Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Mendekapmu


__ADS_3

Risa mendengus kesal. Sol sepatunya menepak kasar lantai marmer hotel. Dia membetulkan sedikit kemejanya. Karena tindihan tubuh Hoon membuat kusut di beberapa bagian kemeja pink yang Risa kenakan.


Baru saja matanya beralih dari kibasan kemeja, sepatu heel berwarna neon mencuri mata Risa. Sepatu yang sulit dilupakan. Risa mengangkat wajah. Sesuai dugaan, tepat sekali! si pemilik sepatu hak tinggi berwarna neon itu adalah Eun.


Eun tersenyum menyambut Risa di depan wajahnya. Risa memaksakan membalas senyum meski dia masih terkejut, wanita ini selalu muncul tiba tiba. Kakak adik yang kompak. Satu di belakang sana, satu di depan sini. Risa menggelengkan kepala, sedikit frustasi.


"Aku menyusulmu, soalnya ada yang ingin ku bicarakan lebih lanjut" ujar Eun. Risa mengangguk mengerti, dia masih berusaha menggaris senyum.


"Baik ---" Risa bingung harus menyebut Eun dengan panggilan apa. Dia terlihat kikuk


"Nuna!" ujar Eun mengerti kebingungan Risa.


"Nu, nuna.." ulang Risa ragu. Apa dia boleh memanggil Eun dengan kata nuna? Bukankah itu panggilan spesial Hoon. Entahlah, Risa mengangkat bahu, mengikuti saja apa kemauan Eun.


"Aku akan ke ruangan nuna setelah mengantarkan beberapa bahan ini ke ruang penjahit" ujar Risa mengangkat paperbag di tangannya, dia membawa beberapa warna bahan di dalam sana. Eun mengangguk setuju.


"Baiklah, mari bicara di ruang manager" ujar Eun kembali melepas senyum ramah. Risa undur diri, dengan sopan dia meninggalkan Eun.


Hoon menarik handle pintu, dia keluar dari ruang janitor dengan mengibaskan belakang celana. Bokongnya sedikit nyeri karena mencium lantai. Risa mendorong dengan sekuat tenaga tadi. Pasti wanita itu sangat membencinya! Hoon membuat wajah kecewa.


Dia membenarkan ban celana, dan merapikan bagian depan. Hoon memastikan kemejanya masih rapi dan risleting nya tertutup sempurna.


Eun melipat tangan di dada menatap Hoon yang masih tak menyadari keberadaannya. Eun menajamkan pandangan saat Hoon menarik risleting celana.


"Aish.." dengus Eun tak percaya. Adiknya melakukan itu disana! ya ampun, bukankah itu tidak higenis?


Hoon mengangkat wajah mendengar desis Eun di depannya. Dia sedikit terkejut tapi hanya meraut tenang membalas wajah penasaran nunanya, Eun mencibir dengan sudut bibir.


"Kenapa?" tanya Hoon curiga melihat wajah sinis Eun.


Eun membuang pandangan.


"Apa yang kau lakukan dari ruang itu?" tanya Eun menyelidik, alisnya naik sebelah. Mencurigai Hoon.


"Apa!" pukas Hoon tak mengerti akan tatapan penasaran Eun nuna.


"Kau dan --" Eun tak melanjutkan kalimat. Dia tertawa menggoda adiknya. Yang benar saja! Pikiran Eun sudah melanglang buana.


Alis Hoon bertaut tajam. Ada apa dengan wajah menyeringai itu? Hoon tak habis pikir dengan tatapam random di wajah Eun.


"Aku dan siapa? Aku dan Risa maksud nuna?"

__ADS_1


Ah akhirnya. Eun tertawa lucu mendengar Hoon menyebut nama gadis di bibirnya. Apa yang mereka lakukan di ruang janitor? jika tadi Risa terlihat merapi kan kemeja dan rambut, kini Hoon keluar dengan menarik risleting dan mengatur ban celana. Eun tertawa geli membayangkan hal yang bukan bukan di dalam otaknya. Apa lagi? jika sepasang anak manusia bertemu! Bahkan mereka tak bisa memilih tempat! Apa kerinduan sudah tak bisa membendung hasrat lagi!


Ya ampun! batin Eun bergidik ngeri


"Apa kau mengenalnya?" tanya Eun menyelidik. Hoon menatap wajah sumringah Eun, nuna sungguh aneh, dia memang selalu aneh sih tapi hari ini dia 100 kali lebih aneh, batin Hoon curiga.


"Kenapa? memangnya nuna mengenal Risa?" Hoon balik bertanya.


Baru saja Eun hendak mengangguk, dua pria berbadan tegap yang tadi Hoon lihat, berbalik arah.


Hoon seketika cemas. Dia menatap dua orang itu dengan mata menyelidik. Apa mereka menemukan Risa? batin Hoon bertanya tanya.


"Ada apa?" tanya Eun menyadari sorot berbeda di wajah Hoon. Adiknya itu terlihat tegang.


"Nuna, kau harus membawa Risa keluar dari gedung ini. Ada yang akan membahayakan dia!" ketus Hoon. Dia menyambar ponsel dari dalam saku. Menelpon seseorang.


"Hallo.." sapa Hoon cepat.


