
Glen tak mau berhenti bergelayut di belakang punggung Risa, dia tak mau menyia nyiakan waktu. Meski mereka berkata saling rindu nyatanya Risa sedikit jengah.
"Saya sangat merindukanmu" gumam Glen manja. Risa masih sibuk menyiapkan makanan, Glen mengganggu pergerakannya.
"Apa kau tidak lelah?" tanya Risa, Glen menggeleng seperti anak kecil, Risa tersenyum.
"Ayolah sayang, nanti Hoon pulang" pinta Risa meminta Glen melepaskan rangkulannya. Dia tetap enggan.
"Saya sangat rindu kamu.." Rengek Glen.
"Istirahatlah, aku akan memasak agar kita makan bersama" pinta Risa, dia mendorong punggung Glen. Pria itu membalikkan badan, dia sedikit membungkuk, bibirnya mengerucut.
"Beri aku kecupan selamat datang dulu!" pinta Glen, Risa tertawa kecil. Dia menurut juga.
Risa mendaratkan ciuman kecil di bibir Glen, saat itu juga Glen menarik tubuh Risa hingga merapat dalam pelukannya. Glen menarik Risa supaya mengikuti gerakannya. Gerakan bibir yang panas dan langkah perlahan mendekati pintu. Glen mengunci pintu aparteman. Risa membelalakkan mata, apa yang dia lakukan! teriak batin Risa. Tapi nyatanya dia hanya pasrah saja saat Glen mendesaknya ke belakang pintu. Kedua tangan Glen mengurung Risa, dia tak mau melepaskan kecupan panas mereka, Glen terlalu dahaga.
Handle pintu yang berputar membuat Risa segera melepaskan ciuman. Itu pasti Hoon! Dia tak peduli dengan wajah kecewa Glen, Risa segera membukakan pintu dan menyambut Hoon. Dia tak mau Hoon curiga. Entah mengapa, Risa merasa jengah bersama Glen saat ada Hoon disini. Glen tertawa sinis, aku belum selesai, bisik batin Glen kecewa. Risa berusaha mengatur raut wajahnya, dia tak mau Hoon curiga.
"Kau kenapa?" tanya Hoon memperhatikan bibir Risa yang basah. Risa menggeleng cepat. Glen tersenyum sinis, dia tak menyukai interaksi Hoon dan Risa.
"Saya akan minum sambil menikmati makan bersama kita, sekarang saya harus mandi!" ujar Glen pada diri sendiri, dia meraih kantong belanja dari tangan Hoon. Glen berjalan ke kamar mandi. Hoon melihat ada yang aneh dengan tingkah Risa dan Glen tapi dia tak mau berpikir macam macam.
"Apa kau baik baik saja?" ujar Hoon peduli, Risa menggaris senyum dan mengangguk.
"Kau berdarah!" dengan suara cemas Hoon menyentuh bibir Risa, dia meraih tisu di meja. "Kau yakin tidak apa apa?" tanya Hoon meneliti. Risa segera mengambil tisu dari tangan Hoon, dia menutup bibirnya yang sedikit luka. Glen menggigit bibirnya tanpa ampun tadi. Risa segera meninggalkan Hoon, tinglahnya jelas canggung menhadapi Hoon setelah apa yang dia lakukan bersama Glen. Hei, Glen itu kekasihmu! dia beralih ke meja dapur, Risa melanjutkan memasak dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
Harusnya dia senang karena pria yang dia rindukan kini sudah kembali, bukankah Risa sangat merindukan bos Glen!
Hoon kembali ke dapur, dia memasang apron, mulai membantu Risa sebisanya.
"Biar aku yang memasukkan ayam gorengnya" ujar Hoon.
"Kau yakin? ini akan meletup dan membuat kau takut" Risa memperingatkan, Hoon menggeleng.
"Tidak apa, bukankah appa melakukannya juga" jawab Hoon melemparkan senyuman lebar. Memang Bambang memasak ayam goreng saat mereka berkunjung, ternyata Hoon begitu memikirkan tingkah papa Risa.
wRisa menatap senyuman ceria di wajah Hoon. Katakan kau sekarang menyukai senyuman itu kan? Risa berusaha membanta kata hatinya. Wajah yang semakin bersinar dan menyenangkan, Risa bahkan tak bisa berpaling saat Hoon menggaris senyum lebar.
