
"Kakak membawakan hadiah untuk mu, ini coba lihat" Ucap Dean sembari mendekati Li dan menunjukan hadiahnya.
"Ponsel?" Sahut Li bingung.
"Iyap. Sini kakak ajarkan kamu cara memakainya" Ucap Dean yang kemudian mengajarkan Li cara menggunakan ponsel itu.
Melihat Li yang terlihat senang dengan hadiah dari Dean membuat hati Alika tenang. Alika duduk disofa memperhatikan Li yang sedang asik dengan ponsel barunya dan Dean yang mengajarinya, Johan duduk disamping Alika dan memberikan hadiah untuknya.
"Aku meminta mu membawakan hadiah untuk Li bukan aku" Ucap Alika acuh.
"Hadiah untuk Li ada tapi yang ini untuk mu" Sahut Johan lirih.
"Sebaiknya kau dekati Li tadi dia menanyakan diri mu" Sahut Alika sembari beranjak dari duduknya.
"Bunda" Ucap Li memanggil Alika.
"Iya" Sahut Alika dengan cepat.
"Bunda ponsel ini boleh tidak kalau ku pakai untuk bermain game?"
"Dari tadi dia ku ajari cara menggunakan ponsel ini tapi selalu menjawab dengan pertanyaan apa kau akan izinkan dia menggunakanya atau tidak" Ucap Dean mengadukan tingkah menggemaskan Li pada Alika.
__ADS_1
"Boleh asalkan kau berjanji akan memainkanya dengan bijak dan tidak akan lupa waktu" Sahut Alika sembari tersenyum.
"Ayah juga punya hadiah untuk mu" Sahut Johan sembari memeberikan hadiahnya pada Li.
"Ayah apa ini?" Tanya Li bingung.
"Buka saja kau pasti akan suka" Ucap Johan dengan lembut.
Li membuka hadiah dari Johan dengan sangat hati-hati. Saat Li melihat isi hadiah dari Johan dia tersenyum bahagia, Li sangat menyukai hadiah dari Johan. Johan memberikan sebuah Arloji yang sama seperti miliknya untuk Li.
"Ayah ini bagus sekali, terimakasih" Ucap Li sembari tersenyum gembira.
"Terimakasih kak, terimakasih ayah" Ucap Li menurut.
Setelah Li tertidur Alika membawa Dean dan Johan untuk makan malam bersama dan berdiskusi.
"Dean bagaimana dengan kuliah Rio?" Tanya Alika membuka pembicaraan.
"Ini tahun terakhir kuliahnya, setelah lulus dia akan jadi reporter... hah... aku cemas karena anak itu ceroboh jadi reporter sepertinya kurang cocok" Ucap Dean mengeluh.
"Jangan remehkan dia, dia anak yang cerdas" Sahut Alika membela.
__ADS_1
"Bagaimana kalau A Li disekolahkan ke sekolah khusus saja" Ucap Johan menyarankan.
"Aku ingin Li bersekolah ditempat dimana aku bisa mengawasinya selalu, karena Li belum pernah bersosialisasi sebelumnya" Sahut Alika cemas.
"SMA Berlian sepertinya bagus juga, disana adalah sekolah khusus anak-anak konglomerat dan para miliuner... orang tua dan para ajudan biasanya diberi kebebasan untuk mengawasi anak atau majikannya yang bersekolah disana" Ucap Johan memberikan saran.
"Sepertinya bagus juga" Sahut Dean mennggapi.
"Aku perlu memastikan sekolahnya dulu, Li masih sangat sensitif pada hal baru aku tidak ingin dia terpengaruh hal buruk atau menjadi anak yang pendiam" Ucap Alika menanggapi.
"Di SMA Berlian kita bisa bergantian menjaganya saat bersekolah" Ucap Dean memberikan pendapat.
"Tidak perlu... aku saja sudah cukup untuk menjaganya" Sahut Alika acuh.
"Aku akan mendaftarkan A Li ke SMA Berlian itu secepatnya, aku juga yang akan mengurus masalah identitas barunya jadi kalian tidak perlu khawatir." Ucap Johan dengan tenangnya.
"Itu memang urusan mu sebagai ayahnya" Sahut Alika sembari melahap makananya.
"Dua hari tidak makan sepertinya kau tambah kurus" Ucap Dean menggoda Alika.
"Setelah ini aku harus diet lagi" Sahut Alika sembari menikmati bakmi dan pangsit gorengnya.
__ADS_1