Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Menjadi satu


__ADS_3

"Kau meledekku ya!" Risa memukul punggung Hoon berkali kali, wajahnya sudah merah karena sudah menghabiskan segelas soju. Risa belum pernah minum alkohol berat sebelumnya, dia tidak bisa mentolerir alkohol.


"Aku kan hanya ingin membantumu" balas Hoon yang masih sadar, dia menikmati botol berikutnya bersama sepiring cemilan.


"Kau bilang aku murahan, kenapa kau ingin aku jadi kekasihmu, aku ini murahan tau.." Risa menunjuk dirinya dengan kesal, Hoon geram sendiri melihat tingkah Risa. 


"Kau sudah mabuk, sudah minumnya, naiklah ke ranjang!" perintah Hoon menyingkirkan gelas Risa.


"Tidak mau! Ini untuk pria brengsek yang mengambil harga diriku!" teriak Risa mengacungkan gelasnya yang sudah di isi ulang, dia menegak habis isi gelasnya, semakin mabuk.


"Cepatlah naik dan tidur!" Hoon mencoba mengangkat tubuh Risa, dia menggotong gadis itu hingga ke atas kasur, sepertinya Hoon juga mulai mabuk.


Tipe studio hanya memiliki satu kamar dan satu ranjang, mau tidak mau malam ini Hoon dan Risa akan tidur satu ranjang.


"Hoon.. jangan lakukan apapun pada wanita murahan ini ya!" celoteh Risa dengan wajahnya yang tak jelas lagi.


"Sudah hentikan, jangan bicara seperti itu lagi, aku salah sudah mengatakan itu, kau tidak murahan" Hoon menuntun Risa berbaring, dia meraih selimut dan merapikan posisi tidur Risa, hari kian larut Hoon ikut berbaring di sebelah Risa.


Walau mabuk, Risa masih tersadar, dia sadar betul jika hatinya sakit, dia tak menyangka kekasihnya pria beristri, padahal dia sungguh jatuh cinta sebelumnya.


"Hoon, apa aku bodoh? kenapa aku bodoh?" Risa menggerutu sendiri.


Hoon memang memejamkan mata tapi dia belum tertidur.


"Hoon.. memangnya apa itu cinta. Apa tidak ada yang tulus di dunia ini?"


"Hoon.. apa aku bodoh dan murahan, apa aku semurah itu.." air mata Risa meleleh, dia menopang kepala dengan tanhkupan lengannya.


"Hoon, apa gadis miskin seperti ku tak pantas dicintai.."


"Aku sungguh bodoh, murahan dan tak tahu diri.." Risa terus berceloteh dengan tatapan mata sayu.


"Hoon, apa tak ada yang tulus padaku?" 


Hoon mengerutkan dahi, dia kesal mendengar gerutu Risa yang terus menyalahkan diri sendiri. Hoon bangkit dan duduk di kasur.


"Hentikan omong kosongmu itu! kau berhak bahagia, kau berhak dicintai!" teriak Hoon kesal, Risa ikut bangkit, dia duduk menghadap Hoon.

__ADS_1


"Hoon.. apa aku bodoh? apa aku tak pantas dicintai?" antara terbawa pengaruh alkohol atau karena sakit hati, raut sendu wajah Risa membuat Hoon kian iba.


Hoon menempelkan jari telunjuknya ke bibir Risa, dia meminta gadis itu untuk diam.


"Jangan bicara lagi, kau tak bodoh, kau bukan wanita murahan dan kau pantas dicintai!" ujar Hoon dengan sorot mata serius. Sekali lagi air mata Risa meleleh. 


"Ku bilang hentikan.." bisik Hoon. Sedihmu itu melukai perasaanku, apa kau sangat mencintai iparku! batin Hoon berontak. Dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan perasaannya, tapi Risa terus mengeluh dan mengadu padanya, dia bisa apa.


"Hooonn.." Bisik Risa, keduanya tak bisa menahan perasaan lagi. Rasa sakit di dalam hati, rasa bergejolak karena pengaruh alkohol.


Hoon menahan rahang Risa, menyambar cepat bibirnya, ******* dan memberi gigitan gigitan kecil. Hoon mengingat bagaimana desahan di kamar mandi kemarin, dadanya kian panas terbakar. Cengkraman jarinya kian kuat di wajah Risa.


Risa menitikkan air mata lagi. Dia masih begitu sakit karena hubungannya akan kandas, tapi pria yang bersamanya saat ini begitu menenangkan, Hoon membuat Risa bisa sedikit santai.


"Aku menciummu karena aku menyimpan perasaan padamu" ujar Hoon, Risa mengangguk.


"Tapi malam ini, aku ingin membalas sakit hatiku padamu, apa kau mau?" tanya Hoon pada Risa, dia sangat sopan, Hoon meminta ijin terlebih dahulu. Risa tak menjawab. Apa artinya hanya Hoon saja yang ingin? Hoon mencibir diri sendiri, ternyata hanya dia saja yang bergairah. Tentu saja, bahkan Risa masih terus menangisi Glen. itu menyebalkan. Hoon terlanjur kesal, dia sudah tak bisa lagi menahan perasaannya.


"Aku tak suka kau peduli padanya, aku tak suka kau mencintainya, aku tak suka dia ada di hatimu!" lanjut Hoon meminta perhatian Risa.


"Entahlah" jawab Risa ambigu. Hoon tersenyum sinis, kecewa, iya! kesal, iya! marah, iya!


"Kau harus bisa melupakannya.." bisik Hoon digelinga Risa.


