
RI duduk di kursi dengan wajah merengut. Emi dari tadi membujuk tapi tak berhasil juga. Sepanjang perjalanan pulang dia bertanya tapi RI tak mau menjawab.
Risa dan Hoon heran melihat wajah yang dilipat. Tumben sekali. Kenapa putra semata wayangnya terlihat murung.
"Ada apa sayang?" Tanya Risa berjongkok di hadapan ri. Bocah kecil itu menggeleng pelan.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi di sekolah?" Hoon ikut bergabung duduk di samping RI. Emi menoleh sejenak lalu merapikan sepatu dan tas cucunya ke kamar.
RI menggeleng lagi. Membuat Hoon dan Risa melemparkan tatapan tanda tanya. Pasti sesuatu terjadi pada RI, dia sangat ceria saat berangkat sekolah tadi pagi.
"Ah, appa punya game baru. Apa kau mau coba?" Hoon mencari topik yang mungkin menarik minat RI, tapi anaknya itu menggeleng lagi. Membuat wajah ceria Hoon seketika sirna.
"Apa kau mau makan sesuatu?" Tanya Risa gantian membujuk. RI menggeleng lagi. Risa dan Hoon tak mengerti, keduanya kompak mengangkat bahu.
Emi keluar dari kamar.
"RI, kemana kotak bekalmu nak?" Tanya Emi bingung tak mendapati kotak bekal cucunya.
RI segera beranjak dari kursi, dia berlari dan memeluk Emi.
"Nenek. Kotak bekalku ketinggalan di taman. Huhuhu.." RI mulai terisak. "Saat aku kesana untuk mengambilnya, kotak bekalku sudah tidak ada!" RI menghapus air matanya dengan cepat. Emi berlutut, dia memegang hangat pangkal lengan cucunya.
"Tidak usah menangis. Nenek tidak marah. Kalau sudah hilang mau bagaimana lagi" hiks, RI masih tersedu sedu.
"Bukan itu. Kotak bekal itukan pemberian kakek. Aku sangat menyukai kotak bekalku, aku sudah menghilangkannya.. hiks!" Emi melirik Hoon dan Risa yang berdiri perlahan di belakang sana. Melihat putranya menangis membuat mata mereka yang ada disana berkaca kaca. Jadi dia menghilangkan kotak bekal dari kakek?
"Nenek selalu bilang, itu kotak bekal kesayangan kakek kan! Aku sudah menghilangkannya huaaaahuhu hiks!" Emi merangkul cucunya. Memeluk erat.
"Tidak apa, kita masih punya banyak kotak bekal lainnya" bisik Emi berusaha menenangkan RI.
Hoon memeluk istrinya. Mereka berdua sebagai orang tua justru tak mengerti kenapa RI terlihat murung. Ternyata putranya itu begitu mencintai hal hal kecil. Risa tak bisa percaya. Bahkan RI mencintai hal hal kecil dengan perasaannya. Risa menangis dalam pelukan Hoon. Dia merasa gagal menjadi ibu untuk RI, anaknya lebih dekat dengan Emi, dan dia sangat percaya pada neneknya. Hoon mengerti itu. Cengkraman kuat di lengan Risa seakan menyampaikan perasaannya. Ya, mereka bukan orang tua yang baik untuk RI, bahkan kotak bekal itu lebih mengerti perasaan tulus putranya.
"Sudah nenek bilang. Kakek punya banyak kotak bekal kesayangan. Lihatlah!" Emi membuka lemari rak piring yang biasanya terkunci. Dan ada banyak kotak bekal. berbagai warna tersusun disana. Risa menarik diri dari pelukan suaminya. Hoon memberikan kecupan kecil di dahi. Dia segera menghapus air mata Risa. Keduanya menggaris senyum getir, lalu ikut bergabung ke dapur.
"Wah, bahkan mama masih menyimpan kotak bekalku!" Seru Risa menggaris senyuman lebar, dia melihat kotak bekal berwarna pink, yang dulu sering dia gunakan.
"Apa ini punya mama?" Tanya RI pada Risa, wanita itu mengangguk cepat.
"Aku tak bisa menggunakannya!" Kesal Ri.
"Kenapa?"
"Karena warna nya pink, aku malu memakai kotak bekal berwarna pink" Risa mengangguk mengerti, dia mengelus lembut kepala putranya.
"Kalau begitu pilih warna lain yang paling kau suka." RI mengangguk dan mulai memilih.
Hoon menatap tingkah kelurganya dan tersenyum. Dia membuang air mata yang menggenang di kelopak matanya. Siapa bilang RI dewasa? Dia bahkan cengeng dan manja. Sikapnya itu mengingatkan Hoon saat kecil. Omma dan appa nya selalu saja menuruti apa kemauannya. Dia juga selalu merengek jika menginginkan sesuatu. Persis seperti RI tadi. Hoon tertawa sendiri melihat kemiripan sikapnya denga. RI, dia sedikit merasa bangga.
__ADS_1
"Dia memang putraku. Jung RI!"
"Kau kenapa!" Suara Eun mengejutkan Hoon, tawanya seketika sirna. Kenapa wanita ini muncul disaat yang tidak tepat
"Apa kau menangis?" Ledek Eun menunjuk mata merah Hoon. Pria itu segera menepis tudingan Eun.
"Mana Kai hyung? Kalian tidak pulang bareng?" Hoon mengalihkan topik.
"Ah, dia belum pulang?" Eun balik bertanya. Hoon mengangkat bahu
"Seharusnya dia pulang lebih dulu tadi. Kenapa dia belum sampai juga!" Hoon sekali lagi mengangkat bahu.
