Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
AKdML-2. Cemas


__ADS_3

Sebelum lanjut membaca bab ini.. sebaiknya kembali ke bab pertama. karena ini cerita sekuel kedua dari judul pertama tapi dijamin tetap seruu!! sudah terbit di aplikasi lain dan 500.000pembaca, cuma disana berbayar. sedangkan disini cuma cuma.. kalian tinggal balas dengan komen sebanyak2nya, dan kasih review bintang 5, jangan lupa tip nya tumpahin kesini.. votenya juga..


ceritanya mudah2an menghibur dan ga mengecewakan..


sebelumnya judulnya, simpanan pernikahan..


cerita pertama sudah ending di bab 170an.. ini lanjut ke cerita kedua..


silahkan di baca dari awal ya..


jangan lupa dukungan kalian


---------------------


Di Korea


Kediaman keluarga Jung.


Hoon baru saja melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Risa menyusul langkah suaminya. Dia menyerahkan jas dan tas kepada pelayan. Wanita itu segera menjangkau leher Hoon dan membantu melepaskan dasi yang mengikat lehernya, Risa tahu betul Hoon tak pernah betah dengan pakaian formalnya. Setelah melepaskan ikatan dasi, Risa membuka dua kancing teratas dan tersenyum.


"Terima kasih sayang" Risa melebarkan senyum membalas ucapan terima kasih suaminya.


"Mama.." seorang bocah kecil berhambur memeluk Risa. Wanita itu menurunkan tubuh dan memeluk putrinya.


"Bagaimana sekolahmu sayang?" Dia mengangguk sambil tersenyum. Gadis kecil itu segera berlari dan menghampiri pelukan appanya.


"Appa, besok aku ada tes olahraga!" Dia mengadu dengan wajah manja. Hoon menaikkan alisnya mendapati wajah manja putrinya.


"Aku benci berkeringat appa, katakan sesuatu pada dewan sekolah. Katakan aku tak boleh lelah dan berkeringat. Katakan nafasku akan sesak dan jatuh pingsan!" Hani memaksa appanya. Risa bertolak pinggang dan memberi tatapan tajam


"Kau sedang mengajari appamu berbohong?" Ketus Risa tak suka.


"Appa, katakan sesuatu!" Hani tak peduli dengan wajah tak suka Risa. Hoon memutar bola matanya seakan berfikir keras.


"Hani, kau harus mulai berolah raga agar tubuh dan pikiranmu selalu sehat dan fresh, dan jangan katakan hal tak masuk akal seperti tadi. Kau bahkan baru tujuh tahun tapi sudah mengucapkan kalimat penuh kebohongan seperti itu! Siapa yang mengajarimu?" Omelan panjang Risa dijawab dengan lirikan Hani ke arah Hoon.


Risa menatap tajam ke arah Hoon, pria itu membuang pandangan. Dia menahan senyum.


"Mama tidak mau mendengar alasan seperti itu lagi!" Risa membersihkan ruangan, meninggalkan Hani dan Hoon yang tertawa kecil di belakang punggungnya.


"Appa.." gumam Hani manja. Hoon meraih ponselnya, dan menekan nomer ketua dewan sekolah dimana Hani menimba ilmu.


"Saranhaeo appa!" Hani memberi kecupan di pipi Hoon. Dan pria itu membalasnya cepat. Keduanya saling melempar senyum bahagia.


Risa kembali masuk dengan jidat berkerut, dia meneliti pesan di ponselnya. Melihat wajah Risa, Hani dan Hoon kompak langsung berdiam diri seakan tak terjadi apa apa.


"Ini bagaimana maksudnya?" Risa tak mengerti dengan teks yang dia terima. Hani turun dari pangkuan Hoon. Appanya beranjak mendekati Risa, dan ikut membaca pesan yang istrinya terima.


"Dari RI?" Risa mengangguk


"Dia akan ke Korea?" Hoon tak percaya dengan.pesan.yang RI kirimkan.


"Oppa akan kesini!" Hani melebarkan senyuman hingga giginya berjejer jelas.


"Tunggu, tunggu, biar mama coba hubungi terlebih dahulu!" Risa tak mau memberi harapan ambigu pada putrinya, dia sangat merindukan oppanya.


"Kau mencari tahu apa? Bukankah bagus kalau RI tinggal dan kuliah di sini! Akhirnya anak itu mau juga ikut dengan kita!" Hoon mengangkat telapak tangan dan tos dengan Hani. Keduanya berpelukan, dan Hoon menggendong Hani, berputar putar di udara. Risa masih tak mengerti dengan pesan teks RI yang tiba tiba ini. 


