
Kedatangan bos besar ke rumah tentu saja membuat Risa gugup. Apa tidak salah Eun akan mengunjungi rumahnya? ah, kalau mendengar betapa riang suara wanita itu di telepon tadi, Risa tak akan rela menolak.
"Bolehkah aku menemuimu dan bayimu?, aku melihat fotonya dan dia sangat menggemaskan.." Risa membuang nafas berat. Bukan apa apa, tidak masalah jika ada yang ingin lebih dekat dengan dirinya atau baby Ri, cuma.. kenapa harus Jung eun!
"Ya Tuhan, permainan takdir macam apa ini!" Setahun aku harus meninggalkan nama itu, setahun kemudian dia kembali lagi dalam kehidupanku! Ah, kenapa harus nama Jung sih!
Entah apa yang akan terjadi nanti. Risa tak bisa memprediksi, tentu saja, dia kan bukan cenayang. Tapi Eun bertemu bayi Ri, itu membuat Risa sedikit cemas. Dia harus bilang apa pada Eun. Mengatakan itu ponakannya? apa aku yakin! aku takut mereka menduga aku terlalu murahan. Ah! memikirkan aku punya affair dibelakang Eun membuat perasaan bersalah ini kian jadi. Cukuplah Hoon yang tak menerimaku, aku mohon jangan tambah lagi beban masalahku, ya Tuhan!
Sekarang kehidupanku sudah sedikit membaik, sudah lebih tenang. Bisakah masalah cuti dulu di dalam kehidupanku.
Risa menghela nafas berat, langkah kakinya seakan malas. Dia bingung harus bagaimana. Tidak mungkin menolak kedatangan Eun, dia bahkan masih harus belanja untuk menyambut wanita itu! tapi bagaimana, Risa resah sendiri menyadari Eun adalah bibi anaknya. Bahkan Risa tak pernah memberitahu siapapun jika Ri buah hatinya dengan Hoon. Awalnya dia juga tak yakin, tapi kini Risa yakin 1000 persen.
"Biar saja dia bilang aku murahan. Yang pasti yang aku yakini aku hanya tidur dengannya!" gerutu Risa masih kesal bila mengingat amarah Hoon dimasa lalu.
"Aku bahkan sudah lupa pernah berhubungan dengan Glen!" ketus Risa kesal sendiri. "Bahkan menyebut namanya saja membuatku jengkel!"
"Risa!!" suara berat seorang pria mengejutkan Risa. Dia menoleh ke asal suara
Dia!
Sudah kubilang, bisakah masalah cuti dulu dalam hidupku. Ada apalagi ini!
Risa menyeka keringat di dahinya, matahari sudah cukup terik. Celana jogger panjang dan kaos oblong harusnya tak terlalu berat jika dipakai di siang hari, tapi mengapa Risa merasa gerah sekali. mendadak tubuhnya cepat panas. Risa mengipaskan leher kaosnya, sekedar memberi sedikit angin untuk bisa mendinginkan wajah dan tubuhnya. Banyak sekali pria yang membuat hidupnya panas, panas hingga terbakar!
"Apa kabarmu?" Risa memaksakan senyum saat pria itu melangkah mendekatinya.
"Baik" balas Risa padat singkat dan jelas. Padat dan singkat agar pria ini tak melanjutkan ke kalimat kalimat lainnya, dan singkat supaya percakapan mereka sudah saja sampai disini. Bisakah kau menyadari senyum terpaksa di wajah wanita itu.
"Aku beberapa kali mengirim pesan.." ujarnya pelan sambil memijat tengkuk. Senyum Risa semakin lebar. Lebar dan malas.
Tolonglah, aku sedang terburu buru! batin Risa berontak. Jangan terlalu dekat denganku! wajah Risa kian jengah.
Namanya Aldo, salah seorang pemuda di daerah sini, ya sesekali mereka pernah bertegur sapa. Sebagai orang baru bukanlah harus ramah. Tapi sayang senyuman dan sapaan Risa banyak yang mebgartikan lain, apalagi melihat statusnya janda beranak satu. Risa itu cantik, masih muda dan memiliki pekrjaan yang cukup baik. Meski orang tuanya hanya pedagang kecil kecilan di depan rumah. Memangnya kenapa dengan pedagang kecil kecilan!.
