
***
Jangan lupa luangkan waktu buat komen dengan bintang 5, kasih star vote juga, sama hadiah, biar cerita ini bisa ikut nebeng di jejeran novel me. terimakasih dukungannya.. pliss bgt dukungannya ya
****
Risa segera melepaskan alas kaki, bahkan sebelah pantofelnya terpelanting jauh, Hoon melihatnya heran, dia mengerutkan dahi.
Bukannya ke kamar nya, Risa malah menuju kamar Hoon.
"Bos Glen" panggil Risa, tak ada sahutan hanya suara pancuran dari air keran saja yang terdengar.
"dia sedang mandi.." Gumam Risa kembali ke ruang depan, dia melangkah malas. Seharian ini dia memikirkan bos Glen, sampai tak fokus kerja, meminta banyak masukan dengan rekannya, Bunga. Akhir ya Risa memutuskan untuk memperbaiki sikap, dia akan lebih perhatian pada bos Glen, dan dia juga akan bertanya, kenapa hubungan mereka harus disembunyikan dari Hoon? bukankah kalau Hoon tahu, dia akan maklum dengan kebersamaan mereka.
Hoon memperhatikan tingkah Risa, dia baru saja merapikan sepatu mereka, menyusun di rak. Hoon mengganti kaos kakinya dan memakai sandal.
"Ada apa?" tanya Hoon pada Risa, mereka bertemu di palang pintu kamar.
"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan bos Glen" jawab Risa, Hoon mengangguk seolah mengerti.
***
Sementara itu di kediaman Jung, di kamar nyonya Eun Jung.
Dua orang dokter dan dua orang perawat sedang mengupayakan Kai. Mereka terpaksa melakukan prosedur operasi dadakan melihat begitu banyak darah yang Kai keluarkan. Segaris luka di kulit lengannya cukup memprihatinkan.
"Syukurlah proyektil tidak mengenai dan bersarang pada lengannya, dia mengalami luka dan serpihan benda tajam" jelas dokter pada Eun. Dia terus bertanya walau wajahnya pucat dan gemetar. Eun ingin tahu keadaan Kai, dia sedikit memaksa untuk bangun dengan tubuh lemahnya.
"Apa dia akan selamat dok?" tanya Eun dengan sorot mata penuh harap.
"Dia akan membaik, kami sudah membuang serpihan di lengannya, dia hanya menunggu waktu sadar" jawab dokter menenangkan Eun.
"Kau juga harus meminum obat dan vitamin!" sang dokter mengingatkan, Eun mengangguk.
"Eun, percayalah. Kau harus baik baik saja, kau harus sembuh dari semua pikiran buruk mu sendiri" meski tak mengerti, Eun mengangguk pelan. Dokter tersenyum dan meninggalkan ruangan Eun.
Dengan wajah cemas, Eun menanti Kai tersadar. Dia terus saja mondar mandir, sesekali dia menggigit ujung kuku, menandakan betapa cemas dan takutnya dia.
"Nyonya, silahkan makanan dan obat mu" seorang perawat masuk dan meninggalkan nampan di meja, Eun melirik sesaat.
"Baiklah" jawab Eun singkat, tapi dia tak beranjak dari sisi ranjang, dia masih terus menatap Kai.
"Nyonya.." dengan wajah ragu perawat itu ingin mengatakan sesuatu. Eun mengangkat dagu.
__ADS_1
"Ada apa?" Melihat tatapan tajam Eun wajah perawat semakin takut. Dia ragu dengan kalimatnya.
"Maaf nyonya, tapi.." Eun melangkah mendekati perawat "Kau baru ya?" tanya Ehn menyadari perawatnya terlihat asing, dia mengangguk.
"Maaf nyonya saya lancang. Saya hanya ingin katakan nyonya sebaiknya berhati hati. Tuan Kai dalam bahaya" Apa! Eun membuka mulutnya tanpa suara, tatapannya kian tajam menguliti wajah perawat. Gadis muda itu kian ketakutan. Eun memainkan alisnya, apa ini cara baru mendekati majikan! Eun mengurut dahi, dia tak peduli.
