
Glen membantu mengikat tali samping piyama istrinya, mereka baru saja selesai melakukan ritual mandi bersama, berbagi busa sabun dan banyak kecupan. Nampaknya ranjang saja tak cukup untuk Eun mendinginkan tubuh. Glen terlihat sangat letih, walau dia terus mengukir senyum, wajah lelahnya masih tampak jelas. Pelayan mengetuk pintu dan Eun menekan remote hingga sensor pintu menyahut, tiga nampan besar berisi banyak variasi makanan datang. Pergelutan panjang tadi begitu menguras energi, Glen segera duduk di kursi makan disusul Eun. Mereka menikmati perlahan setiap menu yang tersedia.
"Makan lah!" ujar Eun sambil menambahkan mangkuk suaminya potongan daging. "Kau terlihat sangat lapar dan lelah" sambung Eun tersenyum banyak arti, Glen mengangguk dan melahap isi mangkuknya. Santapan dengan bahan premium sungguh berbeda, tapi Glen tak bisa menemukan menu nasi goreng di mejanya, makanan itu menyimpan sejuta makna di dalam hati Glen, dia tersenyum tipis, segera terhapus dengan suapan istrinya yang terus menyodorkan potongan daging.
"Sayang, bersiaplah. Besok aku akan mengantarmu ke kantor pusat. Mari bekerja bersama sama" ucapan Eun cukup mengejutkan Glen, dia melupakan suapan nya hingga nasi diantara sumpitnya kembali ke dalam mangkok.
Glen tak percaya mendengar ucapan Eun, antara tak percaya dan terlalu gembira.
"Aku sudah mempersiapkan kantor mu, kau akan bekerja disana mulai esok" Glen bangun dari duduknya dan segera memeluk Eun. Harapan selama ini akhirnya terwujud. Glen bekerja di kantor pusat! selama ini tuan Jung hanya terus meminta Glen mengurus pekerjaan di kantor cabang, mengurus produksi, pabrik, store dan event. Sebagai salah seorang anak dari CEO Jung corp tak pernah sekalipun tuan Jung menawarkan posisi di kantor pusat. Tapi mulai esok, Glen akan bekerja di sana. Dia akan memiliki ruang kantor pribadi di kantor pusat. Hanya jajaran pemegang saham, direktur dan manager saja yang duduk di kursi kantor pusat. Memang ada beberapa staff bagian pengaduan, penjualan, dan ahli IT yang mengurusi store online, tapi tak begitu banyak.
Glen melonggarkan pelukannya. Dia mendaratkan kecupan di dahi Eun, mengatakan terima kasih berkali kali.
"Habiskan makananmu" lanjut Eun meminta Glen duduk kembali, dia merasa senang melihat wajah bahagia suaminya.
"Terima kasih Eun sayang" bisik Glen diantara suapan ya, jelas matanya berbinar bahagia. Tentu saja Glen bahagia. Menjadi pewaris Jung adalah impiannya. Dan semua berawal mulai esok hari.
"Glen apa kau ingat bagaimana kita bisa jatuh cinta?" tanya Eun tiba tiba membuat Glen tersedak. Dia segera meraih gelas yang disodorkan Eun, dan meneguk cepat. Glen mengerutkan dahi.
"Kenapa kau bertanya tiba tiba?" ujar Glen bingung.
"Entahlah, aku mengingat bagaimana kita selalu menghabiskan waktu belajar bersama di kamarku" Eun menjeda kalimatnya karena mengunyah potongan buah. "Saat itu aku sudah cantikkan?" Glen mengangguk walau tak mengerti akan pertanyaan Eun. Bukan kah dia memang sudah cantik dari lahir? batin Glen tak mengerti.
"Apa kau begitu menyukai wanita cantik?" tanya Eun lagi. Glen bingung harus menjawab apa, dia takut jawabannya tak membuat Eun puas.
"Kau selalu membuka lembaran majalah fashion ku, kau mengatakan pakaian mereka indah, body mereka sempurna" lanjut Eun dengan suara datar sambil menikmati hidangannya dengan perlahan. Glen mengangguk angguk saja.
"Apa bagi mu, aku masih kurang?" Eun membuka kedua tangannya, seolah menunjukkan, ini loh aku, Eun Jung!
