
Malam ini Alika sedang menyiapkan hidangan makan malam. Alika memasak makanan kesukaan anak-anaknya dia juga membeli beberapa buah untuk disuguhkan.
Saat sedang menyiapkan piring Hans baru saja pulang dan dia datang bersama dengan Beca. Alika menyambut kedatangan mereka dengan senyuman dan mengajak mereka untuk makan malam bersama. Alika juga memanggil Rio dan Jingmi untuk bergabung dengan mereka.
"Ambil ini kau terlihat kurus sejak masuk kulian" Ucap Rio sembari meletakan irisan besar daging sapi dipiring Jingmi.
"Rio kau juga makanlah..." Ucap Alika sembari mengambil piring Rio yang kosong dan menukarnya dengan piring lain yang sudah diisi dengan banyak makanan.
Hans menatap Alika dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Beca mencoba mengajak Hans untuk berbicara tapi Hans hanya fokus menatap Alika yang sedang menyantap makan malamnya.
Beca menyadari jika tatapan mata Hans hanya terpaku pada Alika semata.
"Nyonya Alika" Ucap Beca membuka pembicaraan.
"Iya" Sahut Alika dengan santainya.
"Nyonya apakah anda berniat untuk menikah lagi?" Tanya Beca yang seketika membuat Alika tersentak.
"Pertanyaan anda ini sangatlah tidak sopan" Ucap Rio menegur Beca.
"Maaf apa yang membuat anda bertanya demikian?" Sahut Alika dengan formal.
"Saya merasa jika kedekatan anda dengan anak angkat anda sudah melebihi batas bukankah ada baiknya jika anda menikah lagi dan memisahkan diri dari mereka" Ucap Beca tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Saya rasa anda sama sekali tidak memiliki hak untuk mengatakan hal itu... karena ini adalah acara makan malam keluarga yang seharusnya damai" Sahut Jingmi membela Alika.
"Tapi bukankah tidak baik jika seorang janda tinggal serumah bersama tiga orang pria yang usianya tidak jauh beda darinya? Bukankah akan banyak orang yang mempertanyakan soal harga diri anda nyonya?" Ucap Beca kembali memojokan Alika.
Alika kemudian meletakan alat makanya dan menatap Beca dengan tatapan sinis.
"Tidak ada satupun orang yang berhak menanyakan perihal harga diri saya, Karena saya memiliki alasan kenapa saya memilih untuk tetap tinggal bersama dengan mereka anda mungkin masih terlalu muda untuk mengerti tapi perlu anda tau harga diri saya selalu menjadi hal yang bahkan ayah and sendiri tidak pernah berani untuk menanyakanya.
Anda melihat saya tinggal bersama ketiga pemuda ini tapi anda tidak pernah tau apa yang sudah saya lalui agar bisa selalu bersama dengan mereka hingga saat ini." Ucap Alika sembari menahan amarahnya.
"Nyonya anda tidak perlu marah... saya hanya bertanya lagi pula melihat dari sikap anda ini saya akansulit percaya jika anda masih menjaga kesucian anda semenjak berpisah dari mantan suami anda"
"Tutup mulut mu!" Bentak Hans kepada Beca.
"Ayah anda sendiri tidak pernah berani mengatakan hal semacam itu kepada ibu kami" Ucap Jingmi kesal.
"Anda sangat berani untuk meragukan harga diri ibu kami, sepertinya anda harus belajar cara untuk menghargai orang yang lebih tua" Ucap Rio sembari berjalan ke arah Alika.
"Bagaimana bisa kau meragukan harga diri dari orang yang sudah pernah menikah tapi tetap menjaga kesucinya untuk orang yang dia cintai dan tetap memilih sendiri ketika orang yang dia cintai itu sudah tiada! Aku pun tidak percaya jika kau akan sesetia itu pad ku disaat aku sudah mati nanti! Dia adalah wanita yang dengan kasih sayang menjaga dan merawat kami meski dia tau itu sulit.
Dia kehilangan cintanya didepan matanya sendiri tapi hingga saat ini dia masih setia tanpa pernah berpikir untuk belajar mencintai orang lain! Kau adalah orang pertama yang berani menanyakan tentang kesucianya! Semua orang selalu memujinya karena cintanya yang setia dan kau lancang sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya kau katakan!" Ucap Hans memarahi Beca.
