
Setelah Glen sadar jija dia meminum dari gelas Risa
"HOOONN BRE*NGSE*K!!" teriak batin Glen marah. Glen merebahkan diri di sofa, pasrah. Ah, bagaimana mungkin si bocah ceroboh ini berubah, Glen tak percaya! dasar Hoon!! Glen meminum jebakannya sendiri.
"Hyung, kau kenapa?" tanya Hoon melihat wajah Glen merah, pria itu melipat kakinya kian dalam, dia merasakan pengaruh obat perangsang sudah bekerja padanya. Glen kehabisan akal harus bagaimana lagi, pikirannya jadi melayang kemana mana.
"Sial!" gusar Glen tanpa suara. Dia melirik Risa, cepatlah kesini! aku ingin memelukmu.. ingin berteriak seperti itu pada wanitanya tapi tidak mungkin, ada Hoon disini. Glen hanya bisa memberi tatapan sayu yang sudah hampir tertutup hasrat. Dia terus membayangkan tubuh Risa polos, semua itu membuat libido Glen kian melonjak.
"Hoon aku pinjam kunci mobilmu, aku harus pergi sebentar" dengan wajah polos Hoon memberikan Glen kontak mobil.
Dengan berdiri dan membelakangi Hoon, Glen melangkah kaku, dia segera meninggalkan Risa dan Glen.
"Kenapa? kau yakin kau baik hyung?" tanya Hoon melihat tingkah aneh Glen.
"Iya aku baik baik saja!" balas Glen menatap tongkatnya yang sudah berdiri, dia segera kabur sebelum Hoon ataupun Risa menyadarinya. Glen turun dengan bersusah payah, dia harusnya tak keluar rumah setelah obat ini bekerja, tapi bagaimana mungkin. Glen segera berlari mencari mobil Hoon menghindari orang orang, tongkatnya kian berontak. Akkh.. ini sungguh menyiksa! semua ini karena kebodohan Hoon!
Tidak tahu kemana, Glen tak punya tujuan, dia hanya mutar mutar sekedar menghabiskan waktu dan berharap bisa menenangkan si adik kecil. Bagaimana mungkin! si adik butuh teman Glen! mau tidak mau.
"Sial, ini terlalu berat!" kesal Glen, dia tak mungkin tidak melampiaskan hasratnya yang sudah naik ke kepala, membuat kepala sakit dan kencang, tapi Glen juga tak mau ada yang melihat barangnya dalam keadaan siaga begini. Glen berkali kali mengelus dan meminta tidur, tapi tetap saja terbangun.
"Risa, kau harus membayar semua ini!" geram Glen kesal.
Glen kembali ke parkiran aparteman, dia tak mau keluar mobil. Glen putus asa, dia merebahkan kepala di stir mobil. Hasrat ini membunuhku! tidak pakai obat saja sudah hyper, apalagi di tambah obat perangsang.
"Harusnya Eun bersama ku, dia lawan yang luar biasa" keluh Glen putus asa.
"KENAPA KAU TERUS MENGUNTIT KU!!"
"Kau bilang hubungan kita sudah berakhir!"
__ADS_1
"Kenapa kau masih saja mengikuti ku!!"
Seorang pria berteriak emosi pada seorang gadis, pria itu mendorong tubuh si gadis hingga terjerembab di atas cab mobil Glen. Glen mengangkat kepalanya dengan malas. Jelas terlihat wajah pria yang emosi, dia mendorong wanitanya. Dia kasar juga! batin Glen tak peduli, dia kembali merebahkan kepala.
"Kembalikan kartuku, kau membayar dengan uangku! kau brengsek!" gadis itu mengangkat tangan, dia hendak menampar, tapi si pria lebih dulu, dia menangkap pergelangan tangan si gadis, memiting hingga wajah si gadis mentok ke kaca mobil, pipinya menempel sempurna, membuat wajah cantiknya sia sia. Glen mengangkat kepala "Kenapa mereka bertengkar di depan ku sih!" kesal Glen "Tidakkah cukup Hoon saja yang membuat kesal!" Glen semakin kesal. Melihat tatapan mata gadis di hadapannya membuat Glen mau tidak mau ikut campur. Dia sudah keterlaluan.
Glen membuka pintu dan membanting.
Dia menarik lengan pria yang memiting wanita itu. Glen melepaskan cengkraman si pria, dia segera menarik lengan wanita muda itu dan mendorong masuk ke mobil.
Glen menyalakan kontak, menginjak gas. Mereka meninggalkan parkiran, pria itu hanya bisa bengong.