"Kau sempurna, tak ada yang kurang pada dirimu. Aku melihat majalah mu karena suka membuka buku, lagi pula ucapanku itu hanyalah sebuah pujian sebagai bentuk kekaguman saja" jelas Glen gamblang, apa adanya.
"ah, jadi menurutmu cinta dan kagum itu berbeda?" Glen mengangguk "Jelas berbeda" jawab Glen.
__ADS_1
"Lalu.. apa kau mengagumi ku, atau kau mencintai ku?" tanya Eun mem buat Glen meneguk airnya cepat. Tenggorokan Glen seketika kering. Dia mengisi lagi gelas kosongnya. Meminta waktu untuk meneguk air putih. Eun menanti jawaban.
"Kau gadis sempurna yang mengagumkan, tak ada satu pria pun yang menolak jika itu dirimu, begitupun diriku, kau memiliki banyak impian pada dirimu, kekayaan, popularitas, kecerdasan, tapi sayang.. semua itu tak sedikit pun membuat ku jatuh cinta pada mu.."
TRAANG!!
Suara sumpit berwarna gold di tangan Glen terjatuh, menyentuh meja kayu kemudian berhenti menyentuh lantai marmer. Glen tersadar dari lamunan nya. Batin Glen berusaha untuk jujur, tapi bibir nya mengatakan lain.
"Bahkan pria yang baru mendengar namamu pun akan jatuh cinta!" Eun tersenyum sumringah, wajahnya merona merah. kalimat jawaban dari Glen membuat Eun semakin jatuh cinta pada nya.
***
Setelah beberapa menit menunggu dengan menonton acara televisi. Akhirnya, Hoon bangkit dari posisi duduk segera mengambil keranjang dan membongkar muatan mesin cuci. Dia tersenyum bangga dan membusungkan dada.
"Seumur hidup, akhirnya aku bisa mencuci pakaian!" dengan berteriak menahan suara Hoon merasa dirinya begitu hebat kali ini. Ya, walau dia melakukan berkali kali sih tadi. Pertama kali mencuci Hoon lupa memasukkan detergent, dia tak memeriksa terlebih dahulu. Selain itu Hoon tak sabar menunggu mesin berhenti, dia berkali kali mencabut kontak dan memeriksa apakah pakaiannya sudah selesai di cuci. Pada akhirnya, Hoon bisa menyelesaikan juga, ternyata mencuci pakaian begitu gampang. Kau hanya memasukkan pakaian, detergent, menyalakan air dan menunggu sambil menikmati waktu. Biarkan mesin cuci menyelesaikan tugasnya sendiri. Benar kata Risa, tak perlu menggunakan jasa laundry, karena mencuci bukanlah pekerjaan berat. Kini Hoon sangat setuju dengan pendapat Risa tempo hari. Hoon jadi menyesal mengeluarkan uang ekstra untuk biasa mencuci pakain.
"Mulai besok, aku akan cuci baju sendiri!" tekad Hoon bulat. Dia meraih keranjang dan membawa ke balkon. Hoon beberapa kali memperhatikan bagaimana Risa menjemur pakaian, dia juga tahu jika benda warna warni kecil di gantungan berfungsi untuk menahan pakaian agar tak tertiup angin. Masalahnya jika pakaian jatuh dari lantai sebelas butuh waktu lama untuk mengambilnya. Belum lagi di bawah sana pemandangannya adalah kolam renang. Sebenarnya ada ruang kecill di sudut yang disediakan untuk menjemur pakaian. Tapi Risa jarang menjemur disana, karena terkena bayangan dari ekstra atap di atas. Hoon mengikuti kebiasaan Risa, menjemur di balkon. Walau tidak enak dilihat tapi cepat kering. Lagipula tidak ada yang memperhatikan balkon dengan ketinggian seperti apartemen mereka.
"Supaya tidak kusut, saat kau setrika lebih gampang!" begitulah jawaban Risa saat itu, Hoon penyontoh dan pengingat yang baik.
Risa menguap besar dan meregangkan otot, dia segera turun dari ranjang, tidur siangnya lelap sekali. Risa mencari keberadaan Hoon. Dia memeriksa ruang depan dan dapur. Tidak ada. Mendengar suara di balkon, Risa segera memeriksa.