"Aku ingin kau melakukan hal penting, ada tugas untukmu!" tukas Hoon dengan wajah serius. Dia sangat mencemaskan Risa.


Eun mengerutkan dahi, kenapa Hoon begitu peduli dengan Risa. Kenapa Hoon begitu perhatian pada wanita tadi? Eun semakin curiga.


"Nuna, sebaiknya bawa Risa cepat. Aku ada urusan sebentar!" Hoon kembali ke dalam lift, dia akan menyusul kemana dua pria mencurigakan tadi pergi. Sesuatu yang buruk mungkin terjadi di sini, dan Hoon tak mau keburukan itu akan menimpa Risa. Demi apapun, kali ini Hoon akan melindungi Risa.


***


Harus naik satu lantai ke ruangan kantor manager, ruangan berukuran sedang di ujung lorong, posisinya disudut mempertemukan jajaran kamar hotel dan balkon lantai enam. Risa harus naik satu lantai lagi. Dia akan memakai eskalator daripada lift. Risa mempercepat langkahnya.


Setelah tiba di lantai enam. Risa melihat dua orang pria mencurigakan di ujung lorong. Apa mereka yang memukuli pria yang dia bawa pulang kemarin? tampilan mereka hampir sama.


Dada Risa berdegup kencang, antara takut dan gugup. Dia menundukkan pandangan, mengatur rambut agar bisa menutupi sedikit wajahnya.


Langkah mereka saling mendekat. Degup jantung Risa kian terasa. Takut! tentu saja, tubuh kekar dan tatapan tajam. Dua pria itu jauh dari kesan baik. Siapa yang tidak takut, bahkan Risa melihat sendiri betapa mereka tega memukuli Kai kemarin tanpa ampun.


Dua orang pria tegap itu menatap curiga ke arah Risa. Seorang gadis yang melangkah gugup dengan menundukkan kepala. Jarak mereka kian dekat. Membuat Risa semakin gugup dan dua pria itu semakin curiga.


Tiga meter


dua meter


satu meter.

__ADS_1


Dua pria itu membuat senyum sinis. Perawakan gadis gugup di depan sana membuat sorot mata mereka semakin curiga. Salah seorang mengangkat tangan kekarnya, dia akan mengambil lengan Risa yang berusaha mempercepat langkah.


Hap!


Tangkapan telapak tangan Hoon lebih cepat daripada pria seram itu.


Hoon menarik Risa dalam rangkulannya, dia memeluk Risa kencang, seolah enggan melepaskan. Risa terkejut tapi tak menolak dekapan kuat Hoon. Dibalik pelukan ini Risa bisa menyembunyikan wajahnya.


"Kau darimana sayang? Aku sudah menunggumu dari tadi!" ujar Hoon dengan nada selembut mungkin. Dia mendaratkan kecupan mesra di atas rambut Risa. Hoon sedikit akting, dia berusaha tak membuat dua pria seram itu kian curiga pada Risa. Dari kalimatnya, dua pria itu tak punya niat baik pada Risa.


Risa menautkan telapaknya di tangan Hoon. Otot tangan pria itu menonjol, dia terlalu mengkhawatirkan Risa, tubuhnya tak bisa berbohong. Hoon mendekap Risa kian kuat.


Tentu saja, Hoon sungguh berusaha ingin menjadi pria terbaik untuk Risa, melindungi seperti ini akan semakin sering dia lakukan, apapun, asal Risa bisa menerimanya lagi.


Melihat kemesraan Hoon dan Risa membuat kedua pria tegap itu jengah. Mereka merasa berada di tempat yang salah.


"Ayo!" ujar rekannya meminta melanjutkan pencarian.


Hoon menghela nafas lega. Dia sedikit tenang melihat punggung kedua pria itu kian mengecil. Aktingnya harus segera diakhiri, sayang sekali!


Hoon mengelus lembut rambut Risa. Dia masih enggan melepas, kesempatan dalam kesempitan. Keduanya bisa merasakan degup jantung yang saling beradu.


Jangan katakan saling membenci, jangan katakan sudah tak ada cinta. Jangan membohongi diri sendiri. Harus bisa membedakan mana marah dan benci.


Risa tak membenci Hoon dia hanya marah dan kecewa. Hoon tak pernah membenci Risa, jangankan membenci bahkan membuang sehari di dalam pikirannya pun tak bisa.


Mereka berdua butuh waktu, meski sudah setahun masi terus butuh lagi. Akankah waktu berpihak pada keduanya.


Risa menutup mata, merasakan dekapan hangat Hoon. Jiwanya merasa tentram dan aman.


Hoon mengeratkan pelukan, dia sepenuh hati akan melindungi wanitanya. Meski belum tahu dengan cara apa, setidaknya kini Risa sedikit aman dalam pelukannya.


"Aku sangat rindu.. sangat merindukan mu.." bisik Hoon membuat angin diantara bibirnya yang menghembus helaian rambut Risa, bibirnya bergerak tanpa suara. Tapi Risa seolah bisa menerima bisikan kalimat Hoon, bisikan itu membuatnya meneteskan airmata.


aku merindukanmu..


***


Terus dukung yaa...


tinggalkan review bintang5, dan komentar.

__ADS_1


bwri star vote dan hujani dengan hadiah. biar aku kian semangat Up


__ADS_2