
Kembali ke mansion
Hoon menatap Bunga dengan sorot tajam dan marah. Dia berdecak kesal.
"Jangan bohong!" tuding Hoon dongkol.
"Aku tidak bohong" ujar Bunga santai, dia dengan percaya diri menyentuh pundak Hoon, ujung telunjuknya bermain main di atas kaos Hoon, mencoba menggoda dengan sorot sensual.
Melihat rahang tegas dan garis leher pria sehat, muda dan tampan. Bunga meneguk ludah, mungkin Glen hanya akan memanfaatkannya, tapi jika dia bisa menggaet Hoon itu seperti mendapat harta karun. Bukankah Glen bilang Hoon pewaris Jung, Bunga tersenyum mengingat semua itu.
Dengan perlahan, Bunga menarik simpul kain basah yang dia kenakan, hingga jatuh menumpuk di lantai. Bunga ingin menyita perhatian Hoon, siapa yang tak tergoda dengan tubuh sintalnya.
Hoon mendelik menahan geram. Apa yang gadis ini lakukan! gusar hati Hoon emosi.
Risa datang dan tercengang. Risa sudah benar benar bugil di depan mata Hoon. Risa bisa melihat jelas lekukan indah di tubuh Bunga. Sepertinya semua sudah jelas, mana mungkin tidak ada hubungan antara Hoon dan Bunga, wajah tercengang dan tanpa kata kata dari Hoon membuat Risa kecewa.
Tap tap tap!
Risa menyentak sol sandal dengan emosi, dia kesal dan marah.
Hoon sadar ada seseorang di belakang punggungnya, Hoon segera menoleh dan mendapati punggung Risa. Dia mencoba mengejar Risa yang melangkah cepat. Hoon menarik telapak tangan Risa menghentikan langkah gadisnya. Risa terpaksa masuk ke dalam dekapan Hoon, dia mendengus kesal.
"Apa sih!" pukas Risa geram. Hoon menatap Risa tajam, memaksa Risa untuk melunakkan tatapannya.
"Kau kembali lagi?" tanya Hoon senang. Risa membuang wajah menahan marah. Hoon senang karena tingkah Risa jelas jika gadis itu cemburu.
"Kenapa kau menyimpan gadis dalam rumahmu?" gerutu Risa kesal. Hoon menahan senyum.
"Aku tidak melakukannya" bisik Hoon menarik dalam Risa semakin merapat di dadanya. Hoon mengaitkan tangannya di belakang punggung Risa.
Bunga menautkan alis melihat Hoon yang mendekap Risa. Dia menarik kembali kain yang tadi dia kenakan. Kembali menutupi tubuhnya. Wajahnya jelas menyelidik.
Risa memukul pelan dada Hoon, dia marah dengan manja. Hoon menyukai tingkah Risa, itu justru terlihat gemas dan menggoda.
Bunga melihat interaksi manis Hoon dan Risa. Dia semakin curiga.
"Apa kalian sepasang kekasih?" tanya Bunga heran. Bukankah Risa berpacaran dengan bos Glen, batin Bunga bingung. Bukankah belum lama Risa curhat masalh cinta itu mengenai bos Glen?, Bunga menggeleng tak mengerti.
"Kalian pacaran?" tanya Bunga, Hoon dan Bunga menoleh lalu tersenyum simpul.
"Kau masih bertanya saja!" ujar Hoon sinis. Bunga mengangkat telunjuk, dan menuding dengan wajah bingung.
"Risa kau dan Hoon--" Bunga tak melanjutkan pertanyaanya. Dia menatap Risa curiga. Sementara yang ditatap hanya menahan senyuman kecil
__ADS_1
"Kau tak perlu bertanya" ujar Hoon, dia menangkap belakang kepala Risa, menarik cepat dan mendaratkan ciuman panas di atas bibir Risa, dihadapan Bunga. Risa jelas tersipu malu, tapi dia menerima dengan baik ciuman Hoon, keduanya larut dalam ciuman panas. Bunga terperanga heran.
"Ck, kau ini!" lirik Bunga kesal ke arah Risa.
Hoon melepaskan perlahan bibirnya, menyisakan bibir hangat dan kencang. Keduanya mengulum bibir kompak, jelas mereka saling menikmati.
"Baiklah aku mengerti" ujar Bunga mengangkat bahu. "Harusnya kau memberitahu jika kau sudah tak bersama bos Glen" ujar Bunga mengambil pakaian dan mengenakannya. Risa menahan wajah merona.