Aldo dan beberapa teman tongkrongannya bertaruh, siapa diantara mereka yang bisa meluluhkan dan mendapatkan Risa. Sekedar main main atau ingin lebih serius, ya terserah. Tak ada ruginya juga kan. Risa itu cantik loh!
Aldo mengembangkan senyum manisnya. Mencoba peruntungan kali ini. Dia melihat kantong belanjaan yang cukup berat di tangan Risa.
__ADS_1
"Biar aku bantu bawakan!" Aldo menjulurkan tangan hendak mengambil kantong belanjaan di tangan Risa. Tapi wanita itu sedikit menjauhkan bawaanya. Bukankah tampak jelas ya kalau Risa tak nyaman, tapi namanya juga usaha kan, Aldo terang terangan mengatakan kalau dia menyukai Risa bahkan sampai semua teman nongkrongnya pun tahu.
"Tidak usah. Aku bisa bawa sendiri" ujar Risa sungkan masih terus menyunggingkan senyum. Senyum mencibir, dia benar benar jengah pada tingkah pria yang mendekatinya, terutama untuk pria yang sulit diberi kode halus, apa harus dengan kode keras?
Risa membatin kesal, dia bisa saja tersenyum seperti ini. Tapi jangan kalian salah, dia tahu betul bagaimana para pemuda menganggapnya wanita murahan karena punya anak tanpa pernikahan. Ya, istilahnya bermuka dua, di depan mengapa dan tersenyum manis, tapi di belakang bergosip, bukankah itu memang hobi masyarakat kita ya! meskipun di kota modern bibir bibir seperti itu tetap saja ada dan sulit dihindari, lagipula.. ya.. mereka mungkin tak sepenuhnya salah.
"Sudah, tidak apa. Biar aku bawakan!" Aldo memaksa. Risa sebenarnya malas menghadapi suasana seperti ini. Berhentilah sok baik padanya, sebelum Aldo, ada pria yang lebih brengsek lagi padanya, jadi Risa sudah tahu bagaimana menghadapai rayuan gombal recehan seperti ini.
Risa mengangkat tangan kirinya, dia seperti menangkis tangkapan tangan Aldo. Pria itu sedikit tertegun dengan tingkah Risa. Wowo, dia bahkan menolak secata terang terangan ya sekarang!
mendapati tepisan tangan Risa membuat harga diri Aldo, sebagai seorang lelaki yang lumayan punya tampang dan nama sedikit terluka.
Hey, ayolah. Aldo pria tertampan di kelurahan sini! bodo amat, Risa mana peduli. dia hanya ingin pria ini segera menjauh dari hadapannya karena dia sudah bosan berhadapan dengan pria pria di dalam kehidupannya sebelumnya, hanya saja dia juga punya seorang putra yang akan menjelma menjadi seorang pria juga, jadi dia tak boleh membenci semua pria kan! jangan lupa Bambang juga!
Aldo berdecak, menahan kesal. Bisa bisanya Risa jual mahal seperti ini. Aldo menangkap pergelangan tangan Risa, mencengkram, cukup kuat.
kau kasar! akupun bisa. lagipula aku sudah cukup sabar untuk membujuk dan merayuku tapi ternyata kau semakin banyak tingkah dan sok jual mahal, ayolah?
"Jangan terlalu sombong.." gumam Aldo memasang wajah songong. Dia tak suka bertingkah kasar pada wanita, tapi Risa membuatnya gemas. Sekalian saja dia coba cara lain, mungkin akan berhasil!
pemuda itu menatap wajah Risa, tapi bukannya takut atau gentar gadis ini malah membalas sorot matanya yang tajam, membuat Aldo kian tertantang dan sinis.
"Lepaskan tanganku!" ketus Risa menantang. Aldo mengangkat bahu tak peduli.
"Bisakah kau lepaskan tanganku?" tanya Risa sekali lagi, masih dengan saling menatap sinis. Aldo menaikkan satu alisnya, tak gentar dengan niat nakal di kepalanya.
