
Eun terus menatap wajah Risa dengan senyum riangnya. Sementara yang ditatap berusaha menghindar, Risa menyibukkan diri. Dia merasa canggung ditatap lekat oleh wanita secantik Eun.
"Aku harus mengambil sesuatu di gudang!" Seru Risa tak jelas pada siapa. Dia hanya mencari alasan untuk menghindari tatapan pekat Eun padanya. Dia tak ingin menghirup udara yang sama dengan Eun, kenyataan di masa lalu masih membuat Risa merasa berdosa.
"Kenapa harus dia sih?" gerutu Risa tak percaya. Dari sekian banyak usaha kenapa harus kakak Hoon yang menjadi atasannya? Risa bingung harus bagaimana. Melanjutkan pekerjaan atau mengundurkan diri.
"Aku membutuhkan uang untuk baby Ri" gumam Risa cemberut. Dia tak mungkin keluar kerja karena kebutuhan hidupnya kian banyak. Dengan langkah gontai Risa menuju gudang belakang lewat pintu samping, keluar dari ruang segar hotel.
***
Hoon terburu buru meninggalkan restoran, Dia segera menekan pintu lift. Wajahnya jelas tak sabar, dia akan mencari Risa, tadi mereka bertemu di lantai lima. Hoon akan keluar di lantai yang sama dimana Risa keluar tadi pagi.
Pintu lift terbuka, dua orang pria ikut bergabung, dua orang yang terlihat seperti preman! batin Hoon menduga begitu melihat penampilan mereka. Di tangannya ada selembar kertas dengan tinta print tak begitu jelas.
"Jadi dia orangnya? siapa namanya?" tanya pria pertama menatap lembar print di tangan rekannya.
"Risa, dia supervisor gran butik di lantai lima!" balas temannya. Mendengar nama Risa disebut, Hoon memasang kuping. Ada urusan apa dua pria tegap ini dengan kekasihnya, eh mantan kekasihnya! Risa sudah tegas berkata putus pagi tadi.
Hoon melirik curiga dengan gestur tubuh tegap, Hoon tak mau dua pria berkaos hitam ketat ini menyadari keingin tahuannya.
"Apa yang akan kita lakukan padanya?
Hah! Apa yang akan mereka lakukan! batin Hoon mendengus kesal. Kalimat barusan membuat Hoon marah dan ingin memukul kepala belakang dua pria di hadapannya.
"Ehem.." Hoon berdehem seolah menahan suara kesal yang memaksa ingin diucapkan.
Hoon menahan diri, dia memaki di dalam hati. Berani beraninya dua preman ini pada Risa-ku!!
Dua pria itu menoleh ke arah Hoon, hanya dengan tatapan sekilas saja sudah membuatnya merinding. Hanya dengan melihat tampilan mereka saja sudah seram, membuat Hoon takut. Bukankah tadi kau akan memukul mereka?. Bagaimana Hoon akan memukul jika ditatap saja sudah lemas? Dasar Hoon!
"Kita harus menemukan dia sebelum bos kembali" pria satu melanjutkan percakapan. Tak peduli dengan kehadiran Hoon di belakang punggung mereka.
"Kita terlalu banyak bermain main hingga dia bisa lolos.." Keduanya mengangguk setuju.
Pintu lift terbuka.
Ketiga pria keluar serentak. Mereka memiliki tujuan yang sama. Hoon memastikan sekali lagi sebelum memisahkan diri, dan benar saja itu memang potrait Risa meski kurang begitu jelas.
Apa yang Risa lakukan, kenapa dia terlibat dengan pria aneh ini? Hoon tak habis pikir.
Risa muncul di balik punggung Hoon. Menyadari ketukan pantopel di belakang punggung, Hoon segera menoleh, dia menyadari Risa di belakang punggungnya. Seketika Hoon berhenti melangkah hingga Risa menabrak punggungnya.
