Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Di sini


__ADS_3

"Detektif Vino, segera hubungi asisten Mong, dan antar kekasihku ke rumah!" Detektif Vino mengangguk mengerti. Hoon meninggalkan Risa, diikuti empat orang pria berbadan besar di belakangnya. Risa hanya bisa menangis. Dadanya semakin bergemuruh melihat langkah Hoon kian menjauh. Pria itu menutupi kedua matanya dengan telapak tangan, menjatuhkan air mata dipipi, dia menarik nafas dalam seakan menghimpun tenaga. Menghapus cepat air matanya


"Percayalah kepadaku. Biarkan aku kali ini berusaha, biarkan kali ini aku memainkan peran sebagai seorang ayah. Kita harus berkumpul dan berpelukan bersama…"semoga doa ini bisa terwujud. Deru jantung, desiran darah yang terasa hangat, air mata yang terjatuh, lantunan doa di dalam hati, membuat Hoon semakin tak sabar menunggu. Percayalah pada hatinya sendiri, semua akan baik-baik saja.


Hoon menulis sekali lagi sebelum yakin meninggalkan Risa dibelakang sana. Hoon masuk ke dalam lift.


****


"Kai, dengarkan aku. Biarkan petugas yang menyelesaikan masalah ini!!" Eun berkata dengan tegas tapi suaranya bergetar. Kai yang mempersiapkan diri dengan pakaian anti peluru, pria itu juga menyiapkan senjata di pinggangnya. Eun tak ingin Kai pergi menemui Kim. Penjahat itu mengancam dengan menawan baby RI.


"Dengarkan aku baik-baik, bayi malang itu tidak ada urusannya. Urusan Kim adalah urusanku. Dia ataupun aku seharusnya tak melibatkan kalian!" Eun tak bisa berkata-kata lagi, bagaimanapun juga ia mencemaskan keponakannya, bagaimanapun juga jelas dia mencemaskan Kai, dan bagaimana dia menghadapi semua ini. Eun hanya bisa panik dan cemas.


"Kai, aku mohon.. berhati-hatilah!" pinta Eun kemudian. Kai menggaris senyuman, kedua telapak tangannya mencengkram erat wajah wanita di depannya, dia meninggalkan ciuman hangat di bibir bergetar milik Eun, seakan akan menikmati kecupan untuk terakhir kalinya. Sulit untuk melepaskanmu, sulit untuk meninggalkanmu. Semoga kali ini tidak akan memakan waktu lebih lama lagi. Kai meninggalkan wanitanya yang terkulai lemas menjatuhkan diri di atas sofa.


***


Hoon memasang wajah tegang, dia menekan layar ponsel menghubungi beberapa orang lagi, dia membutuhkan banyak bantuan untuk menghadapi Kim. Yang dihadapi kini bukankah pegawai biasa seperti dulu. 


Hoon masuk ke dalam lift dengan cepat. Dia dan 4 orang lainnya seakan sudah siap. Sungguh pertemuan yang tidak tepat. Glen salah satu penumpang lift hari ini.


"Hoon.."suara Glen menyapa wajah tegang Hoon. Dengan tatapan tajam bercampur malas, Hoon menoleh ke arah Glen, lihat siapa di sini! Si biang masalah utama, sontak wajah tersenyum Glen membakar emosi Hoon. 


Baru saja Glenn akan mengulurkan tangan. Sekedar menyapa. Hoon mendorong kasar tubuh Glen ke sudut lift. Dia mencengkram kerah kemeja Glen.


"Jika Kim menggoreskan sedikit saja luka, pada salah satu anggota keluargaku maka bersiaplah menemui ajal mu!!" Dengus Hoon meninggalkan uap panas di permukaan wajah Glen.


Ting!


Pintu lift terbuka, Hoon tak seharusnya membuang-buang waktu, Glen hanyalah manusia sampah! Sepeninggalan Hoon dan rombongannya, Glen menautkan alis, bingung. Tunggu dulu! Apa dia menyebut kata Kim? Apalagi yang mantan sahabatnya itu lakukan, sepertinya sesuatu yang sangat gawat. Glen mengikuti langkah Hoon.


***

__ADS_1


Sebuah kawasan industri di sudut kota. Sebuah bangunan pabrik megah yang belum sempat beroperasi, Kim mungkin akan mendirikan usaha yang lainnya di sini. Hoon tak peduli, baginya hanya bayinya saja yang menjadi fokus utama. Hoon mengendarai mobilnya seorang diri, dia tak membawa seorang pun rekan bersamanya.


Hoon menyimpan senjatanya, kali ini dia menggunakan jaket hitam. Kacamata hitam, dan sepatu boot prada hitam. Tidak ada kekerasan, sepertinya Kim sedang mempersiapkan sebuah permainan, dia seolah menyambut kedatangan Hoon.


Kim sedang menggendong bayi di tangannya. Bayi itu sangat pintar dia bahkan tidak menangis, RI menyedot susu dari botol di tangan Kim.


"Wah, kejutan sekali. Siapa ini, tamu kita hari ini?" Pertanyaan Kim terdengar sinis. Hoon tidak menjawab. Melihat bayinya di gedongan pria itu membuat Hoon jengkel, dia saja belum pernah menyentuh bayinya.


