
POV. Eun
Aku sampai lupa apa tujuanku ada disini hari ini. Seingatku Risa dan bayinya membuatku bersemangat berada disini. Tapi apa yang aku temukan disini.
"KAAII!!"
Tanpa sadar aku berteriak ketika melihat rupanya. Dia jelas Kai! Aku tak menangkap jelas pertanyaan dua orang lagi.Kai menjadi fokus utama mata dan pikiranku! Hanya melihat rupanya saat ini membuat perasaanku bergemuruh. Emosi di jiwaku seakan menuntut keluar bersamaan. Rasa rindu, rasa kesal semua rasa berbaur jadi satu!
"EEUUN!" dari nadamu pun sama. Kita tak percaya akan pertemuan aneh ini. Kau menatap dua orang di depanmu. memindahkan bayi di tanganmu pada mereka. Ya, ampun! ini sungguh kau! Ya ampun, kauembuat mataku panas.
"Kau benar Kai?" kau terus mengangguk angguk seakan jelas meyakinkan diriku jika itu sungguh dirimu, itu memang Kai!!
"Kaaii.." Air mataku seketika tumpah. Aku memeluknya erat, mendekap bahu bidangnya. Dia memang Kai. Ya ampun aku jadi menangis seperti ini dalam pelukanmu. Aku begitu merindukanmu.
"Kaaii.." Aku merasakan kau juga kian erat mendekap tubuhku. Ya ampun, apa kau juga merasakan yang sama seperti yang aku rasakan? debaran jantung ini? Rasa bahagia yang mengharu. Kau disini! kau ada disini! kenapa kau ada disini!!
Aku menerima uluran tisu dari seorang ahjuma, wanita setengah baya biasanya dipanggil ahjuma di Korea. Dia memiliki senyum yang ramah. Senyum yang sama seperti Risa. Dia pasti omma Risa. Aku mencoba melepaskan rangkulan Kai dengan berat hati. Aku harus memberi hormat dan salam terlebih dahulu pada pemilik rumahkan.
"Maaf omma.." ujarku selembut mungkin. Pasti tingkahku membuat mereka heran dan tak nyaman Aku sedikit mengambil jarak, membungkukkan badan. Dari ahjuma aku pindah ke sosok pria yang menggendong bayi mungil di dekapannya.
"Maaf, appa.." ujarku menggaris senyum dan berusaha menghentikan air mata. Keduanya menarik senyum tipis, mereka kompak membalas salamku dengan cara tradisional kami. Mereka tahu juga memberi hormat seperti budaya Korea.
Wajah keduanya terlihat ramah dan hangat, apa mereka tak keberatan dengan tingkah konyolku? Aku sangat merindukan Kai! aku sudah tak bisa membendung perasaanku.
Kai.. aku bahagia melihatmu lagi.
***
"Cara ini mengingatkanku pada seseorang!" gerutu Bambang menahan baby Ri di dekapam nya.
Kai dan Eun saling mencuri tatap. Keduanya masih menyisakan banyak kerinduan. Emi dan Bambang menoleh curiga.
"Ayo duduk dulu.." ujar Emi mempersilahkan Eun.
"Maaf omma, perkenalkan namaku Jung Eun, aku rekan kerja Risa.." Aahh.. Emi membuka mulut lebar seakan mengerti. Rekan kerja katanya? hanya melihat tampilan Eun saja Emi bisa tahu, mana ada rekan kerja putrinya seperti ini.
__ADS_1
Seperti yang Risa katakan, tamunya bukan orang biasa, dia adalah pemilik perusahaan besar dan sangat cantik, juga terkenal! memangnya ada ya wanita dengan kesempurnaan seperti itu! sepertinya di kehidupan sebelumnya dia jadi penyelamat bumi hingga keberuntungan berpihak semua padanya.
Emi sungguh kagum pada sosok Eun. Dia bukan hanya cantik dan kaya, tapi juga sopan dan ramah. Eun seperti tokoh khayalan banyak orang Risa harus banyak belajar padanya!
"Jadi kalian saling mengenal?" tanya Bambang to the point, tatapan Eun pada Kai begitupun sebaliknya pasti membuat orang lain paham. Mereka tak bisa menyembunyikan apa yang ada di hati mereka! tentu saja keduanya sangat saling mengenal.
"Pa, ma. Eun adalah teman baik saya di Korea.." jawab Kai dengan senyum tipis. Eun menautkan alis.
Apa katamu! teman baikku? apa aku tak salah dengar! batin Eun tak terima.
"Bahasa Indonesia mu bagus!" sindir Eun.
Emi melihat tatapan lain di wajah Eun. Wanita itu segera bangkit dan mencubit pinggang suaminya, mata Emi berkedip seolah memberi kode.
"Kenapa ma?" tanya Bambang tak mengerti. Emi tersenyum paksa. Matanya sekali lagi mendelik memberi kode keras pada suaminya. Ayo kita beri waktu dulu! gusar batin Emi. Kenapa suaminya ini sangat tidak peka!