"Kau sedang apa?" tanya Risa membulatkan mata. Hook menoleh mendapati Risa sudah terjaga. "Kau sudah bangun?" Risa mengangguk. Sorot mata Risa menatap jemuran hasil karya Hoon, dia melongo tak percaya. Matanya semakin membesar mendapati benda yang dikibaskan Hoon di tangannya. Risa menatap Hoon dengan wajah tegang, Hoon mengerutkan dahi.
SRET!
Risa merampas benda di tangan Hoon dan menyimpannya di balik punggung. Wajah Risa merah. Hoon mencari tahu pakaian yang disembunyikan Risa, tapi Risa berusaha menghalangi pandangan Hoon.
"Kenapa kau mencuci baju!" ketus Risa tak percaya, Hoon tersenyum lebar.
"Ah, kau pasti kagum kan!" dengan percaya diri Hoon memasang dada, Dia sudah siap jika Disa memujinya.
__ADS_1
"Kau mencuci pakaian ku?" tanya Risa dengan wajah sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Hoon mengangguk cepat, mengiyakan. Risa menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan wajah meronanya.
"Aku mencuci pakaian kita, aku hebat kan!" Risa menepuk dahi tak percaya.
"Kenapa kau mencuci pakaian ku!" sungut Risa kesal dengan wajah merona merah.
"Memangnya kita ini suami istri, kau bahkan menjemur pakaian dalam ku!" tunjuk Risa pada cd dan bra yang menggantung di jemuran.
Mendengar kalimat Risa, Hoon baru tersadar. Dia menyembunyikan wajah malu dan tingkah kikuknya. Bagaimanapun kau menyembunyikan semua itu masih jelas terlihat nyata. Hoon mengerutkan alis, dia memasang wajah tak percaya, Hoon tak percaya dja dari tadi memegang dan menjemur pakaian dalam Risa. Aish.. bisa bisanya dia tidak sadar. Dia benaran pria atau bukan sih!
"Maaf.." bisik Hoon terlanjur malu. Risa juga sudah tak bisa lagi berpikir untuk membalas apa. Semua sudah terjadi, Hoon sudah memegang dan melihat semua pakaian dalam yang dia kenakan.
Hoon tak berani menatap wajah Risa, Risa juga tak ingin menatap wajah Hoon. Sebentar Hoon melirik pada jemuran yang di rapi kan Risa, ah benar saja! itu pakaian dalam wanita! kenapa aku tidak sadar sih! kesal batin Hoon bingung sendiri.
Hoon melirik ke arah dada Risa. Dia bisa membayangkan pakaian dalam macam apa yang sekarang Risa kenakan, Hoon mengulum senyuman, dia jadi tahu model favorit Risa.
"Hei! kemana mata mu itu!" ketus Risa dengan wajah sengit. Dia menyadari tatapan Hoon yang tak lepas dari dadanya.
"Awas kau!" ancam Risa, Hoon segera berlari kecil meninggalkan balkon.
"Hei, jangan kabur!" teriak Risa sambil rerus melanjutkan pekerjaan Hoon. Tiba tiba Risa teringat akan ciuman mereka tadi pagi.
"Ah dia benar-benar membuatku marah hari ini!" gerutu Risa tak habis pikir.
"HOON!!" teriakan Risa diabaikan oleh Hoon, dia pura pura tak mendengar dan kembali ke sofa, menyalakan televisi mencari film yang menghibur.
"Aish, kenapa aku mencuci pakaian sih!" gumam Hoon kecewa, dia memukul gemas kepalanya sendiri.
"Tapi ukurannya lumayan juga" bisik hoon menahan tawa kecil.
"Badan nya terlihat kecil tapi ternyata cukup untuk genggaman tangan ku" Hoon membuat gerakan dengan jarinya, dia sudah mulai dewasa sepertinya, otaknya mulai mesum. Suara derap langkah yang menghentak lantai membuat Hoon duduk tegap dengan meletakkan tangan di samping. Dia paham betul apa yang akan terjadi selanjutnya. Bersiaplah Hoon!
__ADS_1