Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Tulus


__ADS_3

Masih di kawasan industri sandang keluarga Jung. Karena Risa akan direkrut oleh perusahaan digital masih masih milik keluarga Jung, khususnya Jung Hoon. Pria itu meminta Risa menjadi sekretaris pribadinya. Tentu saja Risa menerimanya, daripada kekasihnya itu mencari wanita lain. Berbahaya!


Kai dan direktur Mei baru saja menyelesaikan obrolan pribadi mereka. Tak berselang lama Hoon dan Eun ikut bergabung, ada hal yang serius yang harus mereka selesaikan. melihat wajah serius kai dan direktur Mei membuat wajah Hoon heran.


"Ada apa, kenapa kalian terlihat tegang?" Eun sudah sedikit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, berbeda dengan Hoon. Adik nya itu kemarin diturunkan dari mobil dan tak ikut mendengarkan cerita Kai.


"Hoon, kau harus mengetahui semua ini, ini berkaitan dengan perusahaan ayahmu di Korea dan tragedi terbakarnya rumah besar Jung." Ujar Kai membuka obrolan. Hoon langsung mengambil duduk, wajah bingung nya berubah serius seketika.


"Kau tahu Hoon, seorang pria bernama Kim, dia salah seorang pegawai kepercayaan ayahmu, tempatnya dia dibawah rekomendasi Glen.." Eun, Hoon dan direktur Mei, semua memasang raut wajah serius dan sedikit tegang.


"Aku tidak pernah ke Alaska, dia. Kim, pria itu merencanakan semuanya. Dia menculikku tepat di hari sebelum keberangkatan ke Indonesia" Hoon tak percaya mendengar penjelasan Kai.


"Jangankan dirimu, aku saja bingung. Kenapa aku sampai disini. Tapi syukurlah itu di sini dan aku bisa bertemu dengan kalian"


"Apa maksudmu hyung?" Hoon tak sabar mendengar kelanjutan cerita Kai. "Apa kau ke sini tidak melalui jalur resmi, jangan bilang kau---" Hoon tak bisa melanjutkan kalimatnya, dia menduga banyak hal.


"Ya, kau benar. Aku masuk melalui laut, kami juga membawa beberapa wanita bersama kami---" bukan hanya Hoon kali ini yang terkejut. Eun bahkan tak bisa menutup mulutnya yang menganga, itu sangat beresiko! Direktur Mei pun tak percaya, wajahnya jelas cemas. Apa yang terjadi dengan anaknya, kenapa pria bernama Kim, tunggu sepertinya itu bukan nama yang asing!


"Kim, kim siapa maksudmu?" Tanya Mei, wajahnya yang semula panik kini seakan berganti menyelidik. Kai mengangguk, pasti sosok itu sama seperti yang dipikirkan oleh ibunya.


"Dia mengaku anak dari Kim Jong il!" Kalimat terakhir Kai membuat Mei terperangah


"Tidak mungkin!" Gumam Mei tak percaya


"Apa Omma mengenalnya?" Mei menggeleng ragu. Dia memang tak begitu mengenal bocah itu, tapi Mei tahu jika Kim jong-il yang dia nikahi sudah memiliki seorang putra.


"Appamu menitipkan putra sulungnya di desa, semenjak menikah denganku dan hadirnya Kai, membuat appa jarang berkunjung ke sana ditambah lagi, pria itu memiliki seorang wanita!" Raut wajah Mei berubah saat dia mengatakan wanita. Apa mungkin semua yang dikatakan Kim adalah benar.


"Apa wanita yang Omma maksud adalah ibu nya Glenn?" Dengan hati-hati Kai mengajukan pertanyaan. Dengan tatapan mata nanar, Mei mengangguk.

__ADS_1


"Ya, kau benar. Ibu Glen adalah wanita simpanan appamu!!" Kalimat Mei membuat Kai, Hoon dan Eun tertegun. Sungguh cerita yang rumit.


"Jadi appa menikahi tiga wanita sekaligus?" Tanya Kai, dia tak bisa menahan rasa penasaran. Mei mengangguk lagi, jadi seperti dugaan Kai selama ini.


"Omma menikahi suami orang" suara pelan Kai seakan tak siap mendengar jawaban dari bibir Mei. Bagaimana mungkin seorang wanita menghancurkan kehidupan wanita lainnya. Kai sulit menerima. Kai tak bisa bertanya lagi. Tenggorokannya seakan kering.


Eun menatap wajah direktur Mei. Tatapan Eun seakan menyelidik. kebencian yang selama ini dia pendam akankah hari ini mendapatkan jawaban. Eun pun tak bisa menahan diri lagi.


"Apa kau dan Jung juga menjalin hubungan?" Tanya Eun akhirnya terlontar, dia berkali-kali menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan ini, Eun berusaha untuk percaya kata-kata adiknya, jika direktur Mei adalah wanita yang baik.


Berbeda dengan tadi, kali ini direktur Mei menggeleng cepat. 


