Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Kecewa


__ADS_3

Hoon meninggalkan Risa di belakang punggungnya, meski gadis itu terus memanggil lirih, Hoon tak peduli. Dia menatap layar ponsel.


'Seseorang mendahului kita, rekaman cctv nya tidak ada, tapi aku menemukan seseorang saat dia keluar tadi. Ini fotonya'


Mata Hoon seketika membesar seakan penuh sambaran kilat. Jelas itu wajah hyungnya, Glen. Ya Glen baru saja keluar dari kamar kecil dimana dia melihat Risa terbaring dengan keadaan yang buruk. Hoon membalikkan badan, menatap Risa tajam. Gadis itu baru saja ingin ke kamar membersihkan diri, tapi tatapan Hoon membuat langkahnya terhenti, Risa bergidik ngeri. Tatapan yang sangat lain.


"Kau mau kemana" ujar Hoon dengan tatapan sinis.


"Aku akan mandi" jawab Risa datar, dia masih heran dengan wajah tegang kekasihnya. Perasaannya jelas tak enak, tapi dia sendiri juga tak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Jadi kau akan membersihkan diri di sinu?" sinis Hoon "Kau menikmati batang orang lain, dan membuang sisa gesekannya di sini! kau kira rumah ku ini apa!" teriak Hoon dengan nada sinis. "Kau kira ini rumah bordil!" Risa tercengang mendengar kalimat Hoon. Keduanya menautkan alis, saling tak mau mengerti.


"Apa yang kau katakan?" tanya Risa ikut kesal.


"Lihat dirimu! kau menjalin hubungan dengan siapapun, dan kau meniduri siapapun!" kesal Hoon memainkan tangannya, bergerak seolah membuang barang yang dia genggam. "Kau lebih buruk dari *******!" tuding Hoon dengan wajah tegang.


"Apa katamu?" tanya Risa sinis, dia melangkah mendekati Hoon. Keduanya beradu tatapan tajam, tak mau menurunkan ego.


"Apa kau sadar dengan harga dirimu yang murahan! Siapapun bisa tidur denganmu! lihat, kau bahkan tidur bersama pria lain dan kembali ke dalam rumahku dengan santai! kau sangat murahan dan tak punya harga diri.." suara Hoon terdengar tertahan, dia mengucapkan kalimatnya dengan penuh ke dongkolan.


"Tidakkah kau bertanya dulu, tidakkah kau percaya padaku?" Risa mencari pembenaran dalam kalimat tudingan Hoon yang sangat kasar dan buruk. "Bukankah kau menyukaiku? bukankah kau tulus padaku?" Hoon mendengus kesal mendengar rentetan pertanyaan Risa.


"Katakan itu semua pada dirimu di hadapan cermin!" ujar Hoon gusar.


"Kau bahkan tak meminta penjelasan padaku, apa kau yakin kau menyukaiku? apa kau yakin kau percaya padaku?" Hoon tak menjawab pertanyaan Risa, dia memalingkan badan, kesal! marah! jelas jelas Risa tidur dengan Glen malam tadi, tapi wajah tanpa dosa Risa sungguh membuat kesabaran Hoon terkuras habis.


"Baiklah, aku tahu apa kemauanmu.." Risa hendak melangkah meninggalkan Hoon.


"KENAPA KAU TIDUR DENGAN GLEN!!" Teriak Hoon membuat langkah Risa terhenti. Gadis itu terbelalak kosong. Apa yang Hoon teriakkan! apa hubungannya dengan Glen! Bukankah noda merah di tubuhnya karena Hoon? Bukankah mereka melewatkan malam yang panjang tadi malam? tunggu dulu, Risa mencoba mengingat.


Hoon kembali mendekati Risa, telunjuknya mengacung dengan genggaman kuat. Giginya ber gemelutuk menahan gejolak emosi di dalam dada.


"Kau murahan! kau tidur dengan pria lain, kau tidur dengan Glen!" Risa membesarkan mulut, dia baru saja menghela napas berat, setidaknya dia harus menjelaskan semuanya kan.

__ADS_1


"Risaa.." Hoon dan Risa kompak menoleh. Keduanya tertegun melihat kehadiran orang tua Risa, pak Bambang dan bu Emi sejak tadi mendengarkan perdebatan mereka.


"Mama.." gumam Risa tak percaya, dia melangkah mendekati mama dan papanya.


PLAK!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Risa dari telapak kasar papanya. Ya, pak Bambang menampar putrinya di hadapan Hoon. Membuat semua orang terkejut.


"Kalian tinggal bersama?" tanya pak Bambang mengintimidasi. Dia mengangguk kecil seakan tak bisa menerima kebenaran yang sudah di depan mata.


"Iya tentu saja kalian tinggal bersama. Itu gaya anak jaman sekarang.." gumam pak Bambang kecewa. Mama mencoba merangkul Risa, meski kecewa dia tetap ingin melindungi putrinya.


Pak Bambang mendekati Hoon yang juga tegang.


"Jadi kau dan Risa tinggal bersama di istana ini?" Hoon melembutkan tatapan, dia berusaha menahan egonya, Hoon membungkukkan badan.


"Maafkan aku, aku telah mengecewakan kalian" ujar Hoon dengan suara rendah, wajahnya jelas terlihat menyesal. Pak Bambang tersenyum sinis.


"Jadi apa rencana kalian selanjutnya?" tanya pak Bambang to the point. Hoon menatap Risa sejenak lalu kembali membungkuk.


