Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Pasangan baru


__ADS_3

Eun mengemudikan mobil, Kai duduk disampingnya, sementara Hoon di kursi belakang tak henti henti menatap layar ponsel nunanya. Dia dari tadi terus menatap foto bayi Ri. Hoon semakin tak sabar ingin bertemu dengan bayinya. Hoon sangat berharap keinginannya bisa segera terealisasi.


"Lihat, dia bahkan memiliki helaian rambut sepertiku!" teriak Hoon gembira. Bagaimana caranya dia menyamakan seseorang dengan melihat helaian rambut, bukankah kasat mata semua rambut sama? kau terlalu memaksa Hoon!


"Bukan hanya wajah yang tampan dan menggemaskan, bahkan jari jemari dan helaian rambutnya pun persis denganku..", "Nuna apa dia memiliki suara seperti ku?, apa dia bisa seperti ini?" Tanya Hoon membuat wajah lucu, dia menarik bibir memamerkan deretan giginya.


"Dia tak punya gigi lebar sepertimu!" jawab Eun asal.


"Memangnya gigiku lebar?", "gigiku lucu begini kok, pasti bayiku sangat menggemaskan seperti appanya.." gumam Hoon tak henti henti memuji bayinya, lebih tepat memuji Ri dan dirinya. Sudah dari tadi dia tak berhenti mengoceh, mengulang ulang kalimatnya.


Kai dan Eun sudah malas mendengar omongan Hoon, mereka bahkan sudah hafal rentetan kalimat di bibir Hoon.


"Ri appa sangat tampan, persis seperti appa.." Kuping Eun rasanya sudah panas mendengar ocehan dari kursi belakang.


"Berhenti memuji dirimu sendiri!" ketus Eun kesal. Hoon merengut. Nuna mengganggu saja! Eun tahu kalau Hoon sangat bahagia mengetahui Risa sudah memiliki seorang bayi, dan sepertinya tak ada masalah dengan pria itu, dia sadar atau tidak sih? Dia begitu tulus mencintai bayi dan ibunya, tentu saja! Hanya saja perjalanan masih harus diteruskan, sepertinya Hoon meninggalkan noda dalam hubungan dengan orang tua Risa. Sudah pasti! adik Eun itu sudah meninggalkan puteri mereka.


Hoon harus mencari hari baik untuk memperbaiki jalinan hubungan yang sudah retak dulu. Nampaknya pak Bambang masih menyimpan kebencian pada Hoon.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Eun melirik Hoon dari kaca mobil. Pria itu menatap balas melalui kaca juga. Dia tak mengerti kemana arah pembicaraan nunanya.


"Rencana apa?" tanya Hoon bingung. Eun menautkan alis, rencana apa katamu! Hoon sungguh terlalu. Dia polos apa bodoh sih. Sepertinya Hoon terlalu lama bermain game, jadi otaknya sudah hang seperti komputer jaman dulu.


"Memangnya kau tak berniat hidup bahagia dengan memiliki keluarga?" dengus Eun kesal. Tentu saja dia sedang membahas hubungan Hoon dengan keluarga Risa, siapa lagi! tapi sepertinya adik manjanya itu tak mengerti juga.


"Aku sudah punya keluarga. Kau tak lihat ini!" Hoon menyodorkan layar ponsel yang memuat foto bayi Ri sedang tertidur.


Eun menepuk dahinya kesal. Kai mencoba menenangkan. Dia menyodorkan sebotol air mineral pada Eun. Tensi sepertinya terasa memanas, mungkin seteguk dua teguk air bisa sedikit membuat segar. Eun mengembalikan botol air mineral pada Kai, pria itu ikut meneguk juga, menikmati bekas bibir Eun.


"Ck, apa kau tidak ada niat untuk menikah? tinggal dengan anak dan istrimu? mengurus bayi, mengantar anak sekolah!" Jelas Eun berusaha menahan nada bicaranya. Hoon tak langsung menjawab, dia terlihat seperti sedang berpikir. Eun memberikan Hoon waktu, mungkin dia serius sedang memikirkan rencana kedepannya. Kita tunggu saja dulu.


"Menurut nuna?" Eun sungguh lelah dengan Hoon, apa dia tidak paham dengan semua itu! Ya, ampun Eun benar benar marah. Meski kau kali ini tetap mencoba menenangkan tapi sudah tidak mempan.


"Kai sebaiknya kau tak ikut slcampur urusanku dengan adik brengsek ini!" gerutu Eun meluapkan emosi, Kai terdiam. Dia sudah paham betul bagaimana sifat Eun jika marah.


"Apa kau tidak melihat bagaimana appa dan omma membesarkan kita? apa kau tak ada minat hidup normal dan sehat bersama keluargamu?" ketus Eun memaksa meminta pandangan hidup adiknya.