"Apa terjadi sesuatu?" Gumaman Risa membuat Hoon kembali menurunkan putrinya.


"Ada apa?" Risa menggelengkan kepala mencoba menepis dugaan buruk yang tiba tiba muncul di pikirannya.


"Biar aku menelepon RI!" Ujar Hoon mengambil ponselnya yang tertinggal di sofa.

__ADS_1


"Putramu sedang retreat!" Risa mengingatkan Hoon.


"Apa dia tak akan membawa ponselnya?" Hoon tak mengerti. Dia tak pernah ikut acara retreat sekalipun. Dia lebih suka rebahan di kasur sepanjang hari.


"Biar aku hubungi nuna dulu!" Hoon setuju dengan kalimat istrinya. Risa menganggukkan kepala.


Risa ke sudut ruangan meninggalkan Hoon dan Hani.


"Appa, apa game yang aku pinta sudah rilis?" Hoon menggeleng dengan wajah kecewa. Dan Hani lebih kecewa lagi.


"Appa aku ingin game peri yang menyelamatkan anak kecil di pulau terpencil itu!" Rengek Hani manja.


"Apa kan hanya bilang belum rilis, tapi bukan berarti kau tak bisa memainkannya lebih dulu!" Senyum Hani seketika mekar kembali.


"Hah!" Hani masih tak percaya mendapati tabletnya sudah menayangkan desain grafis tokoh yang dia design beberapa bulan yang lalu.


"Wah, bahkan dia terlihat nyata!" Hoon mengangguk bangga.


"Oppa pasti iri!" Hoon mengangguk lagi.


"Kau lihat, kau sangat berbakat, kau pasti menjadi penerus perusahaan Jung digital!" Puji Hoon mengacungkan jempol pada putrinya.


"Tentu saja!" Balas Hani tak kalah bangga. Gadis itu berlari keluar kamar orang tuanya dengan tablet game yang dia buat sendiri.


Hoon menghampiri Risa.


"Bagaimana?" Tanya Hoon, wajah Risa tak terlihat baik.


***


Lokasi penginapan siswa di kaki gunung.


"Kita sudah membagi beberapa kelompok, kalian akan mendapatkan villa masing masing, jarak penginapan kalian cukup berjauhan. Di sana juga sudah dilengkapi lima kamar tidur, setiap kamar tidur dilengkapi dua ranjang." Pembina menjelaskan dan siswa menyimak.


"Di villa juga lengkap dengan dapur, pekarangan dengan tungku barbeque, kolam renang, selama disini kalian dituntut mandiri. Saya tahu kalian tak pernah hidup semandiri ini di rumah mewah kalian!" Siswa kompak menyoraki pembina. Hingga guru mereka itu tertawa geli. Tapi dia benar. Siapa yang tak tahu sekolah bertaraf internasional!


"Handphone kalian untuk sementara disita dulu!" Ujar pembina membawa semua handphone yang sudah di kumpulkan.


Pintu villa tertutup, meninggalkan kesunyian sesaat.


"Apa apan itu!" Suara Alex memecah kesunyian.


"Memangnya di kampus kita akan seperti ini?" Tanya Alex dengan wajah protes. Jordi menepuk pundak Alex.


"Sudahlah, mari kita diskusi tugas bersama. Sebelumnya ayo kita berkenalan terlebih dahulu." Yang lain mengangguk setuju.


Mereka duduk di sofa panjang berjejer. Empat orang laki laki dan empat orang perempuan. Tunggu bukankah kamarnya ada lima?.


"Namaku Jordi, ini Alex, leo dan yang disana itu RI!" Jordi mewakili anak laki laki. Barisan para gadis tersenyum girang.


"Aku salsa, ini Mila, Alicia, dan Keira!" Mereka berempat kompak melambaikan tangan.


"Kita beruntung sekali bisa tinggal bersama RI!" Bisik para gadis 


"Dia sangat tampan!" Para gadis mengangguk setuju. Anak laki laki bukannya tak mendengar, tapi mereka hanya malas menanggapi. Ri tak begitu peduli, dia duduk sedikit jauh dari sofa, pemuda itu dari tadi memasang wajah kesal.


RI sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia masih membayangkan rasa malu kena tampar Minji. Bukan sakit fisik tapi lebih ke perasaan. Harga dirinya seakan jatuh karena hanya dia yang menginginkan ciuman tadi!


"Ah! Menyebalkan!" Gerutu RI kesal. Teman satu grup kompak menoleh ke arahnya. Dia tersadar dengan tatapan aneh rekan rekannya. Pemuda itu memaksakan senyuman.


