Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Khawatir.


__ADS_3

Alika membawa Jingmi pergi bersamanya. Alika menggenggam erat tangan anaknya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Ibu tangan ibu terluka..." Ucap Jingmi khawatir.


"Jangan cemaskan ibu... pergilah temui kakak-kakak mu katakan pada mereka untuk menjaga mu, ibu harus pergi untuk mengurus sesuatu kau tidak boleh ikut begitu juga dengan kedua kakak mu ingat jika wanita tadi atau siapapun selain ibu atau kedua kakak mu ingin membawa mu pergi maka kau harus melawan... mengerti?" Sahut Alika memperingatkan putranya.


"Ibu... aku ingin tetap bersama mu" Ucap Jingmi dengan mata berkaca-kaca.


"Ibu akan segera pulang... ibu janji" Sahut Alika yang kemudian memberikan kode kepada anak buahnya untuk mengunci pintu mobil dan menutup kacanya. Alika kemudian memalingkan wajahnya dan memberikan isyarat agar mobil yang dinaiki Jingmi dan salah seorang anak buah kepercayaan Alika itu segera berangkat.


"Kalian berdua muncul kembali setelah sekian lama... aku tau itu jelas bukan hal yang baik tapi sebelum aku menangani kalian aku masih harus mengurus orang yang lebih berbahaya dari kalian" Ucap Alika dalam hati.


Alika kemudian naik ke mobil lain yang sudah dia siapkan. Alika mematikan hp ny dan mengaktifkan hp nya yang lain, Alika memutuskan untuk pergi sendiri mengurus hal yang dia anggap berbahaya ini demi melindungi anak-anaknya.


Saat mobil Alika berjalan menyusuri jalanan yang sepi supir Alika mengatakan jika ada orang yang sedang mengikuti mereka.


"Terus fokus dan dengarkan instruksi ku" Ucap Alika memberikan perintah.

__ADS_1


"Baik nyonya"


"Johan... apa yang kau inginkan kenapa kau mengikuti ku? Kau kira aku tidak akan mengenali mu? Meski kau berganti mobil seribu kali sekalipun aku akan tetap mengingat gaya menyetir mu." Ucap Alika dalam hati sembari tersenyum menyeringai.


Sementara itu Jingmi sudah sampai dikantor dia langsung bergegas ke ruangan Hans dan Rio. Kebetulan saat itu Hans dan Rio sedang ada rapat untuk membahas masalah pengembangan perusahaan mereka tapi Jingmi masuk ke ruangan itu dengan menerobos penjagaan yang ada disana.


Saat Jingmi masuk ke dalam ruangan itu Hans dan Rio kebingungan karena melihat lengan baju adik mereka berlumuran darah. Hans segera menghampiri Jingmi dan bertanya tentang apa yang terjadi.


"Kakak..." Ucap Jingmi dengan nafas yang terengah-engah.


"Katakan ada apa" Ucap Rio setelah mengakhiri rapat itu dan menyuruh semua orang untuk keluar.


"Rio kau jaga Jingmi aku akan menyusulnya" Ucap Hans sembari mengambil kunci mobil yang ada diatas meja tapi Rio menggenggam tanganya dan menghentikan Hans.


"Kak ibu menyuruh kita untuk menunggu selain itu kemana kau akan mencari ibu kita tidak punya petunjuk apapun" Ucap Rio mencoba menenangkan Hans.


"Dia seorang wanita dan dia sedang terluka bagaimana mungkin aku bisa membiarkan dia pergi sendirian?! Dia melarang kita untuk ikut itu artinya dia akan menghadapi bahaya dan dia tidak ingin kita untuk terlibat" Ucap Hans dengan keras kepalanya.

__ADS_1


"Kakak ibu bukanlah wanita yang lemah dia adalah wanita yang kuat kau harus percaya kepadanya" Sahut Rio membujuk Hans.


"Dengar kau harus tetap bersama dengan Jingmi aku pasti akan kembali setelah aku menemukan ibu" Ucap Hans yang kemudian keluar dari ruangan itu dengan sangat tergesa-gesa.


Rio dan Jingmi hanya bisa diam melihat Hans pergi begitu saja. Rio kemudian memapah Jingmi untuk ke ruanganya agar Jingmi bisa beristirahat.


Alika memutuskan menyuruh sopirnya untuk menepikan mobilnya dan keluar dari mobil. Mobil yang mengikuti Alika juga ikut menepi dan benar yang keluar dari mobil itu adalah Johan. Johan menghampiri Alika dan memulai pembicaraan denganya.


"Kenapa kau mengikuti ku?" Tanya Alika dengan sedikit kesal.


"Karena aku ingin melindungi mu" Sahut Johan singkat.


"Aku tidak membutuhkanya dan kalau ada orang yang harus kau lindungi itu adalah anak-anak karena penyihir yang kau pelihara itu sudah hampir melukai anak kita" Ucap Alika menegur dengan tegas.


"Sila? Tapi dia ada diluar kota" Sahut Johan bingung.


"Entah kau percaya atau tidak itu urusan mu tapi ku peringatkan jika dia sampai berani menyentuh anak-anakku aku tidak akan pernah memaafkanya" Ucap Alika sembari berlalu pergi.

__ADS_1


Johan menghentikan langkah Alika dengan menggenggam erat tanganya. "Aku tau kau akan pergi kemana jadi ku minta jangan pergi" Ucap Johan dengan lembut.


"Kau urus saja urusan mu sendiri ini sama sekali tidak ada hubunganya dengan mu"Sahut Alika sembari melepaskan tanganya dari Johan.


__ADS_2