"Hai pemuda, pewaris kedua Jung yang cerdas. Aku mengakui itu. Kau mengambil bagian warisan mu sebelum si brengsek Glen menjamahnya. Kau juga tak sekonyol nunamu. Yang begitu buta karena cinta!" Cibir Kim


"Kau tahu Jung, seharusnya kita tak ada disini, kau ataupun aku atau bayi ini harusnya tak ada disini"


"Andai saja pria brengsek itu tak merusak banyak hati! Andai saja keluarga kaya mu tak berbaik hati, andai saja nunamu memilih pria yang tepat, hahaha..!!"suara tawa Kim jelas melecehkan. Lupakan! Jangan dengarkan kicauan konyol Kim.


"Hoon, aku ini pria yang baik sama seperti dirimu, aku ini sangat setia dan mencintai istriku, Apa kau juga mencintai wanita mu?" Kim meletakkan bayi Ri ke dalam kereta bayi, seorang bodyguard nya membawa kereta itu sedikit menjauh dari percakapan mereka berdua. Hoon tak berkedip sedikitpun, sorot matanya terus memperhatikan kemana bayinya di bawa.


"Aku tidak ada urusan dengan mu, tidak ada urusan dengan bayi tampan yang lucu itu. Aku menyukainya!" Seru Kim menunjuk pada kereta bayi yang kian menjauh. Mendengar celotehan tanpa henti Kim, membuat rahang Hoon mengeras. Berhentilah banyak bicara katakan  apa mau mu! Batin Hoon sudah tak sabar lagi.


"aku harus menggunakan cara ini agar mendapatkan apa yang aku inginkan. Harta?" Kim terkekeh dan menggeleng "tidak tidak tidak, sudah cukup semua kekayaan ini untukku!" Kim merentangkan kedua tangannya seolah memamerkan apa yang dia punya.


"Hai brengsek! Kau tak perlu bersembunyi lagi, aku sudah menunggumu!" suara gertakan Kim kebalik pintu gerbang di depan sana membuat Hoon menoleh perlahan.


Seseorang keluar dari persembunyiannya. Dia adalah Glen. Kim tertawa sinis dan menyeringai.


Tak berselang lama, Kai bergabung bersama mereka


PROOK PROOK PROOOKKK!!


Kim bertepuk tangan senang. Jadi ini yang dia tunggu dari tadi.


"Sudah kubilang kita tidak ada urusan, aku hanya sedikit meminta bantuan kepada bayimu" ujar Kim mengangkat jari telunjuk dan jempol memberi celah sedikit di depan matanya.

__ADS_1


"Hei kemari lah!" Kim memanggil suruhannya. Bodyguard itu datang dengan kereta bayi tadi.


"Ini bayi mu, ku kembalikan, sudah kubilang aku sangat menyukainya" dengan mata siaga Hoon menerima kereta bayi, dia memastikan semuanya baik-baik saja di dalam sana, tidak ada sesuatupun yang mencelakai bayinya. Glen menatap heran kereta bayi di tangan Hoon, pastilah hatinya bertanya-tanya. Bayi siapa itu? Kenapa Kim bisa menggunakan bayi itu sebagai alat?


Apa pentingnya seorang bayi? Glen masih saja bisa tersenyum sinis. kenapa Hoon menjadi pria senaif ini. Dia berlagak seperti bocah.


Kim juga tertawa sinis tapi bukan kepada bayi itu, wajahnya menyeringai menatap nanar ke arah Glen. kau mana mengerti perasaan seperti itu? kau mana mengerti cinta seorang ayah, kau mana mengerti perasaan seorang anak. kau tak mengerti karena kau tak pernah merasakannya!


kenapa mereka bertiga ada di sini hari ini. untuk menebus kesalahan di masa lalu? kesalahan siapa. pernikahan Kim jong-il menyimpan banyak rahasia, menyisakan dendam dan sakit hati, hingga hari ini adalah puncaknya.


pernikahan yang hancur membawa banyak kehancuran dalam generasi. melibatkan pernikahan orang lain yang bahkan tak mengerti. Kim bersama dendam. Glen bersama hasrat, dan Kai sedikit lebih beruntung, mungkin!


Glen menghancurkan pernikahannya dengan mudah karena dia tahu orang tuanya bahkan tak pernah menikah.


Kim mungkin memuja pernikahannya, dia mempunyai hubungan yang langgeng tapi hatinya diselimuti dendam.


sementara Kai, dia tak mengerti apa pun, mungkin karena dia yang paling muda. atau hanya dia yang mewarisi sedikit sikap baik dan hangat yang pernah diberikan Kim jong-il? entahlah.. seharusnya mereka bersaudara!


*****


terima kasih yang sudah membaca


bab kali ini gimana gitu..


tapi tenang aja semua akan indah pada waktunya


terus baca ya


terus kirimkan support melalui 4 star


jangan lelah kirim komentar dan review kalian

__ADS_1


jangan lupa belikan hadiah juga untuk penulis


terima kasih banyak banyak banyak banyak banyak banyak


__ADS_2