Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Ular


__ADS_3

Pagi setelah menyiapkan sarapan Alika pergi ke kantor. Alika meninggalkan catatan diatas meja makan, catatan itu berisi pesan jika semua makanan dimeja makan harus dihabiskan.


Alika sengaja pergi sendiri ke kantor karena dia tahu jika Johan dan Dean masih butuh istirahat. Alika juga menyiapkan obat mereka didekat atas meja kamar mereka masing-masing.


Jingmi yang baru bangun segera turun dan menuju meja makan. Jingmi melihat catatan yang ditinggalkan oleh Alika kemudian memindahkan catatan itu ke pintu kulkas, Jingmi duduk dan menikmati sarapanya.


Tak lama kemudian semua orang turun dan akhirnya mereka sarapan bersama. Setelah sarapan seperti biasa Jingmi belajar ditemani oleh Rio sebagai persiapanya untuk masuk sekolah beberapa hari lagi, Hans duduk didekat kedua anak itu untuk mengawasi mereka belajar.


"Kalian belajar ya... kakak harus pergi sebentar" Ucap Hans sembari beranjak dari duduknya.


"Kakak mau kemana?" Tanya Jingmi penasaran.


"Ada urusan sebentar kalian belajar saja" Sahut Hans yang kemudian berlalu pergi.


Hans pergi ke makam Tao dengan membawa seikat bunga. Saat sampai dimakam Tao Hans duduk dan meletakan bunga itu diatas tempat peristirahatan terakhir adiknya itu.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan, aku ingin menghancurkan mereka yang sudah membuat mu berakhir disini tapi aku juga tidak bisa melupakan jika kak Dean adalah orang yang sudah membuat kita bertemu dan melukis kenangan indah bersama...


Aku hanya inginkan keadilan untuk mu tapi aku tidak bisa melukai mereka. Haruskah aku melanjutkan semua ini atau berhenti hanya sampai disini" Ucap Hans berbicara disamping makan Tao mencurahkan isi hatinya.


"Dendam atau balas budi? Rupanya kau sedang terjebak dalam perasaan" Ucap seorang wanita yang berdiri dibelakang Hans.


"Siapa kau?" Sahut Hans sinis.


"Aku adalah orang yang sangat membenci Alika dan juga anaknya itu" Sahut wanita itu memperkenalkan diri.


"Iya aku... aku wanita yang sama yang sudah kehilangan cinta Johan karena anak itu dan wanita bernama Alika itu"


"Bukankah kau sudah..."


"Semua orang mengira jika aku sudah mati, tapi mereka salah... semua itu termasuk mayat dan kecelakaan itu adalah rencana ku, aku kira anak itu akan mati tapi ternyata Alika berhasil melindunginya dan sekarang anak itu hilang ingatan. Sungguh mereka berdua sangat beruntung" Ucap wanita itu sembari tersenyum sinis.

__ADS_1


"Sila wanita seperti diri mu memang pantas untuk mati" Sahut Hans kesal.


"Aku memang pantas mati karena hidup pun juga percuma jika aku tidak bisa mendapatkan cinta Johan, hanya saja jika aku tidak bisa mendapatkan cintanya maka orang lain pun tidak boleh mendapatkanya" Ucap Sila dengan suara penuh dendam.


"Aku tidak akan ikut campur dengan urusan mu jadi jangan libatkan aku" Sahut Hans memperingatkan.


"Aku ingin mengajak mu bekerja sama" Ucap Sila menawarkan.


"Aku tidak tertarik" Sahut Hans sinis.


"Kau bisa membalas dendam adik mu dan aku bisa membalas dendam cinta ku. Bagaimana? Adil bukan?" Ucap Sila menawarkan.


"Maaf tapi aku tidak tertarik, ular berbisa seperti mu siapa tau dimasa depan bissa saja balik menyerang ku" Sahut Hans acuh.


"Aku adalah orang yang setia kawan jadi kau tidak perlu khawatir" Ucap Sila menyakinkan.

__ADS_1


"Maaf tapi sebaiknya kau pergi dari sini, aku datang ke sini untuk mendo'akan adikku bukan bertemu wanita ular seperti mu" Sahut Hans mengusir Sila dengan tegas.


__ADS_2