
Setelah mereka semua memutuskan untuk tinggal disatu rumah Jingmi terlihat sangat senang. Melihat Jingmi yang gembira membuat hati Alika juga merasa gembira, meskipun baru saja keluar dari rumah sakit karena kejadian pagi tadi tapi Jingmi terlihat sangat sehat. Mungkin itu karena dia terlalu gembira jadi fisiknya juga menjadi lebih kuat.
Setelah makan malam semuanya berkumpul diruang keluarga. Johan dan Dean masih sibuk dengan pekerjaan mereka dan asik berdiskusi, sementara Hans dan Rio menemani Jingmi belajar sembari bermain.
Alika memperhatikan kedekatan mereka dan kemudian tersenyum. "Ini sudah malam kalian istirahatlah, Jingmi juga harus istirahat" Ucap Alika dengan penuh perhatian.
"Bunda... malam ini boleh tidak kalau aku tidur dikamar kakak Dean?" Ucap Jingmi meminta izin.
"Jingmi jangan buat kakak mu repot, kamu tidur dikamar bunda saja" Sahut Alika karena sungkan.
"Bunda... semenjak dirumah sebulan aku dirawat dirumah sakit kakak hanya datang menjenguk sebentar tidak pernah benar-benar punya waktu untuk ku, padahal ayah dan kedua kakak yang lain selalu ada waktu menemani ku bermain atau mengobrol sampai aku tertidur...
Hari ini ada kesempatan bisa bersama kakak tapi kakak juga masih sibuk bekerja. Kalau malam ini tidur dengan kakak akan membuat ku tidak merindukanya lagi" Ucap Jingmi dengan kepolosanya.
Mendengar ucapan Jingmi hati Dean pun akhirnya luluh, Dean duduk dihadapan Jingmi yang sedang duduk dilantai. "Malam ini ingin tidur dengan kakak juga tidak masalah... maaf ya karena kakak terlalu sibuk sampai lupa memberikan mu perhatian" Ucap Dean dengan penuh kasih sayang.
"Kalau begitu baiklah... sekarang semuanya ayo cepat kembali ke kamar masing-masing dan tidur, Rio jangan begadang besok kau ada janji dengan reporter Aldo untuk belajar denganya bukan" Ucap Alika mengingatkan.
__ADS_1
"Iya kak kami berjanji untuk bertemu jam sembilan pagi dicaffe Indah" Sahut Rio dengan sopan.
"Kalau begitu akan lebih baik jika kita semua istirahat sekarang, karena kalian pasti akan sibuk sekali besok... aku akan ke kantor setelah jam makan siang jadi pagi harinya aku yang akan menjaga Jingmi" Ucap Alika dengan nada datar.
"Setelah makan siang aku sudah tidak ada pekerjaan jadi aku yang akan menggantikan untuk menjaga Jingmi setelah kakak Alika" Ucap Hans dengan senang hati.
"Sorenya sepulang dari kantor aku yang akan menjaganya jadi kalian bisa istirahat" Sahut Johan sembari tersenyum lembut.
"Dijaga oleh ketiga kakak, ayah, dan bunda rasanya seperti menjadi pangeran kesayangan didalam istana" Ucap Jingmi menggoda semua orang.
Semua orang pun tersenyum geli mendengar ucapan Jingmi. "Baiklah pangeran... khusus malam ini kakak mu yang sangat menyayangi mu ini akan menggendong mu hingga ke kamar" Ucap Rio sembari menawarkan punggungnya pada Jingmi.
"Baik pangeran" Sahut Rio sembari tertawa.
Rio benar-benar menggendong Jingmi menuju kamar Dean. Kemudian disusul dengan Hans dan Johan yang juga segera menuju kamar mereka untuk beristirahat, Alika segera keluar dari ruang keluarga dan menutup pintu ruangan itu.
Alika dan Dean berjalan bersama menuju kamar mereka. "Jingmi terlihat sangat bahagia" Ucap Dean membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Itulah tujuan ku" Sahut Alika singkat.
"Alika... terimakasih atas hukuman mu karena hukuman dari mu aku kini bisa merasa menjadi manusia" Ucap sembari mentap mata Alika.
"Dunia ini memiliki caranya sendiri untuk menghukum setiap orang, meskipun hukuman terbesar mu adalah cinta ku tapi hukuman itupun sebenarnya masih belum cukup untuk menebus setiap dosa mu" Sahut Alika dengan sepenuh hati.
"Aku tau... aku sudah mencari informasi mengenai keluarga dari semua orang yang sudah pernah ku sakiti dan ku habisi, aku mengirimkan bantuan secara diam-diam kepada mereka. Aku juga sudah memberikan mereka semua informasi mengenai kematian dan tempat dimana anak mereka dimakamkan" Ucap Dean dengan perasaan menyesal.
"Adakanlah pertemuan dengan mereka dan jujurlah pada mereka, dengan begitu kita baru akan tau apakah mereka sudah memaafkan mu atau belum" Sahut Alika kembali memberikan saran.
"Setelah ku selidiki ternyata mereka semua hanyalah petani dan pedagang kecil dipasar tradisional, mereka semua tidak berpendidikan dan hidup serba kekurangan... aku membantu mereka dengan memberinya suntikan dana secara diam-diam jika mereka bertemu dan tau jika aku adalah pembunuh dari anggota keluarga mereka, maka mungkin mereka akan menghajar ku dengan membabi buta" Ucap Dean agak cemas.
"Apa kau takut?" Tanya Alika dengan suara lirih.
"Apa?" Ucap Dean bingung.
"Jika kau takut maka lupakan saja saran dari ku tadi" Sahut Alika sembari berlalu pergi.
__ADS_1
Dengan cepat Dean menggenggam tangan Alika dan menghentikan langkahnya. Alika membalikan tubuhnya lalu menatap Dean dan meleaskan tanganya dengan lembut.
"Kau takut jika mereka menyakiti mu? Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah kau sakiti? Kau sudah merenggut bagian hidup mereka bukankah kau juga sudah merasakan betapa sakitnya itu? Sebagian dari jiwa mereka kini sudah hilang dan tidak mungkin kembali lagi... sedikit rasa sakit yang akan mereka berikan pada mu itu juga tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau berikan kepada mereka." Ucap Alika yang kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.