Risa menahan amarah, dia menarik napas dalam, seakan sedang menghimpun tenaga. ayolah! mau sampai kapan terus seperti ini, jangan samakan dia dengan cabe cabean yang bisa di bujuk dengan mudah, atau cabe cabean pun tak bisa dibujuk mudah karena butuh iming iming dan imbalan, kenapa Aldo memperlakukan Risa serendah ini!
Risa benar benar tak habis pikir dan kesal.
HAP!!
Sebuah tangkapan tangan di pergelangan tangan Aldo, kulit yang putih bersih dengan guratan otot tegas. kontras dengan tangan Aldo. Tangan itu melepaskan genggaman Aldo dan menepis kasar.
Aldo membesarkan mata. Dia menyorot pemilik tangan yang lancang sekali di daerah rumahnya. Shit! Aldo berdecak kesal. Darimana pria tampan dengan pakaian mahal ini! Sebagai pemuda up to date Aldo menatap iri jam tangan mewah di lengan Hoon. Sepatu bermek, kaos oblong dan pantalong hitam yang casual tapi bukan kaleng kaleng.
"Siapa kau?" tanya Aldo berusaha tenang. Hoon menyeringai. Membuat ketenangan Aldo terusik.
__ADS_1
Hoon mendaratkan telapak tangannya di pinggang Risa dengan santai, dia bahkan tersenyum sinis. Sementara Risa melotot, sorot matanya menangkap perlahan dimana telapak tangan Hoon berlabuh. Di pinggangnya! Risa sedikit bergidik geli.
"Tanyakan langsung padanya, siapa aku" ujar Hoon masih dengan senyum yang sama.
"Bukan begitu sayang?" APA!! Risa memberi sorot mata heran. Hoon menoleh dan tersenyum. Kepalanya mendekat hingga rambut mereka bertemu. dia mendekatkan bibirnya ke telinga Risa, sedikit lebih dekat hingga bibir tipis itu bisa mencium bau sampo bercampur keringat dan terik matahari di rambut hitam panjang mantan kekasihnya ini.
"Jawab saja, atau kau akan terus dilecehkan selama hidup disini.." bisik Hoon di telinga Risa.
Risa mengangguk cepat, dia mendengar bisikan Hoon yang membuat tingkah Risa kian canggung. tapi dia tak bisa menampik dia butuh bantuan satu dari sekian brengsek ini. ah.. menyebalkan memang!
"Di, dia.. tentu saja siapa lagi!" ucap Risa sedikit terbata. Dia menggaruk lehernya yang berkeringat. Hoon memasang senyuman yang membuat Aldo menatap dalam, antara yakin tidak yakin.
Seorang pria kaya dan wanita ini! bahkan pria ini masih sangat muda! Aldo membatin sendiri.
Wah, pemuda ini pantang menyerah juga. Hoon kesal melihat tatapan menyelidik dari Aldo.
"Sudah kukatakan, tinggalah bersamaku. Kenapa kau keras kepala sekali sih.." ucap Hoon pelan, seolah sedang merengek pada Risa. Jarinya menjangkau ujung rambut Risa yang keluar dari ikatan, Hoon merapikan perlahan ke arah belakang.
sebelah tangan Hoon meraih pinggang ramping Risa, membawa gadis kikuk itu kedalam dekapannya oh my God! bukankah ini terlalu berlebihan ya?
Risa hanya bisa menahan nafas dengan degup jantung yang meronta ronta.
demi apa! dia kenapa sampai seperti ini sih!
udara yang panas, matahari yang terik, telapak tangan yang membuat tubuh dan hati Risa terbakar. lengkap sudah!
"ayo pulang.."
Hoon menarik lengannya dia mengambil kantong belanjaan Risa. Mengganti tangan kosong Risa dengan telapak tangannya. Hoon menggenggam erat telapak tangan Risa. Mereka bergandengan tangan dan meninggalkan Aldo yang tercengang. Aldo kehabisan kata kata.
"Pantas saja dia sombong. Kekasihnya orang terlanjur kaya!" sungut Aldo mendengus kesal sendiri
***
Jangan lupa apa!!!
star vote sebanyak2nya
__ADS_1
komen dan review bintang5
Kirimkan hadiah juga ya!!