Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Si pencuri


__ADS_3

"Wah, mobil yang bagus!" puji Risa begitu melihat sedan merah di depan mata. Keduanya masuk ke mobil, Hoon tersenyum dan menyalakan kontak.


"Mulai sekarang aku bisa mengantarmu ke pasar, kau tak perlu jalan kaki lagi" Risa tertawa kecil mendengar kalimat Hoon.


"Hahaha.. kau terlalu memikirkan, aku tidak apa berjalan, lagipula itu tidak terlalu jauh kan!" Hoon menggeleng tak setuju.


"Apanya yang tidak jauh? bahkan kaki ku sampai pegal padahal baru setengah jalan. Kenapa kau tidak naik taxi saja sih!" Risa mengerutkan dahi. Loh dia yang jalan jauh kenapa Hoon yang sewot?


"Karena jalan kaki pagi-pagi buta kan sehat, sekalian olahraga" jawab Risa apa adanya. Dia ke pasar biasanya pukul lima pagi. Saat udara masih segar.


"Kau tidak takut kalau kalau ada pria jahat, pria mabuk yang menguntit mu?" tatapan Hoon jelas sedang menakut-nakuti Risa. Bukannya takut Risa malah menutup wajah Hoon agar menjauh dari hadapan wajahnya.


"Fokus lah menyetir" pinta Risa, Hoon membenarkan posisi duduk, sentuhan telapak Risa di wajahnya membuat senyum Hoon terus terukir, hangat.


"Tidak ada yang mabuk di jalanan, kau terlalu banyak nonton drama!" sinis Risa. Hoon tak percaya.


"Oh, ya? tidak ada orang mabuk disini?" Risa mengangguk "Tidak ada!" tegas Risa"


Hoon mengerti, mulutnya membuat angka O, seakan paham, "Pantas saja tidak ada yang menjual soju" bisik Hoon sekarang paham


"Soju?" sekarang Risa yang tak mengerti, Hoon menoleh sebentar.


"Kau tak tahu?" Risa menggeleng "Ah, itu minuman penghangat badan, biasanya untuk menemani acara makan bersama atau sekedar untuk menghibur diri, minuman alkohol Korea" Risa mengangguk mendengar penjelasan Hoon. "Jadi di sini tidak minum alkohol?" tanya Hoon masih ingin tahu


Risa menggeleng "Aku kurang tahu, tapi aku pernah mencoba, sedi-kit!" dengan mengangkat jari telunjuk dan jempol, Risa memberi kode sedikit, matanya sedikit menyipit.


"Kau mencoba soju?"


"Bukan!" sanggah Risa "Aku mencoba wi, wine! ya wine.."


"Oh," jawab Hoon singkat.

__ADS_1


"Aku mencobanya di restoran bersama kekasihku.." Hoon menoleh mendengar jawaban Risa. Ada kekecewaan dalam sorot mata pemuda itu.


"HOON!!" Risa berteriak menunjuk ke depan


CKIIITT!!! Hoon mengerem mendadak hingga keduanya terguncang.


"Apa kau baik baik saja?" tanya Hoon khawatir, dia segera memeriksa tubuh Risa, dia meneliti apa Risa terluka. Risa tertunduk dengan rambut acak-acakan. Rambut panjangnya ikut terguncang tadi. Hoon panik.


"Risa.." panggil Hoon dengan suara bergetar.


Risa mengangkat kepalanya, menyeka rambut yang menutupi wajah. Matanya menyorot tajam.


"Kau bisa nyetir ga sih!! jantung ku hampir aja copot! kau mau kita mati ya!!" teriak Risa kesal. Hoon segera mengelus dada. Dia menghela nafas lega. Ternyata Risa baik baik saja.


"Kau kalau mau celaka jangan bawa bawa aku dong! umurku ini masih 23 tahun, belum menikah, belum punya anak!!" Risa masih terus mengomel. Hoon tak ambil pusing, dia melanjutkan menyetir.


"Hei, kau dengar aku ga sih! aku lagi ngomong sama kamu! Hoonn!!" Rusa memaksa perhatian Hoon. 


Hoon menepikan mobil tiba tiba.


"Kau masih mau ngomong?" tanya Hoon dengan wajah serius, Risa jadi bingung harus jawab apa.


"Sekarang ngomong-lah, aku dengarkan" ujar Hoon membuat Risa heran. Dia memang masih mau mengomel tapi kalau Hoon meminta seperti ini, dia jadi bingung juga.


"Ayoo.. aku akan dengarkan" pinta Hoon masih enggan beralih menatap Risa.