Tak menunggu jawaban, Hoon meraih pakaian Risa, membuka satu persatu, berganti melucuti pakaiannya. Dia masih sedikit bingung tapi tetap memantapkan hati, Hoon menggenggam tangannya mencoba meyakinkan diri. Dia menarik nafas dalam seolah bersiap menuju medan perang dengan nol pengalaman.


Tatapan Risa membuat Hoon gugup. Meski pertama kali, jangan sampai terlihat amatir! gumam batin Hoon mencoba memantapkan diri sekali lagi.


Dengan hati hati dan penuh perasaan, Hoon memulai sentuhan kecil, dari kulit bibir hingga pipi. Merasakan halus dan lembutnya kulit wajah Risa. Menikmati tiap irama gerakannya, begitupun gadis itu, dia merasakan hangat di kulitnya, hangat yang menenangkan.


"Apa kau yakin?" tanya Hoon, entah pada gadis yang pasrah di hadapannya atau untuk dirinya sendiri. Risa memejamkan mata, seolah menikmati suasana sunyi dan gelap ruangan ini, meski terbawa mabuk dia sadar siapa pria di hadapannya ini, dia menghirup aroma parfum tubuh Hoon, aroma yang berbeda.


Hoon mencoba mencari jalan di bawah sana dan tak perlu memakan waktu lama,.


"Maafkan aku.." bisik Risa seolah paham akan kekecewaan Hoon. Pemuda itu menggeleng. Hoon tersenyum kecil, Risa menatap wajah Hoon. Perasaannya terombang ambing. Dia tak mau kehilangan Hoon hingga dia mengikuti sampai mereka ada disini, tapi bagaimanapun Glen masih kekasihnya. Bukankah dia sangat murahan, bisa tidur dengan siapapun? menyadari itu semua membuat Risa menarik nafas dalam. Sebenarnya apa itu cinta?


"Apa kau pernah mendengar, jika kau menduakan kekasihmu, pilihlah yang kedua, kenapa? karena kau tak puas dengan yang pertama hingga mencari yang kedua" Risa tertawa mendengar ucapan Hoon. "Kau mengutip dari mana?"

__ADS_1


"Dari hatiku" balas Hoon melebarkan senyum, dia sudah bisa menguasai posisi.


"Itu terdengar tak masuk akal!" ketus Risa dan mulai merasakan perjuangan Hoon.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Hoon ambigu. Risa tak mengerti pertanyaan Hoon, tapi Risa tak bisa berbohong jika pria yang bersamanya ini bahkan 10 kali lebih menyenangkan, dalam keadaan apapun. Menyadari hal itu membuat dadanya berdebar hebat, apa dia jatuh cinta pada Hoon? Risa masih bimbang, lagipula terlalu cepat.


"Apa kau siap?" Hoon masih mencari jawaban di wajah Risa. Gadis itu melebarkan senyuman, mengangguk yakin.


"Kau yang terbaik!" ujar Risa menahan suaranya, keduanya tertawa, hingga tawa mereka kian mereda dan berganti dengan erangan, mereka tak bisa melanjutkan obrolan karena tensi sudah semakin cepat dan rapat. Hoon tak menyangka jika menikmati ranjang dengan wanita begitu nikmat. Risa tak mengira jika berhubungan bisa sambil berbagi cerita dan tawa, semua terasa begitu lepas dan tanpa beban.


"Apa kau siap untuk selanjutnya?" tanya Hoon menggoda, Dia berbisik di atas punggung Risa.


Risa mengangguk, dia mencengkram kuat sprei penutup kasur, hingga tak berbentuk. Hoon memegang kencang bahu Risa, bertumpu di atas gadis yang terus menjerit di bawah tubuhnya, Hoon mengepalkan kedua tangannya, perjuangan menuju puncak dan melenguh bersama! hingga Hoon terjatuh diatas tubuh Risa.


"Aku melakukan nya juga" ujar Hoon tertawa sendiri. Dia begitu puas dan bahagia.


"Ya, kita melakukannya" balas Risa menggaris senyum. Tingkah Hoon masih saja sama, seperti bocah! itu membuat Risa terhibur


"Aku baru pertama merasakannya" ucap Hoon pelan dengan wajah merah, dia beralih telentang di sebelah Risa, Gadis itu mengambil tisu, dan mengelap dahi Hoon.


Hoon menangkap tangan Risa. "Apa kau menyukaiku?" tanya Hoon dengan tatapan penuh harap. Risa tak bisa menjawab.


"Aku tau Glen yang lebih baik!" kalimat Hoon membuat wajah Risa merah. Hoon juga sama, dia mengumpulkan keberanian untuk mengakui keunggulan Glen seperti itu, ini penting! harga dirinya sedang dipertaruhkan. Hoon menanti jawaban Risa. Jika Risa salah jawab mungkin seumur hidup dia akan menghilang dari hadapan Risa.


"Aku sudah lama tak merasakan semua ini" Hoon bangun dari posisinya, dia meraut kesal mendengar hawaban Risa. Gadis ini bohong! batin Hoon geram.


"Kau melakukannya di kamar mandi dengan Glen!" sungut Hoon membuang muka, aish.. dia sungguh tak bisa menahan diri, kau begitu cemburu.


"Tidak, itu tidak.. " Risa menjeda kalimatnya " tidak jadi.." gumam Risa malu. Hoon menoleh dan menatap wajah Risa. Dia merasa senang, dengan cepat Hoon menerkam Risa. Memeluk erat.


"Apa boleh sekali lagi?" Risa berdecak kesal.


***tetep kasih review bintang5 dengan celoteh kalian.. kasih star vote di bagian akhir bab.


kirim hadiah untuk penulis agar karyanya merasa diapresiasi.


tetap sehat dan semangat..

__ADS_1


__ADS_2