"Cepat keluar!" gadis itu segera menurut, Eun menggeleng kesal. Kalau saja tidak ada Kai yang terbaring sakit sudah pasti Eun mengusir gadis tadi. Tapi dia berusaha menahan emosi.
"Ada ada saja" gerutu Eun kesal. Dia kembali ke sisi Kai. Suara mesin denyut nadi terus mengganggu perasaan Eun. Dia memeriksa grafik jantung Kai, apa semuanya baik baik saja? tanya hati Eun yang tak berhenti gelisah.
Lihatlah wajah yang tidur ini. Dia adalah teman terbaikku, saat itu. Dia adalah orang yang paling dekat dan selalu menyemangatiku. Eun tersenyum sinis melihat wajah tak berdaya Kai. Sekarang dia terlihat pucat dengan bantuan oksigen di saluran pernapasannya.
Eun mencoba mengangkat tangan, ingin memeriksa perban yang melilit pangkal lengan hingga bahu Kai, tapi dia ragu. Dia mengurungkan niatnya.
Melihat Kai seperti ini tak bisa dipungkiri, sesuatu terasa sakit di hati Eun. Sudah berapa lama mereka tak bersama? sangat lama. Lalu dia datang lagi kesini karena urusan bisnis, Kau hanya memikirkan bisnis saat menginjak istana Jung! pantas saja, andai Kai lebih sering berkunjung seperti sebelumnya. Mungkin Eun akan menolak jika Glen berencana menutup store Kai. Dan Eun setuju. Bagi Eun, Kai hanyalah cerita masa lalu, bahkan dia enggan mengingatnya. Mengenang kebersamaan sejak remaja membuat mata Eun berkaca kaca, lupakan! gusar hatinya berulang ulang.
Air mata itu jatuh dengan sendirinya, Eun segera mengelap dengan jari, tapi terus jatuh dan jatuh lagi. Dia tak bisa melihat Kai seperti ini, padahal dia sangat membenci Kai.
Eun membalikkan badan, tak mau lagi melihat wajah Kai yang pucat. Eun menahan tangisannya hingga bahunya bergetar. Sakit, rasanya begitu sakit. Kai adalah pengkhianat, Kai adalah pembohong besar! Baru saja Eun hendak melangkah menjauhi ranjang, sebuah telapak tangan menyentuh pergelangannya, menahan langkah Eun.
"Apa kau menangis karena ku?" dengan suara lemah, jelas itu suara Kai. Eun berusaha menata air wajahnya, dia tak boleh terlihat lemah dimata Kai.
Eun berbalik dan menghempas genggaman tangan Kai, dia menyorot wajah Kai, tatapan penuh kebencian.
"Apa yang kau lakukan!" Eun protes, dia kembali memasang selang di wajah Kai. Eun begitu peduli walau dia membenci, dia duduk di sebelah Kai, tanpa sadar menenggerkan diri, kedua tangannya bahkan sigap merapikan alat bantu medis Kai hingga tatapan keduanya bertemu.
Kai sekali lagi menahan pergelangan tangan Eun. Sepertinya wanita itu baru sadar akan posisi mereka, dia diatas tubuh Kai yang telentang.
Wajah mereka begitu dekat, hanya berjarak satu kilan saja.
"Katakan kau membenciku, katakan kau tak pernah menyukaiku" ujar Kai dengan suara lemah, hampir tanpa volume suara. Eun mengeraskan wajah, dia menatap tajam.
"Bukankah sering ku katakan!" gusar Eun dengan wajah sinisnya.
"Katakan pada jarak sedekat ini!" pinta Kai memaksa, Eun mencoba menghempas genggaman tangan Kai, tapi tidak, kali ini Kai menggenggam dengan tenaga, padahal dia sedang sakit, tapi tenaga tangan kirinya cukup kuat.
"Aku mungkin terlambat, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali" ucapan Kai membuat wajah Eun berubah heran. "Apa maksudmu?"
