
Eun dan Hoon kembali ke mobil, dia meletakkan box makanan di antara parcel cantik untuk bayi Risa, tentu saja Hoon tidak tahu. Pria itu berkali kali bertanya tapi Eun seperti membuat teka teki Sama seperti saat ini. Tatapan kosong dan wajah bengong itu apa artinya! Hoon mengibaskan tangan di depan wajah Eun mencoba menyadarkan, tapi nunanya tetap saja belum kembali fokus.
"Nuna.." sergah Hoon mengejutkan Eun dengan menyenggol bahu. Eun langsung tersadar, dia kelihatan seperti orang linglung.
"Ah, kau membuatku takut nuna, sini biar aku yang menyetir!" pinta Hoon. Dia segera keluar dan membukakan pintu Eun. berganti posisi. hoon melirik sesaat ke arah Eun, ada apa? dia tidak seperti ini tadi! apa sesuatu terjadi antara dia dan Glen! Hoon langsung berpikir kesana, apa lagi!
Hoon harusnya tahu jika nuna nya akan terguncang jika bertemu dengan Glen, tapi naluri laki laki Hoon memang masih harus diasah, dia masih kurang peka terhadap perasaan wanita.
"Nuna, ada apa, katakan!" suara berat Hoon seperti memaksa. Eun mencoba mengalihkan pandangan dari sorot mata menyelidik Hoon. Wanita itu menarik nafas, menyandarkan punggung.
"Aku bertemu dengannya"
Sudah kuduga! Hoon melirik sesaat pada wajah sendu dan kosong nuna nya, dia menyalakan mesin mobil, memutar kemudi, menjauhi mobil Glen yang terparkir tepat disebelah mereka.
Harus segera pergi dari sini! gerutu batin Hoon. Dia juga tak ingin bertemu dengan pria brengsek itu. Terakhir mereka bertemu di rumah, saat itu apa yanga da dipikiran Glen, dia berusaha meluluhkan hati Eun. Untunglah Kai sudah menyadarkan Eun terlebih dahulu.
Ngomong ngomong, jika Kai kembali dari Alaska mereka harus segera membuat status jelas. Pria itu kenapa sih menghilang disaat tidak tepat. Harusnya dia bilang dong kalau belum siap bertemu ibunya! Hoon sedikit kesal juga pada Kai.
Nuna yang optimis dan menyebalkan ini selalu saja terlibat asmara dengan pria pria tak bertanggung jawab! oh hello Hoon! katakan itu pada dirimu juga ya. Memang jaman sekarang banyak sekali pria tidak bertanggung jawab!
"Kau tak perlu memikirkan semua itu nuna, itu sudah berlalu"
"Ck, entahlah. Tapi setiap aku mengingat apalagi melihat dia, bayangan masa lalu itu seperti kembali lagi.." Hoon menyimak serius suara lirih Jung Eun. Ya, Glen memang masa lalu yang kelam.
"Aku merasa sangat bodoh. Aku merasa sangat bersalah Hoon. Aku ingin bersujud dan memohon maaf kepada orang tua kita.." Eun sudah tak mampu menahan air matanya.
Dulu dia lebih percaya pada Glen daripada papanya. Sehingga mereka selalu berdebat tanpa berkesudahan. Meski Hoon mencoba menjadi penengah, bagi Eun bocah itu hanyalah pengacau yang mencari muka. Mengingat semua itu Eun sangat kesal.
Eun mengenang bagaimana dulu dia sering bersandar dan mengadukan keluh kesahnya di rumah. Bagaimana adiknya yang cuek dan selalu bermain game di kamar. Bagaimana appa yang sibuk mengelolah rumah dan pekerjaan. Setelah dipikir lagi kini, semua itu wajar sajakan. Eun bukanlah bayi, dia anak tertua, dia harusnya lebih mandiri dan indipenden. Tapi Glen..
"Eun.. tak apa, ada aku disisimu, aku akan selalu menguatkanmu. Kau tak usah pedulikan Hoon, tak usah ikut campur pekerjaan papa, biar yang melukaimu juga terluka karena kehilanganmu!"
__ADS_1
Eun menghela nafas berat. Kalimat manis yang beracun. Glen menancapkan dendam dan dengki di dada Eun. Dan baru kini wanita itu menyadarinya. Setelah semua kehormatan dan harta peninggalan Jung habis.
Kehormatan! bahkan Glen mengambil masa depan gadis muda tadi! Eun tak bisa membayangkan kehidupan kelam apa yang akan diterima gadis tadi. Dia masih sangat muda, masih di bawah umur! Glen tega sekali. Sama seperti dirinya dulu, dia juga menikmati malam pertama mereka saat sedang marah, saat itu Eun melampiaskan kekecewaannya pada se*ks, Glen mengajari bagaimana menjadi panas dan liar di ranjang. Ah! mengingatnya saja muak!
