Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Salam perpisahan


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Glen dari balik punggung Eun. Wanita itu sedang melepas perhiasannya di depan meja rias. Wajahnya sudah kembali segar, Eun melepas tiara kecil di atas kepalanya, sedikit menyisir rambut dengan jari, begitu memukau walau hanya seperti itu saja. Eun memang pantas menyandang gelar goddess Korea.


"Aku sudah membaik" jawab Eun kemudian. Glen meraih segelas air dan mengulurkan pada Eun, dia memberikan sebutir obat. Eun tersenyum melihat perhatian Glen, itu bukanlah perhatian tapi kewajiban. Glen selalu melakukan pelayanan terbaik untuk Eun bahkan sebelum mereka resmi menikah. Eun meneguk obatnya.


"Istirahatlah" ujar Glen kemudian hendak beranjak dari kamar. Eun menghentikan langkah suaminya, dia menjangkau telapak tangan Glen.


"Aku sudah lebih sehat sekarang" ujar Eun menaikkan pandangan hingga membalas sorot mata suaminya "apa kau tak ingin memeriksa?" tanya Eun memancing, tatapan mata yang menggoda, semua tampak jelas akan maksud dari kalimat yang Eun lontarkan pada suaminya. Ya, mereka sudah beberapa hari tak menggoyang ranjang. Glen tersenyum lalu bersimpuh, pria ini selalu tahu apa yang harus dia lakukan, Eun tersenyum melihat tingkah Glen yang seperti pangeran menghadap ratu, dia mendongak menatap wajah istrinya.


"Apa kau yakin?" tanya Glen mencoba menggoda istrinya. Eun tersenyum sinis. Dia tak pernah tidak yakin perihal kemesraan mereka. Melihat senyuman Eun, Glen paling mengerti. Dia juga menginginkannya, mereka pengantin baru yang panas. Mereka sudah panas bahkan sebelum menjadi pengantin.


"Baiklah," ujar Glen bangkit dari posisinya, dia kembali ke belakang punggung Eun, meraih kancing gaun dan membuka perlahan. Glen mendaratkan kecupan basah di kulit punggung Eun, sementara istrinya masih sibuk melanjutkan melepas perhiasan di pergelangan tangan dan telinga.


Glen membantu melepaskan kait kalung Eun, sementara jarinya melepas kancing kalung, kepala Glen tak mau diam, dia mendekati telinga Eun, itu adalah salah satu bagian sensitif dari wanita.


"Apa kau sudah makan?" bisiknya menggoda, bisikan yang membangkitkan hasrat "kita membutuhkan energi ekstra malam ini" bisik Glen nakal.


Eun menikmati bisikan suaminya, hawa hangat yang berhembus menyentuh daun telinga membuat darah berdesir hangat. Hanya seperti itu saja sudah membuat gairah Eun bangkit memuncak, dia seperti serigala yang kehausan yang menatap danau jernih di depan mata. Haruskah dia menunggu lagi. Tentu saja, ini baru permulaan. Eun membutuhkan sesuatu yang segar untuk dahaganya.


Glen mengelus kulit mulus Eun, jika tadi dibelakang kini dia pindah ke depan, membantu Eun melepaskan semua pakaiannya. Menikmati pemandangan indah yang sering terpajang di majalah fashion. Eun sering tampil berani dalam pemotretan pakaian mereka. Keduanya berbagi senyum, garisan bibir yang saling memahami. Glen menatap lekat aset bervolume Eun, mungkin ada tambahan disana, tapi itu memperindah. Membuat gejolak pria kian lepas kendali, Glen memang seberuntung ini!

__ADS_1


"Harus berapa lama lagi kau menatapku?" goda Eun, Glen tersenyum.


Eun bangkit dari posisi duduknya, dia mendesak Glen hingga pinggangnya terpentok ukiran kayu meja rias. Glen mungkin sedikit meringis menahan nyeri, tapi nyatanya dia bersikap cool, itu bukanlah apa apa. Jika sedang merasakan hasrat sakit pun tak terasa.


Eun meraih sebuah pita satin yang cukup panjang di atas meja rias, dia menyimpul kedua pergelangan suaminya hingga jadi satu. Glen hanya tertawa kecil, dia tahu betul bagaimana istrinya jika sudah on. Glen pasrah. Dengan cepat Eun melepaskan pakaian Glen, dia membiarkan kemeja terkurung di tubuh suaminya karena ujung lengan Glen terikat, tapi tidak dengan celananya. Semua sudah lepas sempurna.


