risa menatap suaminya yang meraut wajah bingung. Ada apa dengan istrinya? apa dia baru sadar, kalau Jung Hoon memabg bukan pria sembarangan.


"kemarilah!" ajak Hoon. Risa melangkah perlahan. Dia sungguh sangat beruntung. Ah ternyata masa sulit dulu seakan dibayar tunai oleh Hoon.


"Apa kau suka?" aih, pertanyaan macam apa itu! tentu saja, siapa yang tak menyukai fasilitas hebat super mewah seperti ini.

__ADS_1


Hoon menepuk sofa di samping dirinya, dia melipat kaki menunggu istrinya segera menghampiri. Risa duduk di sebelah Hoon, pria itu segera merangkul pinggang istrinya dan merapatkan tubuh mereka


"Apa kau tahu, ini perjalanan panjangku di atas laut untuk pertama kalinya.." Risa mengangguk seakan mengerti.


"aku juga" jawab Risa setuju


"Aku ingin kita mengingat perjalanan ini" Risa mengangguk. Tentu saja, siapa yang akan melupakan pengalaman seperti ini. Bahkan satu diantara seratus orang pun belum tentu bisa merasakannya. Ah, Hoon membuat Risa merasa begitu istimewa.


Klik!


Hoon menyalakan layar lcd besar di depan Playground baby RI, dia memutar kartun kesukaan anknya. sementara Hoon sibuk menyingkap lembar demi lembar pakaian istrinya. Hoon menekan tombol yang lain, membuat dinding kiri dan kanan menyatu, Playground bayi RI tertutup rapat. Risa sedikit terkejut, dia segera bangkit dan cemas.


"Apa Ri tidak apa apa di dalam sana sendirian?" Hoon menggeleng.


"Bagaimana jika sesuatu terjadi, dia sendirian disana!" ujar Risa tak percaya.


"Sayang.." Hoon menarik tangan istrinya, memaksa Risa kembali duduk di sofa.


"bayi kita sudah bersama mama, kamar ini menyatu dengan kamar sebelah. Playground itu dibuat dua pintu.."


"HHaa.." mustahil! Risa sulit percaya. tapi dia hanya bisa bengong saja.


"Ayolah.." ujar Hoon mencoba menenangkan istrinya..


"Apa kau yakin?" tanya Risa masih cemas.


"Kalau tak percaya coba saja Videocall mama.." tak menunggu waktu Risa menelpon mamanya, dan benar saja dua orang ahjuma di kamar sebelah sedang asik bermain di kolam renang kecil. wah, gila! ini kapal atau kantong Doraemon! Risa sulit percaya.


"kau lihatlah!" Risa mengangguk pelan.


"Kenapa? apa kau masih cemas?" Hoon tak mengerti dengan wajah risa, sepertinya wanitanya itu masih terlihat ragu.


"Aku tak percaya semua ini bisa aku rasakan, semua ini sungguh seperti mimpi.." gumam Risa dengan mata berkaca kaca. ah tiba tiba dia menjadi melow, apa karena Bambang tak bisa ikut bersama, ayolah Risa ini perjalanan manis yang dipersiapkan oleh suamimu. kau harus tersenyum ceria


"Aku ada di sampingmu, sayang.." bisik Hoon, Risa mengangguk. Hoon mendekatkan kepala mereka


"Apa kau masih tak percaya jika semua ini bukan mimpi?" pertanyaan dengan suara mendayu di telinga Risa menggelitik geli.


"aku akan menunjukkan padamu hingga kau percaya jika aku memang bukan sekedar mimpi.." bisik Hoon menggigit gemas daun telinga istrinya, apa yang dia lakukan. kau membuat tubuh Risa seketika merinding. wanita itu membalas dengan mengecup kulit leher suaminya, meninggalkan noda merah disana.


"Mari mewujudkan mimpi bersama" balas Risa ikut berbisik, menghembuskan hawa panas di pangkal leher Hoon, membuat gairahnya semakin terpancing.


Perjalanan baru saja akan dimulai. tapi kamar VVIP di lantai atas sudah siap melayani tamu agungnya. Ranjang besar berukuran king terus bergoyang, entah karena gelombang ombak atau gelombang cinta yang membara. Hoon dan Risa menyeka keringat pasangan masing masing, melenguh bersama.


"ini baru permulaan.."

__ADS_1


__ADS_2