
Pagi ini Hoon bangun sedikit siang, dia buru buru masuk kamar mandi meraih sikat gigi, dia hanya akan mencuci wajah dan menyikat gigi, setidaknya itu akan mempersingkat waktu. Saking terburu buru dia menumpahkan gelas penampung sikat dan ada sikat gigi baru disana, baru saja Hoon akan meraih sikat yang terjatuh, sayang sekali sudah terpelanting menyentuh sudut wastafel dan masuk ke dalam lubang toilet, sikatnya pada bagiaj bawah sementara gagangnya berdiri di atas.
"Aisshh!" kesal Hoon. Dia terlalu lelap malam tadi sampai kesiangan, Hoon mengambil sikat dengan ragu ragu. Dia tak punya pelayan disini, dia harus melakukannya sendiri. Hoon menahan wajah jijiknya, dengan sangat perlahan dan penuh kehati hatian, akhirnya Hoon bisa mengangkat ujung sikat yang tidak ikut terendam, dia akan membuangnya nanti, tapi karena sekarang dia terburu buru, Hoon menaruh di pinggir wastafel, dia segera mencuci wajah dan bersiap ke kantor.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku!" kesal Hoon melihat Risa di meja makan. Gadis itu malah santai menikmati sarapan.
"Kalian terlihat lelap, aku tidak mau mengganggu" Hoon cemberut mendengar jawaban Risa.
"Apa Glen belum bangun? apa dia tidak ikut ke kantor?"Risa mencari sosok di belakang punggung Hoon. Dia tak menemukan sosok Glen, Hoon tak bisa menjawab, dia hanya mengangkat bahu.
"Seperti dugaanku, glen hyung kelelahan" ujar Hoon ikut mengambil roti, dia bergabung sarapan. "Bagaimana tidak lelah saat menghadapi nuna" gerutu Hoon seolah mengejek Glen
"Kau berbisik apa?" tanya Risa, Hoon hanya menggeleng, "Tidak ada!" ujarnya berbohong
Hoon mengambil roti dan mulai menikmati sarapannya, dia lumayan lahap.
"Kau selalu mengatakan hyung, itu apa sih?" tanya Risa tiba tiba, dia terlihat penasaran. Hoon mengangkat wajah, membalas wajah penasaran Risa.
"Kau tak tahu!" Risa menggeleng, wajah Hoon terkejut "Kau sungguh tak tahu sedikitpun bahasa korea?" Risa mengangguk. Hoon memasang wajah mengerti.
"Itu panggilan kakak laki laki" Mendengar jawaban Hoon seketika roti di tangan Risa terjatuh.
"Kau dan Glen, kakak adik?" tanya Risa dengan wajah tak percaya, Hoon mengangguk. Risa menautkan alis, bukankah dia bilang hanya memiliki nuna, alias kakak perempuan?
"Bukankah kau bilang kau hanya punya nuna?" tanya Risa masih penasaran. Hoon mengangguk lagi.
"Satu orang nuna, Eun nuna" ujar Hoon "Dan Glen hyung, kakak angkat ku!" mendengar jawaban Hoon membuat kunyahan roti di mulut Risa sulit di telan. Kakak angkat? apa itu artinya, Hoon pewaris Jung's corporation? apa artinya Hoon lebih kaya dari Glen! bukan, bukaj karena Risa matre. Tapi! tapi diansudah bersikap seenaknya pada Hoon selama ini! duh, tiba tiba Risa merasa cemas.
__ADS_1
"Apa kau putra presdir alias CEO Jung's corp?" Tanya Risa berusaha mendapatkan jawaban lebih jelas.Risa membelalakkan mata, menyadari pria di hadapannya adalah orang penting. Anggukan Hoon itu membuat Risa menelan ludah.
"Ya" mata Risa semakin membulat. Sekarang dia semakin tak bisa mengunyah, mulutnya terasa kaku. Shit! jadi selama ini, orang yang sering ku ejek? orang yang ku suruh suruh! Risa sedikit gentar, jangan jangan Hoon akan segera memecat dirinya karena lancang selama tinggal bersama. Ternyata pria yang ceroboh dan mengesalkan ini, pewaris Jung's Corp, Risa tak bisa percaya.
Glen ikut bergabung, dia sedang mengisi sikat gigi dengan odol. Sambil menatap wajah ceria Hoon yang menikmati sarapan, Glen menggosok giginya.
Glen mengerutkan dahi melihat wajah melongo Risa. Belum lagi tatapan dalamnya pada Hoon, Glen semakin curiga. Hoon melihat Glen ikut duduk di meja makan.
