
Tidak disangka ternyata ada hikmah dibalik kejadian buruk kemarin. Sekarang baby RI sudah semakin baik dia sudah kembali tersenyum dan ceria, bukan hanya itu saja bahkan kini calon papa dan mamanya pun akan ikut tersenyum ceria. ya berkat kejadian tersebut Risa semakin yakin jika ayah dari bayinya memanglah pria yang selama ini dia cintai. Mereka memiliki golongan darah yang sama. Dan ternyata tidak serumit yang Risa bayangkan, Bambang tidak mau menjadi penghalang kisah putrinya. pria paruh baya itu hanya meninggalkan banyak pesan bijak sebelum merestui hubungan mereka.
Bagi seorang ayah yang begitu mencintai putrinya, kekecewaan tak membuatnya egois, jika memang Risa mencintai Hoon, maka itulah yang terbaik.
Hari ini langit begitu cerah, warna biru nya begitu terang berpadu dengan awan yang berwarna putih sangat menyilaukan mata. Mobil mewah meluncur cepat di jalanan berhenti tepat di sebuah hotel, tujuan mereka adalah butik ternama di kota ini.
Hari ini Risa datang sebagai tamu di butik milik nyonya Jung. Ah bahkan dia juga calon nyonya Jung!
"Aku tidak tahu harus bilang apa lagi, aku sangat senang berada di sini hari ini.." ujar Risa kepada calon suaminya. Siapa lagi kalau bukan, si tampan itu!
Tumben hari ini butik terlihat sedikit sepi, Risa merasa ada yang berbeda hari ini. Ini bukan hari libur kan! Melihat risa ketinggalan langkah Hoon berhenti sejenak. Pria itu kembali mundur dan meraih telapak tangan calon istrinya. Membuat bibir Risa tersenyum.
Dan benar saja, seperti dugaan. Eun sudah siap menyambut kedatangan kedua adiknya. Dia sudah mempersiapkan beberapa gaun istimewa yang akan dikenakan oleh Risa di hari pernikahan mereka nanti.
Tentu saja semua ini karena permintaan Hoon. Dia tidak mau banyak tamu yang mungkin akan mengganggu kedatangannya hari ini, ini akan menjadi salah satu hari spesial dalam persiapan pernikahan mereka. Eun mengambil gaun pertama.
"Kau lihat gaun ini, dia mempunyai siluet yang pas dengan tubuhmu, meski modelnya klasik pasti sangat cocok dengan kau, ayo cepat dicoba. Manajer tolong bantu Risa!" Eun malah yang tak sabar lagi. Dia berteriak memanggil manager tokoh, dan meminta membantu Risa di ruang ganti.
Wanita ini sungguh beruntung, batin manager tokoh yang pernah menjadi atasan Risa.
Pilihan pertama adalah sebuah gaun dengan banyak layer, Risa menurut saja. Dia mengenakan gaun pertama dibantu oleh manajer butik.
Plok plok plok!
Eun bertepuk tangan memberi kode kepada adiknya untuk bersiap menyambut calon pengantin.
"Tunggu sebentar" Eun menjeda meminta perhatian. Dia melangkah ke arah dinding. Sementara di balik hordeng Risa sudah siap dengan gaun di tubuhnya. Hoon sedang menunggu di sofa menghadap langsung ke arah ruang ganti dimana nanti si calon pengantin akan mengenakan gaun, dan calon mempelai pria lah yang pertama yang melihatnya.
Cklek!
__ADS_1
Eun mematikan lampu. Ruang studio yang cukup luas itu seketika gelap. Hoon kini lebih fokus menatap ke depan dengan kedua tangan terjalin di depan wajah.
Sreekk!! Horden terbuka.
Lampu sorot mengarah kepada calon pengantin wanita. Risa untuk pertama kali mengenakan gaun pengantin, tentu saja wanita itu merasa sangat gembira. Ternyata gaun ini sangat cantik. Hoon sampai tak bisa mengeluarkan kata-kata, wanita yang berdiri di depan matanya saat ini, memang cantik sekali. Gaun dengan bahan tafeta berwarna putih dilapisi tulle berwarna broken white dengan aksen glitter, berkilau. Rida seperti boneka Barbie hidup. Dia sangat cantik dan memukau. Mata Hoon memang tak pernah salah.
"Ais, coba lihat keduanya, sampai berapa lama mereka akan saling menatap seperti itu!" Gerutu Eun meraut wajah iri. Bukankah dia pernah merasakannya ya. Mengenakan baju pengantin. Eun mengibaskan tangannya seolah tak mau bayangan masa lalu itu melintas dalam pikirannya.
"Kenapa harus dengan pria itu sih!" Eun memprotes bayangan Glen dari dalam pikirannya. Setelah tragedi kemarin bukan hanya Kai saja yang keadaan sudah membaik, direktur Mei memberitahu jika keadaan Glen juga semakin membaik. Entah harus senang atau sedih! Insiden kemarin menewaskan Kim.
