
Di perjalanan pulang ke rumah.
"Aku berterima kasih sekali kepada Eun nuna, berkat dia aku bisa mencoba banyak gaun hari ini. Kau tahu aku sangat menyukai koleksi nuna!"
Hoon masih fokus menyetir. Sayang sekali mereka tidak bisa menghabiskan waktu lama-lama hari ini, lagipula dia juga merindukan bayinya.
"Kau bisa mencobanya kapan saja jika kau suka, aku bisa memanggil beberapa desainer dunia ke dalam rumah kita nanti!" Ucapan Hoon membuat Risa takjub.
"Tidak-tidak, kau tidak perlu melakukan semua itu.."
"Kenapa, bahkan aku sudah mempersiapkan sebuah kamar khusus untuk bayi kita, dilengkapi ruang wardrobe, ruang bermain, ruang digital. Semua harus lengkap dong!" Mulut Risa tak bisa tertutup. Apa dia tidak salah dengar? Bukankah itu terlalu berlebihan.
"Aku juga akan mempersiapkan satu kendaraan, dan lima orang Nanny, ah tidak mungkin jangan lim bagaimana kalau dua belas?" Risa kehabisan kata-kata, Apa dia sedang membuat grup sepak bola? Risa tak bisa menjawab pertanyaan Hoon
"Apa kau sedang bercanda.. atau serius?" Suara Risa hampir tak terdengar saking dia tak percaya. Hoon sedang bercanda kan! Tapi gelengan kepala itu, membuat Risa hanya bisa bengong. Baiklah, lupakan sejenak tentang semua fasilitas yang akan didapatkan anaknya, bahkan semua itu belum pernah terbayang di kepala Risa. Apakah baby RI membutuhkan semua itu?
"Ah bagaimana dengan persiapan pernikahan kita, reservasi gedung, catering, seserahan, ya, paket seserahan!!"
"Kita juga harus menyiapkan kartu undangan, oh ya apa nanti dari amplop biaya pernikahan kita akan tertutup?" Kenapa harus repot-repot memikirkan itu semua? Hoon tidak perlu melakukan semua itu sendiri. Ada asisten Mong dibelakang punggungnya
"Bagaimana dengan adat, apa kita akan menggelar adat seperti tradisi keluargaku atau kau ada ide lain?"
Mendengar suara renyah Risa membuat Hoon menahan tawa lucu. Wanita yang di sebelahnya ini sungguh menggemaskan.
"Satu lagi! Mas kawin, Apa kau sudah mempersiapkan mas kawinnya? Aku tidak akan meminta banyak, mmm.. bagaimana kalau, sebuah kalung dengan inisial r dan h, ah jangan-jangan. Berikan aku sesuatu yang berbeda, bagaimana kalau cincin dengan inisial nama bayi kita, aku dengan huruf I dan kau dengan huruf R, jadi saat kita mau foto jari kita bersebelahan, akan muncul inisial nama anak kita, bukankah itu ide bagus??" Risa sungguh tak bisa menahan bahagia di hatinya, semua itu terlukis jelas di wajahnya. Dia sangat menanti hari pernikahannya. Jangankan kalung cincin, bahkan tokonya pun bisa pindah ke rumahmu nanti!
"Apa kau tidak ingin pulang ke rumah?" Tanya Hoon dengan air wajah serius. Apa-apaan dengan wajah itu, disaat risa sedang serius membahas masalah persiapan pernikahan mereka, kenapa hoon memikirkan hal lain? Risa menepuk manja pundak calon suaminya.
"Sudah kubilang kau harus sedikit sabar.." bisik Risa dengan wajah merona merah, tatapan wajah itu, apa lagi, Hoon pasti menginginkan 'itu' lagi kan! Wajah Risa memerah, Hoon sungguh nakal!
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan hingga wajahmu memerah seperti itu?" Tanya Hoon mengejek.
"Kita sudah sampai dari tadi dan kau terus mengoceh, makanya aku tanya kau sebenarnya ingin pulang atau tidak?" Risa menoleh, dan benar saja mereka sudah berada di parkiran mobil dekat rumah. Kenapa tidak bilang dari tadi sih! Hoon membuat Risa makin malu. Jangan-jangan Risa yang menginginkan hal itu!
Risa membuka pintu mobil, tetapi dicegah oleh Hoon.
"Setidaknya kau harus menciumku sekali lagi, mana bisa kau meninggalkan aku seperti ini saja!" Kesal Hoon. Seakan mengerti, Risa memberi kecupan sekilas di bibir kekasihnya, ia bergegas turun dari mobil.
Baru saja tangan Risa mendorong pintu mobil, seorang pria yang menggendong bayinya di depan sana membuat wajah wanita itu melongo. Begitupun dengan Hoon. Dia segera mendorong pintu mobilnya, melangkah cepat masuk ke rumah Risa. Siapa dia yang berani menggendong bayi ku! Aku bahkan harus bersabar sampai hari aku menikah! Batin Hoon berontak.
