Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Kejujuran


__ADS_3

Seminggu kemudian..


"Maaf Hyung, kau harus tinggal disini untuk sementara. Pasti kau dan direktur Mei kecewa" Hoon meraut wajah cemas. Dia sudah beberapa kali menenangkan Eun tapi nunanya itu tetap saja sulit dikendalikan. Eun nuna kenapa kau seperti ini lagi! Kenapa traumatis itu tak kunjung hilang dari hidupmu.


"Tidak apa Hoon. Aku akan berusaha sebisaku. Bagaimana dengan pernikahanmu? Apa semua berjalan lancar?" Hoon menggeleng. Kai mengangguk mengerti. Tidak mungkin menggelar acara pernikahan dengan keadaan psikis Eun yang drop. Bukankah itu tidak adil. Mau bagaimana lagi, Hoon dan Risa memutuskan menunda pernikahan.


"Baiklah Hyung, aku harus berangkat ke kantor. Aku titip nuna padamu" Kai menepuk pelan pundak Hoon, seakan meminta keparcayaan adik Eun padanya. Dia akan sebisa mungkin menjaga Eun.


"Pekerjaanmu pasti menumpuk, bekerjalah dengan semangat!" Ujar Kai mengacungkan kepalan tangan, memberi semangat pada Hoon.


Kai langsung menaiki anak tangga. Dia mengetuk perlahan kamar Eun.


Tok tok tok!


"Eun.. ini aku Kai, apa aku boleh masuk?" Tak ada jawaban. Kai masih sabar menunggu. Dia mencoba mengetuk sekali lagi. Kejadian ini mengingatkan kau pada masa lalu. Dimana dia dengan wajah penuh semangat menemui Eun setelah masalah keluarganya sedikit mereda. Tapi Eun tak mempedulikan kehadirannya dan menghabiskan hari bersama Glen di dalam kamar. Ya, itu juga sangat menyakitkan untuk Kai.


Tapi sekarang sudah tak ada Glen. Kai menarik nafas dalam. Siapa yang tau akan hari esok. Nyatanya dia masih bisa disini saat ini. Dan Glen sudah benar benar tak akan kembali. Sedikit menyesakkan menyadari semua itu.


Cklek! 


Eun membuka pintu. Kai sedikit mendorong dan melongok ke dalam ruangan. Eun kembali duduk di tepi ranjang dengan gaun tidurnya yang berwarna pink. Rambut panjangnya mengurai menutupi wajahnya. 


"Apa aku boleh masuk?" Eun mengangguk pelan. Kai melangkah ragu dan mendaratkan bokong di tepi ranjang.


"Hei. Kau kenapa?" Tanya Kai mencoba merapikan rambut Eun. Tapi dia berontak.


"Jangan melihat wajahku. Aku sangat kelak!" Ketus Eun menyembunyikan wajahnya di balik rambut. Kai tak peduli, dia terus saja merapikan helaian rambut Eun. Wanita itu menggeser posisinya agar tangan Kai tak bisa menjangkau rambutnya lagi.


"Kai, hentikan. Aku sangat jelek saat ini!" Ketus Eun sekali lagi. Kai mana peduli. Dia menyeka cepat rambut Eun hingga wajahnya terlihat jelas. Kai mendekatkan wajah mereka.


Eun cemberut.


"Sudah kubilang aku sedang jelek!" Gerutu Eun kesal.


"Sejak kapan kau bisa jelek seperti ini!" Balas Kai membuat wajah Eun semakin menebal.

__ADS_1


"Ya ampun. Kenapa mata itu tenggelam diantara dua bantal. Dan hidungmu merah seperti badut. Ya ampun! Kau jelek sekali!" Eun memukul Kai. Hingga pria itu meringis dan minta ampun.


"Seharusnya kau menghiburku, dan mengatakan. Kau tak pernah jelek. Kau! Kau menyebalkan!!" Gerutu Eun manja.


"Aku hanya jujur" balas Kai memamerkan senyum lebar.


"Aku benci kejujuranmu!!" Hardik Eun kesal, dia melipat tangan di dada, dan membuang wajah.


Kai merangkul pinggang Eun, sedikit menarik tubuh wanita itu. Dia menolak, menggeser tubuhnya sedikit menjauh. Tapi kai menarik lagi, hingga tubuh Eun berada dalam pangkuannya.


Kai menyenderkan wajahnya di pundak Eun.


"Dengarkan aku kali ini saja" pinta Kai berbisik.


"Memang kejujuran itu tidak selalu indah. Kejujuran itu kadang menyakitkan. Tapi dengan jujur itu artinya seseorang itu begitu percaya pada dirimu. Dia begitu menghargaimu, begitu mencintaimu. Hingga dia tak mampu berkata bohong, apalagi berbohong untuk menyakitimu.." Kai dan Eun terdiam sesaat. Seakan mencerna kalimat panjang Kai atau menikmati kebersamaan mereka.