"Apa kau baik baik saja RI?"


"Ah, iya" RI semakin menarik senyuman terpaksanya

__ADS_1


"Sebaiknya kau bergabung disini, kalau sendiri seperti itu membuat kami khawatir padamu!" Kalimat Jordi dibalas anggukan oleh RI, dia menarik kursinya dan ikut bergabung di meja yang sama.


"Apa diantara kalian berempat ada yang bisa memasak?" Tanya Jordi. Keempat anak perempuan saling melempar tatapan dan menggeleng kompak.


"Kalian tidak ada yang bisa memasak?" Mereka menggeleng kompak sekali lagi.


"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Jordi kepada rekan lelakinya. Mereka hanya membalas dengan wajah melongo.


"Kau, RI?" RI membesarkan pupil, apa dia pernah memasak seumur hidupnya? Rasanya belum pernah.


"Aku tidak tahu" jawab RI polos.


"Maksudmu kau tidak bisa?" Tanya Alex 


"Bukan, aku tidak tahu" balas RI.


"Jadi kau bisa memasak apa tidak?" Ulang Jordi.


"Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menyalakan benda itu!" Menunjuk kompor


"Bukankah bentuknya sedikit berbeda dari yang dirumah kita?" RI balik bertanya. Semua kompak menoleh dan mengangguk. Apa ada kompor seperti itu di dunia ini? Mereka semua tampak heran dengan kompor satu tungku di dapur. 


"Ooohh.." teman teman RI kompak membulatkan bibir. Mereka semua mana pernah memasak atau sekedar ingin tahu benda di dapur.


"Ah, sudah kuduga!" Alex menghela nafas berat. "Kita tidak mungkin puasa selama dua hari kan?" 


"Aku mungkin bisa jika banyak buah buahan!" Balas Alicia, santai.


"Ah, dia jago diet!" Tunjuk Mila percaya.


"Aku tidak mau diet!" Balas Leo. Yang lain mengangguk setuju.


"Aish!" Dengusan Alex mencuri perhatian. "Itulah mengapa aku selalu meminta nomer handphone gadis berbakat!" Ujar Alex membuat dahi rekannya berkerut heran.


"Kalian tenang saja, aku sudah menyimpan nomer Kim Minji, si pelayan restoran imut! Dia akan memasak buat kiat!" Ujar Alex disambut tepuk tangan yang lain!"


"Akhirnya mata keranjang mu itu berguna juga!" Uajr Jordi menahan kesal bercampur geli.


"Apa benar dia imut?" Tanya salsa tak percaya.


"Tentu saja, dia gadis desa yang imut. Kulitnya juga bersih, dia tak kalah dari kau, kau, kau, aku rasa dia juga blasteran seperti kalian!" Alex dengan sombongnya membanggakan gadis yang baru saja dia paksa minta nomer handphone nya. Tentu saja dengan berbagai alasan sehingga akhirnya Minji memberikan nomor ponselnya pada Alex.


"Memangnya ada gadis desa yang keren seperti kita?" Ledek Mila, teman gadisnya mengangguk setuju. Diam diam RI melirik sinis wajah gadis di sampingnya.


"Siapa tadi namanya?" Tanya RI mencuri perhatian gadis gadis.


"Sejak kapan dia tertarik urusan receh?" Gumam Keira pada rekan rekannya. Mereka terlihat tak suka.


"Kim Minji! Namanya Minji! Ingat ya, dia itu bagianku!" Ujar Alex seakan menegaskan.


"Ah, Kim Minji.." gumam RI dengan wajah menyembunyikan senyum. Alicia mencuri lirik wajah RI terlihat mencurigakan. Dia tak mungkin tertarik dengan gadis desa biasa kan!


"Kalau begitu segera hubungi dia!" Ujar RI tak sabar.


Kim minji, kita bertemu lagi. Batin RI seakan bersemangat. Dia berdiri dan meninggalkan rekan rekannya. RI memilih kamar dan mengunci pintunya.


"RI, kau mau kemana! Bukankah kita harus sharing kamar!" Teriakan Jordi tak digubris RI.


"Ah, itulah mengapa kita diberi kamar lebih. Si tuan muda jung mana mau berbagi kamar" ujar Leo menggerutu kesal.


"Biarkan RI beristirahat, dia mungkin lelah!"


"Iya betul kata Keira, RI mungkin lelah"

__ADS_1


Jordi, leo, dan Alex, bertukar tatapan.


"Iya, kami mengerti. Tuan muda mungkin lelah.." gumam ketiganya kompak. Gadis gadis tertawa cekikikan.


__ADS_2