Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Pengganggu


__ADS_3

Eun dan Kai menatap heran beberapa pegawai yang memasang kuping di daun pintu.


"kalian sedang apa!" Ketus Eun menautkan alis. Tiga orang pegawai segera bangkit dan menunduk malu, mereka ketahuan sedang menguping ruang CEO mereka. Eun mendengus kesal. Kai hanya menggelengkan kepala tak mengerti.


Eun menyambar gagang pintu, dia mendapati ruang kerja yang kosong. Kai dan Eun mengangkat bahu heran, tak mendapati siapapun di ruangan itu. Eun keluar ruangan mencari asisten adiknya. Direktur Mong baru saja keluar dari ruang karyawan. Dia segera menghampiri Eun yang meneliti meja kerjanya yang kosong.


"Apa nona mencari saya?" Tanya asisten Mong sopan. Eun segera membalikkan badan.


"Ah, iya. Apa kau tahu kemana CEO mu? Bahkan meja sekretaris nya juga kosong." Tunjuk Eun heran dengan meja Risa yang kosong. Asisten Mong menoleh sesaat. Dia mendapati meja Risa kosong, hanya ada tasnya saja. Dan meneliti ruangan CEO Jung dengan pintu yang terbuka lebar, benar kata Jung Eun, ruang kerja itu kosong. Padahal dia belum lama meninggalkan CEO nya. Asisten Mong menahan senyuman. Dia mengulum bibirnya.


"Nona dan tuan mau minum apa? CEO dan sekretarisnya sedang ada meeting hari ini" ujar asisten Mong menawarkan minuman, dia seakan mengalihkan perhatian Eun.


"Apa akan lama?" Tanya Eun. Asisten Mong melirik ke dalam ruangan sesaat, dia terlihat berpikir. Eun semakin heran. Kenapa mata asisten ini terus mencuri tatap ke dalam ruangan, disana hanya ada Kai!


"Mungkin sebentar lagi, mereka akan membutuhkan energi jadi pasti tidak akan melewatkan jam makan siang" ujar asisten Mong meyakinkan Eun. Wanita cantik itu mengangguk seakan paham.


"Baiklah, aku ingin susu low fat, dan Kai beri teh hangat saja, kami akan menunggu untuk makan siang bersama" ujar Eun kemudian meninggalkan asisten Mong. Pria paruh baya itu menggelengkan kepala sambil menyimpan senyumannya. Kau menyembunyikan sesuatu kan asisten Mong!


Kai meraih tisu. Dia segera menyeka sudut meja tamu kantor Hoon. Tumpahan kopi yang sudah mengering. Kai menyeka endapan kopi yang mengotori meja. Dia tak mau sudut kotor itu mengenai ujung dengkul Eun.


"Hati hati posisimu" ujar Kai memperingatkan. Eun sedikit heran. Kenapa Hoon membiarkan meja kantornya sekotor ini? Dasar anak itu. Eun mengambil gagang telepon, dia meminta office boy untuk membersihkan meja.


Tak berselang lama office boy datang, pria muda itu mendorong pintu perlahan. Eun segera bangkit menatap sosok di meja asisten Mong, dia mengenal figure itu. Eun melangkah pelan mendekati pintu.


"Gadis itu.." gumam Eun mengerutkan dahi tak mengerti.

__ADS_1


"Kenapa?" Suara Kai yang sudah berdiri di samping Eun cukup mengejutkan. Tatapan heran Eun pada gadis muda di depan sana, mengingatkan Kai pada pemakaman Glen. Dia gadis yang sama waktu itu.


"Kenapa dia ada disini?" Kai dan Eun seakan kompak bertanya. Keduanya saling menatap sesaat dan melempar senyum. Bahkan mereka memiliki pikiran yang sama.


Bianca sedang bertanya beberapa hal pada asisten Mong. Sementara Kai dan Eun serius memperhatikan gerak gerik gadis muda itu.


"Apa dia bekerja disini?" Tanya Kai, Eun hanya mengangkat bahu. I have no clue. Eun sebetulnya tak mau ambil peduli, hanya saja dia tak begitu menyukai kehadiran Bianca di kantor adiknya. Firasatnya tak bagus, perasaannya tak senang. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Eun melihat tingkah polos gadis muda itu 


Tapi terserahlah, asal dia bekerja dengan baik, seharusnya tak akan ada hal buruk yang terjadi. Kai merangkul bahu Eun, keduanya kembali ke dalam kantor Hoon. Dan betapa kagetnya mereka mendapati Hoon dan Risa sudah ada di dalam ruangan. Bahkan keduanya hendak menyeruput minuman milik mereka.


