Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Wanita Satu-Satunya


__ADS_3

Saru-persatu dari mereka kemudian meninggalkan Johan dan Dean. Mereka berjalan menghampiri Alika dan memberika bunga mawar putih yang mereka bawa, Alika menerima bunga itu dengan senyum ketulusan.


Setelah semua orang pergi dan diantarkan oleh anak buah Johan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Alika tersenyum bangga karena akhirnya Johan dan Dean berani untuk mengakui kesalahan mereka meski akhirnya mereka pun terluka.


"Kalian sudah membuktikan pada ku jika kalian memang ingin berubah" Ucap Alika sembari duduk bersimpuh dihadapan Dean dan Johan.


"Kau... wanita satu-satunya yang bisa membuat para iblis seperti kami menjadi manusia" Sahut Dean memuji Alika dan tersenyum meski wajahnya dipenuhi memar dan tubuhnya terluka.


"Iya. Dan untuk itu aku berhak mendapatkan penghargaan bukan" Ucap Alika menggoda Dean dan Johan.


"Kita perlu ke rumah sakit, mungkin tulang rusukku retak" Ucap Johan sembari tersenyum menggoda Alika.


"Kita akan ke rumah sakit... aku akan menepati janji ku untuk menjaga kalian, aku tidak akan membiarkan kalian tiada sebelum aku" Ucap Alika sembari membantu kedua pria itu berdiri.


"Aku bebas!!" Teriak Dean melepaskan beban yang tersimpan dihatinya.


"Hei apa dia gila?" Tanya Johan dengan konyolnya.


"Jika anaknya gila maka ayahnya pasti lebih gila" Sahut Alika sembari tersenyum bahagia.


Dean menarik tangan Alika namun Johan menahanya. Alika tersenyum dan kemudian melepaskan tanganya dari genggaman kedua pria itu.

__ADS_1


"Kafa biarkan Jingmi kemari" Ucap Alika memberikan perintah.


Jingmi berlari dan memeluk Johan dengan erat. Untuk pertama kalinya saat itu Alika melihat Johan memeluk Jingmi dengan penuh kasih sayang dan mencium kening putranya itu dengan penuh ketulusan, Alika pun merasa sangat bahagia sampai dia menitikan air mata.


"Ayah... kakak kalian terluka ayo pergi dari sini dan obati luka kalian" Ucap Jingmi dengan raut wajah polosnya yang menggemaskan.


"Kemari biar kakak lihat apa adik kecil ini sudah tumbuh dewasa" Sahut Dean yang kemudian memeluk Jingmi dengan penuh kasih sayang.


"Ternyata dia masih adik kecil yang tadi aku tinggalkan, dia belum tumbuh sama sekali" Ucap Dean menggoda Jingmi.


"Baiklah ayo kita ke rumah sakit sekarang" Sahut Alika khawatir.


"Kau apa?" Tanya Alika penasaran.


"Memeluk kalian" Ucap Dean yang kemudian menarik Alika dan Jingmi ke dalam pelukanya.


Alika membalas pelukan Dean dengan senyuman. Alika kemudian melepaskan tangan Dean dan pergi menghampiri Hans.


"Kakak... kau mencintainya kenapa kau mengabaikanya?" Tanya Hans kepada Alika.


Alika hanya membalas ucapan Hans dengan senyuman dan kemudian Alika membantu Hans untuk berdiri. Karena sangat tidak memungkinkan bagi Hans untuk berjalan mereka memutuskan untuk beristirahat divila dan memanggil dokter.

__ADS_1


Setelah semua diobati Alika segera menyiapkan makan malam untuk semua orang. Alika memasak bubur putih manis dan membuat sirup bery.


"Bunda..." Ucap Jingmi mengejutkan Alika.


"Iya" Sahut Alika terkejut.


"Bunda tinggi ku 161" Ucap Jingmi sembari tersenyum lebar.


"Woah... tingginya hampir sama kaya bunda" Sahut Alika memuji.


"Anak ayah ini memang sudah besar" Ucap Johan memuji.


"Kalian duduklah... aku akan menyajikan makanan" Ucap Alika sembari menuangkan sirup ke dalam mamgkuk.


"Kak" Ucap Rio memanggil Alika.


"Iya..." Sahut Alika yang masih sibuk dengan pekerjaanya.


"Kak... buahnya ini taruh mana?" Tanya Rio sembari membawa sekeranjang besar buah jeruk.


"Kau. Kenapa kau memetik jeruk sebanyak itu" Sahut Alika sembari tersenyum geli.

__ADS_1


__ADS_2