"Aku dan ayahmu murni hubungan pekerjaan, dia adalah sosok yang sangat baik. Dia begitu tulus membantu banyak orang. Eun kau harus bangga mempunyai seorang ayah seperti Jung!" Ujar Mei berusaha menjelaskan dengan apa adanya. ya memang dia tidak memiliki hubungan apapun dengan CEO jung. Eun menghembuskan nafas lega. Akhirnya.. wanita itu tersenyum menyukai jawaban direktur Mei. Eun melirik ke arah Hoon. Keduanya tersenyum. Lalu bagaimana dengan Kai, urusan ini masih panjang.


***


Setelah meninggalkan pabrik. Hoon mengajak Risa ke hotel Atelier.


"ada hal yang harus kita selesaikan di sini sebelum kau menyelesaikan pekerjaan mu denganku.." apa maksudnya kalimat barusan. Risa memasang wajah siaga, tatapan Hoon membuat Risa berpikir ke mana-mana.


"Pekerjaan apa maksudnya, pekerjaanku kan di butik, kenapa dia malah naik ke lantai atas?" Gumam Risa berbicara sendiri.


Keduanya masuk ke dalam lift. Kebetulan sekali tidak terlalu banyak orang, Hoon sedikit menggeser diri dia sengaja mendekati Risa. Dengan wajah malu-malu, tangan Hoon menyambar telapak tangan Risa, wanita itu hanya tersenyum, dia tak menolak. Keduanya bergandengan tangan sambil tersipu malu. Tak berselang lama pintu lift terbuka.


Joni masuk, dia tersenyum lebar melihat Risa di dalam sana. wanita itu langsung melepaskan gandengan tangan, membuat wajah Hoon tak terima. Kenapa dia melepas gandengan tangan begitu saja! Apa karena pria ini, rasa-rasanya pemuda ini tidak asing, batin Hoon dongkol.


"Hei, apa kabarmu? Bukannya kau sedang mengajukan cuti?" Posisi Joni yang menggeser Hoon, menyelip diantara mereka berdua, membuat Hoon jelas kesal. Berani-beraninya dia! Gerutu Hoon dalam hati.


"Kau tahu, rasanya toko kehilangan banyak pelanggan, itu semua karena kau terlalu lama mengajukan cuti.." celoteh Joni membuat Hoon mencibir sinis. Selamanya dia tidak akan bekerja di situ lagi. Berapa nuna berani membayar kekasihku! Memangnya dia pajangan!

__ADS_1


"Ayolah kau harus cepat masuk, semua sudah merindukanmu!" Risa hanya menjawab dengan senyuman simpul.


"Apakah kau haus?" Tanya Joni. pemuda itu meraih sebotol minuman dingin dari kantong belanjaan nya.


"Ini ambil lah!" Joni menyodorkan minuman dingin yang sudah dia buka terlebih dahulu. Dengan sungkan Risa menerimanya.


Ting! Pintu lift akan terbuka


Hoon menyambar botol minum di tangan Risa, dia menarik pergelangan tangan Risa, dan melangkah keluar lift. Joni hanya bisa melongo saja.


PLUK!!


Hoon membuang minuman pemberian Joni ke tempat sampah. Risa merengut tak suka. Hoon tak boleh melakukan itu, ya setidaknya harus menghargai pemberian orang lain.


"Kenapa kau membuangnya, kau harus menghargai pemberian seseorang!" Ketus Risa memulai perdebatan.


"Aku tak suka!" Balas Hoon lugas. Dia tak perlu mengatakan itu, dari awal wajah Hoon terlihat jelas tak menyukai kehadiran Joni.


"Ya, tapi kau tak boleh melakukan itu! Itu terlalu berlebihan, dia kan hanya berniat baik padaku! Dia memberikannya dengan tulus, kok harus menerima pemberian orang lain dan menghargai nya.." kalimat panjang Risa terhenti, Hoon mendorong tubuh kekasihnya ke dinding, dia tak mau menjeda waktu, Hoon menyambar bibir Risa, mengecup untuk beberapa saat lalu melanjutkan perjalanan. Risa bengong, bisa-bisanya dia melakukan hal ini, di saat seperti ini, padahal Risa sedang membicarakan hal yang penting.


"Hei!!" Risa berteriak di belakang sana, dia berlari menyusul langkah Hoon. Pria itu menoleh sesaat lalu tersenyum.


"Katamu kau tak boleh menolak pemberian orang lain kan! Aku tulus melakukan itu!" Ujar Hoon diakhiri senyuman manis. Risa tak bisa membalas, dia tak mungkin menarik kembali kata-kata nya kan, simalakama!


"Apa kau juga ingin memberikan sesuatu padaku? Aku juga akan menerimanya dengan tulus!" Goda Hoon membuat Risa kehabisan kata-kata.


"Kau ini!!" Balas Risa gemas.


***

__ADS_1


terimakasih banyak atas dukungan kalian. aku cuma bisa mengucapkan kamsahamnida.. tetap kirimkan votestar.. i love you


__ADS_2