Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
udah


__ADS_3

Risa mendengus kesal, matanya malas membalas tatapan Hoon, dia menerobos lengan Hoon yang menghalangi jalannya.


"Risa.." gumam Hoon ikut kelyar mengiringi Risa. Wanita itu berhenti sejenak, membetulkan tali tas di bahu.


"Apa kau melupakanku?" tanya Hoon di belakang punggung Risa bersamaan pintu lift yang tertutup. Risa menarik nafas dalam. Sebenarnya dia enggan menyahut. Tapi seperti ini lagi bukannya sama saja. Hubungan mereka di masa lalu juga mengambang, tak ada kejelasan. Jadi biarkan hari ini Risa membuat semuanya jelas.


Risa menahan gemelutuk giginya. Membayangkan melewatkan morning sick selama sembilan bulan sungguh menguras emosi. Harusnya dukungan suami adalah hal terpenting, tapi dia tak merasakan itu. Dia mendengus menahan marah. "Hoon!" ketus Risa sembari membalik badan.


"Biar ku perjelas. Hubungan kita sudah berakhir, sudah lama berakhir!" pukas Risa dengan raut wajah serius, lebih dari serius malah.


Hoon melangkah mendekati Risa. Memangkas jarak antara mereka. Hoon berusaha mengukir senyum getir.


"Risa, beri aku kesempatan.." gumam Hoon memohon. Tangannya menjangkau pergelangan tangan Risa.


Risa menghempaskan tangan mereka, kasar. Telunjuknya terangkat, menuding tepat di depan wajah Hoon.


"Aku pernah meminta itu sebelumnya, dan inilah jawaban mu. Hubungan kita berakhir!" tegas Risa berlalu. Dia melangkah dengan angkuh, mengangkat dagu.


Eun tak bisa menutup mulutnya. Dia tak percaya gadis yang berdebat dengan Hoon adalah wajah yang tak asing.


Risa menghentikan langkah melihat Eun ada di hadapannya. Dia mengukir senyum kecil, lanjut melangkah menuju kantor tempat dia bekerja.


Hoon menunduk kecewa. Raut wajahnya jelas sedih. Dia tak bisa melupakan Risa meski sudah mencoba. Bagaimana bisa melupakan pengalaman pertama? Risa adalah cinta pertama Hoon, Risa pula teman tidur pertamanya. Jangn dulu berpikir itu! selain itu Risa adalah wanita yang membuat hari Hoon berwarna, berapa kalipun dia membenci Risa tak akan pernah seimbang dengan perasaan cintanya.


Eun menatap dalam wajah sendu adiknya. Dia tersenyum sinis.


"Sepertinya ada bau bau sesuatu" duga Eun memainkan alis. Dia memutar badan, menyusul langkah Risa. Eun memang ada urusan pekerjaan disini.


"Hey, nuna!" Eun berhenti melangkah mendengar hardikan Hoon di belakang sana.


"Kenapa kau ada disini! Kau menguntitku ya!" ketus Hoon jengkel. Eun membalik badan, dia mencoba memamerkan senyuman ramah.


"Tidak kok, aku ada pekerjaan disini. Aku bahkan tak tahu kalau kau juga ke hotel ini.." balas Eun berbohong, dia jelas salah tingkah. Hoon mencibir, dia kembali masuk ke lift. Melanjutkan tujuannya. Dia harus menemui seseorang untuk membatalkan acara kopi darat mereka. Hoon akan mencari Risa dan membahas hubungan mereka, lagi! kali ini Hoon tak mau menyerah dengan mudah.


"Maaf membuat anda menunggu." Dengan sopan Hoon menarik kursi. Seorang gadis duduk tepat di meja yang sudah direservasi. Hoon duduk santai menunggu gadis di hadapannya menurunkan buku menu yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


Dia perlahan menurunkan buku menu, menyingkap jelas wajahnya.


"Bunga!" teriak Hoon tak percaya, kursinya bahkan sampai mundur. Bunga tahu pasti reaksi seperti ini yang akan dia terima, dia sudah menduga sebelumnya.


Hoon segera beranjak dari duduk, dia tak ingin basa basi. Hoon kecewa kenapa direktur Mei mengatur pertemuannya dengan Bunga.


"Hoon, aku mohon." ujar Bunga memelas "Aku mohon dengarkan aku dulu" pinta Bunga dengan sorot mata penuh makna.


Hoon kembali duduk dengan wajah gusar, dia bahkan tak mau menatap wajah Bunga.


"Lima menit!" pukas Hoon tegas. Bunga mengangguk.


"Ada yang ingin kusampaikan. Perihal masa lalu.." Hoon tak membalas sepata katapun dari kalinat yang Bunga lontarkan.


