
Mendengar ucapan Alika Dean pun terdiam. Dia membayangkan ada berapa banyak orang yang menangis karena kehilangan orang tercintanya, ada berapa banyak anak yang terlantar karena kehilangan orang tuanya, dan berapa banyak air mata yang jatuh karena semua rasa kehilangan itu. Dan itu semua terjadi adalah karena dirinya.
Dean menggengam tirai yang ada didepan Alika dan membukanya lebar-lebar. Dean menatap keluar jendela dan melihat deras air hujan yang membasahi tanah itu, Dean membayangkan wajah orang-orang yang menangis ketika melihat jenazah orang yang mereka sayangi.
Dean pun kemudian teringat ketika dia melihat Tao meninggal didepan matanya dan dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Hati Dean terasa sangat sakit ketika memikirkan hal itu, Alika menatap wajah Dean yang dipenuhi dengan kesedihan dan rasa bersalah.
Alika berjalan satu langkah dan berdiri tepat dihadapan Dean. Dean berdiri menghadap Alika dan berlutut dihadapannya, Dean menangis dan melipat kedua tanganya sembari berlutut dihadapan Alika.
"Aku bersalah. Aku salah... aku sangat salah" Ucap Dean terisak tangis penyesalannya.
Alika pun ikut menitikkan air mata. Alika duduk bersimpuh dihadapan Dean dan menggenggam kedua tangan Dean yang terlipat memohon pengampunan, air mata dan penyesalan kini menjadi sahabat terdekat didalam hidup Dean.
__ADS_1
"Jika kau menyesali perbuatan mu... berjanjilah untuk tidak mengulanginya" Ucap Alika sembari menitikan air mata.
"Aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan ku" Sahut Dean dengan terisak tangis.
"Kau harus menenangkan dirimu kemudian berfikir secara jernih, dan kemudian perbaiki kesalahan mu dengan kebaikan hati mu" Ucap Alika sembari membelai wajah Dean.
"Aku... apa aku harus menyerahkan diri ke polisi?" Ucap Dean bertanya kepada Alika.
"Semua terserah pada hati mu... percayalah jika suara hati mu tidak akan pernah salah" Sahut Alika dengan berat hati.
"Dean... kau memang harus memperbaiki kesalahan mu, tapi bagaimana dengan Rio dan aku? Berpisah dari mu selama sehari atau dua hari kami mungkin bisa, tapi untuk seumur hidup kami tak akan sanggup..." Sahut Alika dengan sepenuh hati.
__ADS_1
"Kau?..." Ucap Dean terkejut.
"Dean aku tidak bisa melihat mu tersiksa ataupun terluka lagi... jika memang kau ingin memperbaiki segalanya biarkan aku ada untuk mendukung mu, aku tidak bisa kehilangan lagi" Sahut Alika sembari menatap mata Dean penuh cinta.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Dean bimbang.
"Kita akan pikirkan semua itu nanti... sekarang ayo bangun kau harus istirahat, kondisi mu bisa memburuk jika duduk dilantai terlalu lama... nanti siapa yang akan menjaga Rio kalau kau sakit?" Ucap Alika sembari menghapus air matanya.
"Biarkan aku disini... biarkan rasa dingin ini menghilangkan api yang selama ini ada didalam hati ku" Sahut Dean menolak nasehat Alika.
"Jika kau ingin padamkan api itu maka padamkanlah dengan kebaikan, bukan dengan menyiksa dirimu seperti ini"
__ADS_1
"Apa aku masih bisa berbuat baik? Apa aku pantas disebut manusia? Aku bahkan sudah membuat seorang anak yang polos berubah menjadi monster, apa aku masih pantas disebut manusia?" Ucap Dean dengan penuh penyesalan.
Alika pun terdiam, dia tidak bisa lagi bekata-kata. Alika memeluk Dean dengan penuh cinta dan memapahnya kemudian membaringkanya disofa. Alika memanggil seorang dokter dan memintanya memasangkan selang infus baru untuk Dean serta memberinya obat penenang. Alika terjaga semalaman untuk merawat Dean dan juga Rio.