Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Mencari penjelasan


__ADS_3

"kenapa mereka membatalkan pernikahan tanpa bertanya dulu kepada kita" ujar Bambang mondar mandir di ruang keluarga.


"seharusnya Risa ataupun Hoon berdiskusi terlebih dahulu kan! seharusnya mereka membicarakan semua itu terlebih dahulu kepada orang tua kan! tapi baik hoon ataupun Risa keduanya tidak membicarakan penundaan pernikahan terlebih dahulu kepada kedua orang tua, mereka tidak membicarakan semua ini kepada kita!" Gusar Bambang penuh emosi


sikap Hoon dan Risa yang seperti itu tentu saja membuat Bambang kesal, mau sampai kapan lagi mereka membahas tentang pernikahan? seharusnya acara itu tetap digelar dengan baik. lagi pula baik Hoon ataupun Risa tidak ada yang memberikan alasan jelas kenapa acara pernikahan mereka ditunda. mereka tidak membicarakan tentang Eun nuna, tidak membicarakan tentang hal-hal lain juga. semua keputusan itu membuat Bambang kesal. Emi hanya bisa mematung, dia hanya bisa melihat suaminya yang mondar-mandir tak jelas, sementara bibir pria paruh baya itu terus menggerutu.


Emi sebetulnya tak mau ambil peduli hanya saja gerakan Bambang yang seperti setrika rusak itu membuat Emi ikut kesal. Wanita paruh baya itu beranjak dari posisinya, dia sudah menyelesaikan suapan terakhir bayi Ri, Emi mendengus kesal sambil bertolak pinggang


"kenapa kau tidak temui saja Putri dan calon menantu mu itu dan tanyakan kenapa kalian menunda pernikahan? bukankah dengan begitu semuanya akan lebih jelas dan aku tidak perlu pusing melihat wajahmu yang seperti ini. sungguh wajahmu tidak enak dilihat!" mendengar kalimat Emi, Bambang berhenti mondar-mandir dia membalas tatapan tajam istrinya,


"bagaimana mungkin kau mengatakan wajah ini tidak enak dilihat! lihat dirimu, sudah berapa tahun kau melihat diriku setiap pagi, sepanjang hari, setiap detik, setiap jam dan bahkan lebih banyak waktu lagi!" ketus Bambang merengut kesal. Emi menghela napas berat


"Justru itu bisakah kau Hari ini pergi kunjungi kantor calon menantumu, dengan begitu aku masih punya sisa waktu untuk mencari pemandangan lain!" keluh Emi ikut emosi "wajah dongkol itu sungguh tidak enak dipandang!" Emi meninggalkan Bambang dia membawa bayi Ri bersamanya, bayi itu hanya bisa tertawa dengan perdebatan kedua kakek dan neneknya.


Sebenarnya mereka pasangan yang kompak, sedikit perdebatan, merajuk, kesalahpahaman menjadi bumbu-bumbu rumah tangga mereka hingga tiga puluh tahun pernikahan hampir mereka lalui dengan baik. Bukankah itu bisa membuat semua orang iri? meski Bambang dan Emi tidak memiliki banyak harta dan usaha mereka juga usaha kecil-kecilan. bahkan untuk menyekolahkan Risa Emi merelakan menjual rumahnya.


Tapi betul kata orang bijak, kebahagiaan itu tidak diukur dari harta, Emi tersenyum melihat Bambang yang masuk ke kamar dan berganti pakaian. Sepertinya pria itu mendengarkan ocehannya. Bambang menyambar sebuah kemeja dia menatap bayangan diri di cermin


"apakah ini cocok untuk ku?" tanyanya saat Emi mengintip dari balik pintu.


"tidak buruk" balas Emi singkat sambil menggaris senyum.


"Baiklah Hari ini aku akan mengunjungi Hoon di kantor, aku akan bertanya kenapa mereka menunda pernikahan tanpa mendiskusikan terlebih dahulu dengan kita!" Tegas Bambang pada bayangan dirinya di cermin.


"Hoon sudah lancang sekali!--"


"berhenti mengoceh dan cepat tanyakan kepada calon menantumu, dan satu lagi, tanyakan juga kepada putrimu! mereka berdua pasti sudah merencanakan semua ini kan!" Bambang mengangguk setuju, dengan kalimat Emi yang menyambar gerutuannya.


"baiklah" Bambang melangkah meninggalkan kamar dia menghampiri bayi Ri di gendongan Emi

__ADS_1


"cucu kakek yang tampan, kakek ada urusan sebentar ya, baik-baik di rumah bersama nenekmu.."  Bambang meninggalkan kecupan untuk bayi Ri, dia menatap sekali lagi wajah cucunya. mereka mirip sekali.


"Oke sayang, kau tidak seperti ayahmu, rasanya aku harus memukul kepalanya kali ini!" gerutu Bambang kesal, dia sudah tak sabar pada Hoon.


"kau tidak bisa memukul kepala calon menantumu, kau harus menjaga wibawanya di kantor!" tegas Emi mengingatkan Bambang.


"baiklah-baiklah" Bambang mengangguk kepala sambil berusaha mengerti dengan Omelan Emi.


