
Di kediaman jung
Baru saja Hoon keluar dari mobil. Sesosok pria mengejutkannya, pria itu membuang rokok dari bibirnya. Sedang apa dia di sini! sepertinya dia sudah sangat sehat, peluru tempo hari tidak melukai nya begitu parah. tentu saja tembakan yang Kim lemparkan melesat. Dia bahkan sudah bisa mengisap batang rokok dengan santai. orang ini!.
"Selamat malam Hoon, maaf aku terpaksa menunggumu.." ujarnya berusaha melebarkan senyum. bahkan sekarang dia berani mengukir senyum. Hoon tak bisa membalas senyuman itu, sayang dia juga tak bisa memukul, padahal kepalan tangannya sudah begitu kuat di dalam saku. siapa yang jengah melihat wajah ini!
"Apa yang kau inginkan?" Pukas Hoon sedikit ketus. Bisa saja dia tak menjawab kalimat pria ini, tapi Hoon sedikit penasaran dengan kenekatan pria ini malam ini. tidak mungkin dia ke sini, Jika tak ada hal penting yang memaksanya untuk datang
"Ku pikir aku harus menemuimu, pertama aku ingin minta maaf. Kedua aku ingin kau memberikan izin, agar aku bisa menemui nunamu. Dan yang terakhir.." Glen menyodorkan sebuah dokumen.
Hoon ,memperhatikan dokumen di tangan keren. sesuatu yang penting. mungkin Hoon bisa menerima. tapi perihal tawaran pertama dan kedua, nampaknya sulit untuk dikalahkan. Jung bersaudara sangat membenci Glen
"Aku akan mengembalikan apa yang menjadi bukan milikku.." Hoon meraih dokumen dari tangan Glen. Surat kuasa yang pernah di tinggalkan Eun, surat penyerahan kekuasaan kepada Glen.
"Aku yakin, kau pasti bisa menyelesaikan semuanya. Mungkin kau tidak bisa mengabulkan permintaan pertama atau kedua aku. Itu saja yang bisa kulakukan, aku undur diri.." lirih Glen memutar badan. bagus, kalau kau tahu jawabanku! batin Hoon sinis
Glen melangkah meninggalkan posisi. sekali lagi dia menoleh. kali ini tetapnya sedikit berbeda, dia mengukir senyum.
"aku tadi berusaha menemui Eun, tapi sepertinya itu sulit. aku malah membuatnya ketakutan. katakan maaf dariku.." Glen melambaikan tangan. sosok pria itu kian samar dan menghilang dalam gelap malam
"Hoon, aku tulus ingin meminta maaf. Sampaikan kepada Eun, dan wanita mu, aku sungguh menyesal.." suaranya mendayu, seakan hilang tersapu angin malam
***
Hoon sedikit terlambat pulang, tapi apa-apaan rumah gelap begini. Kemana nuna? Apa dia belum pulang? Hoon langsung menyalakan lampu
Cklek!
Betapa terkejutnya saat melihat Eun nuna, merebahkan diri di atas meja dengan wajah merah. Beberapa botol minuman di meja. Apa yang wanita itu lakukan? Eun mabuk!
__ADS_1
"Nuna, ada Apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?" Hoon dibuatnya cemas.
"Kenapa kau baru kembali jam segini!" Ketus Eun berusaha berdiri dan menghampiri adiknya. Langkahnya terhuyung, sepertinya dia telah banyak menghabiskan botol minuman.
"Kau membuat nuna mu menunggu lama. Kau tahu tidak bertanya cemasnya wanita ini. Dia datang seperti menghantuiku. Harusnya berada di sini menjagaku! Kau menyebalkan sekali!" Eun terus menggerutu dengan suara yang tak begitu jelas, tubuhnya pun tak bisa berdiri tegak, Hoon membantu menopang tubuh Eun agar tidak terjatuh.
"Kenapa kau begitu takut padanya, kau harus menguatkan dirimu. Sampai kapan kau harus seperti ini. Dia yang seharusnya menderita bukan dirimu!" Gumam Hoon seakan pada Eun, tapi wanita itu sudah tak sadarkan diri. Dia sudah berbaring nyaman di atas sofa.
"Hung Kai, nuna begitu membutuhkanmu. Lekaslah sembuh. Karena aku tidak mungkin menjaga wanita tua ini. Aku sudah memiliki tanggung jawab sendiri.."lirih hoon menatap cemas Eun nuna.