"Pasti sulit bagi Risa untuk menceritakan itu semua padamu. Seperti sulit saat kau menerima kenyataan itu. Tapi kembali lagi. Risa sudah berusaha jujur dan menghargaimu. Dia tak mau kau terus terluka.."Eun menoleh sejenak. Menangkap wajah pria yang menyender di bahunya. Dia kembali menatap kosong ke depan. Entah apa yang dia pikirkan.


"Aku tidak marah padanya.." ujar Eun dengan suara cukup pelan.


"Aku tidak marah pada Risa. Aku hanya kecewa pada diri sendiri--"


"Kenapa kau kecewa pada dirimu! Aku bahkan sangat bangga padamu" kalimat Eun dipotong oleh Kai. Pria itu mendaratkan kecupan di punggung Eun yang terbalut bahan tipis.


"Apa kau yakin kau tak akan kecewa padaku.." Kai menggeleng.


"Apa yang mengecewakan dari dirimu. Aku begitu mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku!" Ujar Kai kali ini mengecup pelan daun telinga Eun. Wanita itu tersenyum geli. Apa yang sedang kau lakukan di belakang sana! Aku bahkan belum mandi!


"Haruskah kita menikah?" Tanya Kai membuat Eun membalikkan posisi badan. Dia menghadap Kai. Meluruskan kaki di belakang punggung pria tampan itu. Kedua tangannya menepuk pelan pipi Kai. Sepertinya dia sudah sangat sehat. Pria ini bahkan sudah kuat menopang tubuh Eun diatas pangkuannya.


"Tentu saja, setelah adikku menikah.." bisik Eun memeluk erat Kai. Perasaan apa ini. Begitu tenang dan melegakan. Kai sungguh berbeda dengan Glen, dia bisa membuat Eun tersenyum dan merasa hangat.


"Bagaimana dengan pernikahan Hoon, apa semua berjalan lancar?" Kau menggeleng, dia memasang wajah sendu. 


"Mereka menundanya.."

__ADS_1


"AAPAA!!" Eun tak percaya. Aish, ini semua pasti karena dia.


***


Hoon melirik arlojinya. Sudah pukul segini kenapa kursi sekretaris nya masih saja kosong. Kemana saja dia masih belum datang? Sudah kubilang akan dijemput, tapi Risa malah memaksa untuk berangkat sendiri.


"CEO Jung, ada seseorang yang ingin menemui anda" Hoon membuat senyum. Dia merapikan dasi dan.mengatur kemeja. Hoon menatap kaca dan memastikan bayangan diri jika semua sudah terlihat sempurna. Ini hari pertama mereka sekantor. Hoon sudah tak sabar menanti sekretaris cantiknya.


"Suruh dia masuk!" Hoon emngatur duduk dan ekspresi wajah. Karena dia adalah atasan, maka wajah yang cool dan sedikit berkuasa akan sangat cocok menyambut kedatangan Risa. Hoon semakin tak sabar.


Cklek!


Hoon berpura pura sibuk dengan dokumen di meja, saat seorang wanita menggunakan dress hitam masuk ke dalam ruangannya. Hoon menyimpan senyumannya. Dia melirik pantofel yang dikenakan wanita di depan mejanya saat ini. Perlahan Hoon mengangkat wajah. Memastikan ekspresi apa saat Risa pertama kali melihat dia di kursi CEO ini.


"Selamat pagi CEO Jung!" Suara yang berbeda, membuat Hoon tertegun. 


Pria itu segera bangkit dari kursi kerjanya. Kenapa bukan wanita yang dia harapkan! Susan membuat senyuman lebar.


"Apa kabar CEO Jung?" Hoon keluar dari kursi kerjanya, dia menyambut uluran tangan Susan. Hoon memaksakan senyuman.


"Kabar baik nyonya. Bagaimana dengan anda?" Hoon melepaskan jabat tangan mereka. Susan tersenyum tipis.


"Silahkan duduk. Ada perlu apa anda repot repot kesini?" Hoon melepas jas nya. Dia sudah berdandan rapi dan sempurna untuk mengejutkan Risa tapi nyonya Susan malah mengejutkannya. Kacau!


"Saya kesini ingin menitipkan putri saya, dia akan mulai magang disini sejak hari ini" Hoon mengangguk seakan mengerti. Ehmm, apa dia melewatkan sesuatu? Dia tak mengurusi pegawai magang.


"Kudengar anda membutuhkan seorang sekretaris.." tanya Susan dengan senyum yang mengandung banyak arti. Hoon menarik bibir ragu.


"Bianca, sini sayang.." pintu ruangan terbuka. Seorang gadis muda malu malu masuk ke dalam ruangan. Hoon tak terlalu peduli sebetulnya. Hanya saja. Siapa yang melambaikan tangan di belakang sana! Risa menggunakan kemeja putih dengan rok span hitam dengan aksen renda. Membuat bibir Hoon melebar, dia menahan tawa bahagia. Hoon membalas lambaian Risa di depan sana. Akhirnya wanita yang ditunggu datang juga.


Susan tersenyum.


***


terus kirim dukungan kalian yaaa...

__ADS_1


__ADS_2