"Kalau kau sudah tak bersama Glen, aku bisa bebas mendekatinya kan!" ujar Bunga kemudian. Hoon menautkan alis tak mengerti.
"Kenapa kau membawa Glen dalam pembicaraan kita?" tanya Hoon heran.
"Karena dia aku di sini!" balas Bunga dengan raut enteng.
"Biar aku selesaikan tugas ini dengan caraku" lanjut Bunga seperti berbisik. Dia tersenyum sinis. Risa tak mengerti begitupun Hoon.
Dengan langkah enteng Bunga meninggalkan ruangan luas yang di dominasi warna broken white, dia kembali berbalik dan melambaikan tangan ke arah Risa dan Hoon.
"Risaaa.. aku mendukung kau dengan Alex!!" teriak nya lantang. Bunga meninggalkan mansion dengan senyum gembira.
Risa dan Hoon saling memandang bingung. Keduanya mengangkat bahu tak mengerti.
"Kau tahu kan, aku dan Bunga tak ada hubungan apapun" jelas Hoon meminta Risa menghapus wajah cemberutnya.
"Tentu saja ada yang mengaturnya" balas Hoon yakin. Risa menatap wajah serius Hoon, dia tersenyum karena di wajah itu jelas terukis kejujuran.
"Baiklah, aku mengerti" ucap Risa kemudian. Hoon memeluk Risa erat.
"Terima kasih kau cemburu" Risa menarik tubuhnya dari pelukan Hoon. menghindari pelukan kekasihnya dengan wajah malu malu
"Aku tidak cemburu!" kesal Risa merengut manja
"Kau cemburu" tukas Hoon.
"Tidak, aku tidak cemburu!" balas Risa dengan mimik kesal.
Hoon menatap sekeliling kamar, "sepertinya kamar ini sudah dibersihkan" Risa mengikuti arah mata Hoon. Dibanding ruang depan, kamar ini jelas sudah rapi dan bersih, mungkin Bunga sudah membersihkannya. Hoon tersenyum simpul, sesuatu di pikirannya. Risa menatap heran "Ada apa?" tanya Risa curiga.
Hoon mendorong tubuh Risa hingga keduanya mendarat di ranjang. "Hey, hentikan--" pinta Risa manja, dia menyeka pangkal rambut dengan jarinya, dorongan Hoon membuat rambut Risa berantakan.
"Kau terlihat seksi saat menyisir rambutmu!" Aish, ternyata gerakan sederhana itu malah membuat Hoon makin tergoda. Risa menahan dada Hoon dengan kedua tangannya.
"Ayolah, kita harus membersihkan rumah ini kan!" ujar Risa mencoba mengalihkan pikiran Hoon. Tapi sayang, itu semua tak berhasil.
__ADS_1
Hoon mendekatkan wajah mereka, Risa yang berada di bawah hanya bisa pasrah saat kedua mata mereka bertemu dengan jarak yang amat dekat.
"Apa kau yakin ingin jadi kekasihku?" tanya Hoon meminta jawaban Risa. Gadis itu meraut wajah bingung, dengan wajah merona Risa mengangguk pelan. Hoon tersenyum, jarak yang begitu dekat membuat Risa sudah tak bisa menangkap senyuman Hoon, matanya hanya bisa menatap bola bening yang dalam dengan bulu mata panjang yang cantik, Risa menyukai sorot tulus di mata Hoon.
"Sepertinya kau membuatku ketagihan.." bisik Hoon menjatuhkan kepala di samping kepala Risa, tenggelam diantara bahu gadisnya.
"Apa boleh, aku meminta lagi?" tanya Hoon dengan suara yang amat halus, dia tak berani mengangkat wajah karena sudah panas dan pasti berwarna merah.
Risa melepaskan pertahanan tangan yang menjadi pembatas dada keduanya. Risa menarik tangannya. Dengan pelan dan hati hati Risa mengangkat kedua tangan, merangkul Hoon. Gadis itu menarik nafas panjang.
"Jika itu denganmu, aku mau.." balas Risa menahan malu. Dengan cepat Hoon kembali menegakkan kepalanya. Dia menatap wajah merona Risa sesaat lalu kembali mendekatkan wajah, menyambar bibir Risa yang siaga, dia juga menginginkannya kan.