Glen sebetulnya tak mau ikut campur, tapi keadaan wanita ini mengingatkan pada ibunya. Lihatlah wajah yang tertunduk itu, gadis itu merasakan pergelangan tangannya sakit. Meski Glen awalnya tak peduli tetap saja naruninya berontak.
"Tinggalkan saja pria seperti itu!" ujar Glen kemudian. Dia selalu mengatakan kalimat itu pada ibunya dulu, ketika melihat wajah lebam, kulit memar, Glen selalu mengatakan, kenapa kau tak pergi saja, tinggalkan saja, bercerai saja! selalu begitu. Tapi ibunya tak pernah mendengar, malah menyuruh Glen untuk diam.
"Diamlah.."
"Kalau kau tak mau diperlakukan seperti itu maka tinggalkan atau kau selamanya seperti ini!" teriak Glen kesal. Gadis itu masih tertunduk.
"Siapa kau, berani beraninya berteriak padaku!" balasnya ketus. Dia mengangkat kepala, menatap wajah Glen yang lebih dulu menatapnya. Keduanya membulatkan mata mengetahui orang disebelahnya bukanlah orang asing.
"Bos Glen?"
"Bunga!!" Keduanya kompak membanting punggung, bersender pada kursi mobil.
"Ternyata kau!" dengus Glen, Bunga kehilangan kata kata. Kemana nada kesal yang menohok tadi. Jika Bunga tahu ini bos Glen dia mungkin akan menolak, tapi tidak, Amar sudah keterlaluan.
"Aku memang bodoh!"ujar Bunga kemudian, dia mulai menangis. Glen tak mau peduli, dia memang bukan orang yang peduli.
__ADS_1
"Baiklah, kau boleh menenangkan diri sampai kau bisa keluar dari mobil ini!" ujar bos Glen memundurkan jok kemudinya, dia duduk dengan santai. Padahal dia sedang tak bisa santai. Bos Glen menjepit kedua kakinya menahan sesuatu yang memberontak di bawah sana.
Hari sudah semakin gelap. Bunga masih terus terisak. Bos Glen memejamkan mata meski tidak tidur.
Setelah isaknya reda, Bunga bukannya keluar dari mobil, dia ikut merebahkan diri dengan memundurkan jok mobil, dia meniru bos Glen. Sudah berapa lembar tisu dia habiskan.
"Apa kau sudah lebih baik?" Bunga mengangguk
"Kenapa kau tidak keluar!" gertak bos Glen, Bunga menoleh sejenak.
"Aku belum mau pulang" ujar Bunga dengan suara serak.
"Sebaiknya kau cepat keluar, kesabaranku kian habis" hardik bos Glen membuat wajah sinis.
"Akupun sudah tak memiliki kesabaran" balas Bunga. Jawaban yang membuat bos Glen semakin kesal. Dia menarik lengan Bunga kasar, mendekatkan wajah mereka. Memang bukan wanita yang dia sukai, tapi hasrat sudah memenuhi tiap nadinya, Glen tak bisa menahan diri lagi. Bunga balas menatap bos Glen dengan mata nya yang sedikit bengkak, dia terlalu lama menangis.
"Kenapa?" tanya Bunga seolah menantang.
"Apa Risa lebih baik dari ku?" sinis Bunga, ah dia tahu juga rupanya! "Setidaknya aku jauh lebih pengalaman dari Riss--" tak menunggu lagi, Glen menyambar bibir penuh Bunga, ******* habis hingga gadis itu sedikit bangun dari duduknya. Bunga benar, dia jauh lebih pengalaman.
Tak perlu komando atau malu malu lagi, Bunga mengangkat telapaknya, meremas benda tegang di bawah sana, yang dari tadi di sembunyikan. Keduanya pindah duduk ke kursi belakang.
Selincah Glen membuka kancing blus yang dikenakan Bunga, selincah itu juga Bunga melepas ikat pinggang dan resleting Glen. Tak menunggu lama keduanya sudah siap. Glen bertumpu pada lengannya yang kekar, sementara Bunga dengan telaten menuntun menuju pribadinya. Istilah tak ada ranting akar pun jadi, Glen tersenyum diantara menikmati tarikan saliva diantara mereka, ******* dalam. Berpacu dalam ritme dan suara di telinga yang enggan berlomba dengan waktu.
"Biarkan ini menjadi rahasia kita"
***
ooow ow ow!!
__ADS_1
Sampah cocoknya di tempat sampah!
jangan lupa dukung terus, starvote, review bintang5, hadiah hadiah... semoga terus baca yaaa..