Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Serakah


__ADS_3

Glen terburu buru menarik kopernya, dia meminta seorang pelayan segera membawakan barangnya, Glen masuk ke dalam lift dan menunggu dengan wajah sumringah, dia yakin Risa sedang menunggunya. Sekarang adalah akhir pekan, Risa pasti menghabiskan waktu dengan menunggunya.


Hoon menarik pinggang Risa hingga dia memeluknya erat, Risa masih terus menghindar hingga Hoon mengangkat tubuh rampingnya dan berputar putar di udara. "Lepasin.. lepasiin, Hoon.." pinta Risa kian cemas dengan putaran yang semakin kencang seperti tawa Hoon, dia menikmati menggoda Risa. Hoon melonggarkan dekapan nya, Risa terhuyung jatuh terduduk di sofa.


"Kepalaku pusing" sungut Risa antara menahan kesal dan juga lemas.


Hoon ikut merebahkan diri di sebelah Risa, dia bersandar di pundak gadis yang rambutnya sudah tak berbentuk lagi, keduanya terlalu asyik bercanda sampai leher kaos yang mereka kenakan basah oleh keringat.


"Kau harus diet, kau berat juga!" Risa sewot mendengar kalimat Hoon.


"Jangan memulai lagi, aku lelah" pinta Risa lemas.


Ting- Tong!!


Suara bel pintu membuat Hoon dan Risa saling bertatapan, siapa? keduanya merasa aneh. Mereka tidak punya seseorang yang bisa menjadi tamu, bahkan tak satupun rekan Risa tau dia tinggal bersama Hoon.


Baru saja Hoon hendak bangkit, Risa mencegah. Dia menahan paha Hoon.


"Biar aku yang buka" ujar Risa. Hoon mengangguk, lagipula nafasnya masih tersenggal karena tadi menggendong Risa.


Glen menunggu dengan harap harap cemas. Bibirnya langsung tersenyum lebar melihat wajah Risa yang menyambutnya. Berbeda dengan wajah sumringah Glen, Risa malah membulatkan mata dan mulut. Dia tak percaya pada sosok di hadapannya.


Glen langsung menyambar pundak Risa, memeluk erat.


"Siapa, Risaa..!" teriak Hoon. Wajah Glen seketika berubah mendengar suara lelaki dari dalam sana. Glen melepaskan pelukannya dia melangkah dengan wajah tegang.


"Hoon!" Glen sedikit meninggikan suara. Tampak jelas Hoon sedang tiduran di sofa sambil mengibaskan leher kaosnya. Glen menatap Risa curiga, dia kembali menatap Hoon tajam, Glen menahan gemelutuk giginya yang beradu gemas. Pikirannya kemana mana.


"Hyung!!" teriak Hoon segera bangkit dan memeluk Glen, dia menyambut dengan wajah gembira kontras dengan wajah Glen.


Risa hanya bisa bingung. Dia tak mengerti kenapa Hoon begitu ceria menyambut Glen tapi tidak sebaliknya. Risa melangkah perlahan mendekati Glen dan Hoon.


"Apa hyung ada pekerjaan di sini?" tanya Hoon bersemangat, dia mengajak Glen mengikuti langkahnya, mengambil duduk di sofa. Sementara Risa dan Glen saling menatap dengan wajah tak mengerti. Glen tak mengerti Hoon berdua bersama Risa, sementara Risa tak mengerti apa arti tatapan kekasihnya itu, wajah itu bukanlah wajah gembira saat bertemu kembali.


"Apa hyung akan tinggal bersama ku?" tanya Hoon masih dengan senyuman lebar. Glen menautkan alis, dia meneliti.


Apa yang Hoon dan Risa lakukan di sini? dan apa apaan wajah lelah itu! bahkan mereka bermandi keringat! Glen membuang wajah, menghindari tatapan Risa, Glen kesal sendiri, cih! batin Glen berpikiran buruk, rindunya yang menggebu berubah kesal.

__ADS_1


"Hyung, hyung!!" Glen tersadar setelah Hoon beberapa kali memanggilnya.


"Mmm.. kenapa kau ada disini?" tanya Glen pada Hoon tapi menatap tajam pada Risa. Gadis itu hanya heran dengan sorot tajam mata kekasihnya. Perasaan Risa jadi tak enak.


"Bukankah hyung yang menyiapkan semuanya!" jelas Hoon tak mengerti.


"Maksudmu?" tanya Glen menyelidik.


"Hyung memberi kejutan kan padaku!" Glen semakin tak paham. "Aku menemukan kartu akses di dalam koper, kau memang terbaik hyung!" ujar Hoon bangga, Glen hanya membuat senyum kecil, senyuman tak mengerti.


Tunggu sebentar, Glen berpikir. Jadi benar dugaan nya selama ini, bahwa ponsel yang dia cari cari terbawa oleh Hoon.


"Kau juga memberi asisten terbaik, Risa adalah rekan kerja terbaik!" puji Hoon, Glen menatap Risa sekali lagi, Risa menggaris senyuman ragu. Glen mencoba mencerna percakapan mereka. Dia berpikir sejenak, Glen berusaha menerima keaalah pahaman disini, dia mulai melunakkan tatapannya.


"Hyung bagaimana pernikahan--"


"Kamu sudah makan!" Glen memotong pembicaraan, dia melirik ke arah Risa sejenak. Hoon mengangguk. Apakah dia bertanya pada Hoon atau Risa? entahlah.