Alika pergi meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri disana, Alika duduk diatas tempat tidurnya dan melihat foto kebersamaanya dengan Dean dan Johan.
__ADS_1
Alika meraih foto itu dan menatapnya sambil tersenyum. "Hari ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama ada orang yang meragukan kesetiaan ku pada cinta... dia meragukan kesucian ku sebagai seorang wanita, dia tidak pernah tau jika aku adalah wanita yang sudah kehilangan suami ku yang aku percaya dan juga anak tiri ku yang merupakan cinta pertama dan terakhir ku dalam sebuah bentuk pengorbanan" Ucap Alika dalam hati sembari memeluk foto lama itu.
Beca masih duduk diruang makan itu dengan tangan yang gemetar. Hans meninggalkan ruangan itu Rio dengan sengaja menjatuhkan gelas kemudian beranjak pergi dengan Jingmi.
Mereka semua menuju kamar Alika dan mengetuk pintu kamarnya. Mereka berusaha untuk bicara denganya tapi Alika menolak meminta mereka semua untuk pergi beristirahat.
Beca meninggalkan rumah Alika dengan perasaan marah dan juga malu. Dia merasa kesal karena Hans membela Alika dan merendahkanya dihadapan keluarganya, sesampainya dirumah Beca mengadukan hal itu kepada ayahnya.
"Beca!" ucap ayah Beca membentak anaknya.
"Beraninya kau menanyakan hal semacam itu kepada orang yang tidak tepat! Dia adalah wanita yang sudah menjadi contoh dari semua kalangan tua, muda, istri, dan para janda selalu memujinya dia adalah wanita yang memiliki hati dan keteguhan didalam dirinya.
Dan kau dengan sangat berani mengatakan hal itu?! Kepada seorang Alika?! Kau?!... ini semua salah ku.
Aku terlalu memanjakan mu hingga aku lupa mengajarkan mu cara untuk memghormati orang lain" Ucap ayah Beca menegur anaknya.
"Ayah tapi dia hanya ibu angkat Hans, tapi Hans menatapnya dengan penuh cinta! Aku cemburu ayah!" Ucap Beca dengan nada tinggi.
"Bodoh! Asal kau tau jika Alika tidak ada saat itu untuk menyelamatkan ketiga pemuda itu maka mungkin hari ini kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan Hans! Apa kau tau seperti apa dia berjuang sendirian menyelamatkan ketiga anak angkatnya itu?! Dia adalah wanita yang hebat... kau tidak akan pernah tau seperti apa kisah perjunganya, aku adalah sahabat dari mantan suaminya aku tau semua kisah tentang Alika kau tidak berhak untuk menghinanya karena semua yang kita lakukan untuk membantu Alika dan keluarganya sama sekali tidak cukup jika dibandingkan dengan apa yang sudah dia lakukan untuk membantu keluarga kita dimasa lalu" Sahut Ayah Beca yang kemudian pergi meninggalkanya seorang diri diruang tamu.
Malam semakin larut Alika kemudian berjalan menuju kehalaman belakang rumahnya. Alika duduk dikursi panjang yang ada ditempat itu dan menatap keatas langit yang diselimuti mendung. Alika kemudian beranjak dan berjalan menuju bunga matahari kesayanganya.
"Dean... apa kau sudah lupa pada ku? Aku masih disini mencintai mu dan hidup didalam kenangan kita, aku tidak pernah melupakan mu tidak walau hanya sejenak. Gadis itu telah mengingatkan ku pada kesalahan ku dimasa lalu dia mungkin tidak tau apapun tentang ku tapi meragukan ku adalah sebuah kesalahan...
__ADS_1
Dean aku tidak ingin ada perpisahan lagi diantara aku dan ketiga anak ini. Ku mohon kau bisa mengerti... kelak aku pasti akan menemui mu dan disaat kita bertemu aku akan mengatakan pada mu dengan bangga jika aku sudah berhasil membesarkan dan menjaga harta peninggalan mu yang berharga" Ucap Alika dalam hati sembari menitikan air mata.