Eun bermain main di atas tubuh polos suaminya. Menikmati setiap jengkal kulit yang terbuka. Merasakan aroma dan rasa dengan penuh gairah.


"Bukan kah ini baru permulaan" bisik Eun balas menggoda di telinga suaminya, Glen mengangguk. Tapi Eun sudah membangunkan semua energi jantannya, sesuatu di bawah sini sudah tak sanggup lagi, dia sudah lepas kendali, Glen menarik lengan nya hingga simpul di tangan terbuka paksa. Dia mendorong Eun hingga terjatuh di ranjang. Keduanya tertawa kecil. Menikmati malam panjang mereka, hingga semua tenaga ekstra yang tersimpan pun habis. Keringat ikut andil sebagai bukti betapa panasnya suhu ruangan kamar ini.


***


"Kau butuh ini" sekali lagi Glen mengulurkan gelas berisi air, Eun menegak dengan dahaga, pergulatan panjang membuat keduanya haus dan sedikit lapar. Glen sudah meminta pelayan membuatkan makan malam ringan, tapi sepertinya masih ada waktu untuk sekedar bercengkrama ringan.


"Semua baik, Kim membantuku dengan baik" balas Glen, Eun mengangguk mengerti. "Apa kau tidak mengapa jika ku tinggal sejenak?" Eun menatap wajah suaminya sebentar lalu mengangguk. Glen tersenyum, jarinya masih bermain di permukaan kulit Eun, dia mengelus lembut pangkal lengan istrinya, begitu lembab dan kenyal.


"Aku akan menjemput Hoon" ujar Glen kemudian, Eun mengerutkan dahi. "Haruskah?" tanya Eun tak peduli. Glen juga tak menginginkan Hoon di rumah ini, tepatnya di negara ini, tapi bagaimana dia harus menyusun rencana agar semuanya terlihat alami.


"Bocah brengsek itu membuatku semakin tak berharga" gusar Eun dengan wajah sinisnya. "Aku heran, kenapa hidup ku penuh dengan orang orang tak penting yang menyiksa" Glen hanya bisa menyimak, dia tahu betul apa maksud kalimat Eun.

__ADS_1


"Pertama si tua itu, Hoon dan sekarang dia ikut muncul di depanku!" gusar Eun, dia bangkit dari posisi bersandar, menegakkan punggungnya, Eun melipat tangan di dada.


"Maksud mu Kai?" tanya Glen hati hati. Eun meraut wajah kian kesal


"Kenapa kau menyebut namanya!" Eun cemberut marah. Glen meraih pangkal lengan istrinya, meminta Eun kembali bersandar di dada, Glen mengelus lagi, dengan penuh cinta dan kelembutan, dia mengecap kecil di permukaan kulit Eun, meredakan emosi istrinya.


"Ternyata si tua itu melindunginya selama ini!" Eun masih dongkol "Bisa bisanya mereka menjalin relasi di belakangku!" gusar Eun kecewa pada papa nya. Meski Glen berusaha mencuri perhatian Eun, tetap saja wanita itu terlihat dongkol. Dia begitu kesal pada Kai dan pada almarhum papanya.


"Kau jangan khawatir.." gumam Glen, telapaknya meraih dagu mungil Eun. Mereka saling menatap beberapa saat.


"Dia tak akan pernah lagi menemuimu" lanjut Glen, Eun menautkan alis tak mengerti dengan ucapan Glen tapi Glen tak peduli. Glen menyambar bibir Eun ******* penuh hasrat, dia mengecap dalam, membuat jakunnya naik dan turun. Glen memejamkan mata menikmati rongga mulut Eun, meneliti setiap detail isi dengan indra pengecap miliknya. Berbagi saliva. Eun masih melongo, antara belum siap menerima serangan lanjutan Glen -sebelumnya dia tak pernah tidak siap- atau..


Eun menautkan alis, memejamkan mata, membalas pergerakan Glen yang semakin beringas menghabisi bibirnya, Eun bukan sedang menikmati pergulatan mereka yang sebentar lagi kian panas membara, sesuatu mengganggu pikirannya.


Bersambung..


Panas panas panas!!


jangan lupa review bintang5 ya (jgn kurangi bintangnya, klo komennya bebas mau apa aj)

__ADS_1


jangan lupa star vote


dan Hadiaaaah... semoga kita sehat selalu, murah rezeki, aku cuma bs balas doa untuk dukungan kalian semua.. kiss, sayang kalian..


__ADS_2