"Hyung!" teriak Hoon mengejutkan. Glen memasang wajah bingung.
"Apa itu sikat hyung?" tanya Hoon tak percaya melihat warna gagang sikat gigi yang Glen pakai. Glen mengangguk.
"Aaahh.." wajah bingung Hoon seketika berubah kalem, membuat Risa dan Glen menautkan alis, apa sih Hoon. Tingkah pemuda itu memang sulit di tebak! "Bukankah itu sikat yang tadi kujatuhkan ke toilet!" batin Hoon meronta, tapi bibirnya memaksakan senyum. Tiba tiba selera sarapan Hoon hilang, dia menahan mual.
"Kau kenapa?" tanya Risa cemas. Hoon menyibakkan telapak tangan seolah mengatakan aku tidak apa apa.
"Tapi wajahmu pucat, apa kau baik baik saja?" Risa semakin khawatir, Hoon mengangguk. Dia meletakkan sisa rotinya. Meneguk susu. Hoon pindah duduk ke sofa, dia melirik Glen yang masih heran dengan tingkahnya. Glen melanjutkan menggosok gigi, sementara Risa hanya bisa melongo tak mengerti. Hoon mencoba memasang wajah tanpa dosa "Jangan sampai hyung tau!" batin Hoon cemas.
"Kau akan diam di rumah?" Glen mengangguk. "Pulanglah lebih cepat" bisik Glen setelah mencuci mulutnya. Risa menggeleng pelan.
"Aku dan Hoon akan pergi dan pulang bersama, aku menumpang di mobil Hoon" jawab Risa dengan wajah ceria, dia memang tipe ceria. Glen melongo, dia mencuri lirik ke arah Hoon. Sejak kapan dia punya mobil? bukankah dia tak membawa pendanaanya? Glen semakin heran.
"Hoon membeli mobil?" tanya Glen pada Risa
"Tidak, kantor yang memberikan padanya" Hoon membuat Glen semakin melongo. Kantor memfasilitasi anak itu! Glen sungguh tak percaya.
"Apa kantor mengistimewakan dia!" tanya Glen masih penasaran. Risa menggeleng
__ADS_1
"Tidak, aku bahkan baru tahu kalau dia adikmu" jawab Risa jujur. Glen membulatkan mata mendengar kalimat Risa.
"Apa lagi yang kau tahu!" Risa tak mengerti dengan kalimat barusan, kenapa tiba tiba nada suara bos Glen berubah?
"Oh, Hoon bilang kau kakak angkatnya" Glen menelan ludah. Dia menatap Risa tajam. Jadi kau tahu aku hanya anak angkat. Apa kau tahu kalau aku juga sudah menikah dengan kakaknya? batin Glen masih bertanya tanya, tapi raut heran Risa membuat Glen tersadar.
"Kau harus pindah dari sini.." ucap Glen kemudian.
Risa menatap Glen lalu tersenyum, dia meraih tas nya dan meninggalkan Glen.
"Kita akan bicarakan nanti, aku dan Hoon terlambat untuk kerja" ujar Risa seraya meninggalkan Glen, dia menghampiri Hoon dan beranjak ke kantor bersama.
SLAM!
Suara pintu di tutup. Glen duduk di kursi, dia meraih roti untuk sarapan.
"Bahkan tak ada kecupan selamat pagi, tak ada ciuman perpisahan!" keluh Glen kecewa. Dia membanting rotinya kembali ke piring.
"Kau pikir kenapa aku kesini! aku hanya merindukan dirimu!" kesal Glen. Glen menyandarkan diri di kursi, mengingat bagaimana wajah Risa pertama kali saat dia menerobos mencoba merobek organ vital nya.
"Aku merindukan wajah merona itu!" dengus Glen semakin tak sabar lagi.
"Hoon mengganggu saja, kenapa dia bisa tinggal dan bahkan punya mobil!" kesal Glen "Harusnya dia tinggal di rumah tua itukan!" menyadari semua keberuntungan Hoon membuat Glen kian kesal "Dia bahkan tinggal berdua saja dengan Risa. Siapa yang tahu jika mereka tidak berbagi ranjang!" memikirkan semua itu membuat Glen frustasi sendiri.
"Risa harus membayar kesalahan ini!" Glen meraih cairan yang dikemas dalam botol kecil dari sakunya, dia mengangkat di depan wajah, Glen tersenyum penuh arti.
"Bersiaplah!"
__ADS_1
***
Gengs kirim.dukungannya yaa.. vote star, review bintang 5 (jangan kirangi bintangnya, komentarnya bebas) beri hadiah juga biar bisa bertengger dibagian novel pav atau populr, ngareep bangeett...