Apakah ini cara memasuki rumah baru. Memeriksa apa kamar ini sudah pas dengan mereka. Hoon menciumi kulit terbuka Risa. Dia menikmati hangat kulit gadis di depannya. Risa yang masih berusaha bertahan hanya mengeluarkan suara pelan yang tertahan. Hopn menyentuh telinga gadisnya dengan indra perasa, membuat dada bergetar, darah berdesir. Bukankah itu daerah yang sensitif?
Risa mendorong Hoon, sedikit terkejut. Apa Hoon membuat Risa marah? karena permainan lidahnya sudah semakin lihai.
"Ada apa?", tanya Hoon melihat wajah serius Risa.
Gadis itu bangkit dari posisi berbaring, dia duduk di kasur, melipat kaki, dan bertumpu pada kedua lutut di atas ranjang.
"Kemarilah" ujar Risa menggoda, dengan perlahan Hoon naik lagi ke ranjang. Masuk diantara dua kaki Risa. Gadis itu naik ke pangkuan kekasihnya, mengganti posisi, "Aku juga ingin menyenangkan mu" bisik Risa manja, membuat Hoon tertawa geli, dan bahagia. "Please.." balas Hoon dengan wajah memohon.
Risa mengeratkan pelukan di leher Hoon, memandangi sejenak wajah ceria di hadapannya. "Kau selalu saja menggoda dan membuatku tertawa" batin Risa mengingat hari konyol mereka, dia juga mengingat bagaimana Hoon membuat lelucon. "Semua itu membuatku merasa nyaman dan bahagia" bersamaan dengan suara batin yang begitu memuji Hoon, Risa mendaratkan kecupan dengan penuh penghayatan di kulit leher Hoon, merasakan tarikan dalam nafas pria dihadapannya, menghembuskan nafas hangat yang semakin membangkitkan gelora. Risa mengangkat satu tangannya, menyentuh paha Hoon, memijat kecil dan mengelus lembut. Dari paha perlahan semakin naik, Hoon hanya bisa menggigit bibir mendapat serangan bertubi tubi di kulit leher dan di bawah sana. Telapak Risa kian berani menyusup ke dalam, menyentuh, mengelus dan memijit perlahan, merasakan tiap gejolak dari kekasihnya yang kian naik tensi.
Kedua tangan Hoon sudah tak sanggup lagi menahan tubuh mereka, urat di lengannya menonjol keluar. Mungkin menahan tubuh atau gejolak di dalam jiwa.
Risa masih terus melakukan serangan, membiarkan kekasihnya hingga menyerah, Hoon jelas semakin mengerang, suaranya sudah tak bisa di tahan lagi.
Risa menarik lengan dari leher Hoon, menyeka rambut panjangnya, mengalihkan di sisi leher, mengekspose kulit lehernya yang mulus. Hoon menelan ludah, dia tak mau kalah. Hoon mengangkat satu lengan nya, meminta Risa menghentikan kecupan di leher Hoon. Sekarang bukankah giliran dia.
Hoon mencium kencang kulit leher Risa yang sejak tadi menggoda. Membuat noda merah, berganti menghisap dalam bibir kekasihnya, dia tak mau menyia nyiakan kesempatan.
Tak mau kalah dengan permainan Risa, Hoon mengikuti pergerakan jari Risa. Mencari cela dan menyusup, menyentuh perlahan dan mengelus lembut. Risa menggigit bibir.
"Mmm..Hoon.." gumamnya tak jelas lagi. Dia sudah terhanyut dengan sentuhan yang nikmat di bawah sana, saling menikmati.
Pertahanan Risa kian lemah, tubuhnya jatuh dan berbaring di ranjang, Hoon bangkit ke atas tubuh Risa. Keduanya tersenyum saling mengerti. Perlahan mereka menanggalkan pakaian, bersiap menuju peperangan yang sesungguhnya.
Hoon menangkupkan telapak tangan mereka, saling menaut kuat, hingga yakin jika ini saatnya, saat yang tepat memasuki liang hangat di bawah sana.
"Euugh!" Risa tersentak, jika tadi sekali dua kali, kali ini semua nya berkali kali lebih nikmat, dengan ritme Hoon memulai gerakannya.
"Apa kau suka?" bisik Hoon menanti jawaban Risa. Gadis itu sedang menikmati milik Hoon, bagaimana dia bisa menjawab, Risa menautkan alis, dia mengangguk pelan. Hoon tersenyum bangga, dia semakin bekerja keras dengan semangat.
__ADS_1