
Saat malam tiba Alika melihat semua orang terdiam dan membisu. Rumah yang dulunya dipenuhi dengan gelak tawa dan kebahagiaan kini tak ada bedanya dengan ruangan yang hampa.
Alika tau jika semua orang juga terluka sama seperti dirinya. Namun dia juga tidak tega saat melihat semua orang kehilangan senyuman dan juga kebahagiaanya.
"Kita sudah melalui masa-masa yang berat, kita semua melalui banyak kesulitan dan berduka sangat dalam... bagaimana jika kita pergi liburan sebentar?" Ucap Alika membuka pembicaraan.
Rio kemudian beranjak dari duduknya dan berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Kak" Ucap Hans lirih.
"Tidak apa Hans... aku tau Rio pasti juga butuh waktu untuk bisa bangkit dari keterpurukanya" Sahut Alika dengan tegar.
"Besok Nana akan datang"
"Kau memintanya datang?" Tanya Alika pada Hans penasaran.
"Iya"
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada masalah dengan kesehatan mu?"
"Tidak kak... aku hanya ingin bertemu dan bicara denganya" Sahut Hans yang kemudian berlalu pergi.
Tak lama berdelang Alika mendengar suara bel rumah berbunyi. Alika segera membukakan pintu dan Alika melihat Johan yang sedang mabuk berat dipapah oleh Kafa.
"Bu... bapak hari ini minum banyak sekali bu" Ucap Kafa dengan raut wajah menyesal.
"Bawa bapak ke kamarnya biar dia istirahat... setelah itu kamu boleh pulang" Sahut Alika lembut.
Alika masuk ke dalam kamar Johan dengan membawa semangkuk air hangat. Deangan kelembutan Alika menyapu wajah dan tangan Johan dengan lembut dan penuh kasih.
"Kenapa kau meakukan ini? Apa kau tidak bisa memikirkan tentang masa depan Jingmi? Sampai kapan? Sampai kapan dia harus memiliki seorang ayah pecundang seperti mu?!" Ucap Alika kesal yang kemudian beranjak dari duduknya.
"Iya aku pecundang! Aku ini pecundang! Aku ini Brengs*k! Aku ini bajing*n! Lalu kenapa?!" Sahut Johan membentak Alika.
"Aku ini hanya seorang ayah... aku ini hanya ingin anakku berada disisi ku! Aku gagal!" Sambung Johan sembari menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Alika yang bisa merasakan penderitaan Johan hanya bisa terdiam sembari menitikan air mata. Alika sendiri tidak tau harus berkatapa apa dan harus berbuat bagaimana karena dia sendiri juga masih sangat terluka.
"Setidaknya kau masih punya satu anak... sayangilah dia dan jangan ulangi kesalahan yang sama" Sahut Alika menasehati dengan lembut.
"Andaikan aku tidak memiliki penyakit sialan ini! Aku pasti bisa memberikan jantung ku pada anakku, kenapa?! Kenapa aku begitu tidak berguna?! Bahkan melindungi anakku sendiri aku tidak bisa!" Ucap Johan marah sembari berusaha bangkit dari duduknya dengan sempoyongan dan kemudian jatuh ke lantai.
Alika yang melihat itu begegas membantu Johan namun Johan menolak bantuan Alika dengan kasar dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Apa kau tau? Seandainya saja kau tau jika bukan hanya diri mu tapi aku juga terluka... akupun sangat terluka" Ucap Alika dalam hati sembari menitikan air mata.
Alika kemudian bangkit dan membantu Johan untuk kembali duduk diatas tempat tidur. Alika kemudian keluar dari kamar Johan dan dia melihat Jingmi sudah berada didepan pintu.
"Kau mendengar semuanya?" Tanya Alika memastikan.
"Bunda... aku berjanji aku akan menjadi seorang dokter yang hebat kemudian aku dan kak Rio kami akan mengobati dan menyelamatkan banyak orang, sampai hari itu tiba tolong bersabarlah" Sahut Jingmi yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Alika.
Mendengar ucapan Jingmi, Alika hanya bisa menangis. Semuanya menjadi begitu kacau bahkan semuanya kini hanyalah seperti lautan air mata baginya.
__ADS_1
"Li Jingmi... nama itu ku berikan dengan penuh do'a dan harapan, disaat kau mulai bisa merasakan secerca kebahagiaan kau justru harus menghadapi sebuah kehancuran... tolong maafkan bunda yang tidak bisa membuat mu bahagia, kini kau harus menjadi dewasa karena terpaksa semoga kelak kau bisa mencari jalan kebahagiaan mu sendiri" Ucap Alika dalam hati dengan terisak tangis.