Kai membuat wajah serius, dia terlihat berpikir, membuat Eun kian tak sabar.
"Apa kau tak bisa mengatakan kau membenciku?" Kai mengulangi permintaanya, Eun membuang pandangan, dia menghindari tatapan Kai.
"Jangan main main, kau dan aku bukanlah bocah!" gusar Eun dengan suara lemah.
__ADS_1
"Apa kau mau bilang, Glen sangat mencintaimu?" dengan nada menyindir Kai membawa nama suami Eun, jelas wanita itu tak suka.
"Kau akan berurusan dengannya karena ini!" ancam Eun, tapi tak membuat Kai takut.
"Dia sudah menjadi urusanku saat dia menguasai mu" balas Kai sinis.
"Lepaskan tanganku!" Eun memberontak, tapi Kai mengencangkan genggamannya, urat di jarinya terlihat menonjol.
"Eun.. aku selalu mencintai--"
"STOP!!" pinta Eun berteriak, Kai tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Kau selalu bilang seperti itu, tapi nyatanya kau tak pernah ada bersamaku, kau tak pernah ada untukku, kau menghilang kau menghindar dan kau!" Kalimat cepat Eun berujung pada telunjuknya yang mengacung kesal.
"Aku tidak pernah meninggalkanmu, tidak pernah menghindar.." balas Kai dengan wajah sendu, Eun tertawa sinis.
"Lepaskan aku!!" berontak Eun sekali lagi. Kai tetap mempertahankan posisi mereka.
"Katakan kau membenciku!" pinta Kai. Eun terdiam
"Katakan kau tak mencintaiku!" Eun masih diam
"Katakan kau tak menginginkanku!" Eun hanya diam
"Katakan kau melupakan semua janji kita!" Eun mendengus kesal.
"Apa kau tak bisa?" tanya Kai dengan mata tajam.
"Apa kau masih mengingatku di dalam hatimu?" Kai tertawa melihat wajah terdiam Eun.
"Aku tahu kau tak akan pernah berubah" lanjut Kai membuat senyuman lebar "Kau tak sakit, kau tak gila, kau tetap Eun yang sama!" kalimat terakhir Kai membuat Eun menatap wajah pria di hadapannya. Ya, Eun mendengar semua orang mengatakan dia depresi, trauma, bahkan gila. Tapi Kai, kenapa kau mengatakan yang sebaliknya? Ucapan Kai membuat air mata Eun jatuh lagi.
"Kau masih Eun yang sama.." bisik Kai menahan haru, telapaknya melepaskan genggaman hingga tangan Eun bisa terjatuh diatas tubuh Kai.
Kai meraih pipi Eun, menghapus air mata nya.
"Kau hanyalah Eun yang ku kenal" bisik Kai, dia sedikit mengangkat punggungnya. "Kau tak sedikitpun berubah" Eun tertunduk dalam. Perasaan macam apa ini? bukankah dia hanya mencintai Glen. Bukankah hanya Glen pria dalam hatinya, kenapa perasaan seperti ini hadir lagi? perasaan yang menggetarkan hati, membunuh emosi.
Kai mengangkat sedikit dagu Eun, memberikan kecupan, mencium bibir berisi dan kenyal itu. Kai menutup matanya, dua garis air mata mengalir, menandakan betapa dia sangat bahagia sekaligus terharu. Kau adalah Eun ku, batin Kai seketika ingin berteriak.
Eun tak bisa membayangkan apapun. Dia sadar betul akan kecupan yang Kai berikan. Rasanya masih sama, seperti ciuman pertama mereka, yang berbeda hanyalah, perasaannya.
Dulu dia begitu gembira saat Kai menciumnya, kini? Eun mengangkat tangannya, menggenggam pergelangan tangan Kai, kinipun, dia merasa sangat gembira, gembira yang berbeda. Eun masih hanyut dalam kecupan hangat bibir Kai, begitu lembut, begitu hangat, begitu menenangkan, mereka kembali ke bayang bayang masa lalu..
__ADS_1
Kecupan ini mengambil kembali kenangan masa lalu..