
Saat Dean meninggalkan kamar Johan dan Alika sama sekali tidak menyadarinya. Keduanya teralihkan saat menolong seorang pria tua yang jatuh didekat mereka dan mengantarkanya kembali ke kamarnya.
Dean bersama dengan beberapa anak buahnya pergi menuju apartemen tempat mereka akan berkumpul. Selama perjalanan Dean menahan nyeri didadanya meski dia tau kondisinya saat ini tidaklah baik tapi dia juga tidak bisa menunda rencana ini, karena dia tidak ingin jika Johan dan Alika mengetahui kebenaran tentang rencana gilanya.
Saat sampai diapartemen Dean disambut oleh beberapa anak buahnya yang lain. Dean duduk dikursi dan menghitung jumlah anak buahnya.
"Bukankah kalian berjumlah dua puluh orang?" Tanya Dean lirih.
"be-benar tuan" Salah seorang dari mereka menjawab.
"Lalu kenapa hanya ada delapan belas orang diruangan ini?" Tanya Dean dengan nada yang lebih tinggi.
"Dua orang dari kami sedang membereskan kelompok brandalan yang sudah menembak tuan"
"Benar juga aku lupa tentang itu, habisi saja mereka semua dan jangan sisakan barang bukti apapun. Aku percaya dua orang saja dari kalian sudah cukup untuk mengabisi sekelompok brandal pigir jalan itu" Sahut Dean sembari beranjak dari duduknya.
"Tuan. mereka semua sudah dibereskan, keseluruhan anggota kelompok brandal itu ada tiga puluh orang dan semuanya sudah dibereskan oleh Tao dan Rio... mereka menciptakan suasana kerusuhan dan membuat mereka seakan tewas karena pertarungan antar kelompok berandal" Ucap salah satu anak buah Dean yang baru saja mendapatkan info dari teman mereka yang sedang bertugas.
"Tao dan Rio ya?..."
__ADS_1
"Benar tuan"
"Hm... bagus jadi urusan tentang tikus jalanan itu sudah selesai, sekarang tinggal urusan lainya" Ucap Dean sembari memegang pundak anak buahnya.
"Apa Tao dan Rio sudah menuju kemari?" Tanya Dean dengan tegas.
"Benar tuan, mereka akan sampai dalam lima menit" Sahut salah seorang dari mereka.
"Bagaimana tentang informasi soal wanita bernama sarah yang aku tugaskan pada mu Hans?" Tanya Dean kepada seorang pria berbadan tinggi dan berkulit putih keturunan Tionghoa itu.
"Semuanya sudah beres tuan, semua yang tuan ingin ketahui ada disini" Sahut Hans sembari menyerahkan map coklat kepada Dean.
Dean memeriksa semua data mengenai perusahaan itu dan dia merasa tertarik untuk mempelajarinya. Tak lama kemudian Tao dan Rio tiba dan memberikan hormat serta menyapa Dean.
"Hans cari informasi lebih lanjut tentang perusahaan itu, aku inginkan detailanya secepat mungkin dan kalau bisa kau bergabunglah dengan mereka dan berikan aku semua informasi mengenai perusahaan ini" ucap Dean memberikan perintah kepada Hans.
Dean kemudian berjalan kearah Rio dan Tao. Dean menyambut mereka dengan senyuman dan memuji hasil kerja keduanya, Dean meminta Tao dan Rio untuk duduk berhadapan dengannya.
"Tuan maaf kami datang terlambat" ucap Tao kepada Dean dengan penuh hormat.
__ADS_1
"Tao, Rio, Hans. Kalian bertiga adalah orang kepercayaan ku dan kalian sudah ku anggap seperti adikku sendiri, kalian selama ini sudah melindungiku dan bekerja dengan baik untukku. Terimakasih" ucap Dean memberikan pujian dan sanjungan.
"Tuan anda adalah orang yang sudah Mengajarkan kami untuk bisa bertahan hidup didunia yang kejam ini, anda juga adalah tuan yang tidak pernah meninggalkan kami dalam keadaan apapun.
Bahkan disaat Rio terluka dihari kita menghancurkan perusahaan Xx Saingan ayah anda. Anda menggendongnya meski saat itu kaki anda juga terkena luka tembak dari penjaga sialan itu" sahut Tao mengenang kebaikan Dean.
"Kalau di ingat-ingat lagi kita memang seperti saudara ya?" Ucap Dean sembari tersenyum.
"Tapi Rio apa luka itu sudah sepenuhnya sembuh?" Tanya Dean kepada Rio dengan tulus walau dengan nada bicara yang acuh.
"Luka itu tidak separah luka anda saat ini tuan, seharusnya saya yang mengakhawatirkan anda" Sahut Rio dengan perasaan menyesal.
"Kau ini seperti baru mengenalku saja. Aku tidak akan mati hanya karena luka seperti ini" Sahut Dean menghibur Rio.
"Tuan saat bertugas tadi Rio terlalu emosional sehingga dia brutal sekali saat melakukan penyerangan, dia bahkan hampir meremukan tulang pemimpin brandalan itu menjadi butiran debu halus" Ucap Tao memberikan informasi keada Dean.
"Kau pasti kesal sekali dengan tindakan Rio yang emosional itu" Sahut Dean menggoda Tao.
"Emosional sedikit juga bagus Rio. yang terpenting adalah kalian sudah menyelesaikan tugas dengan baik, tugas kalian selanjutnya adalah mengalihkan barang bukti" Ucap Dean memuji Rio sembari membenahi posisi duduknya.
__ADS_1