"Nuna, aku ingin hidup bahagia tapi--" Hoon menghentikan kalimatnya.  Tapi apa, jangan banyak alasan!

__ADS_1


CKIIT!!


Eun mengerem mendadak, hingga Kai mengurut dada.


"Hati hati Eun!" pinta Kai lemas. Eun tak peduli, dia keluar dari mobil, membuka pintu bagian Hoon. Menarik tangan adiknya, memaksa keluar.


"Nuna, apa yang kau lakukan?" tanya Hoon heran. Eun nuna tak menjawab. Dia membanting pintu, kembali ke kursi kemudi.


Bruuumm..


Eun dan Kai meninggalkan Hoon. Pria itu berteriak dan berlari mengejar mobil tapi Eun menambah kecepatan, dia meninggalkan Hoon di tepi jalan.


"NUUNNAAA!!!" teriak Hoon kesal.


Eun tak peduli. Kai menoleh dan mendapati Hoon sudah tertinggal jauh. Dia hanya bisa melirik Eun dengan wajah bingung.


"Kenapa kau menelantarkan adikmu?" tanya Kai ragu. Eun menaikkan satu alisnya.


"Supaya dia bisa berpikir!" dengus Eun kesal. Kai tak berani bertanya lagi, terlalu beresiko. Dia tak akan bisa menghandle wajah garang Eun.


"Apa kau ingin membeli pakaian?" tanya Eun pada Kai, pria itu mengangguk.


"Itu yang akan aku beritahu, Hoon juga seharusnya tahu ini" Kai sedikit berfikir sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Apa?" Eun sudah tidak sabar.


"Glen mungkin jahat, tapi ada yang lebih berbahaya lagi!" ujar Kai mengejutkan Eun. Hampir saja dia kehilangan konsen mengemudi. Siapa!


"Apa maksud kata katamu?" Eun masih ingin tahu lebih banyak lagi.


"Eun, semua ini karena aku. Harusnya keluarga Jung tak boleh terlibat di dalamnya. Tapi.."


"Tapi apa!" sambar Eun tak sabar


"Ingat hari dimana kita janjian ke bandara?" Eun mengangguk.


"Aku diculik hari itu"

__ADS_1


"Apa! bagaimana mungkin!


"Dua orang masuk apartemen dan menculikku. Mereka menawan dan memukuli ku di sebuah gudang tua. Entah berapa lama aku terkurung disana" Eun menoleh sejenak. Pantas saja wajah Kai masih menyisakan memar.


"Apa masih sakit?" tanya Eun perhatian, dia mengelus lembut sisi bibir Kai. pria itu tersenyum. Kai menangkap tangan Eun untuk terus menyentuh pipinya.


"Apa kau menungguku hari itu?" Eun mengangguk cepat.


"Maaf aku membuatmu menunggu.." Eun menggeleng.


"Harusnya aku mencarimu, tapi kupikir kau menghindari bertemu nyonya Mei!" Kai menggeleng.


"Aku ingin menemuinya.." 


"Kita akan menemuinya besok, bersama dengan Hoon" Kai mengangguk setuju.


"Apa kau merindukanku?" 


"Tentu saja!" ketus Eun to the point. "Memangnya sedang apa kita sekarang ini" Eun memutar stir, dia mengunjungi sebuah butik dan salon.


"Kau harus berdandan tampan dan wangi, aku tak mau teman tidur yang berantakan seperti ini!" ujar Eun tersenyum menggoda. Kai sangat mengerti arti senyuman itu.


Kai turun dari mobil, dia membukakan pintu Eun. Mempersilahkan seperti tuan putri. Eun tersenyum geli melihat tingkah Kai.


Kai mengulurkan tangan menyambut Eun. Wanita itu menatap sesaat lalu, Tap!! Eun menangkupkan telapak tangan mereka.


"Ayo bergandengan, aku bukan Eun yang dulu.." bisiknya, sambil menjalin erat genggaman tangan mereka. Ya, setahun cukup untuk elEun memperbaiki diri. Seiring bertambah usia dan pengalaman, Eun sudah tak ingin lagi menyanjung kehormatan dan harga diri. Baginya kini. hanyalah kehangatan dan kebahagiaan. Eun mencari kehidupan yang sejati.


"Aku sangat merindukanmu.." bisik Kai sembari mencium punggung tangan Eun yang digenggamnya erat


***


Jangan lupa apa???


Lalu bagaimaja dengan hoon yang ditinggal begitu saja??


jangam lupa staaarr voooteee.. komen revie bintang 4.

__ADS_1


jangan lupa kirim hadiah juga yaa


__ADS_2