Dan pria tadi. Apa yang sebenarnya dia inginkan. Kenapa dia membuat semuanya semakin rumit. Lupakan saja rumah Jung ini. Kenapa dia terus hadir dalam kehidupan kami. Jangankan Eun, aku pun masih membencinya. Aku tidak ingin dia mengacau dalam keluarga ku nanti. Aku takut bukan hanya Eun nuna yang depresi, bagaimana dengan Risa? Pria itu sangat berbahaya.
Hoon melirik dokumen yang tadi Glen berikan, dia memeriksa lembar demi lembar. Tak ada yang salah pada dokumen ini. Glen melakukan satu niat baik. Baiklah, Hoon akan menyelesaikan semuanya.
****
Di sebuah rumah Megah, bangunannya pun masih terlihat baru. Rumah kediaman Kim. Seorang aktris yang cukup ternama. Dia baru saja pulang dari pekerjaannya. Wanita cantik itu melepaskan coat pelindung tubuh. Dia baru saja akan merebahkan diri di ranjang.
"Aku lelah sekali, akhirnya proyek drama itu selesai juga. Akhirnya aku bisa menikmati kasur empuk ini.." sudah berapa lama Kim mengikuti proses syuting drama di luar kota, tepatnya di sebuah desa, karena dia sedang berperan pada sebuah drama kerajaan era Joseon.
Kim meraih sesuatu di dalam tasnya. Pantas saja dia cepat lelah akhir-akhir ini. dia juga banyak minum vitamin karena kulitnya terlihat semakin pucat. Bersyukur sekali drama itu cepat selesai. Mungkin vacum untuk beberapa saat adalah pilihan yang terbaik untuk Kim.
Tok tok tok! Seseorang mengetuk pintu
"Masuk!" Perintah Kim.
Seorang pegawai yang cukup dikenal oleh Kim, dia beberapa kali pernah melihat wajah itu. Bukankah dia salah satu rombongan yang berangkat ke Indonesia?
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kau tertunduk seperti itu? Pria itu menunduk sedikit memberi hormat. Wajahnya terlihat sedih dan bingung. Ada apa gerangan.
__ADS_1
Kim memang tak peduli dengan urusan pekerjaan suaminya. Dia merogoh benda di dalam tasnya. Ternyata sebuah alat tes kehamilan. Wanita itu tersenyum.
"Apa tuanmu memutuskan pulang lebih cepat?" Tanya Kim tanpa rasa curiga. Pegawai Itu masih tertunduk saja.
"Oh ya, bisa kau bawakan aku kotak itu. Aku harus membuat sebuah kejutan untuk suamiku.." ujar Kim memerintah, hingga si pegawai tak bisa lagi melanjutkan kalimatnya. Ada hal penting yang harus disampaikan kepada nyonya Kim. Tapi nyonya itu terlihat sangat tenang, membuat pegawai semakin ragu.
Pegawai mengambilkan kotak perak tak jauh dari ranjang nyonya Kim. Wanita itu meletakkan alat tes kehamilan nya ke dalam kotak, dia meraih selembar sticky note, mencoba menuliskan pesan manis di sana. Nyonya Kim memasukkan kertas kecil berwarna pink itu ke dalam kotak, dia mengatur letaknya di atas meja.
"Apa ada hal yang kau ingin sampaikan?" tanya nyonya Kim sebelum bersiap membersihkan diri di meja rias.
"Nyonya.." ujar pria itu gemetar. Kim jadi heran. Tepukan kapas basah di pipinya seketika berhenti, aku tak suka wajah tegang pegawai ini.
"Katakan ada apa!" Pukas nyonya Kim penasaran.
"Nyonya, aku kesini menyerahkan sertifikat kematian" nyanya Kim menarik sudut bibir, tersenyum sinis.
"Kau harus melaporkan itu kepada tuanmu, bukan padaku. Apa rekanmu berkelahi lagi di bar?" Tuding nyonya Kim sinis. mereka selalu saja membuat onar, menambah-nambah masalah. aku, nyonya Kim sudah sering bilang tidak mau terlibat dengan urusan suaminya.
"Tidak nyonya, ini adalah sertifikat kematian tuan Kim!!"
BRAAAAKKK!!
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa dukungannya
review komentar, star!! dan kirimkan hadiah kalian. terima kasih banyak
__ADS_1