Risa tersenyum melihat wajah kekasih yang terpukau menatapnya.
Hoon bangkit dari kursi dia melangkah mendekati Risa.
"tentu saja gaun ini sangat cocok denganmu.." ujar Hoon melangkah semakin dekat. "Kau membuatku semakin tak sabar.." bisik Hoon menggoda calon istrinya.
"Hei, itu baru gaun pertama, masih ada gaun yang lainnya.." Eun mengeluarkan beberapa koleksinya dari lemari pajangan.
"Apa mereka ingin memamerkan asetnya pada tamu!" Hoon menjadi gemas dan kesal.
Tak lama berselang, Eun membuka gorden dan Risa keluar dengan gaun terbukanya. Tepat sekali seperti dugaan Hoon. Bagian dada Risa terlihat menonjol! dan garis dada itu terlihat jelas memamerkan pangkal volumenya. Glek, Hoon menelan ludah. siapa yang tidak akan tergiur melihat kulit terbuka dan sesuatu yang bervolume di sana.
Hoon tak bisa berhenti menatap Risa. Seorang wanita yang berdiri dengan wajah memerah. Kulitnya yang putih bersih terlihat sempurna. Dan gaun itu memberi kesan sensual yang membutakan mata. Hoon mana bisa menahan diri lagi kalau sudah seperti ini.
Hingga dia tersadar ada seseorang yang berusaha membuka pintu ruang ganti. Dan ternyata itu adalah seorang pria yang pernah dia temui di lift. Namanya Joni! Mungkin Hoon tak tahu namanya, baginya itu tidak penting bagi Hoon.
Hoon segera membuka jas yang dipakai. Dia melangkah cepat ke arah Risa. Menutupi pundak wanitanya, jangan sampai ada yang berani menikmati dada terbuka itu selain dirinya. Dia sudah akan menjadi milikku dan hanya untukku. Hoon menutup gorden dengan cepat sedikit mendorong tubuh Risa lebih masuk ke dalam lagi.
"Ah maaf, barang yang anda minta sudah datang Bu!" Ujar Joni kepada Eun.
__ADS_1
Eun mengangguk seakan mengerti. Dia segera menghampiri Joni.
"Coba aku lihat!" Balas Eun kemudian. Mereka berdua keluar dari ruang ganti meninggalkan Risa dan Hoon di dalam sana.
"Kenapa kau menutup tubuhku dengan jas mu, sementara hordeng nya tertutup rapat.. " gumam Risa menahan tawa lucu, lihatlah tingkah calon suamimu ini, dia sungguh melindungimu dengan sepenuh hati. Tapi tunggu dulu. Bukankah posisi ini tidak bisa dibilang melindungi? Ayolah, sabarlah sedikit sampai pernikahan itu berlangsung. Apa mungkin!
Sorot mata Hoon tak bisa pindah dari wajah Risa. Dia menatap dalam wajah wanita dihadapannya yang hanya berjarak satu jengkal. Ayolah tatapan mata Apa itu, kau seperti binatang yang sedang lapar! Gumam batin Risa dengan degup jantung yang sudah tak berirama.
Hoon melangkahkan satu kaki hingga menyusup diantara kedua kaki Risa. Hei! Apa ini.
"Maafkan aku, aku tak mungkin bisa menahan diri saat melihatmu seperti ini." Ujar Hoon menyambar bibir Risa dengan cepat, dia semakin mendorong hingga kekasihnya itu menempelkan kepalanya di dinding kaca. Mau bagaimana lagi! Risa mengangkat kedua telapak tangannya sedikit menjambak rambut rapi Hoon. Ciuman panas yang sudah lama dinantikan. Permainan bibir dan lidah yang tak mau saling mengalah. Wah ini sungguh panas! Katakanlah aku sudah lama merindukannya! Jari-jemari Risa mulai bermain di atas permukaan kulit leher Hoon yang sensitif.
"berhentilah memijit seperti itu kau membuat kepalaku semakin tak bisa menahan diri!" Bisik Hoon dengan penuh gairah di telinga Risa.
"Haruskah aku tidak mengantarmu pulang hari ini?" Tanya Hoon menanti persetujuan Risa.
"Jangan katakan itu, atau nanti bayi kita tidak akan boleh tinggal bersama kita.." Risa mencoba mengingatkan pesan orang tuanya tadi ketika Hoon menjemput. Risa harus pulang ke rumah orang tuanya sampai pernikahan berlangsung. Anggap saja itu sebuah ancaman dari Bambang karena bayi RI belum siap mempunyai adik baru.
"Aahh.." suara Hoon terdengar lirih dan kecewa.
"Padahal aku dan dia sudah sangat merindukanmu!" Dengus Hoon dengan sorot mata yang berbeda. Telunjuknya mengarah pada asetnya yang menegang di bawah sana. Oh my God!
***
terima kasih yang sudah membaca
terima kasih yang masih mengirimkan star
terima kasih masih meninggalkan komentar dan review
__ADS_1
sayang kalian semua