
Eun meneguk minuman mineralnya di pagi buta. Dia biasa melakukan olahraga pagi dan rutin minum air putih bersama perasan lemon. Eun sangat menjaga penampilan, tentu saja. Dia masih terus terkenal di jaringan online. Apalagi kini Eun tinggal di negara terpadat keempat di dunia. Follower onlinenya seketika membludak. Tanpa pekerjaan formal, uang Eun sudah sangat cukup. Dia bahkan bisa membangun upang desain rumah Jung di Korea. Jatuh miskin dan melarat tak ada dalam kamus keluarga Jung. Mereka lahir dengan sendok emas dan serbuk berlian, sedikit retak tak akan mengganggu nilai jual mereka.
Hoon meregangkan otot lengan, dia meraih segelas minuman dingin sambil mengucek mata. Pria itu menuju dapur dan mencuci wajah di wastafel.
Eun menatap Hoon aneh.
"Apa yang dia lakukan?" gumam Eun tak percaya. Sejak kapan Hoon akan bangun pagi dan peduli mencuci wajah.
"Oh mungkin ada pertandingan game online.." duga Eun penuh percaya diri. Tapi tidak, Hoon tidak kembali ke kamar seperti biasa. Adiknya itu tidak kembali ke kamar tidur yang dilengkapi vcr, Eun mengedipkan mata tak percaya. Tidak salah nih!
Hoon menuju dapur, dia mencari beberapa bahan makanan dan mengambil pisau berikut talenan. Eun berlari menghampiri Hoon, dia langsung merebut pisau di tangan Hoon.
"Apa yang kau lakukan! kau sudah gila!" teriak Eun histeris.
"Apa.." tanya Hoon tenang, dia kembali merampas pisau di tangan nunanya. Hoon mengambil sekerat daging dan memotong tipis. Eun melongo tak percaya.
"Apa kau sehat?" tanya Eun. Dia mengukur suhu dahi Hoon dengan punggung tangannya, lalu menyamakaj dengan suhu tubuhnya.
"Kau tidak panas.." ujar Eun bingung. Hoon tak peduli.
Dia menekan tombol kompor, mendaratkan wajah dan menggireng daging dengan sedikit minyak zaitun. Hoon menaburkan sedikit lada hitam berikut garam. Dia juga menambahkan saus perasa di atas dagingnya.
"Apa numa mau?" tawar Hoon, Eun masih melongo tak percaya dengan apa yang adiknya lakukan di dapur.
"Apa hantu rumah ini sedang khilaf?" tanya Eun tak mengerti.
"Kau mau tidak!" Hoon lama lama kesal juga melihat tingkah nunanya. Dia sedang sehat dan normal kini, kenapa malah Eun mengejek dari tadi. Hoon kesal dan berdecak berkali kali.
"Kau jawab saja iya atau tidak!" pukas Hoon sekali lagi. Eun mendelikkan mata mendengar nada ketus kalimat adiknya.
"Ya,ya.." jawab Eun akhirnya. "Eh, bolehkah bagianku di panggang saja?" pinta Eun manja.
"Kalau begitu lakukan sendiri!" ujar Hoon kemudian sambil berlalu mengangkat piring berisi sarapan miliknya.
"Issh!!" decak Eun kecewa.
Tak berselang lama Eun mendaratkan sarapan bagiannya. Toast, daging asap dan kentang rebus.
"Tumben kau bangun pagi sekali?" tanya Eun masih mencari tahu. Tidak biasanya adiknya ini bangun jam segini. Dia biasanya bangun tidur di tengah hari karena ada yang harus dia hadiri di sebuah acara bisnis. Dia akan memantau timnya online. Mereka membahas pekerjaan semua melalui fitur digital.
Kadang semua itu membuat Eun iri. Wanita itu masih harus berkeliling pabrik dengan sepatu hak tinggi. Melebarkan senyum sementara tumitnya menahan nyeri. Sedangkan Hoon bekerja di balik komputer dari balik selimut. Sementara uang mereka, jika harus dibandingkan. Pendapatan pabrik pakaian Eun masih sangat jauh dengan pendapatan dunia digital milik Hoon. Dunia digital dan kreatif sangat menjanjikan saat ini.
__ADS_1
Rasanya Eun ingin berhenti menjadi fashion design berikut CEO sebuah pabrik pakaian dan fokus di dunia streaming, tapi mengingat itu adalah usaha keluarga rasanya terlalu menyimpan banyak cerita disana. Eun berat melepaskan pabrik pakaiannya. Beruntung ada direktur Mei yang totalitas mengelola perusahaan keluarga Jung.
"Nuna akan bekerja pukul berapa?" tanya Hoon sambil melahap santapannya. Eun tersenyum lebar.
"Kau membuat nuna takjub hari ini. Kau bangun di pagi hari, membuat sarapab sendiri, dan sekarang kau menanyakan pekerjaan nuna. Apa kau akan mengantar nuna bekerja?" tanya Eun menggoda, dia mencolek kecil sudut dagu Hoon. Adiknya segera menghindar.