"Aku bahkan mengadakan pesta mewah di Paris untuk menikahinya, aku menyesali semua itu!" gerutu Eun kesal. Dia melirik Hoon yang sibuk menyetir.
"Kenapa kau tak mau hadir di pesta pernikahanku?" Eun meneliti wajah adiknya, baru sekarang dia bertanya perihal ini. Dulu dia tak pernah merasa keberatan jika Hoon tak bergabung dalam urusannya.
"Hubungan kita kan tak begitu baik!" pukas Hoon apa adanya. Eun mengangguk seakan mengerti.
"Tapi lebih dari pada itu--" Hoon menoleh menatap wajah Eun sejenak lalu kembali fokus pada jalan raya.
"Aku mengetahui Glen selingkuh"
Sesaat, keduanya terdiam.
Bukannya Eun sudah tahu. Bukannya Glen mengakuinya sendiri sebelum sertifikat cerai mereka beredar. Tapi saat Hoon yang mengatakannya saat ini, Eun masih merasa sakit. Rasa sakit karena di khianati itu masih ada, masih tersisa, meninggalkan traumatis yang mendalam.
"Stop, stop!" pinta Eun memaksa, dia menutup kedua telinganya. "Kau tak usah mengotori bibirmu karena pria brengsek itu!" ketus Eun meraut wajah marah. Hoon mengerti, baiklah dia akan diam saja.
Andai kau tahu siapa wanita itu, aku yakin kau pasti lebih terluka. Hoon berusaha menyimpan rapat kalimat dalam batinnya.
"Nuna, apa yang kau katakan saat bertemu Glen?" Eun menggeleng. Jangankan mengatakan sesuatu melihat sosoknya saja membuat Eun takut. Rasa cemas berlebihan seakan hinggap begitu saja, menyerang jantung dan otot sendinya. Untung saja si gadis remaja murahan itu datang. Eun bisa selamat dan kembali tenang.
"Harusnya kau katakan. Kembalilah ke asalmu!" ketus Hoon kesal. Dia serius. Sedikit banyak dia mengetahui cerita asal usul keluarga Glen dari direktur Mei. Ibunya adalah penjaja **** pinggir jalan. Dia lahir dari banyak benih cinta di dalam tubuh ibunya, bahkan suami direktur Mei sulit percaya jika Glen adalah darah dagingnya.
"Hoon.." suara pelan Eun membuyarkan pikiran Hoon. Dia melupakan cerita direktur Mei.
"Ya!" Eun nuna terlihat sedih "Ada apa nuna?" Hoon jadi cemas melihat wajah sedih Eun. Wanita itu menoleh dan membuat wajah manja pada adiknya.
"Aku merindukan Kai.."
__ADS_1
***
Minum jus buah segar cukup untuk mendinginkan pikiran yang sedang panas. Apalagi cuaca hari ini juga panas. Dengan menyodorkan uang dari balik pintu mobil, sudah bisa menikmati minuman berbagai buah asli. Hoon dan Eun sangat suka dengan jajanan lokal yang bebas dinikmati kapanpun dan dimanapun. Di Korea cukup sulit menemukan spot jajan seperti ini, bahkan tidak ada. Biasanya penjaja instan seperti ini banyak saat festival.
"Rasa mangga ini adalah yang terbaik!" Eun menyeruput dalam minuman di tangannya. Perasaanya sedikit lebih baik kini. Hoon melanjutkan perjalanan mereka.
Bertemu dengan Glen membuat mood Eun sejenak berubah, untung saja pesan singkat Risa yang mengatakan kalau dia menunggu kedatangan auntie Eun membuat mood nya kembali ceria.
"Nuna, apa kau sesuka itu pada Risa?" Eun mengangguk cepat, jarinya menekan layar ponsel, dia sedang membalas pesan Risa. Hoon tersenyum getir melihat rona bahagia di wajah Eun.
"Tunggu!" Eun membuat wajah serius. Hoon menautkan alis tak paham.
"Apa kau pernah kesini?" tanya Eun curiga.
"Apa kau pernah ke rumah Risa?" Mata Eun menyipit yang menandakan dia sangat penasaran dengan jawaban adiknya. Hoon gugup, melihat sorot tajam Eun membuat Hoon panik.
"Apa kau pernah ke rumah Risa!!" pukas Eun dengan wajah kesal.
"Ti, tidak kok.." Hoon berbohong.
"Kegugupan mu itu berarti iyakan!" Hoon menggelengkan kepala cepat, dia menyanggah tuduhan Eun.
"Kenapa kau tahu alamatmya, bahkan kau tak bertanya dan tak menggunakan map!"
"Hoon, kau sering tak jujur pada nuna mu ya!!"
"Kau ini!!!"
***
semuanya jangan lupa tinggal kan starvote, komen review bintang 5 dan beri banyak hadiah untuk penulis amatir ini supaya lebih semangay lg, rank kemaren sempat 50an skrng terjun bebas ke 70, semoga nanti ada peningkatan.. mohon dengan sangat dukungan kalian semua..
__ADS_1