Risa tak bisa mendengar jelas kalimat Hoon. Dada nya bergetar hebat, membuat mata indahnya berkaca kaca


"Apa katamu?" Risa mendekati Hoon, dia menatap pria nya nanar, Risa menahan isak tangis yang seketika ingin tumpah. Pak Bambang menelan ludah.


"Kami mendengar semuanya." gumamnya kemudian, pria paruh baya itu meninggalkan mansion Hoon. Bu Emi menuntun Risa, gadis itu tak bisa berontak, tatapan memohon dara matanya tak di indahkan Hoon. Pria itu sudah membulatkan tekad.


Hoon menahan perasaannya hingga rahangnya bergerak tanpa di komando, betapa besar gelombang yang menghantam dadanya, dia tak boleh menangis dengan semua kenyataan ini. Hoon menjatuhkan diri di sofa, tenaganya seakan padam, dia menatap lantai dengan titik fokus kosong. Separuh energi hidupnya seakan lenyap


***


POV. Risa di perjalanan pulang ke rumah orangtua.


Suara bising jalanan ibukota tak membuatku mengalihkan tatapan kosong. Satu hal yang sulit aku pelajari sejak dulu yaitu perasaan cinta. Apa itu cinta? apa itu sayang? seperti mama dan papa yang kini memajang wajah diam? aku tahu mereka kecewa, anak gadisnya tinggal dan melakukan banyak hal yang dilarang norma dan agama, tapi mau bagaimana? jatuh cinta membuat ku melakukan semua itu, apa aku menyesal? awalnya iya. Tapi pada Hoon, aku hanya sedikit kecewa daripada menyesal.

__ADS_1


Aku kecewa dia tak percaya padaku, aku kecewa dia tak menanyakan semua spekulasinya padaku. Jangankan Hoon bahkan aku sendiri tak mengerti situasi apa yang telah aku hadapi. Aku bangun dengan dia disisiku. Lalu dia berteriak aku tidur dengan pria lain? apa dia gila! apa dia amnesia. Ah, harusnya aku juga bertanya dahulu tadi, apa kepalamu membentur sesuatu!


Aku menyandarkan kepala, rasanya berat dan pening. Rasa yang tak begitu asing. Pikiranku melayang. Kemarin, kemarin, kemarin..


Aku mencoba mengingat.


Bayangan Bunga melintas. 


Sesuatu buruk sudah terjadi! aku mengusap wajah dengan kasar, membuat wajah mama kian cemas.


"Tenanglah, tenangkan dirimu" bisik mama memintaku tenang, dia hampir tak mengeluarkan suara supaya papa tak terganggu.


Bagaimana aku tenang, sesuatu buruk terjadi padaku karena Bunga. Sialan! dia pasti merencanakan semua ini. Risa bodoh, bodoh, bodoh! pantas saja Hoon murka. Aku harus menjelaskannya.


"Ma, aku harus kembali.." gumamku, papa menoleh dan memasang wajah tegang. Aku berusaha menatap wajah marah papa, aku akan memohon asal aku bisa bertemu Hoon lagi.


"Pa, aku harus kembali" rengekku memohon. Papa mengeraskan wajah. Dia membuang pandangan, tak mendengarkan permintaanku. Itu artinya aku tak boleh kembali? aku tak boleh bertemu Hoon lagi? tapi aku harus kembali dan menemui Hoon. Hubungan kami tidak boleh berakhir seperti ini.


"Ma, tolong bilang papa, aku harus kembali.." Mama yang lembut tetap memintaku untuk diam.


"Ma.. please.." Tatapan memohon di wajahku tak di pedulikan. Kedua orang tua ki membisu. Ada apa ini.


"Paa.." pintaku mencoba sekali lagi. Papa hanya diam, begitupun mama. Tak peduli seberapa banyak aku memohon dan meminta. Papa dan mama seketika berubah. Seperti halnya Hoon.


Sudah seperti ini saja? sudah tak ada lagi lanjutannya? aku merasa semua seakan sirna begitu saja. Kupikir setelah jatuh cinta, berdebar dan bahagia, menikah dan selalu tersenyum dan tertawa. Mungkin ada beberapa konflik, seperti papa dan mama, tapi mereka bisa melewatinya dengan baik. Sedangkan aku? Cinta tak seindah bayangan, kenapa aku seperti orang bodoh. Kenapa prinsip hidupku seketika berubah karena tingkah manis Glen, kenapa dari pelukan Glen aku pindah ke Hoon dengan begitu saja, bukankah aku bodoh? 


Cinta tak seindah itu. Bahagia tak segampang itu. Semuanya seperti bayang bayang yang semakin menghilang. Jangan percaya pada mulut pria, jangan percaya dengan tingkah pria, bahkan sedikit penjelasan pun dia tak mau dengar. Aku harus kembali pada diriku yang lama. Cinta hanyalah omong kosong.


Cklak!


Papa membukakan pintu mobil. Cahaya terik mentari membuat mataku berkunang. Bias yang tajam seketika membuat kepala ku kian sakit. Aku mencoba menghalau dengan lengan. Setetes keringat mengalir hingga rahangku, begitu pening dan berat. Melangkah pun terasa berat dan payah.


"RISAAAA!!!" Tubuhku hangat menyentuh lantai yang tersiram terik mentari

__ADS_1


*** haii..


jangan lupa apaa.. star vote, review bintang lima dan komentar kalian, aku akan berusaha membalas satu persatu.. kirimkan juga hadiah supaya aku semangat, karena hadiah kalian itu untuk penulis.. hehe biar makin semangat!!


__ADS_2