***


Kai dan Eun  bersiap meninggalkan kantor, Risa dan Hoon menyusul di belakang, kedua pasangan itu akan menghabiskan waktu makan siang bersama, mungkin mereka akan berbicara banyak hal, bergurau, tertawa atau sekedar berbicara tentang hal biasa, tapi tunggu dulu.


Itu semua sebelum Bambang mengejutkan mereka berempat, Risa segera menghampiri Bambang.


"Apa yang papa kau lakukan disini?" tanya Risa bingung, kenapa tiba-tiba papanya ada disini! Bambang memasang wajah sinis ke arah Hoon. Tatapan itu, aku tak menyukainya! bisik batin Hoon mulai curiga.


Tapi Hoon berusaha memasang senyum. 


"Siang!" balasan singkat Bambang membuat perasaan Hoon semakin tidak enak. Ada apa gerangan pria ini repot-repot datang ke sini hari ini? tanpa ada pesan terlebih dahulu. pasti sesuatu yang buruk terjadi! tentu saja sesuatu yang buruk terjadi, sesuatu itu pasti berhubungan dengan dirinya! perasaan Hoon semakin tak menentu.


"kebetulan sekali sedang berkumpul di sini" ujar Bambang menyapa semua yang ada di situ. Kai dan Eun saling bertatapan bingung, sepertinya mereka berada di saat yang salah, kenapa dia harus terlibat di sini? tapi ya sudahlah


Eun dan Kai kompak memberi senyum 


"bagaimana kabar papa?" tanya Eun dan Kai dengan kompak.


"tidak cukup baik" balas Bambang dengan ketus. Pria itu melirik sinis ke arah Hoon, jawaban itu sangat jelas betapa kesalnya Bambang, dalam sorot mata itu seakan melukis wajah yang seram


"oh kebetulan kami akan makan siang bersama, Apa papa mau bergabung?" Tanya Kai, Risa dan Hoon melotot ke arah Kai, sementara pria itu memasang wajah polos, memasang senyum ragu. Apa yang salah mengajak calon mertuamu makan? Balas Kai dengan sorot mata tak mengerti ke arah wajah kikuk Hoon.

__ADS_1


"tentu saja, saya sudah di sini, jadi ayo kita makan siang bersama!" apa? Hoon dan Risa kehabisan kata-kata, Bbang mengangguk setuju


"Ayo pa!" Eun menggandeng tangan pak Bambang


"Akan lebih baik semua pembicaraan ini dibicarakan sambil makan, tentu saja ini akan menguras emosi dan membutuhkan banyak energi!" Bambang tidak menolak tawaran makan siang dari Kai


"mari.." ajak Eun dan Kai menggandeng pak Bambang


"apa papa suka masakan ala barat, lokal atau ketimuran?" tanya Eun ramah


"Aku menyukai sambal pedas dan sayuran panas!" sinis Bambang melirik kearah Hoon, Risa menggelengkan kepala, lirikan itu pertanda buruk. sebenarnya ada apa papa kesimi hari ini, sampai repot-repot mengunjungi kantor mereka! Memangnya apalagi? tentu saja Bambang mencari kejelasan hubungan putrinya, mau sampai kapan dia sebagai orang tua digantung, Hoon berani berani sekali!


Belum juga keluar dari kantor digital perusahaan Hoon, seorang gadis baru saja hendak menarik handle pintu di depan sana kehilangan keseimbangan.


Hoon segera berlari karena mereka adalah orang terakhir di kantor siang ini, sepertinya karyawan yang lain sudah terlebih dahulu istirahat makan siang dan dimana security? dia tidak melihatnya.


Gadis itu kehilangan keseimbangan, dia jatuh tepat di kedua lengan Hoon, Bianca pingsan. mata Bambang terbelalak melihat betapa lihai calon menantunya menangkap tubuh gadis di depan sana, apakah itu salah satu keahlian Hoon yang selama ini disembunyikan!


tiba-tiba perasaanku semakin tidak enak, Hoon menoleh kebelakang dan benar saja tatapan mata tajam dari pak Bambang membuatnya bergidik ngeri, Hoon melepaskan pegangan di tubuh Bianca hingga Gadis itu hampir saja menyentuh lantai, untung saja Kai ikut sigap menahan tubuh Bianca.


"Hoon kau ini ada-ada saja!" protes Kai kesal melihat pegangan tangan Hoon lepas begitu saja


"Kau tak lihat wajah mertuaku! sorot matanya seakan bisa menusuk ke dalam tubuhku, kau mau aku mati disini!" Bisik Hoon kepada Kai hyung, Kai mengangguk seakan mengerti. Dia mengganti posisi hoon dan menggendong tubuh Bianca


"dimana ruang rawat?" tanya Kai, Eun menghampiri Kai, dia melihat jelas wajah pucat yang ada di gendongan Kai, gadis ini lagi! Gerutu batin Eun, kali ini dia yang menjadi kesal. Kai bingung sendiri mendapat isyarat lirikan mata Eun


Baiklah aku sudah menyelamatkan Hoon tapi sepertinya aku yang sedang ada di dalam bahaya, bisik hati Kai kesal sendiri. Eun mendengus melihat Kai menggendong Bianca


***

__ADS_1


makasih yang masih baca.. kirim dukungan kalian...


__ADS_2