Hoon membalikkan badan, mengejutkan Risa, Lagi!
"Kenapa ka---" Hoon menutup paksa mulut Risa, mendorong tubuh wanita itu ke arah samping, memaksa pintu terbuka, dan bersembunyi. Risa terus berontak protes
__ADS_1
Risa melotot tak mengerti, dia berusaha berontak tapi Hoon terlalu memakai tenaga. Telunjuk Hoon memberi kode untuk tak bersuara. Meraka masuk ke ruang sempit janitor.
"Euu.." Risa mencoba memberontak dan meminta penjelasan Hoon. Tapi pria itu masih terus memaksa Risa untuk diam dan jangan banyak bergerak. Hoon menempelkan tubuhnya mempersempit ruang gerak Risa.
Dua orang pria tadi menyadari ada suara aneh di belakang mereka setelah pantulan suara pantopel sebelumnya. Keduanya kompak menoleh. Mencari tahu daerah sekitar.
Seorang dari dua pria itu merasa sedikit curiga. Dia masuk ke dalam ruang janitor yang pintunya terbuka. Dia mengedarkan pandangan, tak ada orang.
Risa dan Hoon memebelalakan mata panik. Mereka bisa melihat jelas wajah seram pria berbadan bongsor yang meneliti di balik daun pintu. Untunglah Hoon mengambil tempat di belakang pintu, hingga pria seperti preman itu tak menyadari keberadaan mereka.
"Ada apa!" seru rekannya bingung. Kini dua wajah seram terlihat jelas dari balik engsel pintu. Risa tak lagi berontak. Degub takut di jantung membuatnya pasrah. Sementara Hoon memasang kuping, tetap waspada.
"Tidak ada siapapun!" Satu rekannya mengangguk setuju, mereka mengangkat tangan dan memamerkan otot lengan yang kencang, keduanya melanjutkan pencarian di tempat lain.
"Fiiiuuuhh.." Risa dan Hoon kompak membuang nafas lega. Risa bahkan menyeka dahi, keringat panik membuat dahinya basah. Kenapa dua pria seram itu terlihat menakutkan. Dan apa pula hubungan Hoon dan dia? Kenapa Hoon membawa Risa pada situasi aneh ini! Risa tak habis pikir, wajahnya masih menyisakan rasa panik dan takut.
"Siapa mereka?" Tanya Risa bingung. Hoon apalagi.
"Kupikir kau mengenalnya?" sinis Hoon. Dia pikir Risa hanya berpura pura tak mengenal kedua pria besar tadi. Mereka bahkan tahu dimana Risa bekerja. Hoon bahkan tidak tahu apa apa tentang Risa! Sedikit membuat cemburu.
"Aku tidak mengenal mereka" bisik Risa memanyunkan bibir. Dia tak bisa mengucapkan kalimat lepas karena posisi Hoon yang masih menghimpitnya.
"Aku mendengar mereka mencarimu.." ujar Hoon apa adanya, dia mendengar percakapan seperti itu saat di lift tadi.
"Rasanya aku tak mengenalnya.." gumam Risa dengan wajah tak mengerti. Risa nelirik sekilas pada wajah Hoon, tatapan pria itu membuatnya gugup, Risa berusaha menghindar. Tapi tubuhnya masih terkekang!
Meski Risa mencoba menghindari tatapan mata dan wajah Hoon, pria itu masih terus usaha supaya bisa menangkap sorot wajah Risa. Dia sudah lama merindukan wajah ini.
"Apa kau banyak berurusan dengan pria?" tanya Hoon menyidik. Risa mendengus kesal
"Apa urusanmu?" gerutu Risa kesal mendengar pertanyaan melecehkan dari bibir Hoon. Risa merasa kalimat Hoon terlalu privacy!
"Hey, jawab jujur!" pinta Hoon ingin menatap wajah Risa. Gadis itu masih terus menghindar, dia lebih memilih menatap kancing kemejanya. Aku tak harus memberi jawaban kan! ketus batin Risa kesal.