"Baiklah, kalian tunggu sebentar, tante akan cari Risa dulu!" ujar Emi bangun dari duduknya, dia seakan mempersilahkan Kai untuk mengobrol pada Eun. Bambang masih belum juga beranjak. Dia tak mengerti kenapa harus mencari Risa?
"Ayo pa!" pinta Emi, aduh! pria ini belum paham juga.
"Kenapa aku harus ikut!" gerutu Bambang heran.
"Omma, Appa.." panggil Eun beranjak dari kursi. Membuat Emi dan Bambang sontak menoleh.
"Boleh aku pegang baby?" tanya Eun menunjuk ke arah bayi Ri dengan telapak tangannya, dia sangat sopan.
"Oh, tentu, tentu saja!" ujar Bambang cepat. Melihat senyum Eun siapa yang tak akan menuruti permintaanya, jangankan cucu mungkin ginjalnya juga akan dia berikan. Emi melirik suaminya sinis.
"boleh omma?" tanya Eun pada Emi. Ah, sama saja, Emi langsung mengangguk ketika mendapati bola mata berbinar milik Eun.
"Terima kasih.." dengan perlahan dan sangat hati hati Eun mengambil Ri dari dekapan kakeknya. Wanita cantik itu terus terusan tersenyum senang. Ah, seperti ini rasanya menggendong bayi.
"Ah, hati hati.." ujar Kai ikut bergabung membetulkan posisi Ri di gendongan Eun. Keduanya terlihat kompak mengatur posisi si bayi. Emi dan Bambang tersenyum lalu meninggalkan ruang tamu. Memberi sedikit waktu pada tamunya.
"Kau duduklah dulu.." ujar Kai berbicara bahasa Korea dengan Eun. Wanita itu menurut, dia segera duduk.
__ADS_1
"Ini tidak apa apa seperti ini?" tanya Eun meyakinkan posisi Ri sudah nyaman apa belum.
"tidak apa, asal sangat hati hati. Dia masih mungil sekali. Kau bisa mendudukkan nya di pangkuanmu.." Eun mengangguk mengerti.
"Kiyoowoo.." Eun membuat ekspresi gemas di depan wajah bayi Ri, dia tertawa lebar. Tawa Eun memancing senyum bayi Ri yang terus berkembang hingga tertawa memamerkan gusi kosongnya.
"Ah, kau lihat! lihat, tadi dia tertawa padaku!" tunjuk Eun bahagia, dia merasa sangat hebat telah diberikan senyum dan tawa lucu bayi Ri.
Kai merasa gemas. Bukan hanya pada wajah imut bayi Ri, dia gemas melihat wajah ceria Eun. Tangannya terangkat dan merangkul pangkal lengan Eun, sedikit menarik tubuh Eun hingga menyentuh dada Kai.
"Ishh.." Eun menggoda Kai yang mendekapnya erat, siku Eun menyentuh pelan perut Kai.
"Apa kau begitu merindukanku?" bisik Eun dengan mata tak beralih pada wajah bayi Ri. Kai tak menjawab pertanyaan Eun.
"Kenapa kau disini? kenapa dengan memar di wajahmu itu?" tanya Eun dengan suara lirih. Dia bisa menangkap jelas meski sudah samar. Luka memar di wajah Kai membuat Eun khawatir.
"Aku akan menceritakan semuanya nanti.." bisik Kai, dia mempererat dekapan telapaknya di bahu Eun. Dekapan yang seakan memberi tahu jika perasaanya sesenang ini bertemu Eun, jika hatinya selega ini bisa ada disini hari ini.
Kai hampir saja lupa menahan diri dimana mereka saat ini. Dia terlalu gembira melihat wanita tercintanya ada di depan mata. Eun ada bersama dengannya. Semua seperti mukjizat bagi Kai. Ini seperti mimpi!
Kai merapatkan tubuhnya, dia memng sudah tak bisa menahan lagi, dia ingin melampiaskan rasa gembira dan lega yang berbaur satu. Harinya terlalu gembira.
Kai menghirup aroma parfum Eun, menambah ketenangan di dalam hatinya. Dia mendaratkan wajah di atas rambut Eun, mencium dengan penuh perasaan.
"Terima kasih aku bisa melihatmu lagi.." Bisik Kai memejamkan mata, air matanya menetes sekali, perasaan takut seketika berubah lega. Perasaan kalut seakan menemukan solusinya. Melihat Eun sehat dan ceria seperti ini, seperti bonus lebih untuk Kai. Dia sungguh sangat bahagia.
"Hey, kau lihat! bayiku tertawa lagi!" tunjuk Eun pada bayi Ri. Dia bisa merasakan kecupan hangat yang mendarat di rambutnya, sentuhan bibir Kai yang samar membuat Eun tersenyum, dia juga bahagia bisa melihat Kai lagi. Dia sangat merindukan Kai.
Eun mengangkat tangan kirinya, telapak tangannya menyentuh lembut pipi Kai, mengelus pelan beberapa kali.
"Apa kau lihat, bahkan bayi ini begitu menyukai kita.."
***
Jangan lupa terus kirim starvote sebanyaj mungkin, komen dan review bintang 5 sebanyak2nya..
__ADS_1
kirim.hadiah juga!!
terima kasiih