"Apa kalian tinggal berdua saja?" tanya Glen tak mau mendengar jawaban yang sebetulnya dia sudah bisa menebak sendiri.


"Tentu saja, Risa banyak membantu" ujar Hoon ringan.


Risa mengambilkan tiga minuman kaleng dingin, dia menaruh dua di meja, dan satu untuknya. Dia juga lelah karena ulah Hoon tadi. Glen memperhatikan tingkah Risa.


Hoon menyambar minuman kaleng di tangan risa, dia menarik segel hingga terbuka, Hoon kembali menyodorkan pada Risa tanpa berpaling dari Glen. Risa tersenyum kecil melihat tingkah manis Hoon. Kau sungguh perhatian, dia mencontoh sikap papa dengan baik, bisik batin Risa senang.


Glen melihat semuanya. Dia melihat bagaimana Risa tersenyum, bagaimana Hoon membukakan minuman, apa apaan ini! Glen menahan gusar.


"Aku harus meletakkan koperku" ujar Glen kemudian. Dia menatap Risa sebentar.


"Biar aku bantu!" ujar Risa menyambar koper Glen yang baru saja tiba.


"jangan, biar aku saja!" tawar Hoon. Glen semakin jengah melihat Hoon seperti bukan dirinya. Dia terlalu memaksakan untuk dewasa! sungut batin Glen kesal. Apalgi Risa, dia bahkan terus tersenyum membalas kalimat Hoon, Glen tak suka.


Glen menarik sendiri kopernya, dia menuju ke kamar. Glen terkejut melihat perubahan kamar, dia tak melihat lagi kamar romantis mereka sebelumnya, hanya ada ranjang, lemari dan kaos saja di kasur, sungguh Hoon sekali! Glen meletakkan kopernya, di samping koper Hoon. Tiba tiba dia teringat sesuatu, Glen merogoh kantong di koper Hoon, sedikit agak ke dalam, dia menemukannya! sebuah ponsel, dia tak bisa menghubungi Risa karena ponsel couple ini tak bersamanya, dia bahkan tak hafal kontak Risa.


Glen pindah ke kamar sebelah, dia memeriksa, apa apaan ini! kamar manis bernuansa pink, kemana alat fitnes miliknya? kenapa semua bisa berubah tanpa seijinnya. Glen menahan jengkel, mereka melakukan apa yang mereka mau tanpa diriku! gusar hati Glen kesal.

__ADS_1


Tapi dia tersenyum sendiri, kamar yang terpisah membuat glen bernafas lega. Dugaannya meleset. Memangnya semua pria pikirannya seperti mu Glen!


Glen kembali ke ruang tamu. Dia menatap Hoon dan Risa bergantian, keduanya kini kompak di dapur, Glen semakin kesal. Bukan karena prasangaka nya yang bukan bukan seperti sebelumnya, tapi kenapa Hoon berubah secepat ini! Glen tak bisa terima.


"Hoon, kepala hyung sedikit sakit, bisa kau belikan hyung sebotol minuman?" tanya Glen pada Hoon.


"Biar aku yang belikan!" ujar Risa menawarkan diri, Glen tersenyum sinis.


"Biar Hoon saja! Saya melihat banyak perubahan pada dirinya, mungkin dia tak akan menolak jika saya suruh kali ini!" pukas Glen dengan sorot mata tajam, dia menatap Hoon menantang.


"Baik, hyung. Akan aku beli!" ujar Hoon bersemangat, dia segera meninggalkan pekerjaanya. Hoon keluar apartemen. Dia meninggalkan Risa dan Glen berdua saja.


Yang benar saja! Glen tak habis pikir, bagaimana mungkin Hoon menurut tanpa membantah, bahkan sebelum berangkat kesini dia dan Hoon masih berdebat.


Glen mendekati Risa, dia mengambil pisau yang tadi di pegang Hoon. Bibir Glen menggaris sinis.


"Dia melakukan semua ini?" gumam Glen tak percaya.


Tak! Tak! Tak!


Risa memotong sayuran dengan kesal, membuat Glen tersadar. Dia tersenyum pada Risa tapi gadis itu pura pura tak peduli.


Glen merangkul bahu Risa, dia mencium rambut Risa, sedikit bau keringat.


"Kenapa kau tak membalas pesanku!" ketus Risa. Dia sedang kesal.


Glen mengeluarkan ponsel dengan layar mati dari sakunya.


"Hoon membawa kartu akses apartemen dan ponsel saya" jawab Glen santai. Risa membelalakkan mata.


"Kok bisa?" tanya Risa tercengang. Glen tersenyum manis


"saya salah menyimpan koper" jawab Glen cepat, dia melingkarkan tangannya ke pinggang Risa, debaran di dada ini kembali lagi.


"Aku masih bau, belum mandi" ujar Risa mencoba menghindar, tapi Glen tetap tak mau melepaskan pelukkan nya.


"saya sangat merindukan dirimu.." bisik Glen membuat Risa hilang fokus pada pekerjaan dapurnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan dengan Hoon tanpa saya?" Glen menyelidik. Risa menautkan alis.


"Kami teman yang baik!" ujar Risa, teman? sesuatu berontak di dalam dada gadis itu, dia menikmati pelukan Glen tapi dia juga tak menolak ciuman Hoon. Risa menarik nafas mencoba menenangkan diri. Sebenarnya ada apa dengan hatinya?


__ADS_2