"Kalian?" tanya Eun bingung


"Aku tak melihat kalian kembali!" ujar Kai juga sama, dia bingung dan heran, kenapa Hoon sudah duduk santai menyilang kan kaki di sofa.


Risa dan Hoon saling melempar senyuman. keduanya mengambil tisu dan menyeka dahi.


"Ya, begitulah!" jawab Hoon cepat. Dia tak ingin nunanya kian curiga.


"Kenapa kau meminum kopiku!" seru Kai mengejutkan Hoon, baru saja dia akan meneguk cangkir yang tersuguh di meja.


****


Sebelumnya..


Risa merangkul erat pundak Hoon hingga kepala pria itu kian merapat di atas wajah Risa. Keduanya masih saling mengecup panas.

__ADS_1


Suara pintu yang terbuka, membuat kecupan mereka terjeda. Tapi tak ingin diganggu, kedunya melanjutkan. Kali ini lebih panas lagi. Hoon seakan sudah tak bisa menahan diri. Dia membuka perlahan satu persatu kancing kemeja wanitanya. Menyisipkan wajah dan mulai menikmati kulit mulus Risa. Membuat beberapa noda merah disana.


Hoon mengangkat tubuh Risa kedalam gendongannya. Wanita itu melepas heel, dia mengkaitkan kaki dibelakang punggung Hoon. Keduanya kembali terlibat ciuman panjang, mengecup dan merasakan hawa panas nafas masing masing. Memainkan lidah, bergumam, berbisik dan kembali bergelut dengan Indra perasa di rongga mulut yang semakin terasa panas.


"Hoon, kita masih di kantor.." bisik Risa berusaha mengingatkan.


"Memangnya kenapa" balas Hoon kini sudah membuka satu persatu kancing kemeja yang dia kenakan. Ya ampun, coba lihat dada yang kian terbentuk itu. Usia tak bisa berbohong, tubuhnya semakin jelas menggaris otot otot kedewasaan. Risa menarik nafas, antara mengatur degub jangung, atau sudah tak sabar lagi menerima serangan selanjutnya.


Hoon menaruh Risa di atas meja, dia melepas kemejanya dan melempar di lantai. Tangan Hoon cepat melanjutkan ke sisa kancing kemeja Risa. Dia sudah tak sabar lagi membuang kemeja wanitanya seperti miliknya tadi. Tapi kenapa di ruang depan semakin gaduh dan seakan banyak orang. Bahkan kini terdengar suara alat kebersihan. Apa yang terjadi di depan sana!


Risa dan Hoon terjeda untuk beberapa saat.


"Sepertinya kita harus bersabar sedikit lagi" ujar Risa dengan senyuman penuh arti. Keributan di depan sana sungguh sudah mengganggu mood baik mereka.


"Baiklah, baiklah!" Hoon akhirnya menyerah. Mereka terlalu berisik, hingga dia tak bisa konsen dengan santapan yang sudah di ujung lidah ini.


"Setidaknya biarkan aku melakukan ini!" Hoon menyingkap pundak Risa, meraih benda menonjol di dada wanita itu, menghisap dalam hingga Risa tak jelas bergumam apa.


"Kau sedang menyiksaku ya!" gumam Risa menggigit bibirnya. Hoon kau pintar sekali menguji! Pria itu memainkan hasrat wanitanya yang seketika memuncak karena kecupan beringas bibirnya dan Risa seakan tak sabar lagi untuk di sentuh olehnya, Hoon tertawa senang melihat wajah menyerah Risa. Kau sungguh keterlaluan! Hoon membuat Risa seakan tak mau bersabar lagi.


"itu cap kepemilikan!" ujar Hoon menunjuk bekas merah bahkan lebih keunguan mendekati puncak buah dada Risa, Ais, kau ini!. Risa menarik kembali kemejanya. Dia meraih kemeja Hoon dan membantu pria itu memakai kembali. Risa mengancingkan satu persatu kancing kemeja Hoon.


"Kau pintar sekali menggodaku kan!" gerutu Risa dengan raut wajah nakal. Jemari wanita itu bermain di atas kain katun kemeja Hoon, hingga terus turun dan kian turun. Dia menyentuh pelan junior kekasihnya, hingga pria itu meringis nikmat.


"Itu balasanmu!" bisik Risa di telinga Hoon, membuat daun telinga itu memerah.

__ADS_1


"Ah sial! siapa sih yang mengganggu di depan sana!" gerutu Hoon kesal.


__ADS_2