"Makanya kau harus cari pengganti Glen!" ketus Hoon membuat wajah Eun berubah datar.
"Ish, kenapa kau menyebut namanya, makananku berubah hambar!" dengus Eun memanyunkan bibir.
"Bukankah kau pernah begitu jatuh cinta padanya?" ledek Hoon melebarkan senyum.
"Enak saja. Itu hanya kesalahan dalam hidup tau!" ketus Eun membantah.
"Kalau begitu carilah pria lain!" pinta Hoon dengan wajah serius.
Eun memangku dagu dengan kedua tangannya. Dia menatap Hoon dan meminta pendapat adik tersayangnya itu.
"Menurutmu, bagaimana dengan Kai hyung?" Hoon mendadak merubah air wajah. Dia balas menatap nunanya.
"Memangnya kalian masih berhubungan?" tanya Hoon menyelidik, Eun menghela nafas berat.
"Dia datang dan pergi sesuka hati. Memangnya dia pikir aku ini sarang burung, bisa hinggap kapan saja!", "Ah membahas pria di pagi hari membuat moodku buruk. Yang satu pecundang, yang satu pengecut!" oceh Eun kesal sendiri.
"Nuna.. apa tidak ada hal buruk yang terjadi pada Kai?" Eun menggeleng pelan. Antara iya atau tidak, keduanya tak ada yang bisa memastikan kemana Kai menghilang.
"Dia meninggalkan surat di apartement dan ditemukan pihak manajemen. Kenapa dia harus pergi menenangkan diri ke Alaska!" gerutu Eun kesal.
"Sejak kapan dia menyukai daerah dingin. Dia bilang akan menikmati iklim tropis bersama kita!" ujar Hoon tak mengerti.
"Entahlah, mungkin dia belum siap bertemu direktur Mei. Atau dia belum siap hidup denganku!" Eun semakin terlihat putus asa.
"Ya, aku mengerti. Siapa yang mau menghabiskan waktu hidup dengan nuna.." Eun menaikkan dagu, dia menyipitkan mata mencoba mencerna sindiran keras adiknya.
"Uhuk.. uhuk uhuk!" Baru saja Eun akan membalas ejekan Hoon, dia tersedak suapan sendiri. Hoon menyodorkan segelas susu sisa minumannya. Eun segera meneguk cepat.
Eun menatap gelas kosong di tangannya.
"Kenapa kau memberiku susu!" protes Eun kesal.
"Kenapa nuna menghabiskannya!" balas Hoon jahil. Itu adalah susu manis kesukaan Hoon. Eun anti minum susu kecuali low fat, dia tak mau terlalu banyak pemanis dan lemak di tubuhnya.
__ADS_1
"Kau ini!" umpat Eun menahan marah.
Hoon tertawa jahil dia menuju kamar mandi, sementara Eun kembali ke matras yoga.
"Perutku kenyang tapi aku belum menyelesaikan bagian akhir, Hoon mengganggu saja!" gerutu Eun dongkol.
Tak berapa lama wangi parfum menyeruak mengisi ruangan. Eun sampai tersedak.
"Uhuk! kau mandi parfum ya!" dengus Eun kesal. Kekesalan Eun segera berubah bingung melihat Hoon sudah berdandan rapi. Adiknya itu bahkan mengenakan kemeja sheer berwarna cream lengkap celana bahan dan pantofel keluaran brand ternama Eropa.
"Kau mau kemana?" tanya Eun heran.
"Ke butikmu, ada yang ingin aku lakukan disana" jawab Hoon enteng.
Eun menautkan alis.
"Jangan bilang kau akan menemui Risa?" Hoon mengembangkan senyuman.
"Tepat sekali!" ujarnya sambil memainkan kontak mobil di jari. Dia meninggalkan Eun yang melongo tak percaya.
Hoon yang selalu nyaman memakai kaos oblong dan celana pipa. Selalu memakai sandal dan tak pernah menyisir. Yang jarang mandi dan makan junkfood.
Ada mukjizat apa pagi ini? Eun menggeleng tak percaya.
"Tunggu dulu!" Eun mengingat sesuatu!
"Risa kemarin mengajukan cuti.." gumam Eun pelan..
****
Hay guyss..
jangan lupa dukungannya, jangan pernah lelah mendukung.
tetap kirim review bintang 5 banyak banyak
tetap kasih star vote banyak banyak barangkali bisa mejeng di rank
ayoo dong kirim hadiah untuk cerita ini biar bisa masuk ke jajaran novel me, dan jadi banyak yang baca, biar penulis kian semangat!! biar yang lain juga ikutan baca..
terimakasih atas semua bentuk dukungan kalian
__ADS_1
aku masih minta novel ini gratis blm di lock maksimal sampai pert bulan depan.. jadi terus dukung yaa.. biar take and give antara kita.. oceey..