"Nah, itu mereka pulang!" Seru Bambang, Hoon menunduk mengucapkan salam. Risa menyusul di belakang punggung Hoon.
"Kakak!!" Teriakan Risa membuat Hoon terkejut. Apa dia bilang, kakak? Bukankah Risa anak tunggal.
"Perkenalkan ini Darwin, dia tetangga kami dulu, di ini baru saja pulang dari Amerika, iya kan?" Bambang menepuk pelan pangkal lengan Darwin, sumpah Hoon tak menyukai kedekatan calon mertuanya dengan pria di sampingnya itu.
"Maaf, kakak tidak bisa membantu banyak, pendidikan kakak tidak bisa ditinggalkan. Tapi sekarang kakak sudah di sini. Apa kau sudah baik-baik saja?" Tanya Darwin penuh perhatian kepada Risa. Wanita itu mengangguk dengan senyum tersungging. Membuat wajah Hoon tegang. Berani berani sekali!
"Semuanya baik-baik saja kak, perkenalkan ini calon suamiku, namanya Hoon" Risa menoleh ke arah Hoon. Pria itu memaksakan diri menarik garis senyum. Sorot matanya menantang.
Darwin mengulurkan tangan. Jadi ini pria yang menghancurkan hidup Risa!
Siapa Darwin ini? Dia bukan levelku.
Keduanya saling berjabat tangan erat erat, bahkan terlalu erat. Keduanya lebih terlihat saling menunjukkan kekuatan dalam jabatan tangan itu. Garis tegas urat di jari mereka menunjukkan jika mereka tidak akan pernah mempunyai hubungan yang baik. Sepertinya mereka ada dendam pribadi!
Hoon mengambil alih bayi Ri dalam pelukan Darwin. Darwin mengalah.
"Anak appa sayang.." Hoon melebarkan senyum, lihat wajah kami, lihat wajah kami! Bukankah kami sangat mirip! Batin hoon pamer pada Darwin.
__ADS_1
Pria berkacamata itu membuang pandangan. Di mana Risa bertemu pria seperti ini, sepertinya sulit untuk melawannya! Batin Darwin sedikit putus asa. Lihat saja tunggangan kuda besinya. Belum lagi pakaian yang dia kenakan, jam tangan mahal itu! Kulit bersih dan terawat, Darwin terlalu mengulur waktu, dia terlalu fokus dengan beasiswa dan pendidikan, dia pikir Risa akan tetap menjadi Risa yang dulu. Risa yang tak pernah peduli dengan cinta dengan laki-laki dan memberi Darwin cukup waktu. Sayang sekali ternyata ada pria seperti Hoon yang membuat Risa bahkan tak pernah mengingat Darwin. mungkin dia dan Riza hanya bisa sebatas kakak dan adik.
"Selamat atas wisuda mu kak, semoga kau semakin sukses.." ucap Risa tulus. Darwin mengangguk.
"Selamat juga atas pernikahan kalian, biar aku ucapkan lebih awal karena aku tidak bisa hadir, aku ada urusan pekerjaan.." Hoon kali ini melebar kan senyum dengan cukup lebar, tentu saja kau tidak datang! Memangnya kau mau menangis! Batin Hoon mengejek. Tatapan mata Apa itu, cepatlah pergi dari sini!
"Baiklah, ajak bayi RI masuk, biar papa yang mengantarkan Darwin ke depan." Hoon dan Risa mengangguk mendengar kalimat Bambang. Darwin dan Bambang keluar rumah. Hoon menarik pundak kekasihnya dengan tangan kanan, sementara bayi RI di tangan kirinya.
"Ah sebentar.." ujar Hoon sebelum mereka masuk ke dalam rumah.
"Ada apa?" Tanya Risa curiga dengan tatapan wajah aneh Hoon.
"Aku melihat ada kotoran cicak di rambut mu!" Wajah Hoon meraut jijik. Membuat Risa tak berani menyentuh rambutnya.
"Kau harus segera mencuci rambut mu!" Risa berhambur masuk ke dalam rumah, dia langsung meraih handuk dan ke kamar mandi.
"Jangan lupa pakai shampo yang banyak! Kalau tidak akan tetap menyisakan bau yang tak enak!" Teriak Hoon dari depan.
Bayi Ri melebarkan bibir, bayi tampan itu tergelak tertawa lucu. Ternyata kau mengerti juga ya! Hoon mengangkat telapak tangannya, minta hi-five dari anak lelakinya itu.
***
terima kasih yang sudah membaca
terus tinggalkan like dan komen kalian
terus kirim star
terima kasih banyak banyak banyak banyak banyak
__ADS_1