"Hei, apa kau sudah punya kekasih setelah aku?" tanya Hoon penasaran. Dia gemas melihat raut Risa yang berusaha setenang mungkin. Kau gugupkan! Hoon tersenyum menyadari itu. Telapak tangan Hoon terangkat, jarinya menggamit dagu Risa. Dia terlalu banyak menyimpan Rindu. Menunggu sudah tak ada lagi dalam pikiran Hoon. Capitan lembut jari Hoon meminta gadis di hadapannya untuk balas menatap wajahnya.
Lihatlah wajahku kali ini! Apa kau tak sadar berapa banyak rindu yang ku pendam untukmu?
Jangan menghindar lagi, pinta batin Hoon tak mau menyerah.
Lihatlah wajah gadis ini. Dia masih sama, raut wajahnya yang menggemaskan dan hangat. Bibir mungilnya yang merah jambu. Siapa yang tahan akan wajah mempesona Risa.
Dan lihatlah pria di hadapanku kini! Bibir itu terus bicara banyak hal, dan masih membuat kesal. Lalu apa yang dia lakukan sekarang? sampai kapan dia menjepit tubuhku begini.
Himpitan tubuh Hoon membuat Risa sulit bergerak. tersudut di belakang pintu dengan Hoon tepat di atas tubuhnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah punya kekasih?" tanya Hoon sekali lagi. Risa berdecak kesal.
Berhenti bicara tentang kekasih, asmara dan cinta! kita sudah gagal! teriak batin Risa tak percaya akan kalimat Hoon.
"Menurutmu?" tanya Risa. Kini sorot matanya jelas menantang.
"Kau bisa saja menjalin asmara dengan siapapun. Tapi sorot matamu selalu menatapku berbeda.." ujar Hoon penuh percaya diri, membuat Risa tertawa sinis.
"Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi.."
Risa menggaris senyum, dia menatap wajah Hoon.
"Aku mohon, maafkan aku dimasa lalu.."
Risa semakin melebarkan senyum hingga matanya menyipit.
"Risa, aku masih mencintaimu, aku tak pernah bisa melupakanmu.."
Kali ini Risa tertawa kecil, dia bahkan mengangkat tangan dan menggaruk pelan sudut hidungnya.
"Risa, bisakah kau memikirkannya sekali lagi?" tanya Hoon dengan tatapan penuh harap. Risa mengganti sekejap air wajahnya, wajah cantik itu seketika datar. Senyumnya mendadak lenyap. Sorot mata Risa kian tajam.
Baru saja Risa akan membuka mulut, dengan berani Hoon mendekatkan wajahnya. Berusaha menggapai hawa panas yang menguap diantara bibir mungil Risa. Gejolak di dadanya sudah tak tertahankan. Hoon sangat merindukan Risa. Merindukan hari hari bersama mereka, merindukan malam panas mereka.
Hoon semakin yakin melihat Risa hanya diam saja. Dia bahkan tak menolak! Hoon bersiap mencium bibir menggoda milik Risa. Dia semakin memangkas jarak diantara bibir mereka yang seakan siap siaga menerima serangan.
BRUK!!
Risa mendorong dada Hoon hingga pria itu terduduk di lantai. Dengan langkah cepat Risa meninggalkan Hoon. Dia melangkahi Hoon dengan wajah sinis.
SLAM!!
Hoon bergidik ngeri saat suara pintu dibanting memekakkan gendang telinganya.
"Ah, SIAAALLL!!" pukas Hoon kesal. Apakah dia kesal karena gagal mencium bibir Risa? atau karena cintanya memang tak ada lagi kesempatan. Dua duanya sepertinya tepat! Hoon menghela nafas putus asa.
***
Terus dukung novel ini dengan, komen dan bintang5
kasih star vote
kirim hadiaah .
terima kasih
__ADS_1