"Ya, ya.." Risa mencoba berpikir cepat, dia menutupi salah tingkah karena tatapan Hoon. "Ya, kau harus hati hati, kau jangan membuat kita celaka, itu, itukan.. berbahaya.." bukannya tadi Risa bisa mengoceh dengan cepat, kenapa sekarang dia terbata. Risa menggaruk kepala, ah, kenapa Hoon menatap seperti ini sih! batin Risa gelisah.


"Sudah?" tantang Hoon. Dia kembali menatap ke depan mobil. Bersiap mengemudi lagi.


"Kau apaan sih! aku sedang serius, aku tidak bercanda! jangan lakukan itu lagi, kau menakutiku, memangnya kau punya berapa nyawa! mengendarai itu bukan lelucon.." baru saja Hoon ingin fokus menyetir, Risa sudah ceramah lagi.

__ADS_1


"Kau harusnya melihat jalan dengan baik, jangan---"


Cups!


Tiba tiba Hoon memajukan tubuhnya dengan cepat, dia berpegang pada stir dan jok mobil, Hoon menyambar bibir Risa yang terus mengomel.


Deg.. deg.. deg..


Detak keduanya berpacu hebat. Desiran darah tiba tiba terus terasa deras. Hoon menarik tubuhnya, kembali duduk dengan kikuk.


Risa mengerjapkan mata, tak bisa percaya dengan gerakan tiba tiba Hoon. Dia mematung.


Apa itu? sesuatu yang kenyal tiba tiba saling bersentuhan. Berbeda dengan kemarin. Tadi.. wangi yang menyeruak bersamaan sentuhan lembut di bibir, Risa menyentuh bibirnya dengan ujung jari. Dia tersadar.


"Apa yang kau lakukan! kau gila ya!!" Risa memukuli pangkal lengan Hoon dengan gemas. Hoon tertawa kecil melihat tingkah Risa, dia tidak merasakan sakit sama sekali, Risa justru membuatnya tertawa lucu. Kau sangat menggemaskan kalau mengomel.


"Mulutmu itu berisik tau!" ketus Hoon, membuat Risa cemberut. "Sekarang aku tahu bagaimana caranya supaya kau tak berisik!" ancam Hoon sambil menarik senyum.


"Apa kau bilang! Kau!! jangan coba coba yaa!!" balas Risa, dia mengacuhkan telunjuk, mengancam Hoon dengan sorot tajam matanya.


"Kau masih mau mengomel?" Hoon mendekatkan badannya dengan bibir monyong. Risa menutup mulut Hoon dan mendorong nya supaya kembali duduk di kemudi dengan benar.


"Kau menyebalkan!!" gerutu Risa kesal, dia melipat tangan didada, wajahnya dilipat marah. Hoon menoleh sesaat, dan tertawa melihat wajah kesal Risa, dia mengemudikan mobil.


"Dia menyebalkan, menyebalkan menyebalkan!!" gerutu batin Risa. Bisa bisa nya dia melakukan itu, ah! Hoon sungguh keterlaluan. Sekarang Risa hanya bisa ngomel dalam hati, dia melirik Hoon dan mendengus kesal. Risa semakin dongkol. Masa ciuman dijadikan lelucon! Harusnya dia melakukan pada gadis yang disukainya kan! aku akan menampar jika ada pria yang menciumku dan menganggapnya lelucon! itu sungguh tidak lucu.  Risa masih saja membatin.


Lihat wajah tak berdosa itu. Dia bahkan bersiul kini. Ih aku kesal sekali! tapi tunggu.. kenapa aku tidak menamparnya tadi? Risa tersadar. Dia melirik Hoon sejenak, dan Hoon menyadari, pria itu menggaris senyum, Risa membuang muka.


"wajah apa itu?" bisik Risa tanpa suara. Risa beralih pada pemandangan japan di luar pintu. Dia memikirkan kenapa dia tak menampar Hoon tadi, apa aku tampar sekarang aja ya? Risa menggeleng, itu terlalu memaksakan. Risa tersenyum sendiri. Dia mengangkat telapak tangan, memperhatikan telapaknya, dia menggenggam erat dan tersipu malu.


"Aku tak bisa melakukannya" bisik batin Risa menahan debaran yang terus menjadi. Risa, kau sudah punya kekasih.

__ADS_1


Bersambung..


Hallo semua.. jangan lupa tinggalkan bintang bintang, komentar positif kalian (5bintang jgn dikurangi pliiss) dan hadiah kalian..


__ADS_2