Risa memasak dibantu Hoon, mereka juga menata meja makan bersama. Sepertinya Hoon banyak belajar dari keluarga Risa.
"Aku sedikit mengerti, kenapa keluarga ku tak sehangat keluarga mu" ujar Hoon sambil mendaratkan piring di meja.
"Karena anggota keluarga ku hanya sibuk masing masing, kami tak pernah saling membantu atau sekedar berbagi cerita.." lanjut Hoon dengan senyuman getir.
"Kau harus melakukan semua ini lagi saat kau pulang nanti!" usul Risa. Hoon membuat wajah sedih.
"Ada apa?" tanya Risa khawatir dengan wajah murung Hoon.
"Appa ku sudah meninggal belum lama ini dan nuna sudah--"
"Wah, semua terlihat lezat!" suar Glen mengejutkan. Hoon menjeda omongannya. Risa segera menarik kursi Glen, melayani kekasihnya. Hoon melihat itu.
__ADS_1
Baru saja Risa ingin menarik kursinya, Hoon lebih dulu melakukan, Risa melempar senyum sebagai ucapan terima kasih. Mereka duduk bertiga.
"Cobalah, aku dan Hoon yang memasaknya" sambil mengisi piring Glen, Risa menjelaskan menu santap malam mereka. Hoon masih terus memperhatikan. Apa Risa selalu perhatian pada siapapun? tanya Hoon dalam hati.
Hoon mengambil piringnya, dia mengisi dan mengatur menu. Sementara Risa masih sibuk menyiapkan santapan Glen, Hoon menaruh piring yang dia isi ke hadapan Risa.
"Apa ini untuk ku?" tanya Risa takjub. Hoon mengangguk. Glen mengurungkan suapan nya, dia melirik tingkah Hoon. Seketika nafsu makannya hilang.
"Aku sudah makan tadi!" gusar Glen bangkit dari kursi. Dia meninggalkan Risa dan Hoon.
Risa mencoba menyusul Glen tapi Hoon mencegah Risa. "Glen hyung tak pernah seperti itu sebelumnya, mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi" ujar Hoon mencoba meminta pengertian Risa. Bagi Hoon wajar saja jika Glen sedikit bersikap lain, pasti pernikahannya dengan Eun terasa berat.
"Aku akan bicara pada Glen hyung nanti." ujar Hoon, Risa mengangguk mencoba mengerti. "Habiskan makan mu, kita sudah membuatnya dengan penuh cinta" Risa tersenyum mendengar kalimat hiperbola Hoon.
"Aku pikir kita membuatnya penuh kerja keras, tapi kau bilang penuh cinta" ejek Risa, "Kau berbakat jadi sastrawan!" Hoon tertawa mendengar lelucon Risa.
"Kau bahkan terkena percikan minyak panas tadi" ucap Risa khawatir, dia memeriksa lengan Hoon dengan matanya.
"Tidak apa, aku baik baik saja. Sedikit luka tak membuat ketampananku berkurang" celoteh Hoon lalu melahap isi piringnya dengan semangat. Risa mencibir tapi dia tersenyum.
Hoon kau membuat wanita begitu nyaman dan gembira, hampir saja Risa lupa statusnya sebagai kekasih Glen.
Glen kembali ke kamar, dia merebahkan diri di kasur. Tidak bisa seperti ini! gusar batin Glen.
"Aku tidak bisa berdua dan bermesraan dengan Risa karena Hoon" bisik batin Glen kesal.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Hoon mengatakan semuanya pada Risa!" Glen bangkit dari posisinya, kembali duduk. Dia mencuri lirik keluar sana. Hoon dan Risa masih melanjutkan makan bersama, keduanya malah tertawa gembira. Shit! umpat Glen menahan amarah.
"Kau tak akan bisa melupakanku begitu saja!" Sinis bibir Glen memiliki arti yang dalam, dia kembali merebahkan diri di kasur. Glen tahu betul bagaimana meluluhkan dan menguasai wanita. Eun yang dominan saja tunduk dalam genggaman nya, apalagi Risa. Gadis polos itu sangatlah mudah! Glen memejamkan mata. Berharap bertemu Risa di dalam mimpi. Di kepalanya hanya ada adegan ranjang saja. Dia akan mengumpulkan banyak energi dan mengatur rencana esok hari.