"Ah sudahlah" Eun segera mengganti alas kaki, dia heran melihat Risa, RI dan Emi kompak membongkar lemari di dapur.
"Kalian sedang apa?" Tanya Eun heran.
"Hallo bibi!" Sapa RI. Eun mencibir
"Kenapa panggil bibi. Sudah nuna bilang jangan panggil bibi. Panggil saja Noona, Noona yang cantik!" Balas Eun, sekarang giliran RI yang mencibir.
"Oiya, nuna cantik ini membawakan sesuatu untukmu!" RI segera berlari menghampiri Eun
"Apa itu!" Tanya RI dengan mata berbinar binar.
"Menurutmu apa? Kau tahu isinya kan!" Goda Eun membuat RI segera mengangguk.
"Jangan kau habiskan, biarkan nuna ikut bergabung setelah berganti pakaian!" Ancam Eun, terakhir kali dia menghabiskan semua coklat dan hanya menyusahkan box kosong saja. Waktu itu Eun sempat jengkel pada ponakannya itu.
"Kau harus mengatakan apa?" Pinta Eun dengan senyum lebarnya.
"Terima kasih Noona yang sangat cantik dan baik hati" ujar RI bernada sopan dan sambil membungkukkan badan. Tingkah bibi dan keponakan itu sontak membuat Hoon dan Risa tertawa. Mereka seperti adik kakak saja.
Eun meninggalkan ruang tengah dengan dagu terangkat. Pujian terpaksa RI membuat Eun merasa cukup bahagia.
Hoon dan Risa ikut bergabung melihat isi kotak di tangan RI.
"Wah, kelihatan lezat!" Ujar Hoon menggoda. Risa segera mengambil satu yang berbentuk hati paling besar.
"Aaa.." pinta RI pada Risa. Wanita itu menerima suapan dari jari putranya. Setelah Risa, RI menyuapi appanya.
"Apa appa suka?" Tanya RI, Hoon mengangguk.
"Appa bisa pesankan setiap hari untukmu!" Ujar Hoon membuat janji. Tapi RI menggeleng.
"Tidak mau, coklat ini istimewa karena Noona yang memberikan." Jawab RI tersenyum
"Sebenarnya rasanya sama seperti coklat lainnya kan.." RI berbisik. Risa dan Hoon tertawa mendengar bisikan anaknya.
__ADS_1
"Dasar kau ini!" Hoon mengacak acak rambut RI, "jadi kau hanya menggoda nuna!" RI mengangguk.
"Kau memang putra appa! Terbaik!" Ujar Hoon mengangkat kedua tangan. Keduanya saling TOS dan tertawa lucu.
Risa memeluk erat putranya. Hoon bergabung memeluk keduanya dan mendaratkan satu ciuman di kepala masing masing.
"Appa, nanti rambutku jadi manis!" Protes RI. Lihatlah! Bahkan dia sudah bisa kritis, dia sungguh sungguh tidak diragukan lagi.
"Bukankah dia persis denganmu!" Lirik Risa pada suaminya. Hoon mengangguk ragu. Pria itu menarik senyuman jahil, dia mendekatkan kepala ke telinga istrinya.
"Apa boleh membuat satu lagi, yang cantik seperti dirimu?"
****
"Minji, sampai kau menatap kotak bekal itu?" Minji segera menoleh, dia menghampiri ibunya di meja kasir.
"Apa kau akan mengembalikan kotak bekal itu?" Minji menggeleng pelan.
"Apa aku harus mengembalikannya Omma?" ibunya mengangkat bahu tak mengerti
"Dimana kau mendapatkan kotak itu?"
"Seseorang meninggalkannya saat kita mengunjungi teman Omma tempo hari" jelas Minji dengan wajah polos.
"Ah pasti kotak bekal bagus ya, itu kawasan elit" Minji mengangguk setuju dengan kalimat Ommanya.
"tapi, kotaknya terlihat biasa saja" Minji menatap kotak bekal di meja dapur sekali lagi. Benar juga, kotak bekal.itu malah terlihat biasa saja. Bahannya biasa, tidak ada gambar lucu ataupun cetakan nama. Ah, dia lupa siapa nama bocah laki laki kemarin ya! Dia sepertinya tidak akan mengembalikan kotak bekal itu. Sangat sulit masuk ke kawasan elit itu. Minji hanya akan menyimpan kotak bekal itu. Mungkin suatu hari nanti mereka akan bertemu lagi di tempat lain.
"terima kasih sudah berkunjung.." salam khas resto kecil dari bibir Ommanya menyadarkan Minji. dia segera meraih lap. Minji mengangkat piring dan sisa makanan dari meja. dia mengelap hingga bersih permukaan meja.
"Omma, kau bisa beristirahat. aku akan menggantikanmu, jam sore seperti ini masih sedikit sepi. Kau harus bersiap saat jam malam nanti. Resto ini pasti akan ramai!" Ommanya mengangguk, dia memukul mukul punggungnya yang pegal.
"Omma istirahat sebentar ya!" Minji mengangguk dan melebarkan senyuman. dia duduk di kursi kasir, dan bersiap menyambut pengunjung.
Sora melangkah ke dalam menyandarkan punggung di kursi. Dia tersenyum.
"Setidaknya dengan begini, aku dan Minji tidak akan merasa kesepian.." ujarnya pelan, dia merebahkan diri, melemaskan otot ototnya yang pegal. Air mata Sora kembali terjatuh saat matanya menatap lurus figura foto di atas meja.
"Kim, istirahatlah dengan tenang.."
***
terima kasih sudah membaca
tetap tinggalkan komentar dan bintang5
tetap kirim star vote dan hadiah juga ya
__ADS_1