"Aku yang membuat Risa tidur di cafe O, aku yang mengatur Glen disana malam itu." Kali ini Hoon menatap wajah Bunga, pandangannya terlihat bengis. Seperti harimau yang siap menerkam musuh.


"Aku membuat Risa tertidur" ujar Bunga menu duk, dia terlihat cemas. Berkali kali dia memainkan kuku kuku di jarinya bergantiaj tak teratur.


"Apa maksudmu?" selidik Hoon masi ingin tahu. "Apa kau membuat Risa dan Glen tidur!" pukas Hoon menahan amarah. Bunga mengangguk, air mata nya mulai terjatuh.


Tangan Hoon mengepal, hampir saja dia memukul meja, tapi melihat ada beberapa tamu berkelas, Hoon mencoba mengatur emosinya. Dia menarik nafas dalam.


Pengakuan Bunga membuat Hoon kian menyesal. Dia menyesal memutuskan hubungan sepihak di masa lalu. Hoon sangat menyesal dan kecewa pada dirinya sendiri. Dia bahkan mengatakan semua itu, kata kata jelek di hadapan orang tua Risa!


"Kenapa kau memberi tahuku kini?" Hoon ingin tahu alasan Bunga, kenapa baru sekarang Bunga berani membuka mulut.


"Karena, Glen meninggalkanku, dia meninggalkanku, bahkan setelah aku memenuhi semua keinginannya.." Air mata Bunga terus menetes, tapi tak sedikitpun membuat Hoon iba.


"Aku memohon pada direktur Mei agar bisa bertemu padamu. Aku juga mencari alamat Risa, tapi aku tak menemukannya." Bunga berusaha menahan isak tangis. Perasaanya begitu gundah hingga pundaknya bergetar menahan sendu.


"Aku merasa bersalah pada kalian, aku menyesaal.." suara Bunga kian merendah, hampir tak terdengar. Suara tangisnya membalap, wanita ini jelas sedang tidak baik, Bunga tidak bahagia.


"Terima kasih kau memberi tahuku!" ucap Hoon menggaris senyum lebar.


"Kau sudah mau mengakui kesalahan dan itu bagus, aku harap kau akan menemukan cinta sejati!" ujar Hoon menyemangati.

__ADS_1


Bunga mengangkat kepala, dia tak percaya mendengar pesan baik dari bibir Hoon. Bahkan pria di depannya ini terlihat tulus dan tersenyum, sangat berbeda dengan Glen yang egois dan bengis. Hoon dan Glen memang berbeda kelas.


"Terima kasih.." Balas Bunga mencoba membuat senyuman.


"Sekarang sudah waktunya untukku.." gumam Hoon dengan wajah yakin "Aku akan memperjuangkan cinta sejatiku!" ucapnya penuh semangat.


***


Bertemu dengan Kai adalah kejutan pertama, bertemu dengan Hoon kejutan yang kedua, bertemu dengan Eun menjadi kejutan ketiga, dan apaa!! combo, ternyata wanita yang berdiri di depan sana, pemilik butik mewah ini adalah Eun Jung! Risa menepuk dahi tak percaya. Bagaimana mungkin keadaan mempermainkan dirinya dengan begitu sempurna.


Eun menghampiri Risa, dia mencolek lengan Risa. "Bagaimana kabarmu?" tanya Eun dengan tatapan menggoda. Risa tersenyum tipis dan menjawab singkat. "Baik.." ujar Risa.


"Bagaimana dengan kehamilanmu?" tanya Eun menatap perut rata Risa.


"Dia sudah bisa makan bubur kini" jawab Risa dengan senyuman ragu.


"Apa bayi laki laki atau perempuan?" tanya Eun bersemangat.


"Laki laki" jawab Risa singkat.


"Bagaimana wajahnya?" tanya Eun dengan mata berbinar binar.


Risa menatap sekeliling. Dia merasa tak enak ketika banyak mata memperhatikan percakapan mereka. Bahkan mereka tak sedekta ini, hingga bisa berbicara masalah pribadi.


"Wajahnya.." kalimat Risa terhenti. Membayangkan wajah baby Ri membuat Risa mengingat Hoon tadi pagi. Dia masih sama! hanya pakaian dan gayanya saja yang sedikit berubah! batin Risa tersenyum. Ish! kenapa harus tersenyum, protes hati kecil Risa.


"Bagaimana wajahnya?" tanya Eun sekali lagi. Membayangkan seorang bayi membuat Eun gemas


"Tampan.. seperti papanya.." gumam Risa tanpa disadari menyandingkan wajah bayinya dengan Hoon. Tak bisa dipungkiri mereka memang terlihat mirip.


***


terima kasih masi setia membaca


jangan lupa dukungannya, star vote, review komen bintang 5, dan beri akau sdikit hadiah supaya semakin bersemangat

__ADS_1


__ADS_2